Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 92. Aiora atau Eli


__ADS_3

Reta terjebak dengan permainannya sendiri, sekarang dia harus memikirkan bagaimana nasib dirinya. Jika saja dia tak melakukan hal yang gegabah pasti dia sudah hidup bahagia bersama Lucas. Setelah Lionel keluar membiarkan dirinya bersama seorang wanita yang infonya tertidur sudah cukup lama, Reta kemudian mendekatinya.


"Siapa wanita itu?" gumam Reta mendekati wanita tersebut.


"Hah....!" Reta menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa dia seperti bocah breng*sek itu," ucap Reta setelah memperhatikan dengan jelas wajah wanita itu.


Reta terus memperhatikannya mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Dia sangat persis dengan bocah breng*sek itu" gumam Reta.


"Siapa kau!"


"Hah...! astaga mengagetkan saja tua bangka ini," gerutu Reta pelan.


"Heh... siapa kau? buat apa kau disini," tanya nenek-nenek yang merawat gadis itu.


"A--aku disuruh Lionel untuk memandikan dia nek," ucap Reta.


"Tak perlu! kau pergi saja, tak ada yang boleh menyentuhnya kecuali aku" ucap nenek-nenek tersebut.


"Ba--baik nek...," ucap Reta terbata-bata. Reta kemudian berjalan keluar dengan pelan masih memperhatikan diam-diam yang dilakukan nenek tersebut.


"Tunggu," ucap sang nenek menghentikan langkah Reta.


"I--iya nek, ada apa ya?" tanya Reta hati-hati.


"Segera keluar dari sini jika kau masih sayang dengan nyawamu," ucap nenek serius.


"Nenek mengetahui--"


"Nenek sudah terjebak disini, jangan sampai kau dan gadis ini bernasib sama dengan nenek" ucap nenek.


"Kau hanya terjebak dalam emosi dan keegoisanmu sendiri. Bersikaplah ikhlas menerima semua kenyataan yang sudah ditakdirkan Tuhan. Maka kau akan tau rasanya dicintai orang-orang terkasih," imbuh nenek.


Ucapan nenek secara tidak langsung menampar pikiran serta perasaan Reta, selama ini dia sudah salah melangkah sangat jauh. Tak ada orang yang mendekatinya hanya sekedar empati. Semua orang seolah menjauh. Saat Reta memikirkan ucapan nenek tiba-tiba saja wajah Ammar yang terlintas, hanya dia yang mencintainya dengan tulus dan ikhlas, tak terasa air mata Reta menetes begitu saja mengingat kebaikan Ammar.


"Nek... apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari sini?" tanya Reta setelah menyadari kesalahannya.


"Segeralah bertobat, jadilah orang baik maka Tuhan akan mempermudah jalanmu," jawab nenek sambil membasuh gadis itu.


"Nek, aku sangat menyesal... Hiks.. hiks..." Reta tak bisa lagi membendung kesedihannya. Reta menjatuhkan tubuhnya.


"Sudahlah nak... kau hanya terbuai dengan hawa nafsu saja sehingga kau melupakan kebaikan-kebaikan orang didekatmu," ucap nenek kemudian menuntun Reta untuk berdiri dan menyuruhnya duduk disamping gadis tersebut.

__ADS_1


"Beruntunglah kau nak ketimbang gadis ini, dari kecil dia sudah dipisahkan dari kedua orang tuanya, nyawanya sudah dipertaruhkan saat itu juga,"


"Sebenarnya siapa dia nek?" tanya Reta masih dengan sesenggukan.


"Namanya Aiora Jovani Eliyana, nenek memanggilnya Eli" jawab nenek.


"Dia sempat ingin kabur keluar dari lingkaran gelap ini. Nenek yang menyuruhnya untuk hidup normal seperti orang-orang pada umumnya. Sayangnya Lionel berhasil menemukannya kembali. Rudi dan Lionel sangat kejam, mereka tak pernah mengampuni orang-orang yang membuatnya kecewa termasuk kepada Eli. Eli harus melihat pengasuhnya meninggal akibat bom yang dilepaskan oleh Rudi dan Lionel dan membuat Eli menjadi seperti ini," cerita nenek membuat Reta semakin jelas watak Rudi dan Lionel.


"Apa yang mereka suruh kepadaku juga demi kepentingan mereka sendiri?" tanya Reta.


"Rudi dan Lionel tak akan melepaskan orang-orang yang berkaitan dengan musuh-musuhnya seperti kau nak," jawab nenek.


"Eli...!" panggil nenek melihat Eli mulai menggerakkan tangannya, kali ini Eli tidak hanya menggerakkan satu tangan melainkan kedua tangannya.


Reta ikut memperhatikan Eli yang sepertinya mulai sadarkan diri. Benar saja, Eli mulai mengerjap-ngerjapkan matanya pelan.


"Eli... kau bangun nak?" tanya nenek terharu.


Gadis bernama Eli itu masih mengumpulkan nyawanya.


"Eli...," panggil Reta pelan dan hati-hati.


"Dimana aku?" kalimat tanya pertama yang terucap dari Eli.


"Terimakasih Tuhan... ini sungguh kebesaran-Mu tertidur hampir 7 tahun lebih, kau masih bersedia menyembuhkannya" ucap syukur nenek tiada henti.


"Kau minumlah dulu nak," nenek kemudian membantu Eli untuk minum dibantu juga oleh Reta.


"Badanku terasa capek," ucap Eli masih dengan nada pelan.


"Istirahatlah nak, aku akan memberitahu Rudi dan Lionel jika kau sudah sadar" ucap nenek.


"Aku masih haus,"


"Sebentar, aku ambilkan minum lagi" sahut Reta. Reta membantu Eli untuk minum. Kemudian memeriksa denyut nadi Eli. Sebagai seorang dokter, Reta mengetahui kondisi Eli saat ini.


"Kau sangat hebat, seusai tertidur panjang detak jantungmu masih terlihat normal," ucap Reta.


"Aku hanya bangun ingin menemui anakku, dia pasti haus dan lapar" sahut Aiora atau Eli. Rupanya yang dia ingat sekarang adalah anaknya.


"Anak? apa kau memiliki seorang anak?" tanya Reta.


"Aku baru saja melahirkannya, apa kau mengetahui dimana anakku?" Eli masih terus menanyakan anaknya.


"Kau baru saja bangun dari koma, lebih baik istirahat yang cukup" ucap Reta mengalihkan.

__ADS_1


"Apa kau mau mencari anakku?" tanya Aiora kembali.


"Terakhir yang aku ingat, selesai melahirkannya seseorang merebutnya dariku," imbuhnya.


"Kita akan mencarinya bersama," ucap Reta dengan ramah.


Tap... tap.. tap...


Terdengar suara hentakan sepatu memasuki ruangan mereka.


"Eli... rupanya kau telah sadar, selamat datang disini kembali" ucap Rudi.


Aiora yang sempat mengingat permasalahan dengan Rudi langsung terdiam begitu saja.


"Nek, beri dia ramuan kesehatan agar cepat pulih. Karena nanti malam diapun berperan dalam rencana kita" ucap Rudi sangat senang.


"Lionel kau persiapkan semuanya...!" perintah Rudi kepada Lionel.


Aiora memperhatikan satu persatu orang-orang didepannya. Sorota matanya berhenti di wajah Lionel. Aiora teringat saat Lionel menendang orang tua asuhnya hingga meninggal lalu menyeret dirinya yang baru saja selesai melahirkan.


"Kau...!" tunjuk Aiora kepada Lionel. Semuanya menoleh kearah Aiora.


"Dimana kau sembunyikan anakku?" tanya Aiora.


Lionel tersenyum smirk, "Bayimu sudah meninggal akibat bom saat itu.


Mata yang tadinya seperti mata elang tiba-tiba saja berair mendengar jawaban Lionel.


" Sudahlah... lebih baik kau pulihkan tenagamu, karena nanti malam akan ada tugas menyenangkan dari kami" sahut Lionel tak merasa bersalah.


Rudi dan Lionel kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang tersebut.


"Eli ini ramuan yang sudah nenek buat, minumlah sekarang" pinta nenek.


"Nek... aku ingin bertemu dengan keluargaku," ucap Aiora memohon.


"Aku ingin mencari makam anakku jika yang dikatakan Lionel itu benar,"


"Segeralah diminum, obat ini akan bekerja 2x lipat dari obat biasanya" sahut nenek .


Aiora terus memijit keningnya yang terasa sedikit pusing, lalu meminum ramuan yang sudah dibuatkan nenek.


"Eli... Reta...," panggil nenek.


"Malam nanti, kalian pergilah dari sini. Jangan sampai Rudi atau Lionel membuatmu mati sia-sia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2