Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 52. Ikat Rambut


__ADS_3

Epsd. 52. Ikat Rambut


"Tante, keponakan siapa?" tanya Lucas lagi.


"Em---itu---anu--- Tantenya temenku" jawab Neva beralasan.


"Jika Neva tak mampu mengatakan yang sejujurnya, maka jangan salahkan kaka jika hari ini kamu kaka kirim ke Melbourne" ancam Lucas.


"Lu ngapain ke Melbourne? jumpa fans sama kanguru?" tanya Steve kurang peka.


"Nih lagi ke Melbourne jualan onde-onde" sahut Brandon.


"Seriusan Nev.. Lu mau jualan onde-onde? di kompleks atau mall?" tanya Steve yang oonnya setengah ampun.


Pletak!


"Aduh.. sakit Nev," keluh Steve.


"Habisnya kamu sih..," protes Neva.


"Emang kenapa? gue cuma kaget denger lu mau ke Melbourne, terus yang temenin gue siapa? Lu ke Melbourne, Cherry ke Jojga--" ucap Steve kelepasan lalu melipat bibirnya setelah menyadari ucapannya.


"Bagus deh.. kita ga perlu lagi repot-repot Cas.." sahut Brandon dengan santainya.


"Dasar si Steve... mulutmu ember bocor. Kita jadi ketahuan bohong.." gerutu Neva setengah berbisik disamping Steve.


"Sekarang beritahu dimana Cherry tepatnya" tanya Lucas dengan nada menekan.


"Ka.. kalau yang ini Neva dan Steve beneran tak tahu, karena Cherry merahasiakannya," jawab Neva serius.


"Neva.. jangan pernah mengkhianati kepercayaan kaka," ucap Lucas tak ada penawaran.


"Kita serius ga bohong, kita ga tau dimana tepatnya Cherry" Steve ikut meyakinkan.


"Lucas, apa anak ingusan memiliki saudara disana?" tanya Brandon.


"Cherry memiliki tante disana, tapi serius dia tak menceritakan detailnya" jawab Steve kelepasan lagi.


"Aku salut dengan kejujuranmu anak muda" Brandon menepuk pelan sebelah pundak Steve. Bagaimana dengan Neva? tentunya dia ingin sekali memukul wajah Steve .


**


"Brandon... siapkan tiket ke jogja saat ini juga" perintah Lucas.


"Lucas, apa kau tak ingin bermain dulu dengan Reta?" tawar Brandon.


"Lagian aku sudah mengirim orang-orangku ke seluruh Jogja untuk mencari anak ingusan itu" imbuhnya.


"Aku akan bermain dengannya tetapi bersama Cherry pula" ucap Lucas dengan seringai licik rencananya.


Hari itu juga Lucas dan Brandon terbang menuju Jogja, mereka juga sudah mengantongi nomor ponsel Vino lagi-lagi gara-gara Steve kelepasan. Sebenarnya bukan karena konyolnya Steve, melainkan Steve sengaja agar Cherry kembali.

__ADS_1


"Bulshit! kenapa ponselnya tak bisa dilacak lagi" gerutu Brandon.


"Kalau kerja yang bener, ga usah kebanyakan ngerjain orang" sahut Lucas santai.


Sesampainya di Jogja, Lucas dan Brandon transit di sebuah hotel di Malioboro. Lucas belum menyadari jika Brandon kehilangan jejak keberadaan Cherry.


"Daritadi gue kerja beneran Lucas kagak ngerjain siapa-siapa..," protesnya merasa terintimidasi.


"Ponsel sepupu Cherry tak dapat dilacak lagi, sepertinya mereka tahu" imbuh Brandon.


"Maksudmu!?" Lucas menoleh dengan wajah berubah panik.


"Daritadi lu kan tau gue lagi lacak ponsel bocah ingusan itu, lu pikir gue lacak bini orang apa?" ucap Brandon jengah.


"Kau harus bisa temukan Cherryku atau kalau tidak..." Lucas menjeda ucapannya.


"Mulai nih perasaanku ga enak" gumam Brandon pelan.


"Kalau tidak apa?" tanya Brandon.


"Kalau tidak kau aku tugaskan disini sampai waktu yang belum ditentukan" jawab Lucas seenaknya.


"Bisa berabe ini..bagaimana dengan Ira, Sezha, Sarah disana dia pasti akan merindukanku" protes Brandon.


"Bukan urusanku, terpenting kau harus mencari istriku secepatnya" ucap Lucas tak mau lagi di protes.


Brandon langsung saja menjambak rambutnya sendiri. Padahal dirinya sudah berjanji untuk keluar kota hanya 2 hari, namun pada akhirnya Lucas menahannya hingga waktu yang tak bisa ditentukan.


**


"Tunggu aja gue gajian, pasti bakal beli yang baru" ucap Vino.


Cherry terdiam menyadari sesuatu. Ga seharusnya dirinya menuntut Vino banyak, sudah mau menampungnya saja sudah lebih dari cukup, masa' hanya gara-gara ponsel Vino yang tak sengaja terjatuh di selokan sore tadi akibat memungut seekor kucing Cherry menjadi egois.


"Vino.. maafin aku, aku ga bermaksud--" ucap Cherry merasa bersalah.


"Hissst... ngomong apaan sih lu. Lu itu adik satu-satunya gue, Om Zain dulu sangat perhatian dan sayang sama gue. Sudah sepatutnya kalau aku berlaku hal yang sama" sahut Vino dewasa.


"Vino... terimakasih, kamu memang sepupu yang terbaik"


"Udah dari lahir kali gue sepupu yang terbaik" ucapnya sombong.


"Haiiissst... mulai sombongnya" sindir Cherry.


"Hahaha..."


"Cherry, apa lu ga kangen sama laki lu?" tanya Vino.


Cherry terdiam, pandangannya kepada Gudeg beralih ke jalanan. Cherry menangkap sosok seseorang yang dia kenal namun samar.


"Vino..." panggil Cherry sembari Menarik pergelangan tangan Vino.

__ADS_1


"Cherry.. apa-apaan ini,Gudegku belum habis" protes Vino.


"Kita ga bisa lama-lama disini, ayok pergi!" ajak Cherry buru-buru namun Cherry meninggalkan sesuatu yang tak dia sadari.


"Bu.. ini uangnya" Vino membayar makannya sebelum pergi.


"Mas.. masse.. ini kembaliannya..." teriak ibu penjual gudeg karena Vino dan Cherry sudah menaiki sepeda motornya.


Melihat ibu penjual gudeg mengejar Vino dan Cherry, bersamaan Lucas dan Brandon masuk.


"Ada apa bu?" tanya Lucas ramah.


"Itu mas, tadi ada mas mas langganan saya bayar ada sisa kembaliannya, sayangnya orangnya buru-buru pergi" jawab ibu penjual gudeg


"Oh.. kirain ada apa bu" ucap Lucas lagi.


"Bu, gudegnya pake telor satu" panggil Brandon yang sudah masuk terlebih dulu.


"Lucas, infonya ini tempat terenak dan ternyaman di sekitaran sini" ucap Brandon mencari tahu.


Lucas tak menanggapi, dia menikmati aneka sate yang tersaji disana.


"Eh.. ini punya siapa?" tanya Brandon menemukan sebuah ikat rambut berwarna peach.


"Bu, ini kayaknya ada barang yang tertinggal disini" sembari memperlihatkan ikat rambut tersebut.


Lucas ikut menoleh dan terkejut, dia langsung menyahut ikat rambut tersebut.


"Cass... buat apa ikat rambut itu? mau buat ikat bulu kaki" cerocos Brandon.


"Bu.. apa ibu tau siapa orang yang duduk disini tadi?" tanya Lucas.


"Yang duduk disitu ya mas mas yang saya teriakin tadi mas.." jawab ibu penjual gudeg.


"Apa dia perempuan berkulit putih, hidung mancung, rambut panjang lurus, tinggi sekitar 160cm?" tanya Lucas kembali.


"I--iya mas" jawab ibu penjual dengan gugup.


"Mbaknya cantik mas, kayaknya masih sekolah. Masih muda banget" imbuhnya.


"Ga salah lagi"


"Ibu tau dimana tempat tinggal dia?" tanya Lucas.


"Ga tau mas, mbaknya baru pertama kesini. Kalau masnya sering langganan disini, tapi ibu ga tau alamatnya" ujar ibu penjual gudeg.


"Brandon, atur penjagaan di sekitar sini. Cherry baru saja dari sini" ucap Lucas.


"Cherry? darimana lu tau?" tanya Brandon terkejut.


"Ikat rambut ini milik Cherry hadiah dari ibu Rahayu. Aku yakin dia akan kembali kesini untuk mengambilnya kembali" jawab Lucas.

__ADS_1


Brandon mulai paham sekarang, jika pria yang tak sengaja bersenggolan tak sengaja dengannya tadi adalah orang yang berkaitan dengan Cherry.


Bersambung...


__ADS_2