
"Dokter... Dokter...!" teriak Steve sembari membopong Cherry.
"Suster, bawa pasien ke ruang UGD!" perintah Dokter.
"Mohon maaf Tuan... anda tak bisa ikut masuk, hanya sampai disini saja" ucap suster.
Steve menghentikan langkahnya hanya sampai depan pintu UGD. Steve mondar-mandir menunggu kabar Dokter mengenai kondisi Cherry.
Drrrttt... Drrrtttt...
"Steve kau dimana? bisa dan yang lain terjebak disana bersama dengan bom yang belum bisa dijinakkan" ucap Vino memberitahu.
Sesampainya Vino ditempat mamanya bersama mama Risti, Neva dan Agha langsung saja diajak ketempat rahasia keluarga besar Rahayu.
Vino sendiri langsung berpamitan kembali membantu Lucas serta yang lain terjebak di gedung.
"Baiklah aku akan kesana Vino," jawab Steve lalu menutup panggilannya.
Selang 20 menit pemeriksaan pintu UGD terbuka, Cherry yang masih diatas brankar dipindahkan ke ruang rawat.
Steve mengikuti Dokter dari belakang. Setelah Cherry dipindahkan diruang rawat, Steve berencana meninggalkan Cherry.
"Bagaimana kondisinya Dokter?" tanya Steve khawatir.
"Apa anda suaminya?" tanya Dokter.
"Bukan Dok, saya hanya sahabatnya sejak kecil" jawab Steve.
"Nona Cherry mengalami hal yang wajar dialami para ibu-ibu muda yang hamil. Dia hanya perlu beristirahat, makan makanan yang bergizi dengan pola yang seimbang, serta vitamin yang cukup" ungkap Dokter mengenai kondisi asli Cherry.
"Cherry ham--hamil Dok?" tanya Steve memastikan.
"Iya... nona hamil, biarkan nona beristirahat. Saya akan memberikan vitamin kepadanya," ucap Dokter lalu berpamitan kepada Steve.
"Steve...," panggil Cherry yang ternyata belum istirahat.
"Cherry... kau harus istirahat," ucap Steve.
"Steve... aku mohon kepadamu rahasiakan kehamilanku dari keluarga om. Aku masih belum bisa menerima kebenaran soal ayah.. hiks.. hiks.. hiks...,"
Steve terdiam, dia mengerti apa yang dirasakan oleh Cherry saat ini. Tak mudah dirinya menerima maaf begitu saja, karena permintaan maaf saja tak akan bisa membuat ayah dan ibunya hidup kembali.
Sebenarnya ingin sekali Steve memberi saran kepada sahabatnya ini, tetapi kondisi Cherry sedang tak memungkinkan menerima saran dari siapapun termasuk dirinya. Steve hanya bisa diam mengikuti permintaan Cherry, dalam hatinya yang terpenting Cherry dan janinnya sehat.
Steve mengangguk menyetujui permintaan Cherry untuk tidak memberitahu persoalan kehamilannya kepada keluarga Lucas.
Steve kemudian berpamitan untuk kembali ke gedung.
**
__ADS_1
"Kau tahu Yora, Agha sangat mirip sekali denganmu. Banyak orang mengira jika Agha putra dari adikmu," cerita Lexi masih bertujuan agar Yora rileks.
"Adik?"
"Iya... adikmu sangat mirip sekali denganmu, pertama kali aku bertemu dengannya kupikir dia dirimu," jawab Lexi terkekeh dalam ceritanya.
"Aku baru tahu jika aku memiliki seorang adik, seperti apa dia dan dimana dia sekarang?" tanya Aiora penasaran.
"Setelah aku berhasil menjinakkan bom ini, aku janji akan mempertemukan kalian berdua" jawab Lexi.
"Ammar, nenek bilang jika semua kendali ada di kabel paling lurus tak bergelombang," ucap Reta seketika mengingat pesan nenek sebelum dirinya berpisah.
"Lexi... yang dikatakan Reta benar. Carilah kabel yang paling lurus tidak terdapat sayatan sama sekali," ucap Yora mengingat pesan nenek juga.
Lexi pelan-pelan memperhatikan kabel tersebut, detik waktu tersisa tinggal 5 menit lagi. Jika tak diatasi secepatnya maka mereka semua akan mati sia-sia.
Lucas, Brandon dan papa Hadi bekerjasama menolong para tawanan.
Diluar sana, segerombolan aparat sudah berhasil membekuk Rudi, sedang Lionel berhasil kabur dari para aparat kepolisian negara. Steve yang baru tiba langsung saja masuk bukan lewat jalan rahasia melainkan lewat pintu utama.
"Lexi... aku sudah menemukannya," ucap Steve mengusir sahabatnya.
Kini Steve mengambil alih Lexi, dengan teliti dan hati-hati Steve memilih kabel berwarna biru. Benar saja suara bom tersebut tidak berjalan.
"Yes! kita berhasil Lexi...," ucap Steve bahagia.
"Alhamdulillah...," ucap Hadinata.
"Ammar... maafkan aku selama ini... hiks.. hiks.. hiks..," ucap Reta pesimis.
"Reta... jangan katakan itu, aku akan menerima maafmu sebelum kau mengucapkannya," ucap Reta.
"Aku sudah mengecewakanmu Ammar...,"
"Hei... Donterku yang cantik, yakin jika kita bisa berkumpul bersama lagi. Kau tak boleh seperti ini Reta...," ucap Ammar.
Para aparat kepolisian berhasil mendobrak pintu, semua tawanan berhasil di evakuasi.
"Sebaiknya kalian semua keluar!" perintah komandan.
"Tuan, maaf kita sedikit terlambat" Hadinata mengangguk. Sekarang semua orang menjauh dari Reta.
Para petugas kepolisian bagian penjinak bom langsung mendekati Reta dan melakukan tugasnya.
"Reta... bersabarlah, yakin semua akan baik-baik saja"
Suasana semakin tegang, polisi serta Steve belum juga berhasil menjinakkan bom yang melekat ditubuh Reta. Waktu mundur sudah diangka 60 detik. Reta kemudian mendorong semua yang ada didepannya. Nampaknya dia sudah pasrah dengan keadaannya sekarang.
"Pergi kalian dari sini!" teriak Reta.
__ADS_1
"Reta... apa yang kau lakukan? biarkan mereka menjinakkan bomnya," ucap Ammar.
"Sudahlah Ammar... mungkin ini jalan terbaik yang harus aku dapatkan. Terimakasih untuk semuanya Ammar... hiks.. hiks.. hiks...," Reta tak mampu lagi menahan sesak di dadanya.
"Reta...," panggil Lucas.
"Dengarkan perkataanku sekali ini saja, kau harus selamat Reta biarkan kami semua menjinakkan bomnya,"
"Lucas... terimakasih atas semuanya, aku sudah banyak menorehkan luka di hatimu. Jika kau berkenan, maafkan aku Lucas. Aku akan selalu mengingat jika kau pernah menjadi bagian dalam hidupku," ucap Reta.
Hati Lucas merasa sangat iba, Reta melakukan ini semua hanya untuk mendapatkan cintanya kembali. Sayangnya, cinta yang pernah bersemi diantaranya kini hanya tinggal kenangan.
Waktu terus berjalan dan sekarang berada diangkat 20 detik.
"Lucas... sebaiknya kita segera pergi dari sini!" ucap Brandon.
Para petugas dan yang lain sudah berlarian untuk melindungi dirinya.
"Reta... maafkan aku tak bisa mendampingimu," ucap Yora sebelum Lexi menariknya keluar.
Brandon menarik pergelangan tangan Lucas yang masih menatap sendu Reta. Sedangkan Ammar masih setia berdiri dihadapan Reta.
"Ammar... aku bilang pergi!" bentak Reta.
"Aku akan pergi bersamamu Reta," ucap Ammar.
"Kau sudah gila Ammar! kau akan mati konyol disini!" sahut Reta sengaja memaki Ammar agar mau keluar bersama yang lain.
Ammar semakin melangkahkan kaki dihadapan Reta lalu memeluknya.
"Aku sangat mencintaimu Reta...," ucap Ammar berbisik.
Reta semakin menangis mendengarnya, dia merasa lega karena ada orang yang sangat mencintainya dengan tulus ikhlas.
10...9...8...7...6...5...4...3...2...1.... BOOOOMMMM.... !
Sekarang semuanya sudah hancur, tak ada korban jiwa dari para tamu. Hanya kenangan cinta kasih Reta dan Ammar.
"Semoga cinta kalian abadi di surga Reta, Ammar." ucap Lucas.
Kini semuanya sudah selesai, Yora sudah kembali bersama Lexi, keluarga besar Hadinata berkumpul kembali terkecuali Cherry.
"Vino, dimana istriku?" tanya Lucas.
"Cherry bersama Steve... Steve dimana Cherry?" tanya Vino.
"Cherry.... Cherry berada di Rumah sakit, tadi dia sempat pingsan," jawab Steve.
"Kenapa kau tak mengatakan sejak tadi..."
__ADS_1
Bersambung....