
Awan mulai mendung namun tak turun hujan,alam sepertinya ikut merasakan kesedihan gadis kecil yang bahkan tak meneteskan air matanya,gadis itu begitu tegar menyimpan emosi hatinya.setelah acara pemakaman Han selesai,Lily membawa Queen dan putranya kembali,meninggalkan Bara sang suami yang masih ingin berada di pemakaman.tanpa membantah Lily menuruti perintah sang suami,dalam perjalanan kembali kerumah tak henti-hentinya Lily melirik sang putri yang lebih memilih mentap keluar jendela mobil.
“Queen istirahatlah dulu,atau kau ingin memakan sesuatu?biar Mommy siapkan!”
“Queen tidak ingin apa-apa Mom,Queen akan istirahat!” Queen menjawab pelan,Lily hany abisa mengangguk pelan dan tersenyum lemah.memandangi tubuh mungil sang putri yang telah hilang dibalik pintu kamarnya.
“Mom,jangan terlalu memeikirkan Queen.dia anak yang pintar,Queen hanya butuh waktu Mom percayalah padanya!” Bian berucap dengan penuh ketegasan semata-mata agar sang ibu tidak merasakan kekhawatiran yang berlebihan.namun sebenarnya dirinya merasakan kekhawatiran yang cukup besar akan sikap adiknya,Lily mendapatkan ketenangan dari ucapan sang putra,dengan lemah menganggukkan kepala dan melangkah menuju kamarnya.meluapkan kesedihannyayang dirinya tahan semampunya,ia tidak ingin terlihat terpukul sementara putrinya tidak menanpilkan ekspresi apapun.
Bian mendesah pelan,Billy sebagai seorang kakak serta sahabat hanya bisa menguatkan Bian.sebagiamana Bian dan Queen yang pernah mendukung,serta berada disisinya di saat dirinya terpuruk.Lily menangis menumpahkan semua duka yang dirinya rasakan,ia kehilangan sosok seorang kakak yang sangat menyayangi keluarganya.sosok yang pernah ada di saat dia lemah.Bian menatap sendu pintu kamar sang ibu,dimana suara tangis Lily terdengar karena Lily tak menutup rapat pintu kamarnya.
Queen menatap seikat bunga yang dirinya petik bersama sang paman,seikat bunga yang kini mulai layu.semua kenangan berasama sang paman menari di ingatannya.Queen menundukkan butiran bening mulai membasahi kedua pipinya yang chuby,Queen memeluk tubuhnya,menumpahkan kesedihan yang teramat dirinya rasakan.
__ADS_1
Raut kesedihan masih terlihat jelas diwajah seluruh keluarga,di atas gundukan tanah merah Bara masih duduk menatap sendu gundukan tersebut di temani Diego.Bara sungguh tak menyangka kebersamaan mereka begitu singkat,bahkan Bara belum memeberikan beberapa hal yang dirinya telah janjikan kepada Han.
Bara terisak memeluk kedua lututnya,ia kehilangan seorang kakak serta sahabat yang selalu menemaninya dari nol.sosok kakak yang selalu mencoba melakukan yang terbaik untuknya dan keluarganya,kini sosok itu telah berpulang ke sisi Tuhan yang maha kuasa.
“Dengan siapa lagi aku akan bertengkar jika bukan dengan dirimu Han,dengan siapa lagi aku berbagi keluh kesahku selain pada istriku?kau adalah salah satu tempat untukku mengeluh Han,kenapa kau pergi secepat ini!” Bara berucap dengan suara serak serta air mata,Diego hany abisa menepuk pelan punggung kokohnya,memberi pria itu kekeuatan untuk menerima takdir.
“Iklaskan dia Bra,Han sudah tenang disisi Tuhan yang maha kuasa.yang perlu kita lakukan sekarang adalah meneruskan apa yang Han tinggalkan,jangan larut dalam kesedihan.ada Queen yang harus lebih kau perhatikan sekarang,putrimu itu mungkin sekarang sedang menangis disudut kamarnya!” Bara menatap Diego dengan mata sembabnya,Bara bahkan tidak memeikirkan hal itu.yang dirinya rasakan hanya kesedihan karena kehilangan Han,dirinya bahkan melupakan sang putri yang mungkin saja paling bersedih saat ini.
Aku akan kembali memastikan keadaan Queen terlebih dulu,kau juga pasti tidak ingin sesuatu terjadi padanya bukan?aku akan memastikan putriku,yaitu Queenmu baik-baik saja,,
Bara bangun dan beranjak meninggalkan makam Han,yang ada dipikirannya sekarang adalah putri kecilnya.bebebrapa menit berlalu,mobil Diego memasuki halaman rumah.dengan langkah sedikit tergesa-gesa Bara melangkahkan kaki memasuki rumahnya.
__ADS_1
“Daddy!” Langkah Bara dan Diego terhenti,ketika mendengar suara Bian.mereka berdua serempak membalikkan tubuh dan mencari asal suara tersebut,terlihat Bian dan Billy masih duduk di ruang tamu.
“Dimana Mommy dan adikmu?” Bara menyentuh pundaj Bian,menatapnya dengan sedikit cemas.
“Mommy ada dikamar,sepertinya Mommy menangis.dan Queen juga memilih masuk kekamar Dad,tapi Bian tidak mendengar apapun mungkin Queen tidur!” Bian berucap sendu,mengerti akan kecemasan sang Ayah.Bara melangkah menaiki tangga menuju kamar Queen,dibukanya pintu kamar bernuansa pink itu secara perlahan agar pemiliknya tidak terganggu.Bara mengedarkan pandangannya,mencari dimana sosok putrinya menumpahkan kesedihannya.tatapannya terpaku pada tubuh mungil,yang meringkuk di atas ranjang dengan seikat bunga yang Bara yakini adalah bunga yang Han petik untuknya.
Langkah Bara cukup ringan,berusaha setenang mungkin agar tak membangunkan sang putri yang terlelap.mungkin saja Queen merasa lelah menangis dan lelah menahan emosinya.Bara dapat melihat dengan jelas jejak air mata di pipi dan bulu matanya yang masih basah,Bara yakin sang putri telah menumpahkan kesedihannya yang mendalam.tangan Bara terulur mengusap sayang kepala Queen,putri kesayanagnnya harus merasakan kesedihan dan kehilangan di usianya yang masih sangat muda.
Bara menuruni tangga dengan wajah sendu,melihat sang Ayah Bian langsung berlari dan mengahadang Bara.melihat kebeardaan sang putra,serta tatapan khawatir dari Diego dan Billy,Bara tersenyum,merasakan kebagiaan karena putrinya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.
“Queen sedang tidur,mungkin dia terlalu lelah.bahkan dia tidak menyadari kedatangan Daddy!” terlihat jelas mereka bernafas lega ketika mendengar keadaan Queen,karena hari yang panjang serta melelahkan bagi mereka,Bara meminta putranya serta Billy untuk beristirahat,begitu juga dengan dirinya dan Diego.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu,kepergian Han merupakan pukulan terberat bagi kelarga Danu.namun mereka tidak ingin larut dalam kesedihan yang panjang,mereka harus melanjutkan kehidupan mereka,dan melanjutkan apa yang Han tinggalkan.Queen tampak biasa saja,gadis itu melakukan aktifitasnya seperti biasa dari sekolah,dan kegiatan lain diluar sekolah.hanya saja senyum cerah dan sikap cerewetnya menghilang seiring waktu,tak ada lagi Queen gadis periang yang begitu mudah mencairkan serta mengubah suasana.berbagai usaha telah Lily dan Bara lakukan,agar senyum sang putri kembali namun mereka harus gigit jari.Bian serta Billy yang biasanya dengan mudah membuat Queen tertawa kini menyerah,bahkan Bian berjanji akan selalu ada disaat Queen membutuhkannya.Queen hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis,hilang sudah mata berbinar serta tatapannya yang berseri-seri.Diego memberi pengertian kepada Bara dan Lily untuk tidak memaksakan kehendak mereka pada Queen,karena semua yang terjadi pada Queen saat ini adalah akibat kehilangan yang gadis kecil itu rasakan.