
Rangga kembali ke kamar dengan membawa kue yang dibuat tante wulan. tante wulan sangat jago membuat kue, rangga jadi mengingat dahulu saat dia memakan kue buatan tante wulan bersama adiknya.
Mangganya sudah habis masuk ke perut rangga. menyegarkan sekali katanya.
"danita" suara rangga dibarengi dengan pintu yang tertutup.
danita memperhatikan apa yang dibawa rangga, "kue? wahh sepertinya enak" dia sudah menelan ludahnya.
"siapa yang membuatnya sayang?" menatap piring-piring yang berisi bermacam kue.
"tante wulan" jawabnya sambil berjalan ke ruang ganti baju.
Danita membulatkan matanya sejenak. tante wulan bisa membuat kue? ahh dia telat sekali.
Dia mulai mengambil sepotong kue, saat dia pegang lembut sekali. dan juga wangi. tanpa ragu lagi danita langsung memasukkan kue itu ke mulutnya.
hup
"waw" lembut sekali dan enak. apa nama kue ini ya?.
"wahh tante wulan ternyata sangat jago membuat kue" ucapnya dalam hati sambil mengunyah.
"enak?" tiba-tiba rangga sudah ada disampingnya.
danita mengangguk dengan mulut yang sibuk mengunyah.
Rangga menatap danita yang mengambil sepotong kue lagi, dia merasa kenyang melihat danita terus mengunyah. dia jadi mengingat cookies yang dibuat danita waktu itu, sampai sekarang belum dia habiskan semaunya. sayang sekali katanya. padahal itu pasti sudah tidak renyah lagi.
"sayang kamu udah kasih itu belum ke sari?" membalikkan tubuhnya ke samping.
"hm" jawab rangga sambil menyalakan hpnya.
"rasya gak kamu apa-apain kan sayang?" ini yang dia takutkan. nanti semua orang yang harus kena imbasnya, padahal kan dia yang mengajaknya.
"hm" mengangguk sambil menatap layar hpnya.
Danita kembali mengunyah lagi. dia ingin melihat hpnya, apa rasya sudah membalas pesannya atau belum. tapi dia takut nanti rangga akan melempar hpnya.
"gapapa kali ya cuma mau lihat doang" mengeluarkan hpnya dari balik selimut.
Rasya sudah membalas rupanya.
"taruh" matanya masih menatap layar hpnya.
Danita langsung melempar hpnya ke belakang. dia terkejut, baru dia mau membuka hpnya. sudah dikagetkan saja.
"haiss" kesalnya dalam hati.
Tambah penasaran danita isi pesan dari rasya. dia hanya dicuekin sama rangga. perutnya sekarang sudah kenyang setelah memakan kue. tadi pesan rasya belum sempat keseluruhan dia baca.
Dia menyelipkan tubuh mungilnya masuk kedalam dekapan rangga. tidak memperdulikan rangga yang sempat berdecak samar karna layar hpnya ketutupan. "sayang" panggilnya menempelkan pipinya di dada rangga.
ahh danita sedang ingin bermanja rupanya. "hm?" masih mengetik sesuatu disana. sengaja cuekin istrinya.
"sayang sayang" menusuk-nusuk jari mungilnya di dada bidang suaminya.
Rangga tak bersuara. fokus mengetik sesuatu disana. sepertinya itu tentang adinata. ya tentu adinata, siapa lagi orang yang akan berkirim pesan dengan Rangga kecuali orang terdekatnya?.
danita sedikit kesal karna dicuekin. dia kan lagi pingin manja ke rangga.
"sayangg" akhirnya dia setengah berteriak. karna ini sudah malam. saat danita hendak menarik kepalanya kembali tegak, rangga menahannya.
__ADS_1
danita mendengus. "sayang sekertaris zan sudah tahu belum tentang rasya?" berusaha memeluk tubuh rangga.
Rangga mengangkat bahu, tidak tahu.
"aku penasaran kenapa sekertaris zan bisa mengajak menikah rasya dengan tiba-tiba" gumamnya.
"karna teman mu itu menciumnya" jawabnya masih sibuk tangannya.
"hah?! serius?" palanya ditahan rangga.
"katanya si gitu" menempelkan wajah danita ke dadanya. kalau danita mengangkat kepalanya, nanti yang ada dia salah ketik lagi.
"benar-benar" gumamnya terdengar geraman.
Rangga menaruh sembarangan hpnya. lalu memeluk balik danita. perut buncit istrinya bisa ia rasakan sedikit menekan perut ratanya.
"sayang nama lengkap kamu siapa?"
"kau sedang tidak berpura-pura bodoh kan?" menarik sedikit kepalanya dari bahu danita.
"saat itu aku mencari tentang adinata di internet, nama mu berbeda dengan yang kau sebutkan" penasaran juga dia nama lengkap rangga siapa.
"yang ada disitu yang benar" kembali menaruh kepalanya di bahu mungil danita.
"kenapa kamu ubah nama mu saat itu?"
"terlalu panjang" jawabnya enteng.
danita melengos, nama itu penting kan? apalagi mengingat siapa rangga. dengan seenak jidat dia mengubahnya. ahh sudahlah.
"sayang surat perjanjian yang waktu itu kamu masih ada?" menempatkan pipinya di titik ternyaman di dada rangga.
"masih" mengecup lembut leher danita.
"bodoh!" menuding kening danita. "kau tidak ingat saat aku kerumah mu?" menurunkan pandangannya.
"aku ingat, saat itu kamu datang saat semua pakaian formal ku sedang dicuci semua"
Bukan itu yang dimaksud rangga.
"bahkan saat itu kau sangat imut" gumamnya tak tertangkap oleh telinga danita.
"saat itu kau bilang aku lelaki pertama yang berani kerumah mu dengan tujuan bertemu dengan mu, aku sudah tahu dari zan kalau kau tidak pernah berpacaran. saat itu aku sudah jatuh pada mu" perlahan-lahan dia merebahkan tubuhnya dengan danita diatasnya.
"saat itu kau sangat menyebalkan" gumam danita.
"itu pertama kalinya aku memakan pempek" menatap langit-langit kamar.
"lalu untuk apa kamu memberi ku surat perjanjian setelah menikah itu?" tidak mendengar ucapan rangga tadi.
"hanya untuk mengetes saja" jawabnya santai.
"mengetes?!! kamu tahu? saat itu aku sudah membayangkan masa-masa pernikahan ku yang sangat kelam" mengangkat kepalanya. menatap kesal rangga.
"bwahahahaha" rangga tertawa mendengarnya.
"apa saja yang sudah kau bayangkan saat itu?" menjadikan tangannya bantalan sambil menatap danita di samping.
"banyak sekali, bahkan aku berfikir pernikahan ini tidak akan bertahan kurang lebih dalam waktu enam bulan" ucapnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"hahaha" rangga tak menyangka danita akan langsung berfikir seperti itu.
__ADS_1
"siapa yang membuat surat itu? jangan bilang kau?"
"sepenuhnya itu adalah otak zan" menatap manik-manik hitam istrinya.
"wahh jahat sekali sekertaris mu itu" bangun menjadi duduk.
"karna dia aku jadi tahu segalanya tentang mu" mengelak perkataan danita. membela sekertaris kesayangannya.
Ahh itu mah danita juga tahu. pokoknya dia mulai sekarang dendam sama sekertaris zan.
Rangga sedikit menggeser tubuhnya mendekat ke sisi ranjang. membuka laci disampingnya dan mengeluarkan map coklat. dia sodorkan map coklat itu ke danita. danita tidak asing dengan map itu.
"wahh benar-benar masih ada" membaca bagian atas kertas yang berada didalam map coklat itu.
"surat perjanjian menikah tuan rangga dan nona danita"
itu lah tulisan paling atas dari kertas itu. 20 persyaratan masih lengkap disana. persyaratan yang pernah membuatnya mengeluh karna sangat banyak baginya.
"lihat ini persyaratan nomor 9; tidak boleh memiliki rasa cemburu kepada tuan rangga. padahal kau sendiri yang pencemburu" melirik rangga sekilas lalu kembali membaca kertas itu.
Rangga tertawa ringan. ya mau bagaimana, danita yang sudah membuatnya tergila-gila dengannya. bukan salah rangga toh.
"nomor 20; tidak boleh melarang tuan rangga melakukan apapun yang dia ingin" nada suaranya mengejek. itu malah jadi Boomerang ke rangga.
"robek saja kalau kau mau" menyenderkan punggungnya.
"sepertinya sangat sayang kalau ini di robek, sudah tidak berlaku juga kan?" memperhatikan kertas yang mulai terlihat usang.
"terserah" mengangkat bahunya.
Danita berfikir sebentar, lalu dia mengambil bolpoin dan menulis sesuatu di bawah persyaratan nomor 20.
"nah sayang tanda tangan" menyodorkan kertas dan bolpoin.
Rangga mengambil kertasnya dan mengkerut kan keningnya. lalu dia tertawa samar sambil menanda tangani kertasnya.
"kita taruh lagi" melipat kembali kertasnya dan memasukkan ke dalam mapnya lagi.
"untuk apa kamu lakukan itu?"
"sebagai kenang-kenangan, siapa tahu nanti anak dan cucu-cucu kita melihatnya" menutup rapat kembali map coklat itu.
Rangga dibuat tertawa dengan perkataan danita. rangga menantikan saat-saat itu. dimana nanti anak dan cucu-cucunya menanyakan surat apa itu dengan wajah lucu mereka.
"taruh lagi disana sayang" memberikan map coklatnya.
Rangga mengambilnya dan memasukkan kembali kedalam laci paling bawah.
"saatnya tidur" merebahkan tubuhnya di ranjang. sambil menarik selimut sampai setengah perutnya tertutup. danita menjadi pengap dengan perut buncitnya.
Rangga menarik keseluruhan selimut sampai menutupi tubuh mereka yang saling berpelukan dibawah selimut.
cup
"selamat tidur sayang ku" bisiknya sambil mengecup kening danita. danita samar-samar bisa mendengarnya.
BERSAMBUNG
NOTE:
Surat perjanjian yang dibatalkan menjadi surat pengikat antara rangga sanjaya putra adinata dengan danita putri amalia, akan menjadi pengikat hubungan mereka sampai maut memisahkan.
__ADS_1
Tanda tangan Tanda tangan
rangga danita