
"Aku yakin itu tadi Cherry, penglihatanku tak mungkin keliru" gumam Steve sepanjang perjalanan. Steve tiba-tiba menghentikan kendaraannya, dia memutuskan untuk membelokkan kendaraannya ketempat dimana dia melihat Cherry.
Drrrttt...
"Iya Nev," Steve langsung mengangkat telfon dari Neva.
"Kau dimana Steve? hari ini ada ujian dosen killer dan kau belum sampai disini" ucap Neva dengan nada sedikit marah.
"Neva ada hal penting yang harus aku selesaikan, maaf aku tak bisa ikut ujian hari ini," sahut Steve.
"Ta--tapi Steve,"
"Neva maaf aku sedang buru-buru," ucap Steve memotong ucapan Neva lalu menutup panggilannya.
Steve kembali berkonsentrasi memikirkan Cherry, saat ini dia sudah sampai dimana dirinya melihat Cherry.
"Aku akan menyusuri jalanan ini pelan-pelan, aku sangat yakin jika itu Cherry" Steve bermonolog kepada dirinya sendiri.
"Ayo dong Cherr... itu pasti kau, aku sangat yakin. Senyumanmu sangat berbeda dengan wanita pada umumnya," Steve terus saja bergumam sepanjang jalan.
Cherry dan bu Sri tiba di Rumah sakit besar tengah kota, langkah Cherry masih terasa berat. Rasanya dia tak tega melihat bu Sri harus memeriksakan kandungannya di Rumah sakit besar seperti ini.
"Ayo nak... apa yang kau tunggu?" tanya bu Sri.
"Bu... aku tak apa-apa, jikapun aku mual itu wajar. Karena yang pernah aku baca setiap ibu hamil pasti mengalami yang namanya mual muntah." tolak Cherry sekali lagi.
"Nak, bidan Fara sudah menyarankan dirimu untuk memeriksakan kandungan di Rumah sakit ini karena peralatannya yang lengkap. Apa lagi yang kau pikirkan nak? apa kau tak mau melihat kondisi bayimu?" tanya bu Sri.
"Sudahlah, tak usah kau pikirkan soal biaya. Uang bisa dicari, tapi kesehatan itu ga bisa nak. Do'ain ibu sehat agar ibu bisa melihat cucu ibu," sambil mengelus perut Cherry.
Cherry sangat terharu mendengarnya, dirinya tak menyangka akan mendapatkan ibu angkat sebaik ibu Sri yang menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.
Cherry langsung memeluk bu Sri, "terimakasih sudah menjadi ibu untukku bu...," ucap Cherry sambil menyeka air matanya.
"Putri ibu tak boleh menangis, sekarang kita masuk buang rasa tak enak atau apapun itu"
Cherry dan bu Sri berjalan masuk kedalam Rumah sakit tersebut, bersamaan dengan Steve yang menemukan mereka.
"Itu... itu... itu Cherry!" teriak Steve dalam mobilnya. Buru-buru dia membelokkan setirnya masuk menuju parkiran Rumah sakit.
"Aku tak boleh lagi kehilangan jejaknya," ucap Steve.
Setelah mendapatkan tempat parkir yang nyaman, Steve berlari masuk kedalam Rumah sakit tersebut. Sesampainya di bagian pendaftaran, Steve memutar matanya mencari sumber tujuannya. Ditelitinya setiap pengunjung satu persatu, diulang lagi sampai Steve menemukan tujuannya.
__ADS_1
"Sial! cepat sekali dia hilangnya," gerutu Steve.
Steve berkacak pinggang hampir frustasi didalamnya. Saat dia tak sengaja menoleh kesamping, tujuannya ditemukan. Cherry dan bu Sri melewati dimana Steve berdiri.
"Cherry...," panggil Steve.
Cherry menghentikan langkahnya mendengar namanya ada yang memanggil.
"Cherry..." Steve memanggilnya kembali tapi kali ini dengan mendekatinya.
"Steve..." ucap Cherry dengan lirih. Pria yang di hadapannya saat ini benar sahabatnya.
"Cherry... kemana saja kau selama ini?" tanya Steve sangat bahagia. Tak disangka jika hari ini dia menemukan sahabatnya yang sudah lama menghilang tak ada kabar.
"Kau tahu, semua orang mengkhawatirkanmu. Apalagi Lucas dia seperti orang gila yang tak kenal waktu untuk mencarimu" imbuhnya.
"Ma-maaf Steve, tapi aku---"
"Aku tau Cherry, kebenaran itu sangat menyakitkan. Tapi ga semua yang kau dengar itu benar...," sahut Steve memotong ucapan Cherry.
"Steve, jika kau bertemu aku untuk membahas itu jangan pernah temui aku lagi!" ucap Cherry tegas lalu akan melangkahkan kakinya.
"Cherry... oke, sorry" ucap Steve menahan Cherry agar tak pergi.
"Steve....," lirik Cherry dengan tajam. Steve berhasil membuat Cherry mengalihkan perasaannya.
"Kalau kau bertemu denganku hanya untuk mengejekku, maka sebagai hukumannya kau tak boleh lagi bertemu denganku." sahutnya dengan sewot.
"Mau berubah jadi mak Lampir lu Cherr?" sahut Steve kembali ke mode lu gua.
"Bukan mak Lampir tapi bunda dong," jawaban yang bagus kembali ke mode memuji diri sendiri.
"Bunda topi saya... kalau tidak bunda berarti jadinya emak," sahut Steve dengan nada lagu topi saya bundar.
"Hissst... dasar! amit-amit jabang bayi, jangan ditiru ya anak-anaknya bunda, om Steve sesat ga tau jalan pulang makanya suka gentayangan." sambil mengelus perutnya sendiri.
Steve langsung kicep, ingin sekali dia menjitak kepala Cherry seperti yang dilakukannya dulu saat sekolah namun ia urungkan, karena Cherry sekarang bukan anak sekolah lagi melainkan akan segera menjadi seorang ibu.
"Cherr, ga berat apa beban suami diperut elu?" tanya Steve mulai aneh.
"Beban suami? maksudnya?" tanya balik Cherry belum paham.
"Kan iya beban suami elu, itu kan bibit dia" jawab Steve mulai asal.
__ADS_1
"Kampret!" ucap Cherry dengan lirih, kini dia harus menundukkan kepala dengan khidmat karena para pengunjung diruang tunggu sedang memperhatikannya. Mungkin mereka juga mendengarkan ucapan Steve yang mulai acak adul.
"Aw... sakit Cherr!" teriak Steve mendapat capitan dipinggangnya.
"Bisa ga ngomongnya ga kemana-mana, malu tau sama orang-orang," bisik Cherry dengan nada mengancam.
Steve menoleh kearah sekitar, benar ternyata semua orang sedang memperhatikannya. Bahkan salah satu diantaranya ada yang senyum-senyum tak jelas.
"Cherry...," panggil bu Sri selesai dari tempat pendaftaran.
"Sekarang kita pindah ke lantai atas untuk bertemu dengan dokter kandungan," ajak bu Sri. Bu Sri melihat Steve yang berada disamping Cherry. Diperhatikannya Steve dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Bu... perkenalkan, ini sahabat Cherry. Namanya Steve" sahut Cherry takut bu Sri berpikir yang bukan-bukan.
"Sahabat?" tanya bu Sri memastikan.
"Ibu kira tadi suami nak Cherry,"
Glegek!
Hati Steve dag dig dug duer antara bahagia atau nelangsa dikira suami Cherry.
Cherry menyenggol tangan Steve agar bersalaman dengan bu Sri. Steve langsung menyambar telapak tangan bu Sri lalu menciumnya dengan takdzim.
"Lebih baik kita segera ke ruangan dokter," saran bu Sri.
Mereka bertiga naik ke lantai 3 untuk bertemu dokter yang menangani kehamilan Cherry. sesampainya didepan pintu, Steve memilih untuk menunggu diluar ruangan.
Tok.. tok.. tok... cekrek...
"Selamat pagi dok," sapa bu Sri setelah masuk ke ruang dokter.
"Selamat siang ibu..., bagaimana apa keluhannya ibu?" tanya dokter yang sebenarnya adalah dokter Rendi.
"Begini dok, anak saya sedang hamil tiap hari mual muntah tak terkontrol. Saya takut terjadi apa-apa dengan cucu saya, apalagi bidan Fara mengatakan jika calon bayi anak saya terdapat dua detak jantung" ucap bu Sri.
"Boleh ibu--" ucap dokter Rendi terkejut saat membaca nama pasiennya.
'Cherry.... bukankah ini nama istri Lucas' batin Rendi.
Benar saja setelah diperhatikan benar jika itu adalah Cherry, wanita pertama yang membuatnya melihat dunia Baru di Planet pluto. Sayangnya Cherry adalah istri sahabatnya sendiri.
'Aku harus segera memberitahu Lucas'
__ADS_1
Bersambung....