
Terima kasih kamu,
buat semua keputusan yang hingga saat ini belum dan semoga tak kan kusesali;
Terima kasih 'tuk kehilangan, juga pertemuan ..
Entah apapun itu alasannya,
ku selalu percaya ..
semua 'kan indah pada waktunya.
Welcome senja,
semoga segala harap dan doa yang tertunda
bersemi dan terjadi bersama hadirmu.
"Hoek... Hoek...," sudah hampir 5 bulan Cherry tak dapat menikmati makanan. Dokter mengatakan jika Cherry mengalami hiperemesis gravidium.
Hiperemesis Gravidium merupakan mual dan muntah yang terjadi secara berlebihan. Sedangkan mual dan muntah (morning sickness) pada kehamilan trimester awal sebenarnya normal. Namun, pada Hiperemis Gravidium mual dan muntah dapat terjadi sepanjang hari dan menyebabkan dehidrasi. Tidak hanya dehidrasi, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan elektrolit dan penurunan berat badan. Kondisi ini perlu segera ditangani untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan pada ibu hamil dan janinnya.
"Nak, apa tak sebaiknya kau menghubungi suamimu?" ibu Sri memberi saran yang sama terus menerus kepada Cherry. Sayangnya Cherry selalu menolak.
"Aku tidak apa-apa bu...," ucap Cherry lalu membersihkan ujung bibirnya.
Tubuh Cherry semakin kurus hanya perutnya saja yang mulai membuncit. Cherry masih kuat bertahan menjaga egonya. Sedangkan dilubuk terdalam hatinya dia sangat merindukan Lucas.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu, ibu hanya khawatir dengan kondisimu. Sekarang bersiap, ibu akan mengantarmu ke bidan puskesmas biar dikasih obat anti mual" ajak bu Sri tak tega melihat Cherry.
Cherry sendiri sebenarnya ga kuat dengan kondisinya mual muntah seperti ini. Ada rasa cemas kepada calon bayinya jika tak mendapatkan nutrisi apa-apa didalam sana. Tapi, setiap Cherry cemas seolah paham calon bayinya bergerak aktif. Hal itu yang membuat Cherry kembali bersemangat.
"Baik bu," ucap Cherry setuju.
__ADS_1
Kini Cherry dan ibu Sri berangkat ke Puskesmas terdekat disana dengan menaiki becak motor. Cherry sendiri sangat suka dengan kehidupan barunya saat ini, masa-masa bersama kedua orang tuanya dulu akhirnya dia rasakan kembali.
Becak motor sudah sampai ditempat tujuan. Cherry dan bu Sri turun lalu membayar becak motor tersebut.
"Hati-hati nak...," Ibu Sri sudah menganggap Cherry sebagai anak kandungnya sendiri. Begitu sayangnya bu Sri kepada Cherry, bu Sri tak tega melihat Cherry seperti ini. Pernah ibu Sri berpikir untuk mencari tahu tentang suami Cherry, lalu memberitahunya dimana Cherry berada. Sayangnya Cherry masih menutup rapat identitas suaminya sehingga membuat ibu Sri tak bisa berbuat apa-apa.
"Ga apa-apa bu, Cherry bisa sendiri kok..." sahut Cherry dengan tersenyum.
Ibu Sri dan Cherry kemudian memasuki ruangan karena sebelumnya sudah tidak terdapat para pengunjung disana.
"Bu bidan, ini tolong anak saya. Mual muntahnya kenapa makin sering. Ibu takut bayinya kenapa-kenapa," ucap bu Sri yang lebih antusias.
Cherry hanya diam karena tiba-tiba rasa mual itu kembali terasa.
"Nak... ayo cerita yang kamu keluhkan, ibu kan ga tau----," tiba-tiba saja bu Sri menyadari jika Cherry kembali merasakan mual.
"Sudah ibu, saya bisa mengerti kondisi ibu Cherry. Hal ini sangat wajar untuk ibu hamil diusia segini. Yang terpenting, ibu Cherry tetap makan terus meski rasanya tidak sesuai. Karena apa, ibu Cherry sekarang tak sendiri. Ada calon bayi yang juga membutuhkan support ibu," ujar bidan Fara.
"Sekarang ibu Cherry berbaring, kita cek perkembangan bayi ibu," perintah bidan Fara.
Air mata Cherry menetes setiap mendengar suara detak jantung calon bayinya.
"Terdengar kan ibu Cherry? bayi ibu terlihat sangat sehat," ucap bidan Fara.
"Tapi bu... ini seperti ada 2 detak jantung." Bidan Fara kembali memeriksa dengan teliti.
Cherry dan ibu Sri begitu terkejut saat bidan Fara mengatakan ada 2 detak jantung pada calon bayi Cherry.
"Ibu Cherry, ini saya kasih rujukan ke Rumah sakit besar untuk memastikan dugaan saya. Karena kurangnya peralatan di Puskesmas juga sekalian cek kondisi bayi didalam perut ibu Cherry." ucap bidan Fara.
"Bu bidan, untuk biaya ke rumah sakit mahal ga ya?" tanya bu Sri.
"Bu... untuk mahal atau tidaknya, tergantung dari pemeriksaan. Yang terpenting, ibu Cherry dan bayinya sehat" ucap bidan Fara kembali dengan senyuman.
__ADS_1
Cherry terdiam, dia mengerti dengan kondisi ibu Sri. Namun Cherry bersyukur karena bu Sri tidak pernah mengeluh dengan kondisinya yang dibilang kurang mampu.
"Terimakasih bu bidan, kami pamit undur diri" pamit bu Sri setelah selesai.
"Bu...," panggil Cherry.
"Iya nak, apa kau mual lagi?" tanya bu Sri.
Cherry menggelengkan kepalanya, "Kita tak usah ke rumah sakit, karena Cherry yakin jika bayiku sehat semua" ucap Cherry.
"Nak... apa yang kau katakan, bidan Fara menganjurkan kita untuk memeriksakan kondisi mereka. Apa lagi tadi dia mengatakan ada 2 detak jantung di dalamnya. Ibu sudah tak sabar ingin segera melihat cucu-cucu ibu lahir ke dunia" sahut bu Sri dengan bangga.
Cherry meneteskan air mata, dia sangat terharu dengan perjuangan bu Sri menjaga dan merawatnya selama ini.
Diperjalanan, tak sengaja Steve melintas seperti melihat Cherry.
"Cherry...!" ucap Steve dengan semangat.
"Aku yakin itu Cherry," imbuhnya sambil memperhatikan Cherry dari kaca spionnya. Posisi Cherry yang membelakanginya sedikit membuat keraguan dalam pikiran Steve.
"Bodo ama dosen, aku yakin itu tadi Cherry" Steve kemudian memutar balik arah tujuannya.
Saat dirinya berbalik arah, Cherry dan bu Sri memasuki sebuah bis kota.
"Sial! kenapa bisa ga kesampaian gini...," gerutu Steve tak menemukan jejak Cherry lagi. Lucas kemudian memperhatikan sekitar, tempat berhenti Cherry dekat dengan puskesmas. Jadi, ada kemungkinan Cherry habis dari sana.
"Apa gue mencari tahu kesana saja ya?" gumam Steve masih ragu.
"Hah! ini dosen udah chat melulu, udah mirip emak gue," gerutu Steve kemudian berbalik arah kembali karena dosen sudah menelfonnya.
Sesampainya dirumah, Cherry kembali memuntahkan isi perutnya yang belum terisi. Bidan Fara hanya memberikan obat mual yang biasanya, meski begitu Cherry masih sering muntah bahkan muntahnya itu berlebihan sehingga membuat tubuhnya lemas.
"Sudah ibu bilang kita ke rumah sakit saja, pokoknya ibu ga mau ada penolakan. Segera siapkan barangmu, kita berangkat sekarang" ajak bu Sri dengan paksa agar Cherry mau mengikutinya.
__ADS_1
"Bu... terimakasih...,"
Bersambung....