Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 78. Perasaan Lexi


__ADS_3

Melihat Cherry belum sadar, Lexi semakin panik bahkan rasa paniknya sangat terlihat jika dirinya memiliki rasa lebih terhadapnya.


"Lexi, kau minumlah dulu" Brandon menyodorkan segelas minuman padanya.


"Aku tak bisa menunggu lama, aku harus membawanya ke klinik terdekat" ucap Lexi.


"Aku setuju denganmu, kita tak bisa menunggu lama" sahut Anton rupanya juga sangat khawatir terhadap Cherry.


"Kalian pikir perjalanan ke klinik cuma sedetik" sahut Desty yang membawa ramuan obat untuk Cherry.


Keempat pria dihadapannya langsung terdiam. Apa yang dikatakan Desty ada benarnya, perlu banyak waktu untuk membawa Cherry untuk keluar dari perkampungan tersebut.


"Kalian semua tenanglah, dia akan baik-baik saja" ucap Desty kemudian mengangkat sedikit tubuh Cherry dan meminumkan ramuan tersebut sedikit demi sedikit.


"Apa tujuanmu menculiknya?" tanya Lexi dengan suara baritonnya.


"Aku tak bermaksud menculiknya, ini semua hanya perintah" jawab Anton.


"Perintah, maksudmu perintah dari siapa!" bentak Steve tak terima.


"Steve, tahan emosimu" redam Brandon.


Steve menurunkan emosinya, menunggu penjelasan dari Anton.


"Aku terpaksa melakukan ini, dia menyuruhku untuk membunuhnya tapi aku tak ada niatan untuk membunuhnya untuk itu aku menyembunyikannya disini" jelas Anton.


BUGHK!


Satu pukulan mendarat di ujung bibir Anton dari Lexi.


"Jika sampai dia terjadi apa-apa kau akan berurusan denganku. Sejengkal tanganmu menyentuhnya aku akan membunuhmu!" bentak Lexi dengan emosi tak biasanya.


Brandon dan Steve merasa jika Lexi memiliki perasaan lebih terhadap Cherry.


"Lexi... sudahlah, fokus kita saat ini adalah kesembuhan Cherry. Karena jika Lucas mengetahuinya, dia akan melakukan hal lebih kejam darimu" ucap Brandon mengingatkan Lexi.


'Sainganku bertambah ternyata' batin Steve.


**


"Membosankan," keluh Neva.


"Apa kau ingin minum?" tanya Vino menawarkan minuman.


"Tidak, aku hanya merasa bosan. Sudah hampir satu jam mereka tanpa kabar. Aku khawatir jika terjadi sesuatu kepada mereka semua" jawab Neva.


"Kau benar Neva, sudah hampir satu jam mereka tanpa kabar"


"Aku ingin menjemputnya" Neva melangkahkan kakinya.


"Nev--Neva...." panggil Vino.


"Bisa masalah jika terjadi sesuatu padanya" gerutu Vino pada akhirnya mengejar Neva yang sudah melangkah terlebih dulu.


**


"Hoaaam..." Reta menguap.


"Lucas... sudah sampai kan kita?" tanya Reta.

__ADS_1


Lucas hanya tersenyum, padahal didalam hatinya sangat muak.


"Kita sudah sampai Reta. Kau istirahatlah terlebih dulu" perintah Lucas.


"Lucas, apa kita akan--"


Lucas mengangguk, dan Reta tersenyum bahagia.


'Bukan kita Reta, tetapi hanya kau' batin Lucas.


Reta kemudian memasuki villa yang sudah dipesan oleh Lucas. Dia kemudian segera mengambil ponselnya dan menghubungi Anton.


Drrrrttt....


"Anton, bagaimana dengan tugasmu? apa kau sudah menyelesaikannya?" tanya Reta berbisik.


"Kau tak perlu khawatir Reta, aku sudah menyelesaikan semuanya. Hanya denganmu saja aku belum menyelesaikannya" jawab Anton dengan santai seperti tak terjadi apa-apa.


"Kau juga tak perlu khawatir Anton, akan aku selesaikan urusanku denganmu--"


"Hari ini. Aku mau kau menyelesaikan urusanmu denganku hari ini tanpa alasan apapun" sahut Anton memotong ucapan Reta.


"Apa kau bilang? hari ini? tak bisa Anton, aku sedang bersama kekasihku. Kau tak bisa seenaknya"


"Baiklah Reta jika itu yang kau mau, terpaksa aku akan mengumumkan berita kematian bocah itu"


"Anton! kau sudah gila!"


"Aku gila karenamu Reta. Semua keputusan sekarang ada ditanganmu, aku sudah tak memiliki waktu banyak" ucap Anton memepet Reta.


"Oke... baiklah.. katakan dimana aku harus menemuimu" tanya Reta tak memiliki option lain.


"Temui aku di pantai Marina jalan xx" jawab Anton kemudian menutup panggilannya.


Lucas menarik satu ujung bibirnya dibalik pintu, diam-diam dia mendengarkan percakapan Reta dengan orang suruhannya.


Sementara dikediaman Desty, Cherry dilarikan kesebuah klinik karena tak sadarkan diri lebih dari 1.5 jam.


Lexi membopong Cherry dari jarak tempuh yang tak terkira.


"Lexi, biar aku menggantikanmu" pinta Brandon.


"Tidak, aku masih sanggup membawanya" sahut Lexi.


'Yora, kali ini aku berjanji tak akan terlambat untuk membawanya' batin Lexi tanpa terasa air matanya menetes mengingat sang istri yang sudah meninggal.


'Cherry... bertahanlah, kau sudah berjanji akan merayakan kelulusan bersamaku' batin Steve.


'Anak cerewet bertahanlah, aku berjanji akan menebus semuanya setelah kau sadarkan diri' batin Anton.


"Ka Lexi...apa yang terjadi?" tanya Neva bertemu dipertengahan jalan.


"Oh Tuhan... Cherry!" panggil Neva menyadari yang dibopong Lexi adalah Cherry.


Lexi tak menanggapi pertanyaan Neva, Lexi terus berjalan melangkahkan kaki.


"Ka Brandon apa yang terjadi?" tanya Neva.


"Steve apa yang terjadi?" tanya Neva gantian kepada Steve.

__ADS_1


"Kenapa semuanya diam?" suara Neva agak meninggi.


"Neva, kita ikuti mereka saja" Vino menenangkan Neva.


"Apa yang dikatakannya benar, lebih baik kita segera keluar dari sini" sahut Desty.


Sesampainya di sebuah desa yang padat penduduk,


"Lexi, biar Cherry menjadi urusanku. Kau dan yang lain segera selesaikan tugas kalian" tawar Desty.


"Desty benar Lexi, pasrahkan ini dengan Desty dan Neva. Steve, kau bantu mereka" perintah Brandon.


Lexi melepaskan Cherry dengan terpaksa,


"Neva, jaga dia dengan baik. Kabari kaka jika sesuatu terburuk terjadi padanya" pesan Lexi.


Neva mengangguk, kemudian memasuki kendaraannya bersama Desty dan Steve.


Lexi memandang kendaraan yang membawa Cherry hingga tak terlihat.


"Lexi, Lucas sudah menunggu kita. Anton sudah menemui target" Brandon menepuk pundak Lexi.


Lexi kemudian mengikuti Brandon dan Vino memasuki kendaraannya menuju tempat Lucas.


Anton sudah tiba menemui Reta. Dia ingin sekali memukul Reta, gara-gara perbuatannya dia hampir saja membuat nyawa Cherry melayang dengan sia-sia. Cherry yang tak seperti diceritakan olehnya, membuat Anton membenci sosok Reta.


"Ini kan yang kau mau?" ucap Reta sembari menyodorkan sejumlah uang kepada Anton.


Anton hanya tersenyum kecut tak menerimanya.


"Jangan mengulur waktuku Anton, aku sudah mengatakan padamu jika aku sedang bersama kekasihku" protes Reta.


"Aku tak menginginkannya Reta" sahut Anton.


"Apa maksudmu Anton, lantas apa yang kau inginkan?" tanya Reta kembali.


"Aku menginginkanmu"


Bersambung....


...----------------...


Selamat siang semuanya..... aku mau rekomendasiin karya teman aku dengan judul SALAH RAHIM



Judul: Salah Rahim


Nama pena: alya aziz


Arman Alfarizi enggan untuk menikah lagi setelah kematian sang istri, namun sangat ingin mempunyai anak sebagai penerus keluarga.


Teknologi medis yang semakin canggih membuat Arman bisa saja mempunyai seorang anak tanpa harus melalui hubungan badan. Prosedur itu biasa disebut dengan inseminasi buatan. Naas, sel sp*rma Arman yang seharusnya disuntikan ke rahim seorang wanita yang telah disiapkan, malah di suntikan ke rahim Asyifa Khairunnisa.


"Aku tidak pernah melakukan zina seperti yang kalian katakan, aku tidak mungkin hamil!"


Syifa dinyatakan hamil tepat di hari pertunangannya. Sang calon suami yang sudah terlanjur kecewa memutuskan pertunangan begitu saja.


Tepat hari itu pula Arman mengetahui bahwa dokter rumah sakit tersebut telah melakukan kesalahan prosedur inseminasi buatan. Arman pun tidak tinggal diam, ia datang menghampiri Syifa di kediaman orang tuanya.

__ADS_1


"Lahirkan anak itu untukku." Arman Alfarizi.


Langkah apa yang akan Syifa ambil selanjutnya?


__ADS_2