
Irene membuka pintu ruang meeting dengan penuh semangat dan senyuman lebar yang terlukis di wajahnya.
"Maaf saya terlambat," Ucap Irene yang menyadari keberadaan Afnan disana.
"Kenapa kamu terlambat?," Ucap Afnan menegur Irene.
Irene yang mengenal suara itu pun sontak langsung menoleh ke arah Afnan.
"Afnan?! Dia ngapain ada disini," Batin Irene yang sangat terkejut melihat Afnan berada ada di dalam ruangan itu.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?," Ucap Afnan sambil melangkah maju ke arah Irene, Irene yang takut perlahan melangkah mundur.
"Wah sepertinya Pak Afnan akan benar - benar meledak, sebelum Pak Afnan menyakiti wanita itu lebih baik aku menghentikan Pak Afnan," Ucap Akselino dengan nada pelan.
Akselino pun langsung berlari dan berdiri di antara Irene dan juga Afnan.
"Kamu ngapain?,"
"Ah, aku hanya ingin melindungi wanita ini saja dari harimau yang lapar seperti bapak,"
"Menyingkirlah,"
"Hah?!,"
"Menyingkir saya bilang,"
"Menyingkirlah, Akselino,"
"Ba-baik Pak,"
"Kamu mau apa Afnan,"
"Selesai meeting ini, kamu temui aku. Kamu masih punya urusan denganku,"
Setelah mengatakan hal itu dengan sangat tegas kepada Irene, Afnan pun langsung kembali ke posisi awal dia berdiri.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu saja, cepat duduk, meeting ini akan segera saya mulai,"
"Ba-baik Afnan, eh maksud saya Baik Pak Afnan,"
Irene pun langsung duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Sementara, Akselino curiga bahwa Irene sebenarnya mengenal Afnan karena Irene mengekspresikan gerak - gerik tidak nyaman saat berada di satu ruangan bersama dengan Afnan.
"Ada hubungan apa sebenarnya wanita ini dengan Afnan? Curiga aku dengan wanita ini," batin Akselino sambil terus menatap tajam ke arah Irene.
****
__ADS_1
Irene berjalan di belakang Afnan. Ia sebenarnya sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Afnan. Tetapi, dia membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga anaknya.
"Kalau bukan karena Kenzie, aku gak mau lagi berurusan dengan laki - laki ini lagi. Tapi, apakah suatu saat jika Kenzie tau bahwa Afnan adalah Papanya, dia akan memilih untuk tinggal bersama dengan Afnan karena kan Kenzie sangat menginginkan sosok seorang Papa," Batin Irene
Afnan masuk terlebih dahulu ke ruangannya disusul oleh Irene yang juga masuk ke dalam ruangan itu. Afnan duduk di kursinya dengan Irene yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa kamu terlambat datang pagi ini?,"
"Aku tadi harus mengurus anakku terlebih dahulu. Jadi aku minta maaf,"
"Kamu terlihat kaku denganku, Ren. Bukannya kita masih suami istri sampai saat ini,"
"Jika kamu mau menandatangani surat itu mungkin saat ini kita sudah selesai, Nan. Aku ingin bertanya padamu, mau sampai kapan kamu menahanku seperti ini,"
"Sampai selamanya, aku gak akan pernah melepaskanmu, Ren. Aku cinta sama kamu,"
"Jika kamu cinta denganku. Kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku,"
"Aku sudah katakan padamu, Ren. Aku akan berusaha melupakan Nathalia. Lalu, kenapa kamu pergi dariku, terus sekarang siapa anak itu. Kamu tidak mungkin sudah menikah lagi kan,"
"Kenzie adalah anakku. Kamu tidak perlu tau darimana asal Kenzie. Hubungan kita itu cuma sebatas sekretaris dan juga Boss. Anggap saja situasi ini seperti awal kita bertemu. Aku juga tau, kamu kan yang meminta Reza untuk menjadi sekretarismu disini. Kalau kamu benar - benar tidak mau melepaskanku maka biarkan aku sendiri yang membuatmu lelah dan melepaskanku dengan sendirinya,"
Irene pun keluar dari ruang kerja Afnan.
"Sebenarnya anak laki - laki itu siapa? Irene terus berkata bahwa anak itu adalah anaknya. Tapi siapa ayah dari anak itu?,"
****
Kenzie pun menangis karena tangannya terasa seperti terbakar. Ia berjalan ke ruang tamu untuk menelepon Irene menggunakan telepon rumah. Tetapi saat ditelepon, Irene tidak kunjung juga mengangkatnya hingga akhirnya Kenzie pun memutuskan untuk menelepon Gisella.
Gisella yang khawatir dengan keadaan Kenzie pun langsung mengangkat telepon dari Kenzie.
"Iya halo sayang, ada apa? Tumben sekali kamu menelepon Tante di jam segini,"
"Tante, hiks...hiks...hiks," Kenzie masih terus menangis karena menahan rasa sakit di tangannya.
"Kenzie, kamu kenapa sayang? Kamu kenapa menangis seperti itu,"
"Tangan Kenzie sakit Tante,"
"Hah?! Tangan kamu kenapa?,"
"Tadi Kenzie mau ambil makanan yang mama taruh di dalam microwave tapi Kenzie mengambilnya langsung tanpa menggunakan kain jadinya tangan Kenzie terasa seperti terbakar Tante,"
"Astaga sayang, kamu kenapa selalu tidak hati - hati sih. Yaudah kamu tahan sebentar saja ya. Tante akan segera datang,"
__ADS_1
"Baik, Tante. Tante cepat datang kesini yah,"
"Iya sayang, Tante pasti akan cepat datang kesana,"
Gisella pun langsung keluar dari ruang kerjanya. Saat ia keluar, seorang pria bernama Arman menahan dirinya untuk pergi.
"Gis, kamu mau kemana?,"
"Arman, aku harus segera ke rumah Irene. Kenzie butuh bantuan aku,"
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan kamu sebagai dokter di rumah sakit ini?,"
"Aku mohon sama kamu, Man. Untuk beberapa jam saja kamu tolong gantiin aku ya jika ada pasien yang membutuhkan penanganan medis,"
"Gis, mau sampai kapan kamu kayak gini. Mau Sampai kapan kamu terus ngurusin sahabat kamu dan anaknya yang gak jelas dan gak tau siapa bapaknya itu,"
"Man, kamu kok jadi kayak gini sih. Kamu harus ingat ya Man, kalau aja hari itu Irene gak nolongin aku, mungkin sampai detik ini aku sudah tidak ada di hadapan kamu. Aku berhutang nyawa sama Irene. Terus apa salahnya sekarang aku membalasnya dengan membantu dia menjaga anaknya. Lagipula, Kenzie itu bukan anak yang gak jelas. Dia punya Papa kok, hanya saja Irene tidak ingin lagi berhubungan dengan pria itu,"
****
Tok...Tok...Tok
"Masuk,"
Akselino masuk ke dalam ruang kerja Afnan.
"Akhirnya kamu datang juga, lama sekali sih,"
"Ya sabar kenapa, Nan. Namanya tadi juga aku me toilet sebentar. Ada apa kamu memanggilku?,"
"Aku mau kamu melakukan sebuah pekerjaan penting,"
"Pekerjaan apa, Nan?,"
"Kamu cari tau tentang perempuan ini," Afnan melempar foto Irene ke atas meja kerjanya. Akselino pun mengambil foto itu. Ia merasa kaget karena perempuan yang dimaksud Afnan adalah Irene.
"Perempuan ini kan,"
"Iya dia perempuan yang terlambat tadi,"
"Untuk apa aku mencari tau tentang perempuan ini,"
"Dia adalah istriku - Irene. Aku menyuruhmu mencari tau tentang Irene karena aku penasaran dengan siapa anak yang selalu bersama dengannya itu. Cari tau tentang Irene dan juga anaknya itu. Kasih aku informasi tentang mereka berdua secepatnya,"
"Tapi Nan pekerjaanku di kantor ini masih sangat banyak,"
__ADS_1
"Aku akan memberikanmu bonus yang sangat banyak jika kamu berhasil memberikanku informasi penting tentang Irene dan juga anaknya itu,"
"Bonus ya, oke baiklah kalau begitu aku akan segera mencari tau tentang Irene dan juga anaknya itu,"