
Seminggu setelah kejadian di taman,Nyonya Erika tidak menemui Nyonya santika lagi.membuat Nyonya santika murung dan bersedih,ia begitu merindukan baby Bian.Han dan Bara juga mencari tau tentang sosok anak yang mencuri perhatian sang Mama.tidak ingin sang istri terus larut dalam kesedihan,Tuan Danu mengajak sang istri jalan-jalan.mereka pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di kotanya,Tuan Danu tau jika sang istri sangat suka berbelanja.
“Apa tidak ada yang ingin Mama beli?”
Nyonya Santika hanya diam,kemudian ia melangkahkan kakinya ke tempat penjualan berbagai macam permainan anak,Tuan Danu mengikuti sang istri dengan setia.
“Apa Mama ingin membelikan baby Bian mainan?”
“Jika Mama membelinya,bagaimana caranya memberikannya pada baby Bian Pa!”
“Mama bisa menemuinya langsung,Papa akan menemani Mama menemui baby Bian!”
Mendengar ucapan sang suami membuat hati Nyonya santika senang,akhirnya mereka memilih beberapa mainan yang menurut mereka bagus dan cocok untuk baby Bian.setelah puas memilih berbagai mainan,kini mereka menuju restoran terdekat.tanpa sengaja Nyonya santika melihat Erika bersama seorang pria yang ia duga adalah suami Erika,serta baby Bian yang berada dikereta dorongnya.dengan cepat Nyonya santika mengikuti mereka,Tuan Danu yang bingung melihat tingkah istrinya yang meninggalkannya,dengan cepat menyusul sang istri.
“Mama,Tunggu Papa!”
“Cepat Pa!”
“Apa yang Mama lihat?”
“Mama melihat baby Bian Pa!”
Mendengar nama Bian,membuat Tuan Danu yang memang penasaran dengan sosoknya, semangat mengikuti sang istri.dari kejauhan dapat mereka lihat,Erika sedang duduk disebuah restoran.
“Ayo Pa,kita hampiri mereka!”
Dengan sedikit tergesa-gesa,Tuan Danu dan istrinya menghampiri keluarga Stave, yang sedang duduk menikmati waktu mereka.
“Apa kabar Erika!”
Mendengar sesorang memanggil namanya,membuat Nyonya Erika menolehkan keplanya dan sedikit terkejut dengan kehadiran Nyonya Santika dan suaminya.Nyonya Erika menatap suaminya,dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Bara yang mungkin saja ikut dengan kedua orang tuanya,melihat hal itu Nyonya Santika mengerutkan dahi bingung.
“Kau mencari siapa Erika?”
“Ah..Putraku,aku mencarinya!”
“Mungkin sedang ketoilet,perkenalkan ini suamiku Erika!”
“Danuarta!”
“Erika,dan kenalkan ini suami saya!”
Sambil menoleh ke arah sang suami,Tuan Stave bangun dan meraih tangan Tuan Danuarta .
“Enderson Stave,senang bertemu dengan anda Tuan Danu!”
“Saya juga senang bisa bertemu dengan anda Tuan Stave!”
__ADS_1
Perbincangan antara mereka berlanjut,Nyonya Santika kembali terlihat bahagia ketika bertemu dengan Baby Bian,Tuan Danu menyembunyikan keterkejutannya ketika menatap baby Bian yang memang sangat mirip dengan Bara.berbagai pertanyaan muncul dikepalanya,bagaimana bisa ada seorang anak yang begitu mirip dengan putranya semasa kecil dulu.
“Opa!”
“Iya pangeran kecil,Opa disini!”
Entah kenapa setelah mendengar suara,tingkah laku serta panggilan yang keluar dari mulut baby Bian,membuat hati Tuan Danu menghangat.ia bisa melihat kasih sayang yang begitu tulus dan berlimpah untuk baby Bian.
“Anda pasti bahagia,memiliki cucu yang begitu menggemaskan dan juga pintar!”
“Iya anda benar,saya sangat beruntung dan bahagia dengan kehadirannya ditengah keluarga kami!”
Tuan Stave menatap Tuan Danu,yang kini sedang mencoba mendekatkan diri dengan Baby Bian.rona bahagia terpancar jelas di senyuman serta tawanya.
“Aku dengar anda mempunyai seorang putra,apa dia belum memberi anda seorang cucu?”
Tuan Danu tersenyum getir,dan menatap sang istri yang kini gentian bermain dengan baby Bian.
“Putraku masih menunggu kekasihnya,dan dia tidak mau menikah sebelum mereka bertemu!”
“Apa kekasihnya kuliah atau sedang bekerja?”
“Kami tidak tau keberadaannya,sungguh menyedihkan bukan!”
Tuan Stave melirik sang istri yang hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan,mengisyaratkan sang suami untuk tidak bertanya ataupun mengatakan apapun.tanpa terasa satu jam sudah kebersamaan mereka.
“Dady!”
“Pangeran Dady,senang ya hari ini?”
Diego mencium dan memeluk baby Bian selayaknya seorang ayah,kasih sayang Diego tak perlu diragukan lagi.dilah pria yang selalu menemani Lila selama masa kehamilan,sampai saat ini,karena itu Bian menganggap Diego adalah ayahnya.
“Hai Pa,Ma!”
Diego mendekati Tuan dan Nyonya Stave sambil menggendong baby Bian.Diego menatap dua manusia yang memiliki umur tak berbeda jauh dengan Tuan dan Nyonya Stave.
“Perkenalkan dia Putraku,Diego!”
“Salam kenal Tuan dan Nyonya..?”
“Danuarta!”
“Senang bisa bertemu dengan anda Tuan dan Nyonya Danuarta!”
Tampak jelas kekecewaan dan kesedihan dimata Nyonya Santika,yang bisa Diego lihat.namun ia maupun kelurga Stave tidak ingin mengatakan siapa Bian sebenarnya karena yang berhak mengungkap identitas Bian adalah sang ibu sendiri,yaitu Lila.
“Ayo pangeran kecil kita pulang,maaf Tuan dan Nyonya Danuarta saya dan putraku pamit!”
__ADS_1
“Iya silahkan!”
Setelah kepergian Diego dan Baby Bian,kini menyusul Tuan dan Nyonya Stave yang pergi meninggalkan Tuan Danu dan istrinya.pandangan Nyonya Santika kosong,ia kecewa dengan kenyataan yang ia dapat hari ini,kenyataan bahwa ia bertemu ayah baby Bian .
“Mama,ayo kita pulang!”
Tuan Danu membawa sang istri meninggalkan pusat perbelanjaan yang sempat mewarnai beberapa jam hari mereka dengan perasaan bahagia,dan kecewa.Tuan Danu tak mengatakan sepatah katapun,ia menutup rapat mulutnya,sampai mobil yang membawa mereka memasuki halaman rumah,mereka yang megah.Nyonya Santika turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam rumahnya,tanpa mengatakan apapun kepada sang suami,membuat Tuan Danu menghela nafas lelah.
“Selamat datang Nyonya!”
Nyonya santika tak menjawab salam dari Madam Rima,membuat madam Rima menatap heran sang Nyonya yang tidak seperti biasanya.suara langkah kaki membuat Madam rima menoleh,dan mendapati sang Tuan yang berjalan lesu ke arah ruang kerjanya.
“Ada apa dengan mereka”,,Madam Rima bergumam sendiri,menyaksikan tingkah kedua majikannya yang seperti anak ABG itu.tiba saat makan malam Tuan Danu dan sang istri tidak turun untuk makan malamnya,mereka beralasan jika mereka masih kenyang.Bara dan Han yang baru saja sampai dirumah,melihat keadaan ruang makan yang sepi menjadi heran.
“Papa dan Mama tidak turun untuk makan malam?”
“Sepertinya mereka ada masalah Tuan Muda!”
Bara mengangkat alisnya,seakan tak percaya dengan ucapan Madam Rima.
“Maksud Madam?”
Madam Rima menceritakan apa yang ia lihat,ketika kedua majikannya keluar dan datang kembali setelah jalan-jalan.Bara menatap Han seakan memberi kode bahwa mereka harus mencari tau apa yang terjadi.tanpa membuang waktu,Bara melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang ayah.perlahan Bara membuka pintu,menutup dan melangkahkan kakinya mencari keberadaan sang ayah,yang kini sedang duduk membelakanginya.karena terlalu fokus dengan pikirannya sehingga membuat Tuan Danu tidak menyadari kedatangan Bara.Rahang Bara mengeras,ia mengepalkan tangannya.ia melihat foto anak laki-laki yang tersenyum bahagia,anak yang sama yang ia lihat ditaman.Tuan Danu mengusap lembut foto yang ada diponselnya tersebut.
“Apa dia anak Papa dengan wanita lain?”
Deg,Tuan Danu menolehkan kepalanya dan melihat sang putra dan Han telah berdiri tepat dibelakanganya.Tuan Danu menelan ludahnya mendengar tuduhan sang putra kepadanya.
“Jawab pertanyaan Bara Pa,apa anak itu adalah anak Papa dengan wanita lain?”
“Apa yang kau katakan Bara!”
“Jangan membohongi Bara Pa,apa yang telah Papa lakukan hari ini, sehingga membuat Mama bersedih?”
“Bara,
anak itu…!”
Tuan Danu tidak bisa menjelaskan apa yang ia lihat hari ini,dan apa yang dirasakan oleh sang istri.
“Sikap diam Papa adalah jawaban dari pertanyaan Bara,jika apa yang Bara curigai benar.Bara tidak akan memaafkan Papa!”
“Bara…ini tidak seperti yang kau pikirkan!”
Bara meninggalkan sang ayah dengan perasaan marah,dan kecewa.Tuan Danu hanya menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya disofa sambil memijit keningnya.Han mengamati sang Tuan sekaligus ayah angkatnya itu,ia tidak percaya dengan apa yang Bara tuduhkan,namun melihat reaksi sang Papa membuat Han menjadi ragu.Han melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Tuan Danu dan mencari keberadaan Bara.
“Sial!”
__ADS_1
Bara menuju ruang olahraganya,ia membuka kemeja dan memperlihatkan otot-ototnya,mengeluarkan amarahnya dengan meninju samsak.Han yang menyusulnya keruang olahraga hanya duduk dan membiarkannya mengeluarkan seluruh amarahnya. satu jam berlalu,keringat bercucuran membasahi tubuh Bara.tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka,Han dan Bara terlena dengan pikiran mereka masing-masing.