
Suara Lily mengganggu tidur Bara,dengan terpaksa dirinya membuka matanya.terdengar suara gemericik air,serta suara Lily yang terdengar samar-samar di telinganya.perlahan Bara turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya,mencari sosok sang istri.Bara terkejut melihat Lily yang tergeletak lemah dengan wajah pucat,Bara berlari dan meraup tubuh Lily ke dalam pelukannya.
“Sayang,sadarlah!”
Bara menepuk-nepuk pelan pipi Lily namun sang istri sudah tidak sadarkan diri,dengan panik Bara mengangkat tubuh Lily dan membaringkannya diranjang.Bara keluar kamar memanggil sang Mama,yang berada di meja makan.mendengar teriakan Bara yang begitu panik,seisi rumah di buat panik olehnya.
“Ada apa Bara,kenapa pagi-pagi sudah berteriak seperti kesetanan!”
“Panggilkan Dokter Ma,Lily pingsan!”
“A,,apa?”
Tanpa menunggu jawaban dari sang Mama,Bara masuk kembali kedalam kamar.sementara sang Mama dengan segera menghubungi Dokter keluarganya,Bian yang melihat sang Ayah terlihat panik,ikut masuk kedalam kamar dan melihat keadaan sang Mommy.Bara terlihat menggosok telapak kaki Lily yang dingin,Bian naik ke atas ranjang dan mengelus lembut kepala sang Mommy.
“Ada apa dengan Mommy Dad?”
“Daddy tidak tau sayang,Mommy sudah tergeletak tidak sadarkan diri dikamar mandi!”
Beberapa menit setelahnya,sang Mama dan seorang Dokter keluarga datang kekamar.Bara mengijinkan sang Dokter untuk memeriksa keadaan sang istri,Bara terlihat cemas begitu juga dengan sang Mama.Sang Dokter memeriksa secara keseluruhan kondisi Lily,melihat sang Dokter yang tersenyum,Bara mengerutkan dahi bingung.
“Ada apa Dokter,kenapa anda tersenyum?”
“Ini hanya dugaan saya sementara Tuan Bara,dan untuk lebih memastikan sebaiknya Nona di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut,ke Dokter Obgyn!”
“Dokter Obgyn,maksud anda menantu saya hamil?”
“Sepertinya begitu Nyonya Danu!”
Nyonya Santika meneteskan air matanya,dan memeluk Bara yang terdiam kaku.Bara belum percaya dengan apa yang dirinya dengar,rasa bahagia menguasai hatinya,hingga dirinya tidak bisa berkata apa.
“Selamat untukmu Bara,kau akan menjadi Ayah.dan kau Bian sayang,kau akan segera memiliki seorang adik!”
“Adik?”
“Iya sayang,seorang adik!”
Nyonya Santika memeluk cucunya dengan lembut,senyum kebahagiaan juga terlihat di wajahnya yang polos.lengkap sudah kebahagiaan yang Bara rasakan,Nyonya santika mengecup kening Lily dan membawa Bian keluar.
“Biarkan Mommy mu istirahat dulu,setelah Mommy bangun kita akan pergi melihat adikmu!”
“Ok Nek!”
Dengan patuh Bian mengikuti sang Nenek,sementara Bara masih berdiri menatap sang istri yang masih tertidur lelap.
“Jaga istrimu Bara,Mama akan membuatkan makanan khusus untuknya!”
“Terimakasih Ma!”
Nyonya santika tersenyum lembut dan mengusap punggung Bara,dengan langkah perlahan Bara duduk di sisi ranjang.menatap wajah cantik Lily yang terlelap,tanpa Bara sadari bulir bening menetes dari sudut matanya.dia menangis bahagia mendengar kabar kehamilan sang istri,rasa yang dulu belum dia rasakan kini dapat dia rasakan.
Apakah perasaan bahagia ketika mengetahui kau sedang mengandung seperti ini sayang,aku sangat bahagia Lily,terimakasih banyak karena telah bersedia mengandung benihku,aku mencintaimu,,
__ADS_1
Bara mendekat dan mengecup kening Lily,selagi Lily masih terlelap,Bara membersihkan dirinya terlebih dahulu.sementara di dapur terlihat beberapa pelayan serta madam Rima,begitu antusias membuat makanan untuk Lily.kabar kehamilan Lily dengan cepat menyebar,semua penghuni rumah menyambut bahagia kabar tersebut.tak lupa Nyonya santika mengabari besannya,yang tentu ikut berbahagia,mendengar kabar kehamilan Lily yang ke dua.
Lily bangun dari tidurnya,dengan kepala yang masih terasa pusing.Bara yang baru saja selesai mengganti pakaiannya,langsung berlari menghampiri sang istri yang terlihat semakin pucat itu.
“Apa yang kau rasakan sayang?”
“Kepalaku pusing sayang!”
“Minumlah!”
Bara memberikan segelas air kepada Lily,yang di minumnya sampai habis.kerongkongan yang terasa kering kini telah basah,membuatnya merasa lebih baik.
“Kita ke Dokter,sekarang ayo aku bantu mandi!”
“Hmm!”
Beberapa menit berlalu,Lily sudah siap dengan gaun biru lautnya,semakin membuatnya cantik dan lebih segar dari sebelumnya.Bara menuntun Lily dengan sangat hati-hati,mendapat perhatian secara berlebihan membuat Lily merasa heran,namun dirinya lebih memilih diam dan menikmati perlakuan manis sang suami.
Mereka menikmati makan dengan tenang,Lily memilih makan dengan lahap.sarapan yang di sediakan Madam Rima pagi itu sangat menggugah selera,Bian hanya diam menyaksikan sang Mommy, yang makan secara berlebihan.
“Mommy pelan-pelan saja,nanti perut Mommy sakit!”
“Iya sayang,soalnya hari ini sarapannya enak!”
“Setiap hari juga makanan yang di hidangkan selalu enak,mungkin Mommy lapar!”
“Kau benar sayang,Mommy sangat lapar!”
“Ok,Dad!”
Semuanya kembali diam dan menikmati sarapan mereka,setelah sarapan,seperti yang di rencanakan Bara serta sang Mama membawa Lily ke rumah sakit.obrolan ringan mereka lakukan untuk mengurangi rasa bosan,Lily tak lupa membawa sekotak buah yang telah di potong-potong.beberapa menit berlalu,mobil yang mereka tumpangi memasuki area rumah sakit.
Setelah melakukan pendaftaran,Bara langsung membawa Lily ke Dokter ahli.Lily sedikit kebingungan ketika melihat Dokter yang akan dia kunjungi,melihat Lily yang sedikit kebingungan,Bara dan sang ibu mertua hanya tersenyum.
“Kita lihat kondisimu sayang!”
“Tapi aku tidak hamil sayang!”
“Kita lihat saja hasilnya,Ayo kami ingin melihatnya,benar kan Bian?”
“Yes Mom,Bian ingin melihat adik bayi!”
Lily tertegun mendengar ucapan sang putra,namun tidak ada salahnya jika dirinya melakukan Checkup,untuk mengetahui kondisi rahimnya saat ini.dengan senyum canggung Lily bersedia di periksa,Lily berbaring di ranjang dengan Bara disampingnya.
Setelah Gel di oles di atas perutnya,mulailah sang Dokter memeriksa secara detail kondisi janin Lily.sang Dokter pun menjelaskan jika sang janin tumbuh dengan sehat,Bara dan Bian begitu antusias melihat janin yang masih seukuran biji kacang itu.jantung Bara berdegup kencang,ketika sang Dokter mendengarkan detak jantung bayinya.Lily meneteskan air mata bahagia,ternyata dirinya benar-benar hamil.
“Kondisinya cukup sehat,mungkin di three semester pertama,anda akan sedikit mengalami gejala ngidam. semoga anda menikmati segala prosesnya Nyonya Andara!
“Terimakasih Dokter!”
Bara tersenyum bahagia,dia mengecup kening Lily beberapa kali,begitu juga dengan sang putra Bian yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakak.
__ADS_1
“Bian sangat senang Mom,karena sebentar lagi Bian akan menjadi seorang kakak!”
“Mommy juga sangat bahagia sayang!”
“Mama dan keluargamu sangat bahagia sayang,orang Tuamu sedang dalam perjalanan,mereka akan datang berkunjung!”
“Kalau begitu ayo kita pulang,kau harus banyak istirahat mulai sekarang,kurangi aktivitas mu di luar rumah!”
Lily mengangguk patuh pada ucapan Bara,setelah menyelesaikan administrasi mereka kembali ke kediaman Danuarta.Tuan Danu dengan setia menunggu kepulangan menantunya dari rumah sakit,dirinya pun begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Lily.akan semakin lengkap dan ramai keluarga mereka.
Suara langkah beramai-ramai membuat Tuan Danu yang duduk seorang diri di ruang keluarga,menolehkan kepalanya.melihat kedatangan istri,anak,menantu serta cucunya senyum hangatnya mengembang.setelah memeluk sang istri,Tuan Danu memeluk menantunya,dan sang cucu Bian.tak ada kebahagian yang Bara inginkan lagi,selain kebahagiaan keluarga besarnya.
“Selamat atas kehamilan mu,adikku yang cantik!”
Lily membalikkan tubuhnya dan menatap Han,yang datang dengan bunga mawar di tangannya.Lily tersenyum dan menyambut pelukan sang kakak angkat.
“Terimakasih Kak Han!”
“Hah,,aku bertambah Tua sekarang,karena akan memiliki 2 keponakan.aku turut bahagia Lily!”
Han melepas pelukannya dan mengecup singkat kepala Lily,membuat Bian menatap tak suka ke arahnya.Han dan Bian memang kurang akur,Bara dan Lily juga bingung dengan sikap Bian yang memusuhi Han.melihat sikap permusuhan dari Bian,Han hanya tersenyum bahkan semakin membuat Bian kesal.
“Hei bocah,sebentar lagi kau akan menjadi seorang kakak, jadi kau tidak boleh cengeng!”
“Kapan paman Han melihatku cengeng?”
“Benar juga,aku belum pernah melihatmu menangis.paman hanya melihat sikap marah mu,yang sama seperti Ayahmu itu!”
“Apa paman tau,jika paman itu pria kaku dan dingin?”
“Apa katamu!”
“Tidak ada,Bian malas berdebat dengan paman!”
Bian meninggalkan Han yang tidak bisa berkata apapun,Lily dan Bara hanya bisa tertawa lucu melihat perdebatan keduanya.sungguh Han heran dengan sikap Bian yang mengesalkan,yang hampir menyerupai Bara dan Diego.
“Lily apa yang kau idamkan waktu mengandung Bian,kenapa sikapnya dingin seperti itu terhadapku?”
“Mmm,,aku tidak mengidam kak Han.mungkin Bian ingat akan kesan di awal pertemuan kalian,jadi Bian masih mengingatnya sampai sekarang!”
“Apa yang aku lakukan padanya Lily?”
“Mana Lily tau,coba tanyakan pada Bian!”
Lily meninggalkan Han yang masih berdiri dengan pikirannya,sementara Bara menatap Han yang masih memikirkan Bian.Bara mendekat dan merangkul pundak Han,mencoba memberi solusi terhadap sahabatnya itu.
“Coba kau dekati dia,dengan mengajaknya keluar dan membelikannya mainan baru.Aku yakin sikapnya akan berubah padamu!”
“Apa kau yakin?”
“Tentu saja,mungkin di awal pertemuan kalian,kau membuatnya kesal, jadi putraku masih mengingatnya sampai sekarang!”
__ADS_1