Gadis Manis Pemikat Hatiku

Gadis Manis Pemikat Hatiku
56.Kedatangan Lily


__ADS_3

Wanita bertubuh ideal dengan penampilan yang memukau,menarik kopernya secara perlahan,sambil mencari sosok pria tampan yang berjanji menjemputnya.dari kejauhan sang pria terus memperhatikan gerak geriknya,ia membiarkan sang wanita mencari keberadaannya.puas menatap sang wanita dari kejauhan,ia mendekat dan menghampiri sang wanita dengan sebuket bunga mawar di tangannya.


“Selamat Datang di Negara B,my Queen!”


“Kau sengaja bersembunyi dariku?”


“Hahaha,,untuk apa aku melakukan itu,aku hanya senang melihatmu mencariku!”


Mereka tertawa dan tersenyum bersama,Lily memeluk Diego dan dibalas oleh Diego.


“Aku merindukanmu Kak!”


“Aku terlalu tua untuk dirindukan!”


Lily melepas pelukannya dan memukul bahu Diego dengan gemas,Diego hanya tertawa dan memeluk Lily kembali.


“Ayo kita pulang,baby Bian merindukanmu!”


“Aku juga sangat merindukannya,Mama membawanya kabur!”


“Hahaha,,,!”


Perjalanan mereka menuju kediaman Stave dibumbui obrolan serta canda tawa keduanya.hal itulah yang membuat Diego merasa nyaman,dan jatuh hati pada sikap dan pribadi Lily.meski ia telah mendapatkan restu dari Tuan Stave untuk menikahi Lily,namun ia sadar hati dan perasaan Lily masih untuk pria yang merupakan ayah biologis baby Bian. Bukannya ia pengecut,namun ia tidak ingin hubungan yang selama ini baik menjadi kaku dan canggung,jika ia mengungkapkan perasaannya.jadi ia membiarkan semuanya mengalir seperti air,ia percaya jika Lily adalah jodohnya mereka pasti akan bersatu .mobil yang membawa mereka memasuki halaman rumah,Lily menatap bangunan mewah yang ada dihadapannya,ia berfikir kedua orangtuanya membawa baby Bian ke villa ternyata dugaannya salah.rumah yang ia datangi ini cukup besar dan mewah,Lily turun dari mobil dan menunggu Diego.


“Ayo kita masuk!”


Diego merangkul Lily yang tersenyum ke arahnya,mereka melangkahkan kaki dan memasuki rumah.beberpa pelayan yang melihat kedatangan mereka menyambut dan menyapa keduanya.Lily menatap takjub isi rumah  tersebut,serta mencari keberadaan kedua orangtuanya dan Bian putranya.


“Mereka pasti di taman,Bian suka bermain ditaman!”


Diego membawa Lily melewati beberapa ruangan menuju taman yang ia maksudkan,dari kejauhan Lily bisa melihat sang putra yang sedang bermain bola dengan sang kakek.senyum merekah indah dibibirnya,melihat putranya tumbuh dengan baik tanpa kekurangan kasih sayang.berbeda  seperti dirinya,yang bahkan tidak mengetahui asal usulnya.


“Baby Bian!”


Lily berlari dan mendekati putranya,Diego hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.mendengar suara Lily,Tuan dan Nyonya Stave menolehkan kepalanya dan tersenyum  melihat kedatangan putri mereka.


“Mami!”


Baby Bian berlari dan memeluk tubuh Lily,begitu juga dengan Lily yang berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang putra.nampak sang putra tertawa bahagia mendapat ciuman yang bertubi-tubi dari sang ibu.


“eli Mi,,!”(Geli Mi) 


“Mami kangen Bian!”


Lily terus menciumi wajah putranya,yang mulai menutupi wajahnya karena tak mau dicium lagi oleh sang ibu.


“Lily hentikan nanti wajah tampan Bian lecet!”


“Lily kangen Ma!”


Mereka yang menyaksikan tingkah Lily dan Bian hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa,Lily menghampiri kedua orangtuanya dan memeluknya satu persatu,melepaskan kerinduan yang sebulan ini ia pendam.

__ADS_1



Makan malam tiba,Lily membantu pelayan menyiapkan makan malam.Lily masih sama seperti yang dulu,ia masih suka memasak dan mencoba berbagai resep masakan.beberapa hidangan telah tertata rapi di atas meja,aroma masakan yang menggugah selera tercium oleh para penghuni rumah.


“Wah makan malam kali ini sangat spesial,Papa kangen masakanmu!”


“Papa bisa makan sepuasnya sekarang!”


Mereka berempat duduk dimeja makan,tak lupa baby Bian yang duduk di kursi khusus untuknya.malam itu mereka makan bersama,setelah acara makan malam,Lily membawa Bian keruang keluarga.membiarkannya bermain dengan mainannya,kini mereka berkumpul diruang kelurga.


“Papa sudah mendengar apa yang kau lakukan di perusahaan,papa bangga padamu.dan Papa tidak ragu lagi untuk memberikan tanggung jawab yang lebih padamu Lily!”


“Terimakasih Pa,tapi Lily masih perlu banyak belajar.kenapa tidak menyerahkan tanggung jawab yang besar itu pada kak Diego!”


“Aku sudah memegang beberapa cabang perusahaan Papa,itu sudah cukup membuatku pusing.kau itu pantas aku yakin kau mampu mengembangkan perusahaan Papa!”


“Apa yang Diego katakan benar,cobalah menjalaninya terlebih dulu Papa dan Diego akan membantu dan memantaunya!”


Lily terdiam dan menatap sang Papa, yang terlihat sedikit lelah dan kurus itu. ia yakin masalah yang dihadapi sang Papa tidak main-main.


“Bagaimana keadaan perusahaan Papa disini?”


“Kita masih mencoba menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar,karena kecurangan yang dilakukan oleh salah satu orang  kita,membuat kita sulit mendapatkan kepercayaan lagi!”


“Kondisi hotel dan restoran sekarang sedikit sepi,karena itu kita sedikit mendapat kendala dalam menjalin kerjasama!”


“Jika kau ada waktu berkunjunglah ke hotel,mungkin kau bisa memberi ide  atau masukkan kepada kami!"


“Iya Pa,Lily akan berkunjung!”


“Kenapa kau menatap putrimu seperti itu?”


Nyonya Stave menghela nafas dan menyandarkan punggungnya disofa,sambil menatap sang suami dan Diego.


“Bagaimana jika Lily bertemu Bara Pa?,Mama takut!”


“Tidak perlu takut,Lily bukan Lila.Papa yakin ia bisa menghadapinya dan meyakinkan hatinya,dan memutuskan kemana arah hubungan mereka!”


“Diego,kau tidak ingin mencoba meluluhkan hati Lily?”


Pertanyaan Nyonya Stave sungguh membuat Diego bingung,ia ingin sekali meruntuhkan benteng di hati Lily,namun ia belum yakin akan akhir hubungan mereka nanti.


“Diego bukannya tidak mau,kita lihat bagaimana nanti!”


Jawaban Diego membuat Nyonya Stave sedikit kecewa,ia sebenarnya berharap lebih pada hubungan Diego dan Lily,namun Diego seperti memiliki cara dan pandangan lain untuk hubungan mereka.sementara didalam kamar,Lily merebahkan dirinya bersama putra kesayangannya.dibelainya sayang rambut sang putra, yang sudah tertidur di pelukannya.matanya mulai berkaca-kaca, menatap wajah sang putra yang mengingatkannya pada pria,yang masih setia menempati hatinya.


“Kenapa wajahmu lebih mirip Papi mu,kenapa tidak mirip Mami saja.jadi Mami tidak akan terlalu merindukan papi mu itu!”


Lily tersenyum kecut dan mengecup kening sang putra,karena wajah itulah ia tidak bisa menghapus perasaannya untuk Bara.pria itu masih bertahta dengan kokoh di hatinya,meski Lily telah mencoba melupakan dan menghapus namanya dari hatinya,namun semuanya sia-sia.Bara adalah cinta pertama sekaligus pria pertama yang mengenalkan perasaan cinta,bahagia dan kecewa.Lily telah memantapkan hatinya,jika suatu saat mereka bertemu,ia akan menghadapi Bara sebagai Lily bukan Lila.Lily memeluk sayang sang putra dan ikut memejamkan mata,mengarungi mimpi di malam yang sedikit dingin itu.


Kicauan dan sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela,membuat sang putra terbangun lebih dahulu.melihat sang Mami yang masih terlelap,Bian memilih bermain dengan mainan yang ia bawa semalam.pintu terbuka,Diego memasuki kamar Lily sambil memberi kode baby Bian agar tidak bersuara.Bian hanya tersenyum dan merentangkan tangannya,Diego meraih tubuh Bian dan menggendongnya.

__ADS_1


“Ami obo!,,(Mami bobo)


“Biarkan Mami tidur dulu ya!”


Diego mencium gemas Bian,dan mengecup kening Lily yang masih terlelap.dua pria yang berbeda generasi itu meninggalkan kamar,dan membiarkan Lily menikmati waktu istirahatnya.Diego membawa Bian keruang makan untuk sarapan,kebetulan hari ini adalah Weekend jadi Diego bisa menghabiskan waktunya bersama Bian,seperti yang selalu ia lakukan.


“Mana Lily,Diego?”


“Biarkan dia tidur Ma,mungkin sebulan ini tidurnya kurang nyenyak!”


Nyonya Stave mengangguk mengerti,ia menyiapkan makanan di atas meja.


“Bian mau jalan-jalan sama Daddy?”


“Au Ady,,!”(Mau Daddy)


Diego mengelus sayang kepala Bian,inilah yang Nyonya Stave sukai dari Diego.hubungan keduanya sudah seperti Ayah dan anak,bagaimana jadinya jika Bian ,harus memanggil pria yang tak dikenalinya dengan sebutan Daddy.setelah sarapan dan mandi,Diego membawa Bian jalan-jalan,mobil yang membawa keduanya memasuki area parkir pusat perbelanjaan,yang menyediakan arena permainan untuk anak-anak.Diego keluar dan menggendong baby Bian.penampilan keduanya sungguh memukau,paras tampan keduanya membuat beberapa pasang mata khususnya ibu-ibu dan para wanita muda terpesona.ada yang mengira jika Diego adalah seorang duda beranak satu,melihat Diego yang tak membawa pasangan.hal tersebut tak mengganggu Diego maupun Bian,mereka sudah terbiasa mendapat perhatian dan tatapan memuja dari para ibu-ibu dan wanita muda yang kagum pada mereka.Diego membawa Bian,ke tempat permainan,ia membiarkan Bian berbaur dan bermain dengan anak-anak seusianya.dengan sabar Diego menemani dan menunggui Bian, yang mencoba berbagai permainan yang tersedia di tempat itu.


Senyum dan tawa Bian adalah kebahagiaan buat Diego,ikatan batin keduanya telah terjalin sejak Bian lahir.setelah puas bermain,Bian minta di belikan ice cream,Diego membawanya memilih ice cream kesukaannya.Diego membawa Bian duduk disebuah meja, sambil menikmati ice cream yang telah mereka beli.


Sementara itu dibawah gedung,mobil Bara memasuki area parkir.ia mengantar sang ibu yang entah kenapa minta di antar olehnya,untuk membeli beberapa keperluan rumah.biasanya sang ibu akan membawa sopirnya, dan salah satu pelayan di rumah,jika ia berniat membeli keperluan rumah.namun pagi ini entah kenapa sang ibu, memintanya menemaninya dengan alasan bahwa dirinya, tidak pernah menemani sang ibu belanja.dengan sedikit kesal dan sedikit adegan drama,Bara mengantar sang ibu.


“Jika sudah selesai nanti telpon ya Ma,Bara tidak mau ikut muter-muter!”


“Bara!”


“Mama kan hobinya muter-muter dulu habis itu baru belanja,capek Ma!” 


Salah satu  pelayan yang ikut dengan mereka, tertawa mendengar keluhan sang Tuan Muda,yang memang benar adanya.


“Jangan tinggalin Mama ya,awas saja kalau kamu berani!”


“Siap Mamaku yang cantik!”


Dengan sedikit kesal sang ibu meninggalkan Bara sendirian di parkiran,Nyonya Santika dan sang pelayan memasuki Mall,mencari sesuatu yang mungkin saja mencuri perhatiannya.1 jam hingga 2 jam berlalu,Bara merasakan bosan,ia memutuskan masuk kedalam Mall dan mencari sesuatu yang bisa ia makan.Bara berjalan melewati beberapa lantai, ketika kakinya melangkah kelantai pusat permainan anak,pandangannya menangkap dua sosok manusia yang ia kenal.


“Bukankah itu Baby Bian dan Diego”,,Bara bergumam pelan.dengan langkah lebar ia mengikuti kemana mereka pergi,dari kejauhan Bara menatap keduanya yang sedang menghabiskan waktu bersama,dengan berbagai macam permainan yang Bian sukai.setelah merasa puas bermain dan lelah,Diego menggendong Bian dan membawanya ketempat mainan.Bian berlari dengan bahagia menyusuri lorong-lorong tempat berbagai macam mainan yang tersusun dan ditata dengan rapi.


“Ian mau aianan ady,,!”(Bian mau mainan Daddy)


“Pilih yang kau sukai pangeran!”


Bian memilih mainannya,Diego pun memilih dan melihat mainan yang menurutnya bagus untuk Bian, tanpa ia sadari Bian telah menjauh darinya.


“Hai pangeran kecil,kau mau mainan ini?”


“Ian au,,!”(Bian mau)


Bara mendekati Bian, dan memberikannya sebuah mainan robot keluaran terbaru.Bian menerimanya dengan senang,bahkan Bian memeluk Bara sebagai ungkapan rasa terimakasihnya.tubuh Bara membeku mendapat perlakuan hangat, dari seorang anak yang masih berumur 2 tahun tersebut,ia kagum dengan sikap sang anak.


“Aci om,,!”(terimakasih om)

__ADS_1


Hati Bara menghangat,ia memeluk dan mencium pipi gemul Bian.sehingga membuat Bian tertawa karena geli.entah perasaan apa yang Bara rasakan,ia seperti memiliki sebuah ikatan dengan Bian.Bara tak melewatkan waktu yang singkat itu bersama Bian,ia merogoh ponselnya dan mengambil gambarnya bersama Bian, yang tersenyum dan bergaya saat gambarnya diambil,membuat Bara gemas dan menyerangnya dengan ciuman yang bertubi-tubi.



__ADS_2