Kaget Nikah

Kaget Nikah
BAB 21#KAGET NIKAH


__ADS_3

Restoran Mall.


Irene masih menunggu kedatangan Afnan. Tetapi selama berjam - jam ditunggu, Afnan juga tak kunjung datang menemuinya. Sehingga, Irene pun mencoba untuk menghubungi Afnan dan Afnan pun langsung mengangkat panggilan telepon dari Irene.


"Halo, Nan. Lo dimana? Kita jadi makan bersama kan,"


"Maafin gue ya, Ren. Gue harus nemui Nathalia sekarang juga. Dia sepertinya sudah tau tentang hubungan kita. Jadi Lo makan sendiri aja ya dan nanti gue bakalan jemput Lo kalau Lo udah siap,"


"Oh yaudah,"


Irene yang merasa kecewa dengan Afnan pun langsung mengakhiri panggilan telepon itu. Irene bingung dengan perasaannya sendiri. Ia bingung kenapa rasanya sakit sekali saat mengetahui bahwa Afnan lebih memikirkan tentang Nathalia daripada dirinya.


"Kenapa rasanya sakit sekali ya? Bukannya aku sudah tau kalau aku dan Afnan itu menikah semuanya karena sebuah paksaan. Lalu, kenapa aku menaruh perasaan padanya? Bodoh ya aku, sangat bodoh, berharap pada laki - laki yang tidak pernah menganggap serius hubungan ini,"


*****


Di Bandara.


Afnan terus berlarian mondar - mandir di Bandara hanya untuk mencari dimana keberadaan Nathalia. Ia juga berteriak memanggil - manggil nama Nathalia. Tetapi ternyata, Nathalia sudah berada di dalam pesawat. Dan pesawat itu sudah siap untuk lepas landas.


*****


*Nathalia POV*


"Afnan, aku pasti akan terus mengenang kebersamaan kita berdua. Aku tidak yakin kalau aku bisa melupakan dirimu,"


*Afnan POV*


"Nathalia, kamu dimana sih? Aku gak bisa hidup tanpamu. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa kehilanganmu. Kamu adalah hidupku, Nat,"


*****


Pukul 18:00.


Irene pulang ke rumah setelah ia melampiaskan perasaan kecewanya pada Afnan di jalanan kota. Afnan yang khawatir dengan keadaan Irene pun langsung berjalan mendekati Irene.


"Lo darimana aja sih, Ren. Lo tau gak kalau gue itu khawatir sama Lo. Tadi gue kembali ke Mall tapi saat gue cari - cari Lo, Lo udah gak ada disana,"

__ADS_1


"Untuk apa Lo cari - cari gue, Nan. Urusin aja wanita kesayangan Lo itu aja,"


"Kok Lo jawabnya kayak gitu sih, Ren. Gue itu benar - benar khawatir sama Lo,"


"Sekarang gue tanya sama Lo, untuk apa Lo khawatir sama Gue kalau gue kayak gini sekarang semua ini karena Lo. Udah deh mending mulai sekarang Lo urusin hidup Lo sendiri dan Gue bakalan urusin hidup gue sendiri,"


"Lo itu kenapa sih, Ren. Bukannya sejak awal kita menikah Lo udah tau kalau gue itu punya Nathalia,"


"Tapi gue sekarang cinta sama Lo, Nan. Seharusnya Lo peka sama perasaan gue. Sekarang gue udah gak mau terlalu berharap lagi sama janji suci, ikatan pernikahan, atau apalah itu dan kalau bisa Lo segera ceraikan gue,"


"Lo pikir segampang itu untuk cerai. Kita harus punya alasan, Ren,"


"Alasannya udah jelas kan, Nan. Lo itu gak akan pernah bisa bahagia sama pernikahan ini. Jangan siksa diri Lo sendiri dengan ikatan pernikahan palsu ini. Lo itu laki, Nan. Lo harus bisa tegas dalam mengambil keputusan kalau Lo masih mau mempertahankan pernikahan ini maka Lo harus siap untuk kehilangan wanita itu,"


Irene pergi meninggalkan Afnan begitu saja dalam keadaan marah.


*****


Irene masuk ke dalam kamarnya. Ia menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. Lalu, ia pun mulai menangis saat mengingat perlakuan Afnan terhadap dirinya.


Afnan berjalan ke arah taman belakang rumah. Ia mulai memikirkan tentang perkataan Irene padanya.


"Irene benar, aku sudah egois. Aku ingin keduanya hingga tanpa sadar aku menjadi menyakiti mereka berdua. Apakah mulai malam ini aku harus mulai melupakan Nathalia demi mempertahankan Irene,"


*****


3 Hari Kemudian....


Apartemen.


Nathalia keluar dari kamar Apartemennya. Dan seorang wanita seusianya menyapa dirinya. Wanita itu bernama Anya. Ia adalah tetangga sekaligus teman baru dan orang pertama yang Nathalia temui saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di apartemen itu.


"Hai, Nathalia. Kamu mau kemana pagi - lagi begini?,"


"Aku ingin ke healing center seperti aku membutuhkan tempat itu sekarang. Aku ingin membuat diriku jauh lebih tenang lagi dan bisa melupakan semuanya,"


"Wah bagus itu, kalau begitu semangat ya, Nat,"

__ADS_1


"Makasih, Nya. Oh ya kamu mau kemana juga pagi - pagi begini, tumben banget udah keluar dari apartemen,"


"Biasa, aku mau beli sarapan diluar. Kamu mau ikut tidak, sarapan bareng denganku sebelum kamu pergi ke tempat healing center,"


"Boleh juga, yaudah ayo kita sarapan bareng. Kebetulan juga aku belum sarapan,"


"Benerkah?!,"


"Iya, ayo,"


*****


Cafe terdekat.


Anya dan Nathalia sarapan bersama di salah satu cafe dekat apartemen mereka sambil mengobrol santai.


"Nat, gimana sih ceritanya kekasihmu itu bisa selingkuh dengan sekretarisnya,"


"Tidak tau, mungkin karena aku sibuk di luar negeri. Aku tidak peka dengan perasaan dia yang sangat membutuhkan perhatian dariku,"


"Tapi seharusnya kalau dia memang pria yang baik. Dia bisa menunggumu dengan setia sampai kamu kembali,"


"Maunya aku juga begitu, tapi kenyataannya sangat berbeda. Dia lebih memilih untuk menjalin hubungan tersembunyi dengan sekretarisnya di belakangku,"


"Selamat pagi, Mbak. Ini coklat panas pesanannya sudah siap," Seorang pelayan wanita tiba - tiba saja datang dan meletakkan dua gelas coklat panas di atas meja Anya dan Nathalia.


"Terimakasih ya, Mbak,"


Setelah itu, pelayan wanita itu pun langsung pergi meninggalkan meja tamu Anya dan Nathalia.


"Mari kita minum dulu, Nat. Sekalian menikmati indahnya pemandangan pagi di Bali ini,"


"Baiklah, Nya. Aku sangat beruntung sekali bisa bertemu denganmu,"


"Ah kamu ini bisa aja, Nat. Aku juga senang memiliki teman sepertimu,"


Tawa bahagia Nathalia dan Anya pun terdengar jelas di Cafe tersebut.

__ADS_1


__ADS_2