Gadis Kecil Pilihan Papa

Gadis Kecil Pilihan Papa
Pertemuan yang sesungguhnya


__ADS_3

sinar matahari sudah masuk ke kamar danita menghangatkan ranjang tempat tidur danita,orang yang ada di atas ranjang belum terbangun dari tidur lelapnya.


Danita guling-guling di atas tempat tidurnya merenggangkan otot ototnya sekaligus mengumpulkan nyawanya. setelah selesai mengumpulkan nyawanya danita langsung pergi ke kamar mandi dan berpakaian.


danita hari ini menggunakan pakaian yang simpel dia memakai celana jeans hitam panjang dengan sedikit robekan (ya itu sedang ngetrend) di perpadukan dengan kaos putih dengan sedikit motif pelangi lalu terakhir dia menggunakan jaket berwarna putih senada dengan kaos dalemnya dan tidak ketinggal sepatu snikers putih favoritnya.danita hari ini terlihat cute tapi simpel. setelah selesai dengan segala skincare paginya danita langsung turun ke bawah untuk sarapan.


dibawah hanya ada Rio yang sedang sarapan sambil memainkan hpnya.


"belom berangkat Rio?" danita bertanya sambil mengambil roti.


"belum, aku masuk siang hari ini,kakak klsnya lagi ujian" Rio menjawab tetap fokus dengan sarapan dan hp ditangannya.


pagi ini ayah ibu danita sudah pergi untuk menghadiri undangan jadi mereka berdua sudah berangkat dari pagi.


danita dan Rio sarapan tanpa banyak bicara karna danita yang sedang badmood karna perjodohan dan Rio yang sibuk dengan hpnya


****


danita masuk ke kelas dengan muka yang muram, kedua sahabatnya sudah datang lebih dahulu melihat temannya ini datang dengan muka Mura.


"alamak kenapa lagi ini sahabat beta, pagi-pagi sudah bermuka masam seperti itu" danita tersenyum mendengarkan perkataan Rasya menurutnya itu lucu.


"aku tu galau" membalas kata-kata candaan rasya.


"aaaa ciee cieee,vit sahabat kita yang satu ini sedang jatuh cinta sepertinya" kembali menggoda danita.


"gini loh aku tu mau dijodohin sama bapak aku" danita sudah memajukan bibirnya pertanda dia sudah kesal.


"whaaaat,bapak Lo yang ga pernah ngebolehin Lo pcrn tiba-tiba jodohin lo? salah makan apa bapak Lo?" ucap Rasya sindir.


"kok bisa nit?" Vita akhirnya bertanya juga.


"gak tau, dipaksa bapak" ucap danita pasrah.


"Udah si ketemu aja sapa tau ganteng plus tajir kan lumayan" danita dan Vita hanya geleng-geleng mendengar ucapan rasya.


menurut Vita Rasya itu matrenya sudah melebihi batas manusia normal. Rasya memang matre tapi dia sangat sayang kepada setiap kekasihnya.


jam mata pelajaran terakhir sudah selesai artinya sekarang lah saatnya danita menemui calon suaminya pria yang akan dijodohkan dengannya,sekarang danita sedang berjalan menuju cafe tempat janjian mereka, di setiap perjalanan danita selalu bertanya-tanya siapa lelaki yang akan dijodohkan olehnya rasa penasaran danita pada hatinya sudah meraja rela dia sangat penasaran.


danita sudah di depan pintu cafe dia sempat merapikan rambutnya sebelum masuk.dia menyeret kakinya untuk masuk.


danita celingak celinguk mencari seseorang, tiba-tiba ada yang melambaikan tangan mengarah kepadanya.


"nona danita" akhirnya seorang laki2 yang sudah sangat membuat dia penasaran dia berjumpa juga.


"apakah ini lelaki yang dijodohkan denganku?" danita bertanya2 dalam hatinya.


"selamat siang nona,perkenalkan saya sekertaris Fauzan anda bisa memanggil saya sekertaris azan atau sekertaris zan" ucap laki-laki itu panjang lebar

__ADS_1


"salam kenal tuan, apa anda lelaki yang akan dijodohkan dengan saya?" menatap wajah dingin zan.


"bukan nona saya sekertaris tuan muda Rangga" ucap zan sopan.


danita menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia merasa ada yang aneh dengan nama rangga, belum selesai dia berfikir zan sudah berbicara lagi.


"nona ada beberapa peraturan yang harus anda ketahui sebelum menikah dengan tuan muda" lagi lagi zan menjawab santai.


"ah begitu, apa saja?" kaki danita sudah mulai gemetar.


"yang pertama anda harus selalu mematuhi perkataan tuan muda" singkat padat dan jelas.


"tuan apakah peraturannya banyak? sepertinya saya harus mencatatnya di ponsel saya?" danita sudah mulai mencium akan ada banyak peraturan yang harus dia patuhi.


"tidak terlalu banyak nona hanya ada 20 peraturan saja" azan Masi menjawab santai. padahal tidak.


"apaa 20? tuan saya yakin otak saya tidak akan bisa menghafal dan mengingat semua peraturan itu" sudah merogoh tasnya.


"saya yakin otak anda bisa untuk mengingat dan menghafal semua peraturan yang ada" azan masih menjawab dengan tanpa berdosa sudah membuat tangan dan kaki danita mulai gemetar dibawah meja.


"yaudah seterah tuan saja lanjut yang ke dua saja" mencengkeram kursinya.


"yang kedua anda tidak perlu mencampuri urusan tuan muda dengan begitu tuan muda tidak akan mengurusi atau mengganggu urusan anda" zan sudah bicara dengan tatapan serius.


"jadi saya boleh berjalan-jalan dan bersenang-senang bersama teman saya seperti sebelum saya menikah dengan dengatn tuan muda?" tanya danita memastikan.


"tentu saja" jawab zan singkat.


"tidak nona tuan muda akan sampai 10 menit lagi" kembali menatap danita.


"apa? kenapa cepat sekali?" membulatkan matanya sebulat-bulatnya.


zan mengeluarkan amplop besar.


"apa ini?" danita mengambil amplop yang dikeluarkan zan.


"itu surat berisi peraturan2nya nona"


plakk


danita memukul tangan zan yang berada di atas meja, "heii kalau sudah ada suratnya ngapain kau susah2 memberitahuku panjang lebar?" protes danita.


zan tidak menggubris Omelan danita "nona tuan muda sudah datang" zan langsung berdiri dari duduk.


"selamat sore tuan muda" ucap azan sopan dia menarik bangku untuk Rangga duduk zan berdiri di samping Rangga.


"kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Rangga datar sontak danita langsung menundukkan kepala takut.


"maaf tuan" sebenarnya danita tadi terkagum kagum melihat wajah Rangga.

__ADS_1


"siapa namamu?" Masi dengan nada datar.


"danita putri Amalia" menjawab dengan cepat dan kepalanya Masi tertunduk.


"berani sekali kau berbicara denganku dengan tidak menatap muka ku" Rangga sudah mulai kesal,danita langsung mengangkat kepala tapi dia tidak menatap Rangga dia menatap benda disekitar Rangga. "tatap muka ku" sudah sangat geram.


"maaf kan saya tuan" langsung menatap wajah Rangga.


"apa kau tau kenapa orang tua kita menjodohkan kita?" wajah dan suaranya sangat datar.


"tidak tuan" jawab danita pelan.


"dia sepertinya masih polos sepertinya kalau sudah menikah aku akan sering menjahilinya, hmm seru sepertinya" sudah ada niat buruk.


Rangga melihat jam tangannya "aku masi ada urusan dan banyak pekerjaan yang harus ku kerjakan sepertinya aku sudah membuang banyak waktuku disini" katanya datar dan menyinggung danita. "zan" dia memanggil sekertarisnya.


"baik tuan akan saya urus tuan bilang saja apa yang tuan ingin kan" zan sudah mengerti apa yang rangga ingin.


"hahh baiklah kau sudah mendengarnya kau tidak perlu pusing dengan acara pernikahan yang diminta orang tua kita, cukup menunggu, siapkan dirimu, dan siapkan batinmu" Rangga tersenyum licik dan berhasil membuat tangan danita gemetar.


"baik" jawab dengan nada gemetar.


rangga dan zan sudah keluar dari cafe, jangan lupakan tatapan dari orang-orang yang ada disana.


"gerbang neraka sudah menunggu mu danita kau, tidak akan pernah keluar dengan mudah dari gerbang neraka itu" danita ngedumel sendiri sambil keluar meninggalkan cafe.


Rangga POV


"zan umur berapa dia?" menatap kedepan.


"tahun ini nona danita berumur 21 tahun tuan" jawab zan tanpa mengalihkan pandangannya.


"dia salah satu mahasiswa di kuliahku kan?" dia juga sadar dengan kehadiran danita.


"iya tuan nona danita mahasiswa terbaik tahun ini" melirik sedikit kaca spion. "apa tuan mau memeriksa data nona danita?" sambung zan.


"ngapain aku sampe serajin itu aku juga mempunyai banyak pekerjaan kali" perkataan Rangga sedikit menggantung. "aku yakin kau sudah memeriksa siapapun yang akan menjalin hubungan denganku" ya itu benar.


"apa dia benar-benar tidak tau kenapa dia dijodohkan denganku zan?" tanya Rangga mulai serius.


"iya tuan nona danita belum tau kenapa dia dijodohkan" kembali ke jalanan luas didepannya.


"jika bukan karna papa aku tidak akan menikah dengannya" Rangga menatap keluar jendela.


sekertaris zan hanya bisa melihat tuan mudanya seperti tidak rela dan tidak mau memulai hubungan dengan siapapun.


"saya akan menyelidiki lebih dalam tentang nona danita saya tidak akan membuat tuan kembali bersedih dan kacau seperti waktu itu,saya berjanji agar tuan tidak lagi merasa kecewa dan akan hidup bahagia bersama nona danita" sumpah serapahnya mulai terucap dalam hatinya.


bersambung

__ADS_1


ps: ingatkan author jika ada typo


__ADS_2