
Diego mencoba mencari Bian,yang pergi entah kemana.yang membuatnya khawatir dan cemas,Diego memanggil nama Bian serta mencari Bian di setiap lorong.sampai suara khas milik Bian terdengar oleh telinganya,dengan cepat ia mencari asal suara tersebut.pemandangan yang tak pernah Diego bayangkan,ia melihat Bara dan Bian tertawa bahkan Bian membiarkan pipinya dicium oleh Bara.yang ia tau Bian akan marah dan akan menangis, jika pipinya dicium atau di gendong oleh orang yang tak ia kenal.Diego melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah mereka.
“Bian!”
Mendengar suara yang memanggil nama Bian,Bara serta Bian menolehkan kepalanya.
“Daddy!”
Panggilan Bian yang mulai jelas,membuat Diego tersenyum bangga,ia mendekati Bara dan mengambil Bian yang berada di gendongan Bara.
“Bian nakal ya,gimana nanti kalau ada yang jahat dan membawa Bian pergi dari Daddy!”
“soly Daddy!”(sorry Daddy)
“Maaf aku melihatnya sendirian, jadi aku mendekati dan menggendongnya!”
“Terimakasih Tuan Bara!”
Diego mencium sayang pipi Bian,yang mulai menggelengkan kepala sambil tertawa itu.entah kenapa perasaan Bara sakit melihat kedekatan keduanya.
“Mainan ini sudah aku bayar,tolong diterima, ini untuk putramu!”
Diego melirik mainan robot yang Bara berikan.
“Ian au lobot Daddy!”,,(Bian Mau robot Daddy)
Diego mengambil mainan robot yang ada di tangan Bara,dan mengucapkan terimakasih kepada Bara.setelah cukup dengan basa-basinya,Diego meninggalkan Bara yang masih berdiri mematung sambil melihat kepergian Diego dan Bian, yang melambaikan tangan kepadanya.Bara tersenyum dan membalas lambaian dari tangan mungil Bian.tanpa ia sadari senyuman indah terukir disudut bibirnya yang tampan.
Bara kembali ke mobilnya dan mengurungkan niatnya membeli makanan,ia merogoh ponselnya dan menatap foto dirinya dan Bian yang tersenyum menggemaskan.entah rasa bahagia darimana yang kini ia rasakan,Bara mengatur foto tersebut menjadi wallpaper diponselnya.suara ketukan di kaca mobil membuatnya menyimpan kembali ponselnya ke saku celananya.
“Sudah selesai Ma, belanjanya?”
Sang ibu terlihat kesal,dan hanya menatapnya dengan wajah cemberut.Bara tau sang ibu kesal karena ia tidak bisa pamer.
“Mama,Bara bukan anak kecil yang bisa Mama pamerkan lagi ketampanannya.Bara sudah ada yang punya!”
Bara tersenyum jahil dan menaik turunkan alisnya,menambah kesal sang ibu yang menghajarnya dengan sayur sawi yang ia beli.
“Ampuni Bara Ma!”
Bara menutupi kepalanya,dan membiarkan sang ibu melampiaskan kekesalannya.dimenit selanjutnya sang ibu tertawa lepas,membuat Bara menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah sang ibu yang tidak kenal usia tersebut.Bara menghidupkan mesin mobilnya,dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediamannya.
Sedangkan dikediaman Tuan Stave,Lily bangun dengan dan terkejut.ia tidak mendapati sang putra disampingnya,ia juga kaget karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 ketika ia terbangun.Lily keluar dari kamar dan mencari keberadaan Bian,.sang ibu mencoba menenangkannya Lily yang panik.
“Baby Bian jalan-jalan dengan Diego, sana mandi sebentar lagi mereka pulang!”
“Kenapa tidak membangunkan Lily Ma,kami kan bisa pergi bersama!”
“Diego melarang Mama membangunkan mu,sepertinya kau juga kurang tidur.sudah sana bersihkan dirimu kemudian makan!”
Lily menganggukkan kepala dan meninggalkan sang Mama,yang sedang merangkai bunga.melihat tingkah Lily,Nyonya Stave hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.setelah membersihkan diri dan makan,Lily mencari sang ibu yang kini berada ditaman.Lily duduk disebelah sang ibu dan menatap taman yang penuh dengan berbagai bunga,mengingatkannya akan taman bunga di keluarga Danuarta yang pernah ia rawat.
“Lily ingin ke Villa Ma!”
Nyonya Stave menghentikan kegiatannya,dan menatap lekat wajah putri angkatnya.
__ADS_1
“Kau ada masalah?”
“Tidak Ma,Lily hanya kangen suasananya.kita kesana minggu depan ya Ma!”
Lily memperlihatkan wajah memohonnya yang begitu manis dimata sang ibu,membuat sang ibu tertawa dan menganggukkan kepala,menyetujui permintaan Lily.
“Lily akan menyiapkan semuanya!”
“Terserah padamu!”
Lily memeluk manja sang ibu,yang selama ini memberikan kasih sayang yang begitu tulus padanya.Lily menemani sang ibu menanam bunga,sambil menunggu kedatangan sang buah hati.setelah selesai menanam bunga,mereka berdua duduk dan menikmati jus yang telah dibuatkan oleh pelayan.
“Mami!"
Suara Bian,mengalihkan pandangan Lily dari taman bunga yang indah itu.Lily tersenyum dan merentangkan tangannya menyambut sang putra.Lily memeluk dan mencium gemas sang putra,yang mulai tertawa.
“Kenapa meninggalkan Mami sendirian?”
Bian bukannya menjawab,ia hanya tertawa dan memeluk sang oma.membuat Lily cemberut,Diego mendekatinya dan mengacak rambutnya.
“Tidurmu terlalu lelap,aku tak tega membangunkannya!”
“Cihh!”
Lily duduk disebelah sang ibu dan mulai mengerjai baby Bian,yang bermain dengan mainan robot pemberian Bara.
“Mainan Bian baru lagi hemm?”
“aian obot Mi!”,,(mainan robot Mi)
Setelah makan malam,Lily menyerahkan baby Bian kepada ibunya.sang Papa memintanya menemuinya diruang kerjanya.pintu diketuk dan Lily memasuki ruang kerja sang Papa,Diego sudah duduk manis di sofa yang ada di ruangan tersebut.
“Besok pagi berkunjunglah ke hotel sebagai seorang tamu,beri pendapatmu serta tinjau perkembangan hotel.Papa dan Diego akan pergi ke kota XX untuk beberapa hari!”
Lily mengerutkan dahi,mendengar perintah sang Papa.tentu saja hal itu tak lepas dari perhatian Diego.
“Anggap saja kau pelanggan kami,beri kritik dan saran mu pada hotel.itu akan membantu kami merubah pelayanan,atau aturan hotel dan jangan lupa makanannya!”
“Kenapa dengan makannya?”
“Aku tau keahlian mu, bukan hanya di bidang Fashion,tapi di kuliner juga!”
“kau tau akan hal itu?”
“Apa yang tidak aku tau tentang dirimu Lily!”
Lily terdiam dan menatap Diego,membuat Tuan Stave tersenyum dan tertawa hingga suasana ruangan kembali normal.
“Besok aku akan berkunjung Pa!”
“Bagus Istirahatlah lebih awal!”
“Baik Pa!”
Lily bangun dari duduknya,dan meninggalkan kedua pria yang berbeda umur itu.
__ADS_1
“Kau juga Diego,pergilah beristirahat!”
Diego mengangguk patuh,dan meninggalkan Tuan Stave sendiri diruang kerjanya.”Aku hanya bisa berdoa,siapapun nanti pasangan kalian semoga kalian selalu bahagia”.Tuan stave memejamkan matanya,kemudian bangun dan ikut meninggalkan ruang kerja menuju kamarnya.
Pagi harinya seperti yang telah direncanakan,Lily akan mengunjungi hotel yang dikelola sang Papa.ia berpakaian biasa,hanya mengenakan kaos putih dipadu dengan kemaja serta celana jeans dan sepatu sportnya.membuat penampilannya seperti gadis remaja, pada umumnya.
“Mami kerja dulu,Bian tidak boleh nakal ya!”
“Ok,Mami!”
Lily menjadi gemas mendengar jawaban sang putra yang sangat pintar itu,Lily memeluk sang Mama dan menitipkan sang putra kepada ibunya.
“Hati-hati dijalan sayang!”
“Iya Ma!”
Setelah mencium pipi sang putra dan sang Mama,Lily meninggalkan rumah mewah tersebut.untuk menjalankan perintah sang Papa,yang kini dalam perjalan bisnis bersama Diego ke kota XX. Mobil yang ia bawa melaju dengan kecepatan sedang,hampir satu jam ia lewati untuk sampai di hotel tujuan yang letaknya dekat dengan pantai tersebut.Lily memarkirkan mobilnya,ia menatap dan membaca situasi disekitarnya.Hotel sang ayah sebenarnya cukup strategis apalagi dekat dengan pantai,menambah nilai plus bagi hotel,namun apa yang membuat hotel tersebut sepi pengunjung.Lily menarik nafas dan membuangnya,dengan anggun ia melangkahkan kakinya memasuki Hotel yang bisa dibilang cukup mewah itu.
Lily mengamati setiap karyawan yang berlalu lalang begitu saja,tanpa perduli dengan beberapa tamu serta pelanggan.Lily berjalan ke arah resepsionis,dan menanyakan harga sewa kamar serta kamar yang masih kosong.sang resepsionis menatap Lily dengan pandangan yang sulit untuk Lily tebak,dengan sinis sang resepsionis menjawab dan memberi informasi tentang sewa kamar yang berbeda tiap ruangannya.
Karena ini hanya tahap awal,Lily memutuskan menyewa kamar yang paling murah.membuat sang resepsionis tersenyum mengejek ke arahnya,namun Lily tak menghiraukannya,ia ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di hotel sang Papa. yang memang tidak pernah dikunjungi, dan diserahkan kepada orang kepercayaan yang ditunjuk sang Papa. Seorang staf hotel membantu Lily mencari kamarnya,Lily memperhatikan beberapa staf yang bekerja, dan ada juga beberapa staf yang hanya main perintah.ia telah menemukan beberapa kejanggalan didalam hotel,namun ia harus mencari tau lebih banyak lagi.setelah sampai didepan pintu kamarnya,sang staf meninggalkan Lily dengan sopan.
Ketika pintu kamar dibuka,Lily mengamati kamarnya dan menemukan sedikit masalah.kamar yang ia tempati sedikit berdebu, sepertinya kamar tersebut tidak pernah dibersihkan.Lily menjadi kesal dan keluar dari kamar tersebut,dan memanggil staf hotel yang mengantarnya tadi.
“Permisi!”
Staf hotel yang sudah sedikit menjauh dari kamarnya,menolehkan kepalanya.Lily memberi kode dengan tangannya dan meminta staf hotel tersebut mendekat, dengan patuh dia mendekat dan menunduk hormat pada Lily.
“Ada yang bisa saya bantu Nona?”
Ucap sang staf hotel yang merupakan seorang gadis muda,yang berumur sekitar 19 tahun itu.Lily menghembuskan nafasnya dan melirik nametag staf hotel yang memiliki nama Icha tersebut .
“Coba kau lihat kamar yang aku sewa,apakah pantas kamar itu aku tiduri?”
Lily memberi perintah dengan kepalanya,dengan patuh Icha melangkahkan kakinya dan masuk ke kamar yang telah disewa Lily, Icha terpaku dan sedikit gugup kala menatap Lily.
“Nona..saya akan meminta staf kebersihan membersihkannya!”
Lily mengangkat tangannya,membuat Icha menunduk takut.Lily memperhatikan tingkah Icha yang seperti takut dan terimindasi.
“Angkat kepalamu saat aku bicara,aku tidak akan marah atau memukulmu, aku ingin bertanya padamu!”
Icha mengangkat kepalanya dan menatap Lily,icha sedikit terpana ketika dengan jelas ia menatap wanita yang kini berdiri dihadapannya.tatapanya dingin dan tegas,namun kharismanya memancar dengan jelas.
“Apa staf kebersihan kalian,tidak pernah membersihkan setiap kamar di hotel ini?”
“Yang saya tau,mereka hanya membersihkan kamar yang habis terpakai.jadi kamar yang tidak pernah disewa akan dibiarkan begitu saja Nona!”
Lily mengangguk mengerti,ia meminta icha membersihkan kamarnya hingga layak ditempati. dan meminta icha,untuk tidak mengatakannya pada siapapun.bahkan Lily memberi Icha tips, karena kerjanya yang disukai oleh Lily.
“Terimakasih Nona,jika Nona memerlukan bantuan anda bisa menghubungi saya!”
“Tentu saja,berikan nomer ponselmu!”
Mereka bertukar nomer,icha sangat senang bisa membantu Lily karena beberapa tamu yang pernah ia layani,tidak sebaik Lily.dengan perasaan kesal Lily duduk di tepi ranjangnya,bahkan ketika duduk saja ia bisa merasakan ranjangnya sudah tidak layak pakai.Lily merogoh ponselnya dan menghubungi Diego,meminta laporan dana hotel yang dikeluarkan sang Papa,untuk pembaharuan dan pengadaan fasilitas hotel.Lily memijit pelipisnya,belum sehari ia berada di hotel sang Papa,namun beberapa masalah sudah ia dapatkan.
__ADS_1