
Epsd. 51. Istri bodoh
"Vino.. boleh pinjam ponselnya sebentar saja" pinta Cherry.
"Lama juga boleh" sembari menyodorkan ponselnya, Vino lalu turun ke lantai bawah.
"Steve pasti menunggu kabarku" ucap Cherry sembari mengetik pesan untuk Steve.
'Aku sudah tiba ditempat tante. Hubungi aku dinomor ini, ini nomor sepupuku' (send) .
"Kenapa aku jadi kepikiran om.." Cherry bermonolog pada dirinya sendiri.
"Maafin aku om... aku orang yang ga bisa mengkhianati sebuah janji. Aku sudah berjanji kepada mba Reta setelah meninggalkanmu dia akan membebaskanmu" lanjut Cherry.
"Kenapa sih dari dulu elu Suka banget bikin hidup diri sendiri susah" Vino yang tak sengaja mendengar menyahut ucapan Cherry.
"Aku ga tau lagi harus gimana Vin... ini sebuah janji sedangkan aku pantang mengkhianati janji" Cherry beralasan.
"Tapi ga gini juga Cherry... mana ada coba istri yang merelakan suaminya untuk wanita lain? kecuali istri bodoh" sindir Vino.
"Kamu ngatain aku bodoh?" Cherry merasa tersindir ucapan Vino.
"Baguslah kalau elu ngerasa" sahut Vino.
Bukan ucapan lagi yang mereka lakukan, melainkan saling timpuk menimpuk menggunakan bantal seperti yang mereka lakukan waktu kecil dulu.
"Sepupu laknat! ngatain aku bodoh. Aku pintar tau, dari kecil juara kelas terus" ucap Cherry sombong.
"Ciih... sombong amat nih anak, juara kelas tapi ga juara memperjuangkan suami sendiri" kembali Vino menyindir Cherry.
"Vino... aku bakal buktikan kalau om pasti menjadi milikku seutuhnya tidak ada yang lain" ucap Cherry dengan yakin.
"Gue ga percaya... kalau berani telefon dia saat ini juga, bilang kalau baik-baik saja" sahut Vino yang ternyata memiliki strategi agar Lucas mengetahui dimana Cherry berada.
"Ini akal-akalan kamu aja kan Vin, supaya tau nomor ponsel suamiku" Cherry mengernyitkan dahinya memahami maksud dan tujuan Vino.
"Suka banget su'udzon sama orang sih Cherr....," protes Vino tak terima.
"Aku tuh hafal gelagat ka---" ucapan Cherry terjeda karena bunyi dering ponsel Vino.
"Steve, aku angkat telefon Steve dulu"
"Siapa lagi Steve? bukannya nama suaminya Lucas Seventeen" gumam Vino.
"Steve... aku baik-baik saja, gimana keadaan disana?"
"........... "
"Aku tak bisa Steve, kau kabari terus keadaan disana" ucap Cherry lalu menutup panggilannya.
"Lu selingkuh ya..," Vino curiga.
__ADS_1
"Sekali lagi kamu tanya yang aneh-aneh, aku tenggelemin di parangtritis" sahut Cherry sangat kesal.
"Lalu, siapa Steve?" tanya Vino kembali.
"Dia sahabat kecilku. Aku, Steve dan Neva kami sudah seperti saudara sendiri. Steve dia yang membantuku bisa sampai di sini dan memberikan biaya untukku melanjutkan sekolah di sini" jawab Cherry.
"Banyak yang menyayangimu Cherry," ucap Vino menepuk bahu Cherry.
"Hubungi suamimu Cherry, dia pasti sangat mengkhawatirkanmu" imbuh Vino sebelum meninggalkan Cherry.
"Om.. Cherry mulai merindukan om" ucap Cherry lirih.
**
"Brandon, apa kau sudah menemukan keberadaan Cherry?" tanya Lucas melihat Brandon tiba di kantornya.
"Belum" sembari menggelengkan kepalanya.
"Aaargh...! Cherry apa sih yang ada di pikiranmu" Lucas merasa sangat kesal.
Ceklek!
"Maaf Lucas, aku menerobos masuk. Aku hanya sangat khawatir dengan keadaanmu" ucap Reta baru tiba.
"Brandon sepertinya kau harus menambah penjagaan di kantorku" ucap Lucas.
"Lucas.. kenapa sikapmu masih seperti ini? aku sudah mencabut semua gugatanku bahkan aku harus kehilangan janinku" protes Reta.
Deg!
"Mak--maksud kamu apa Lucas? bohong-- bohong soal apa?" tanya Reta pura-pura.
"Reta cukup! aku sudah muak melihatmu! sekarang keluar sekarang atau aku panggilkan satpam saat ini juga" bentak Lucas.
"Lucas.. aku benar-benar tak tahu dengan yang kau maksud" sahut Reta masih bisa mengelak.
"Brandon kau bawa dia keluar sekarang juga sebelum aku menelannya mentah-mentah" perintah Lucas langsung dilaksanakan Brandon.
"Reta, silahkan keluar sekarang juga" perintah Brandon.
Reta dengan terpaksa keluar dari ruangan Lucas, tentunya dengan kekecewaan. Dia pikir dengan membuat Cherry pergi dari Lucas, dia bisa kembali dengan Lucas.
"Reta.. gue saranin mending elu baik-baik sama Ammar.. cuma dia yang bisa ngertiin elu" pesan Brandon sebelum Reta pergi.
"Hissst... dasar Brandon! asisten ga waras" gerutu Reta.
"Reta..." panggil Ammar yang ternyata mengikuti Reta sedari tadi.
"Kamu ngapain sih disini!" bentak Reta.
"Reta... aku sangat mengkhawatirkanmu. Kamu baru saja pulih dari keguguran kemarin, apa aku salah jika aku sangat mengkhawatirkan kondisimu?" Ammar beralasan.
__ADS_1
"Ga usah sok peduli! dari awal aku sudah mengatakan kalau aku tak pernah mencintaimu, perbuatan kita kemarin itu adalah sebuah kesalahan. Dan sekarang aku bersyukur karena anak itu pergi tanpa campur tanganku" sahut Reta yang entah mengapa langsung membuat Ammar merasa sakit hati.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan Reta. Kembalilah jika kau membutuhkanku" sahut Ammar dengan kesedihan yang menyelimuti hatinya.
**
"Lucas, aku sangat curiga jika ini semua ada unsur kesengajaan" ucap Brandon.
Lucas hanya melirik Brandon sembari memijat keningnya.
"Dan aku juga yakin jika Neva mengetahui dimana Cherry berada. Secara persahabatan mereka sangat dekat bahkan sudah seperti keluarga. Jadi, tak menutup kemungkinan jika Neva tau dimana Cherry berada" Brandon berargumen dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa aku tak memikirkan sampai kesitu.. kau benar, Neva pasti mengetahui ini semua" Lucas beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil kontak bersimbol kuda berdiri diatas meja kerjanya.
"Elu mau kemana?" tanya Brandon bingung belum paham.
"Menemui Neva..," jawab Lucas.
"Gue ikut" sahut Brandon mengikuti Lucas.
**
"Cherry sudah menghubungimu?" tanya Neva kepada Steve.
"Sudah.. baru saja dia mengabari jika sudah sampai kemarin sore" jawab Steve.
"Syukurlah kalau begitu" ucap Neva lalu menyeruput es jeruk didepannya.
"Steve memangnya kamu tahu dia pergi kemana?" tanya Neva.
"Yang aku tahu dia pergi ke Jogja, tapi dimana pastinya aku belum tahu" jawab Steve.
"Bagaimana dengan kakakmu?" tanya Steve kembali.
"Dia sangat terpukul bahkan hampir gila," jawab Neva kembali.
"Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa, perbuatan Cherry ada benarnya juga. Dia tak mungkin membiarkan suami dan mertuanya menderita. Hanya saja kesalahan dia langsung meninggalkan suaminya" Steve berpendapat.
"Mungkin setelah ini mereka berdua bisa lebih dekat" imbuh Steve.
"Dengan siapa dia di Jogja, sedangkan kita tahu jika dia seorang yatim piatu," Neva mulai mengkhawatirkan keadaan Cherry.
"Cherry disana bersama tante serta keponakannya, kau tak perlu khawatir lagi" ucap Steve menenangkan pikiran dan hati Neva.
"Tante, keponakan siapa?" tanya Lucas ternyata sudah mendengar obrolan Steve dan Neva.
Steve dan Neva menoleh kearah sumber suara, dia terkejut bukan main karena sudah kepergok soal obrolannya.
"Tante, keponakan siapa?" tanya Lucas lagi.
"Em---itu---anu--- Tantenya temenku" jawab Neva beralasan.
__ADS_1
Bersambung...