Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 108. Alergi Kacang


__ADS_3

"Mama... Agha boleh ga sekolah?" tanya Agha sedikit lesu.


"Kau kenapa sayang?" balik tanya Yora, kini tangannya menyentuh dahi Agha.


"Astagfirullah... kau panas sekali nak" panik Yora.


"Ma... Agha hanya butuh tidur, mama tak usah khawatir" ucap Agha masih dengan santai.


"Lexi... Lexi..." panggil Yora sangat panik.


Lexi yang sedang mengobrol dengan keluarganya dibawah segera berlari mendengar panggilan istrinya. Bukan hanya Lexi, semuanya ikut berlari mengikuti Lexi dari belakang.


"Yora apa yang terjadi?" tanya Lexi panik.


"Agha... Agha demam Lexi, aku takut" jawab Yora.


Melihat Yora takut akibat paniknya, Lexi memeluknya dan menggandengnya masuk ke kamar Agha. Agha terlihat sedikit pucat, kali ini dia tertidur tetapi sedikit lemah.


"Agha...," panggil Lexi lirih, sayangnya tak ada respon.


"Nak... bangun sayang, kita ke dokter ya..." ucap Lexi.


"Agha... kita ke dokter yuk, mama janji setelah ini apapun yang kau inginkan akan mama penuhi" ucap Yora gantian.


Melihat Agha tak merespon, Yora dan Lexi saling melempar pandangan. Otaknya sepemikiran, Lexi langsung saja membopong Agha sedang Yora sudah meneteskan air mata.


"Lucas, Brandon!" panggil Lexi dengan sedikit berteriak.


"Lexi... apa yang terjadi dengan cucu papa?" tanya Hadinata yang ikut menyusul.


"Kenapa dengan Agha Yora?" tanya mama Risti.


"Agha demam ma... tapi ini Agha tak merespon panggilan kami... hiks... hiks.. hiks...," jawab Yora.


"Astagfirullah.... cucuku... hiks.. hiks.. hiks...," sahut mama Risti.


"Pa... Lexi harus segera membawa Agha ke Rumah sakit" ucap Lexi dengan panik dan khawatir.


Lucas dan Brandon langsung mengerti apa yang Lexi butuhkan.


"Cherry, ingat jangan mengerjakan sesuatu yang berat!" pesan Lucas sebelum melajukan kendaraannya disampingnya terdapat Brandon mereka membawa Lexi, Agha dan Yora.


"Ma...," Cherry memegangi pundak mama mertuanya.


"Ma... papa ikut menyusul mereka" ucap papa Hadi.

__ADS_1


"Mama ikut pa... mama khawatir dengan cucu mama" pinta mama Risti.


"Ma... kalau mama ikut papa, bagaimana dengan Cherry?" tanya papa Hadi.


"Pa... ma... Cherry ga apa-apa dirumah sendiri, kalian tenang saja Cherry bisa menjaga diri sendiri" sahut Cherry.


"Kau benar nak tak apa-apa?" tanya mama Risti memastikan.


"Mama tak perlu khawatirkan Cherry," jawab Cherry dengan tersenyum.


Mama dan papa ikut tersenyum lalu memasuki kendaraannya menyusul Lexi dan Lucas.


"Semoga tak terjadi hal buruk padamu anak tampan" gumam Cherry dengan lirih.


**


"Dokter... Dokter... apa yang terjadi dengan anak saya?" tanya Yora sangat panik karena Agha masih pingsan.


"Apa Agha makan makanan yang mengandung kacang?" bukan menjawab dokter tersebut malah balik bertanya.


Yora terdiam, kemarin dia melihat sang putra memakan cokelat berisi kacang Almond.


"I--iya dok, saya kemarin melihat putra saya memakan cokelat berisi kacang Almond" ungkap Yora.


"Mohon maaf nyonya, Agha memiliki alergi terhadap makanan berbau kacang. Apa tuan tidak memberitahu nyonya sebelumnya?" tanya dokter Salsa sembari tersenyum.


'Awas kau Lexi! kau sudah membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya' batin Yora sangat kesal.


"Saya sudah memberinya obat lewat suntikan, sebentar lagi Agha pasti sadarkan diri nyonya," ucap dokter Salsa.


"Saya mohon pamit, jika ada apa-apa segera hubungi saya," imbuh dokter Salsa sebelum meninggalkan ruangan.


"Kenapa kau membohongiku Lexi...," ucap Yora sangat kesal.


"Aku bohong apa sayang?" tanya Lexi pura-pura.


"Kau sangat tega Lexi tak mengatakan jika putraku memiliki alergi kacang sepertimu. Kau tahu bagaimana paniknya aku melihatnya lemah tadi, kau sangat tega Lexi," kali ini Yora memukul-mukul pundak Lexi.


"Sayang... sayang... Yora aku hanya tak ingin membuatmu khawatir dengan kondisi Agha," Lexi beralasan.


"Justru seperti ini kau sudah membuatku sangat khawatir. Apa kau tak tahu tadi rasanya aku sangat takut... aku takut terjadi sesuatu padanya..," kali ini air mata Yora menetes kembali.


"Maafkan aku Yora... aku janji tak akan mengulanginya," ucap Lexi merangkul Yora.


"Kau tahu Yora... dari bayi, Agha tak pernah memberitahu rasa sakitnya kepadaku. Dia, selalu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Hingga sebesar ini, dia masih bisa menyembunyikan rasa sakitnya kepadamu..," Lexi terkekeh kecil.

__ADS_1


"Dia persis sepertimu," ucap Lexi langsung membuat Yora menoleh kearahnya.


"Emang aku seperti apa?" protes Yora.


"Keras kepala," sahut Lexi sambil mencubit hidung mancung Yora.


"Apa-apaan aku dikatain keras kepala, yang ada tuh kamu manjanya ga ketulungan. Anak mama manja" ucap Yora menekankan kalimat akhirnya.


"Kenapa jadi bawa-bawa mama. Aku tuh dari kecil mandiri beda sama kedua adikku, mereka berdua minum ASI aja lebih dari 2 tahun," sahut Lexi membuka aib kedua adiknya.


"Waow....! super sekali... pantas aja sekarang Lucas jadi bos terkenal," puji Yora.


"Mungkin juga efek ASI lebih dari 2 tahun jadi lebih cerdas," sahut Lexi.


Ingin sekali Lucas mencakar-cakar kakaknya saat ini, namun dirinya sadar ada hukuman yang lebih pedih dari cakarannya.


"Masih mending aku ASI lebih dari 2 tahun, Lexi tuh seumuran Agha masih bawa kempengan yang dipakein peniti di bajunya" sahut Lucas yang entah sejak kapan berada disana.


Lexi terdiam sedangkan Yora tertawa sambil memegangi perutnya.


"Yora... kenapa kau tak mengatakan jika Lucas ada disini," bisik Lexi.


Yora tak bisa menyahut bisikan Lexi, dia masih menahan ketawa mendengar cerita Lucas.


Lucas dan Lexi saling debat dan berekspresi seperti saat kecil dulu berebut permainan. Hal itu membuat papa Hadinata dan mama Risti yang baru tiba merasa bahagia. Mereka berdua seperti melihat kenangan masa kecil kedua putranya. Meski mereka hanya saudara tiri, tetapi Hadinata dan Risti tak pernah mengajarkan perbedaan diantara mereka.


"Kalian ini malah mengganggu istirahat cucuku...," sahut mama Risti mengingatkan keduanya.


"Kau Yora... semua cerita mereka sangat benar, Lexi yang tak bisa lepas dengan kempengannya sedangkan Lucas tak bisa lepas dari ASIku,"


"Mama...," panggil Lexi dan Lucas bersamaan. Mama Risti ikut menyembunyikan tawanya agar kedua anaknya tak mengetahuinya.


"Yora... bagaimana kondisi Agha?" tanya papa Hadi.


"Dokter sudah memberikan obat lewat infusnya pa... Mudah-mudahan alerginya segera sembuh," jawab Yora sembari berjalan mendekati Agha.


"Apa dia Alergi kacang seperti Lexi?" tanya papa Hadi kembali.


"Papa mengetahui alergiku?" tanya Lexi.


"Tentu tahu Lexi, kalau kau sakit pasti papa yang sangat panik saat itu" jawab mama Risti langsung menyahut pertanyaan Lexi.


"Dari dulu, papa bisa dibilang lebih mencintai anaknya ketimbang istrinya. Papa selalu panik dan khawatir saat mendengar anak-anaknya terluka sedikitpun. Papa ingin menunjukkan kepada semua orang kalau anak-anak kami sangat luar biasa." ucap mama Risti.


"Terimakasih papa... kami bangga memilikimu."

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2