
"kak rangga" suara manis dan lembut itu membuat yang punya nama membalikkan tubuhnya.
"kenapa lama?" menuding adiknya dengan pertanyaan.
"tadi aku ke papa dulu, sekalian pamit" mendorong kopernya ke rangga.
"bawa sendiri" berjalan meninggalkan kelin yang melongos.
Kelin membawa satu koper, tapi sungguh ini berat.
"sekertaris zan bawain dong tolong" memohon kepada zan.
tetapi zan hanya menunduk lalu pergi menyusul rangga. kelin benar-benar tak menyangka dua manusia itu jahat sekali.
"kak rangga ih jahat" berteriak tak perduli orang-orang menatapnya.
"kami akan membawa kan koper anda" tiba-tiba satu orang lelaki dan satu perempuan datang.
"ma–makasih" memberikan kopernya.
lalu kelin berlari menyusul zan dan rangga. kakaknya itu mana mungkin dengan dengannya.
"kak rangga tunggu" berlari menyusul kakaknya.
Kelin hari ini akan kembali melanjutkan pendidikannya yang belum selesai. sepertinya dua minggu sudah cukup untuknya mengikhlaskan kepergian papanya. memang belum sepenuh hati dia mengikhlaskannya, setiap malam dia masih menangis.
"kak rangga beli itu yu" menunjuk etalase toko donat yang sangat mengundang selera.
"gak" meninggalkan kelin yang masih menatap donat-donat yang dipajang di etalase tokonya.
Rangga membuang nafas kasar, berbalik ke adiknya. donat saja tidak macam-macam.
"cepat" memegang tangan adiknya dan menariknya kedalam toko.
"yes yes" kegirangan bukan main, perutnya juga lapar karna tidak sempat sarapan dulu tadi.
Mereka keluar dengan kelin yang memegang bungkus donat dan minumannya. sementara rangga dan zan tidak memegang apa-apa hanya memasukkan tangannya kedalam kantung celana.
"kak rangga nanti kalau kak danita sudah lahiran fotoin ya" memasukkan satu gigit donat kedalam mulutnya.
"masih lama" menatap ke depan dan tak menghiraukan adiknya yang sedang mengunyah.
"ya kan nanti kalau sudah lahir dedeknya" sibuk mengunyah menatapi wajah kakaknya.
"hem"
__ADS_1
cewek-cewek sedang memperhatikan mereka, terutama rangga. wajahnya itu membuat para cewek-cewek cuci mata. sekertaris zan acuh walaupun mendapat lirikan yang membuatnya risih.selama rangga diam dia juga akan diam.
"kak rangga beli itu yu, itu juga, yang itu juga, itu deh terakhir" ribut sendiri kelin menunjuk seluruh toko makanan yang ada disini.
Sebenarnya rangga malas menanggapinya, tetapi adiknya akan pergi menuntaskan pendidikannya. jadi yasudahlah berikan saja kartu tanpa batas ke kelin, terserah mau dibelikan apa saja. asal dimakan. itu syaratnya kata rangga.
Dan berakhir disini, mereka bertiga duduk di ruang tunggu vip. ada beberapa orang yang sedang menunggu pesawatnya. sambil menunggu kelin terus mengunyah makanannya, memang sangat enak kalau pergi bersama rangga. ya walaupun sangat menyeramkan kalau sudah kesal.
"makan yang banyak agar otak mu bisa bekerja dengan benar" dia dari tadi memperhatikan kelin yang terus mengunyah.
"ini nanti gada di sana" menatap bungkus makanan.
"kau disana untuk belajar bukan membesarkan perut" melipat tangannya.
"ya oke aku pun tahu" mengunyah lagi.
Makanan Indonesia memang sangat enak, dia lumayan lama Tidak merasakan cita rasanya. disana jarang ditemukan yang asin-asin. sekalinya asin, asin banget sampai membuat kepala kelin pusing.
"kak rangga katanya sekertaris zan mempunyai kekasih memang benar?" menoleh kesamping dengan mulut yang masih mengunyah.
"dia bahkan akan menikah" menatap zan yang sedang berkutat dengan hpnya disana.
"wahh tidak disangka, siapa ya calonnya" ikut menatap zan dengan mulut yang masih sibuk mengunyah. zan itu memang sangat tampan si, tapi sangat menyeramkan. benar-benar 11 12 dengan kakaknya.
"dia lebih muda dari mu" memegang dagunya, masih menatapi zan.
"benarkah? wah benar-benar membuatku penasaran" menyedot minumannya yang berlambang bintang itu.
Kelin mengeluarkan hpnya, mengangkatnya dan menekan tombol kamera. dirinya berpose sementara rangga tidak sama sekali menatap ke kamera dan berekspresi datar.
"hihi buat aib" memperhatikan hasil jepretannya. kakaknya dari samping saja tetap tampan, susah ya orang ganteng dicari aibnya.
"hapus itu" dan ternyata ketahuan rangga.
"tidak mau" memasukkan kembali hpnya ke kantung celana jeansnya.
"cepat" menatap datar.
"aku tidak akan mengirim ke siapa-siapa kok kak" berwajah meyakinkan. "tapi nanti disana akan ku cetak" lanjutnya dalam hati.
Rangga meraih kepala kelin dan langsung menghabisinya. tidak rangga tidak memukul kepala kelin, rangga hanya menjitak-jitak pelan kepala kelin. tapi setelah itu dia akan menciumnya. tidak sakit kok.
Ini sudah sering terjadi diantara mereka.
"mohon perhatian pesawat akan lepas landas" menyebutkan nama pesawat dan pukulnya.
__ADS_1
orang-orang yang ada disana langsung mendengar secara saksama. begitu pula dengan dua manusia ini, mereka langsung berhenti dan mendengarkan.
Waktunya kelin berangkat.
Kelin bangun dari duduknya dan memakai jaket tebalnya, nanti saat dia sampai disana akan ada salju yang akan menyambutnya. dia juga memakai kupluknya, syal dan sarung tangan akan dia pakai saat sudah sampai disana. dan dia cengar-cengir ke rangga saat sudah memakai yang harus ia pakai.
"tidak usah cengar-cengir" berdiri dan mengancingkan jasnya yang tadi sengaja dia tidak kancing kan.
"hehe" tambah cengar-cengir.
"tidak usah cengar-cengir ku bilang" suaranya ia keraskan. penumpang lainnya sudah keluar dari sini.
"kak rangga gak bilang aku lucu? temen-temen aku disana pada bilang aku lucu loh kalau aku begini" menunjukkan tubuh pendeknya yang terlihat semakin mengecil karna jaket tebal itu.
"cepat" tidak menghiraukannya.
ah sudahlah paling gengsi kakaknya. dia meraih ranselnya dan berjalan disamping rangga. tadi dia sempat melirik zan yang wajahnya sama sekali tidak berubah. dia penasaran dengan siapa zan tadi mengirim pesan.
Rangga menunggu kelin mengantri disana. setelah ini kelin akan langsung menuju pesawatnya. rangga hanya ingin melihatnya.
"belajar yang benar disana" ucapnya setelah kelin selesai mengantri. tangannya menepuk kupluk yang menutupi Kapala adiknya.
"baik bos" hormat didepan kakaknya.
"sana" menjauhkan kembali tangannya.
kelin mendekatkan diri ke rangga, memeluk tubuh kakaknya.
"hangat" tersenyum, melepaskan pelukannya.
Rangga hanya menatapnya. ngomong-ngomong ini pertama kalinya rangga mengantar kelin saat disana sedang musim dingin. jadi dia merasa sangat berbeda.
Rangga hanya akan mengantar kelin kalau kelin yang meminta, ini bukan permintaan adiknya tetapi keinginannya sendiri. baru dua kali rangga mengantar adiknya.
Kelin berjalan membawa kertas yang akan diserahkan ke wanita yang disana. segera dia menyerahkannya dan melangkah kedepan.
"dadah kak rangga" tangannya mengudara melambaikan tangan ke kakaknya.
tetapi tidak dibalas rangga, kesel gak si kalau digituin?. tapi matanya yang menjawab. seolah-olah mengatakan 'berangkatlah, selesaikan pendidikan mu'.
Kelin juga melambai ke zan. dibalas dengan zan yang menunduk.
kelin hilang dari pandangan rangga. pesawatnya akan lepas landas lima menit lagi, kelin telat si. tapi tidak apa.
Rangga berbalik dan berjalan pergi dari sana. adiknya sudah berangkat. saatnya kembali ke adinata. tetapi rangga berhenti di sebuah kaca yang langsung menghadap ke landasan pacu. sebuah pesawat mulai terbang, dan rangga menatapinya sampai pesawat itu sudah terbang dengan bebas diangkasa.
__ADS_1
Bersambung