
Sesuai rencana hari ini Lily akan bertemu model yang akan mengenakan rancangannya,Lily telah menunggu model tersebut di butiknya.hampir 15 menit menunggu akhirnya yang ditunggu datang juga.
“Hello Lily,maaf membuat anda menunggu!”
“Tidak masalah!”
Mereka berpelukan dan saling melempar senyum,kini mereka duduk disebuah sofa dan sedikit berbincang-bincang.tiba saatnya Lily membawanya kesebuah ruangan khusus tempat ia menata rapi gaun hasil rancanagannya,sang model begitu terpesona dengan gaun-gaun yang terpajang rapi pada setiap manekin.Lily memberikan gaunnya yang akan dicoba oleh sang model,sambil menunggu sang model memakai gaunnya,ia mengalihkan perhatiannya pada ponsel di tangannya.ia begitu merindukan putranya,pagi ini ia belum melihat sang putra dan hal itu membuatnya semakin merindukan malaikat kecilnya.
“Bagaimana menurut kalian?”
“Wow,,anda terlihat sangat mempesona benar kan Nona Lily?”,,ucap asisten sang model,yang begitu terpana melihat atasannya.
"Iya,,anda sangat cantik dan anggun,gaunnya sangat pas ditubuh anda!”
“Benar sekali,aku selalu puas dengan hasil karyamu Lily!”
“Aku benar-benar tersanjung!”
Percakapan mereka terus berlanjut,hingga sang model memutuskan kembali ke hotel.
“Aku akan menghubungimu kembali,jika aku butuh gaun lagi!”
“Dengan senang hati,aku akan merancanganya untukmu!”
Lily melambaikan tangannya,ketika sang model memasuki mobil yang kini perlahan meninggalkan butiknya.Lily tersenyum puas akan hasil yang ia capai,kini sayapnya di dunia Fashion kian terbuka lebar.Lily mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sang Mama,namun hingga siang ponsel sang Mama,begitu sulit di hubungi. Membuat Lily cemas dengan keadaan sang putra,hingga akhirnya Lily memutuskan menghubungi Diego.
“Hello,,Kak apa Mama menghubungimu?”
“Baiklah kita berangkat bersama,aku akan menunggu kakak dirumah!”
Lily menghembuskan nafas beratnya,ia memasuki ruangannya dan merapikan meja kerjanya sebelum ia kembali kerumah.setelah berkemas Lily mencari sekertaris yang ia percayai untuk mengelola butiknya.
“Monika,untuk beberapa hari ke depan aku akan pergi kenegara B,jadi aku percayakan butik padamu!”
“Baik Nona,saya akan melakukan yang terbaik!”
“Kabari aku jika ada masalah yang terjadi!”
“Baik Nona!”
Lily menepuk pelan pundak sekertarisnya,dan meninggalkan Butiknya saat itu juga.dalam perjalanan kembali kerumah,perasaan Lily dihantui kecemasan yang berlebihan .”Apakah Papa dan Mama baik-baik saja,apakah nanti aku akan bertemu Bara?”semua prasangka,berputar di otaknya.
Sementara itu di Negara B,Nyonya Stave sedang mengunjungi pusat perbelanjaan.ia ingin membelikan susu dan perlengkapan untuk sang cucu,yang tak sempat dibawa olehnya.Bian duduk dikereta bayi dengan mainannya,sedangkan Nyonya Stave sedang memilih susu yang cocok untuk sang cucu.Nyonya Santika yang kebetulan berada ditempat yang sama terpaku ditempatnya,ketika melihat duplikat Bara versi junior,sedang duduk dikeretanya.susu yang ia beli untuk sang suami, terlepas dari tangannya begitu saja,hatinya tergerak mendekati Baby Bian.di pandangainya sosok baby mungil tersebut,tanpa ia sadari air matanya tumpah begitu saja.dengan cepat Nyonya Santika merogoh ponselnya,dan mengambil gambar sang Baby yang tersenyum kearahnya. Melihat senyum diwajah lucunya,tanpa pikir panjang Nyonya Santika mengangkat tubuh mungil itu kedalam pelukannya.Baby Bian tersenyum dan mengoceh,membuat Nyonya Santika tertawa bahagia.
“Anda Siapa?”
Suara seseorang membuat Nyonya Santika mengalihkan pandangannya,dan menatap wanita yang seumuran dengannya,kini telah berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah susu formula ditangannya.
“Ah,,Maaf Nyonya,saya ingin sekali memeluknya.bukan niat saya untuk berbuat jahat,tolong maafkan saya!”
Nyonya Stave memperhatikan wanita dihadapannya kini,raut wajah kerinduan,serta bahagia terpancar diwajahnya kala menatap Baby Bian.
“Apa anda merindukan cucu anda?”
Pertanyaan Nyonya Stave,mampu membuat hati Nyonya Santika sedih dan hal itu tak luput dari perhatian Nyonya Stave, yang langsung mengerti dengan suasana dan membuatnya menyesal telah menanyakan hal yang begitu privasi.
“Maafkan saya Nyonya,bukan maksud saya..!”
__ADS_1
“Tidak apa-apa Nyonya,tapi Bisakah kita berbincang-bincang sebentar.saya masih ingin memeluk cucu anda!”
“Baiklah mari!”
Mereka berdua menuju kasir,setelah melakukan pembayaran,mereka berdua memutuskan duduk di kafe yang ada di dalam Mall.mereka memesan minuman dan mengobrol,pandangan Nyonya Santika tak pernah lepas dari Baby Bian.Baby yang tumbuh dengan baik yang mulai belajar bicara,sungguh menarik perhatian Nyonya Santika.
“Bolehkah saya tau nama cucu anda Nyonya?”
“Baby Bian,panggil saja Bian Nyonya!”
Nyonya Santika menolehkan kepalanya,menatap Nyonya Stave yang tersenyum padanya.ia kemudian mengulurkan tangannya ke arah Nyonya Stave.
“Saya Santika Danuarta!”
Deg,Nyonya Stave terpaku ketika mendengar nama Danuarta,apakah Danuarta yang itu atau yang lain.melihat Nyonya Stave yang hanya diam,membuat Nyonya Santika mengerutkan dahinya.
“Nyonya!”
“Ah,,Iya,saya Erika!”
Nyonya Stave yang memiliki nama lengkap Erika Enderson Stave,menjabat tangan Nyonya Santika sebagai salam perkenalan.hampir 30 menit waktu yang mereka lalui,obrolan mereka seputar Bian.
“Maaf Santika,aku harus pulang sudah waktunya ibunya Bian pulang,aku tidak mau dia khawatir tidak mendapati putranya dirumah!”
“Bisakah kita bertemu lagi Erika?”
“Jika ada waktu aku akan menghubungimu!”
Keduanya berpelukan dan Nyonya Stave meninggalkan Nyonya Santika yang masih berdiri ditempatnya,sambil menatap kepergian Baby Bian,yang menurutnya mirip dengan Bara.mengingat wajah Baby Bian,Nyonya santika mengambil tasnya dan bergegas kembali ke kediaman Danuarta.butuh 30 menit,waktu yang harus ia lalui sesampainya dirumah.Nyonya Santika segera menuju kamarnya dan mencari album Foto Bara,ketika usianya sama dengan Baby Bian.Nyonya Santika meneteskan air mata sambil menutup mulut dengan kedua tangannya,seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.ia membandingakan Foto Bara dan Bian yang telah ia ambil sebelumnya,sungguh mirip dan tidak ada bedanya,Baby Bian versi Bara jenior.Nyonya santika menangis bahagia,ia yakin mata bening yang indah pada Baby Bian adalah milik Lila.Nyonya Santika mendekap Foto lama Bara dan ponselnya,ia menangis bahagia.
“Dimana istriku Rima?”
“Nyonya ada dikamar Tuan!”
Tuan Danu mengangguk dan melangkah pergi menuju kamarnya,ketika memasuki kamar,Tuan Danu mencari keberadaan sang istri,sayup-sayup ia mendengar suara isak tangis.dengan segera Tuan Danu mencari asal suara tersebut,dilihatnya sang istri duduk bersimpuh sambil memeluk album Foto.
“Apa yang terjadi Ma?”
Nyonya Santika mendongakkan kepalanya,ditatapnya sang suami yang kini sudah berjongkok dihadapannya.terlihat raut kecemasan diwajah sang suami,karena sudah setahun ini, istrinya mulai melupakan kesedihannya,setelah Lila menghilang.
“Ada apa?”
Nyonya Santika tidak menjawab,ia hanya menyerahkan album foto serta ponselnya,membuat sang suami mengerutkan dahinya tak mengerti.Tuan Danu menatap Foto Bara yang ada di album serta Foto yang ada di ponsel istrinya,ia mengira jika sang istri merindukan sosok putranya yang masih kecil.
“Jika Mama merindukan Bara,hubungi dan mintalah Bara pulang?”
Nyonya Santika menggeleng,membuat Tuan Danu semakin bingung.
“Dua Foto itu,anak yang berbeda Pa!”
“Maksud Mama?”
Nyonya Santika,menceritakan pertemuannya dengan Erika dab Baby Bian.membuat sang suami menatap kedua foto ditangannya dengan tatapan tak percaya.
“Kita harus mencari kebenarannya dulu Ma,kita tidak bisa mengatakan jika dia adalah putra Bara tanpa bukti!”
“Ayo kita lakukan Pa,Mama yakin Baby Bian putra Bara dan Lila!”
__ADS_1
Tuan Danu mengangguk dan memeluk istrinya,memberikan ketenangan.Nyonya Santika menangis dipelukan suaminya,ia yakin tanpa perlu membuktikan apapun lagi,ia yakin Baby Bian pasti putra Lila.mata bening yang indah yang selama ini ia kenal,adalah mata indah milik Lila yang kini ia lihat dimata Baby Bian.
Sementara itu di Negara Y,Lily mencoba menghubungi sang Mama yang kini sedang menidurkan Baby Bian.
“Hello Ma,apa putraku sudah tidur?”
“Iya sayang,Baby Bian tertidur setelah minum susu!”
Lily melakukan panggilan video,niatnya ingin melihat sang putra yang teramat ia rindukan.namun sang putra sudah terlelap dalam box bayinya.
“Kapan Mama kembali?
“Maafkan Mama sayang,Mama hanya ikut Papamu!”
“Bagaimana keadaan perusahaan disana Ma?”
Nyonya Stave menggeleng lemah,dan menceritakan keadaan sebenarnya.dan mengatakan jika sudah dua hari ini sang Papa pulang malam terus,tentu saja hal itu membuat Lily merasa cemas akan kesehatan sang Papa,yang ia tau semakin menurun itu.perbincangan yang mereka lalui berhenti ketika pintu kamar Lily diketuk.Lily melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamarnya,Diego sudah berdiri didepan pintu.
“Bisa kita bicara?”
Lily menganggukan kepalanya,dan mengikuti Diego menuju ruang tamu,kini keduanya sudah duduk disofa dengan segelas kopi dan coklat panas kesukaan Lily.
“Kakak akan berangkat besok pagi ke Negara B,Papamu butuh bantuan!”
“Apakah masalahnya sangat besar kak?”
“Iya,Papamu tidak mampu menyelesaikannya sendiri,kau tau sendiri kondisinya sekarang jadi persiapkan dirimu dan belajarlah mengelola perusahaan!
Lily diam ditempatnya,Diego hanya menatapnya dan menghembuskan nafas beratnya.
“Kau bisa Lily cobalah,kau teliti dan punya talenta,aku percaya padamu!”
“Besok pagi sekali kakak akan berangkat,selesaikan semua urusanmu kemudian susul kami!”
Lily menganggukkan kepalanya,Diego tau apa yang Lily pikirkan sekarang.ia belum mampu menginjakan kaki Negara B,Negara tempat sang kekasih tinggal.
“Apa kau takut bertemu pria itu?”
Lily menatap Diego tak percaya,bagaimana Diego bisa tau apa yang ada dipikirannya.
“Jangan menghindarinya dan hadapi dia dengan kepala tegak,jangan pernah menundukkan kepalamu pada mereka yang pernah menyakitimu!”
“kak Diego!”
“Lila Cahyani sudah mati, yang kini dihadapanku adalah Lily Endorsen Stave,jangan kecewakan kami terutama Papamu!”
Diego bangun dari duduknya dan meninggalkan Lily yang masih duduk dengan pikirannya.”Benar apa kata kak Diego,dia hanya masa laluku dan sekarang aku adalah Lily dan bukan Lila”.Lily mengepalkan tangannya,dan menguatkan dirinya.
__ADS_1