Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 154. Do'a yang terkabulkan


__ADS_3

Mengetahui kebenaran jika Desty hamil, Brandon semakin merasa menyesal. Brandon mencoba menghubungi ponsel Desty meski dia tahu jika ponsel Desty sudah tak aktif.


"Tuhan, seumur hidup gua mohon padamu pertemukan gua dengan Desty. Ijinkan gua memperbaiki semuanya" keluh Brandon.


"Brandon... aku sudah menunggumu daritadi, tapi kau tak kunjung menjemputku." protes Dania karena hampir 3 jam dia menunggu Brandon.


"Maafin gua Dania. Ayo kita pergi sekarang" ajak Brandon.


Mereka berdua akhirnya pergi mengunjungi teman Dania. Sedangkan Lucas dia harus menjemput Cherry dan baby Aksa di kediaman ibu Sri.


Sepanjang perjalanan Brandon terus saja memikirkan ucapan Lucas.


'Jika Desty hamil, itu artinya anak itu adalah anak gua. Gua harus cari tahu soal itu, karena kalau memang itu anak gua... gua bakal pertahankan' batin Brandon.


"Brandon... apa kau tak mendengarku?" tanya Dania.


"Maaf Dania... gua sedang kurang konsentrasi." jawab Brandon.


"Brandon... sebenarnya perasaanmu gimana padaku? apa kau menyukaiku?" tanya Dania disaat mood Brandon jelek.


"Dania... kita bicarakan hal ini dilain waktu. Okey!" ucap Brandon sengaja.


Mendengar jawaban Brandon, Dania merasa dirinya tak penting di pikiran Brandon. Dania sesekali melirik kearah Brandon dengan perasaan kecewa. Hampir 3 bulan lamanya Dania dekat dengan Brandon tapi tak sedikitpun Brandon membahas tentang perasaannya.


Dania menarik nafasnya lalu membuangnya untuk sekedar melegakan paru-parunya yang terasa sesak.


'Brandon... apakah aku tak pernah ada di hatimu?' batin Dania.


Perjalanan yang hampir memakan waktu 45 menit itu mereka lalui. Kini keduanya telah tiba ketempat yang dituju.


"Ayo Brandon...," ajak Dania langsung mengalungkan tangannya di lengan Brandon.


"Gua disini saja Dania...," tolak Brandon.


"Bagaimana bisa kau disini sendirian... aku sengaja mengajakmu untuk menemaniku." Dania masih bersikeras mengajak Brandon masuk kedalam. Dengan sangat terpaksa akhirnya Brandon mengikuti ajakan Dania. Bersamaan dengan itu, Desty yang tiba bersama Reva dengan membawa pesanan bunganya ikut masuk setelah Dania dan Brandon masuk terlebih dulu.


"Wow... keren sekali, baru mau ngelamar udah semewah ini. Apalagi kalau wedding... Bisa-bisa ngalahin sultan." gumam Reva keheranan melihat acara katakan cinta real. Desty hanya tersenyum menanggapi keheranan Reva.


Desty mengedarkan pandangannya mencari sosok pria bernama Rayyan yang memesan bunga di tokonya. Saat Desty mengedarkan pandangannya, Desty seperti melihat sosok Brandon sedang melintas begitu saja.


"Aku seperti melihat Brandon" gumam Desty lirih.

__ADS_1


"Ah... itu hanya halusinasimu Desty, kau terlalu lelah memikirkan pria yang sama sekali tak menghargaimu."


"Maaf, anda siapa? ada perlu apa?" tanya seorang pria tinggi bertanya kepada Desty dan Reva.


"Sebelumnya kami berdua meminta maaf tuan. Maksud tujuan kami kemari untuk keperluan mengantarkan pesanan bunga tuan Rayyan" jawab Desty.


"Anda bisa menaruhnya disana nona." sambil menunjuk kearah yang sudah disiapkan.


"Terimakasih tuan," ucap Desty.


"Reva... aku menaruh bunga ini kesana dulu." pamit Desty.


"Iya Desty... aku akan menunggumu disini sambil menikmati kue ini" sahut Reva.


Desty berjalan menuju tempat yang diarahkan seorang pria tadi, selesai menaruhnya Desty berbalik dan tak sengaja menabrak seseorang sehingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang. Untungnya orang yang Desty tabrak sigap menangkap tubuh Desty.


"Aaaaaaa...!" teriak Desty.


"Apa aku baik-baik saja?" tanya Desty masih memejamkan matanya. Menyadari dirinya baik-baik saja, Desty membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya sebab orang yang menahan tubuhnya saat ini bukan lain adalah Brandon.


Brandon tersenyum kearahnya, hatinya merasa sangat bahagia karena Tuhan sudah mendengar do'anya.


"Kemana saja lu?" pertanyaan yang terlontar pertama dari Brandon.


"Bukan urusanmu." sahut Desty pura-pura ketus.


Brandon terus saja memperhatikan Desty dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Namun, perhatian Brandon terhenti di perut Desty yang mulai membuncit. Melihat perut Desty entah mengapa hati Brandon sangat bahagia, seperti bertemu buah hati pada umumnya.


"Eit... mau kemana lu!" Brandon menarik pergelangan tangan Desty saat menyadari Desty akan pergi darinya.


"Lu kudu tanggung jawab atas kesialanku 3 bulan ini." ucap Brandon.


Keduanya kini berpindah tempat ke taman belakang gedung. Brandon sengaja memaksa Desty untuk mengikutinya.


"Aku mau pulang...!" ucap Desty kesal.


"Pulang kemana? lu bakal pulang sama gua. Jadi gak usah main kabur-kabur mulu" sahut Brandon.


"Ngeselin banget sih! emang apa urusanmu larang-larang aku" protes Desty.


"Ada urusannya. Bahkan lebih utama urusannya ama gua." sahut Brandon.

__ADS_1


"Hilih... ngomong aja kalau urusannya gak ada yang bantuin kerjaanmu di kantor." sindir Desty.


"Lu mau tahu urusannya?" tantang Brandon.


Melihat Brandon serius, hati Desty sedikit menciut. Desty menundukkan pandangannya dan sedikit menggigit bibirnya.


"Urusannya sama lu" sahut Brandon lagi.


"Daritadi kau bilang urusannya sama aku. Sekarang apa urusannya... bilang aja Bambang..." ucap Desty kesal.


"Karena lu mengandung anak gua." sahut Brandon pada akhirnya.


Desty langsung terdiam, bagai tersambar petir Desty terkejut jika Brandon mengetahui kehamilannya.


"Desty... gua sudah tau semuanya, mengenai kepergianmu, alasan lu mengundurkan diri dan menjauh dari kita semua. Lu pikir gua tenang dengan kepergian elu!" sahut Brandon saking kesalnya.


"Gua cari elu kemana-mana, pagi siang sore malam hujan terik matahari... gua nyariin elu Des..." ucap Brandon terlihat sekali dirinya sangat menyesal.


"Gua tahu lu marah sama ucapan gua pagi itu. Tapi percayalah Desty, gua tak pernah benar-benar serius mengatakan hal itu. Gua sangat kehilangan elu Des..." Brandon menundukkan kepalanya.


Desty tak kuat lagi membendung air matanya. Dia tak menyangka jika Brandon sangat peduli dengannya. Desty pikir, Brandon akan mengabaikannya, namun kenyataannya tidak... Brandon masih setia menunggunya.


Brandon berjongkok menahan tubuhnya dengan satu lutut yang ditekuk. Setelah itu Brandon meraih tangan Desty, menggenggam jemarinya.


"Desty... maukah lu sama-sama merawat dan membesarkan bayi kita?" tanya Brandon.


Desty menyeka air matanya, malam ini dirinya tak menyangka akan mendapatkan surprise jauh lebih berarti dari hidupnya.


"Maafin gua Desty..." ucap Brandon terlihat sangat menyesal.


"Gua pingin mengawali semuanya dengan lu lagi. Jika lu berkenan nerima gua, peluk gua Desty. Jika tidak, lepaskan tangan gua secepatnya"


Desty terdiam memikirkan jawabannya. Desty melepaskan tangan Brandon perlahan. Wajah Brandon langsung berubah kecewa.


"Ma-maaf Bran-don" ucap Desty.


Brandon menundukkan kepalanya, belum berani melihat kearah Desty. Desty sengaja membalikkan tubuhnya, begitupun dengan Brandon dia beranjak dari jongkoknya. Masih dengan wajah menunduk Brandon merasakan kecewa teramat dalam. Desty yang dia kira meninggalkannya rupanya berbalik dan langsung memeluk Brandon.


"Desty...." panggil Brandon lirih.


"Maafin aku Brandon"

__ADS_1


Bersambung....


...----------------...


__ADS_2