
Sesampainya Afnan dan Irene di rumah sakit, mereka langsung menghampiri Gisella yang sedang terduduk sembari menangis.
"Gis, gimana keadaan Kenzie,"
"Dokter masih di dalam, Ren. Kata dokter tadi Kenzie harus segera di operasi dan tadi juga keadaan Kenzie semakin memburuk,"
"Kenzie," Ucap Irene yang langsung berlari ke arah pintu ruang UGD. Ia melihat dokter dan beberapa perawat yang sedang memeriksa keadaan Kenzie dari luar pintu kaca ruang UGD.
"Kenzie sayang, maafin mama Nak. Ini semua salah mama. Mama seharusnya gak ninggalin kamu sendirian di rumah sayang, maafin mama ya,"
"Ren, kamu yang sabar ya," Ucap Afnan sembari menyentuh bahu Irene untuk mencoba menenangkannya.
Irene tiba - tiba saja kembali penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Kenzie hingga ia bisa dalam kondisi kritis seperti itu. Irene berbalik dan menghujani Gisella dengan berbagai pertanyaan yang terus menghantui pikirannya.
"Apa yang terjadi dengan Kenzie sampai dia menjadi seperti itu, Gis. Aku mohon jawab aku, kenapa Kenzie bisa sampai seperti itu,"
"Ren, aku gak tau apa - apa. Saat aku datang pintu rumahmu sudah dalam kondisi terbuka. Di dalam sana sudah tidak ada Kenzie, aku berkeliling untuk mencari Kenzie. Tapi saat aku menemukannya, Kenzie sudah dalam keadaan berlumuran darah akibat tertabrak mobil. Menurut warga yang melihatnya, Kenzie berlari ketakutan seperti dikejar orang hingga ia tidak melihat jalan dan akhirnya tertabrak mobil,"
"Jadi maksudmu, Kenzie tadi itu berusaha lari dari orang jahat yang mau menculiknya,"
"Iya bisa jadi seperti itu, Ren,"
Ketika Irene dan Gisella sedang mengobrol tiba - tiba saja dokter yang menangani Kenzie pun keluar. Irene yang sedang panik dan khawatir pun langsung menanyakan keadaan Kenzie pada dokter.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok,"
"Kenzie mengalami cedera parah pada bagian kepalanya. Dia harus segera di operasi. Namun, operasi ini akan membutuhkan banyak sekali darah sementara stok darah di rumah sakit ini untuk golongan darah B tidak lah cukup,"
"Biar saya aja dok yang mendonorkan darah untuk operasi Kenzie,"
"Kalau boleh tau bapak ini siapa ya,"
"Dia itu adalah-,"
"Saya adalah Papanya, Dok," Ucap Afnan yang memotong perkataan Irene.
"Oh baiklah, kalau begitu bapak boleh ikut saya. Kita harus segera melakukan operasi pada anak itu,"
"Baiklah, Dok,"
Ketika Afnan ingin pergi untuk mendonorkan darahnya agar operasi Kenzie bisa segera dimulai, Irene tiba - tiba saja menarik tangannya.
__ADS_1
"Afnan, apa yang kamu lakukan?,"
"Aku ingin menolong anak kamu. Aku tau dia sangat berharga untukmu dan aku gak mau kamu sedih,"
"Tapi ini sangat berbahaya Afnan,"
"Percaya sama aku, Ren. Aku akan baik - baik saja. Tapi sebelum aku melakukan semua ini, aku hanya ingin mendengar satu kejujuran dari mulutmu, katakan padaku apa benar Kenzie adalah anakku,"
Irene yang mendengar perkataan dari Afnan pun sontak terdiam. Ia berfikir sejenak untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Afnan sampai akhirnya ia melihat cinta yang tulus di mata Afnan. Ia pun seketika melupakan kebencian dan juga rasa sakit di hatinya.
Irene menghela nafas yang panjang, lalu ia berkata, "Iya, Kenzie itu adalah anak kamu. Saat aku pergi dari rumah, satu bulan kemudian aku baru menyadari bahwa aku sedang hamil. Aku berjuang sendiri selama ini untuk merawat dan membesarkan Kenzie dengan semampuku,"
"Kenapa selama ini kamu sembunyikan semua ini dari aku?,"
"Karena aku sakit hati denganmu, Nan. Aku melihat kamu yang terus berhubungan dengan kakakku sendiri. Kamu membohongiku,"
"Kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, Ren. Semua yang terjadi itu tidak seperti apa yang kamu lihat, bayangkan dan juga kamu pikirkan. Hingga detik ini aku masih tetap mencintaimu bahkan aku selama ini aku berusaha keras untuk menemukanmu, aku menyuruh orang - orang kepercayaanku, tapi mereka tetap saja tidak bisa menemukanmu sampai akhirnya takdir lah yang mempertemukan kita dengan sendirinya,"
"Kamu tidak mungkin melakukan itu semua selama ini kan, Nan,"
"Kamu mau percaya atau tidak itu terserah tapi itulah kenyataan yang sebenarnya,"
Setelah mengatakan itu, Afnan pun pergi meninggalkan Irene. Ia bersiap untuk mendonorkan darahnya untuk anaknya.
*****
.
Di dalam sana, Afnan menyaksikan langsung bagaimana anak kandungnya sedang berjuang melawan maut.
"Kamu pasti bisa sayang, kamu pasti kuat, kamu adalah jagoannya papa, kamu harus kuat seperti papa ya Nak, maafin Papa karena gara - gara Papa kamu jadi seperti ini. Tapi jika kamu bisa kuat dan melawan semua rasa sakit itu, Papa janji sama kamu kalau Papa akan terus memberikan kebahagiaan tak terhingga sama kamu. papa mohon kamu harus kuat ya Nak, ya tuhan aku mohon jangan pisahkan aku lagi dengan anakku. Aku ingin sekali bisa memeluknya dan mendengar suaranya saat memanggilku dengan sebutan Papa,"
Saat operasi sedang berlangsung, Kondisi Afnan tiba - tiba saja memburuk. Ia pun seketika pingsan, sehingga salah satu dokter langsung menangani dirinya.
******
Seminggu kemudian.....
"Papa, papa, papa, bangun papa, ayo bangun, Kenzie kangen sekali dengan Papa, Kenzie mau main sama Papa,"
Suara kecil Kenzie perlahan membuat Afnan sadar dari tidur panjangnya. Afnan membuka matanya perlahan dan ia melihat Kenzie yang sudah berdiri di samping ranjangnya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Papa, akhirnya Papa bangun juga. Sudah hampir seminggu Kenzie terus jagain papa disini dan Kenzie selalu berdoa supaya papa bisa cepat sadar,"
""Kenzie tau darimana kalau Om ini adalah Papanya Kenzie,"
"Dari mama, mama udah cerita semuanya,"
"Kenzie, maafin Papa ya,"
"Papa tenang aja, Kenzie udah maafin semua kesalahannya papa kok. Termasuk kesalahan Papa yang udah nyulik Kenzie dengan niat mau tes DNA diam - diam sampai Kenzie tertabrak dan masuk rumah sakit,"
"Kamu tau itu juga darimana?,"
"Dari Om ganteng - temannya Papa. Om ganteng udah cerita semuanya sama Kenzie dan juga Mama,"
"Kenzie, ayo kita pulang dulu," Irene datang dan langsung berteriak memanggil Kenzie.
"Mama! Papa udah sadar nih,"
"Apa?! Kamu udah sadar Nan, syukurlah. Biar aku panggilkan dokter dulu ya,"
"Gak usah, Ren. Aku cuma mau kamu dan juga Kenzie ada disini. Aku akan jauh lebih baik jika kalian berdua terus menemaniku,"
"Nan, tapi gugatan ceraiku padamu sudah dikabulkan oleh hakim,"
"Gak apa - apa, kita kan bisa nikah lagi. Apakah kamu mau menikah denganku, Hidup bersamaku, menemaniku sepanjang waktu, dan bersama - sama merawat jagoan kecil kita,"
"Ayolah, Ma,"
Irene menghela nafas yang panjang, lalu ia berkata, "Iya, Afnan. Aku mau menikah denganmu,"
"Yeah, akhirnya aku punya Papa, akhirnya Kenzie punya keluarga lengkap, ada Papa, dan juga ada Mama,"
Irene dan Afnan pun tertawa melihat Kenzie yang melompat kegirangan.
*******
*Irene POV*
Nah setelah beberapa bulan Afnan keluar dari rumah sakit akhirnya kami memutuskan untuk menikah kembali. Tapi pernikahan kami kali ini diselenggarakan dengan penuh kebahagiaan dan juga cinta, tidak seperti pernikahan kami sebelumnya terlalu banyak drama disana. Aku bahagia karena akhirnya aku dan Afnan bisa kembali berdamai dengan masa lalu dan membangun dari awal lagi keluarga kecil kami yang sempat hancur dan berantakan karena sebuah kesalahpahaman.
...****************...
__ADS_1
...SELESAI...
"