
"Yora..., itu Yora..." ucap Lexi.
Reta dan Aiora ikut naik keatas stage.
'Reta' batin Lucas.
Hati Cherry makin sakit kala melihat dress yang dipakai oleh Reta. Dress itu merupakan dress yang akan dipakainya hari ini, namun kenyataannya Reta yang sudah mengambilnya. Cherry berlari kebelakang stage dengan deraian air mata.
"Sayang...," teriak Lucas ingin mengejar Cherry, namun mama Risti sedikit menahannya.
"Akhirnya hari ini kau benar-benar hancur Hadinata! sangat mudah sekali untuk menghancurkanmu saat ini." bisik Rudi.
"Kau benar-benar sudah keterlaluan Rudi!" bentak Hadinata.
"Hahaha...! ini baru permulaan Rudi, yang sesungguhnya sebentar lagi akan dimulai" sahut Rudi.
"Apa maksudmu Rudi!" bentak Hadinata kembali.
"Reta...," panggil Ammar yang ikut menjadi tamu undangan.
"Ammar..."
'Ammar aku ingin sekali memelukmu, tapi apakah masih pantas?' batin Reta menangis melihat Ammar berlari menghampirinya.
Sementara itu Aiora dan Lexi mereka saling menatap antara satu dengan lain. Ingatan Aiora seketika teringat saat pertemuannya dengan Lexi.
'Aku tak salah, kau benar-benar masih hidup Yora' batin Lucas sedang matanya tak sanggup lagi membendung air mata.
'Lexi... itu kau kan Lexi? suamiku, jawab Lexi' batin Yora.
"Reta...," panggil Ammar ingin memeluk Reta yang masih sah menjadi istrinya.
"STOP AMMAR!" teriak Reta.
"Stop disitu, jangan mendekatiku." ucap Reta kembali.
"Reta... aku sangat merindukanmu, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja" pinta Ammar.
"Stop Ammar... please kali ini dengarkan aku," terlihat sorot mata Reta memendam sesuatu.
"Yora... apa itu kau?" tanya Lexi ganti.
Papa Hadi, mama Risti, Lucas dan yang menoleh kearah wanita satunya disamping Reta.
"Apa itu menantu mama Lexi?" tanya mama Risti.
"Yora... itu kau, aku tak pernah salah ternyata kau masih hidup" ucap Lexi kembali.
Ingin sekali Yora langsung memeluk Lexi saat ini, namun tertahan akibat bom yang sudah terpasang di tubuhnya.
__ADS_1
"Yora... kemarilah... aku ingin memastikan itu kau," ucap Lexi melangkahkan kaki mendekati Yora. Sayangnya Yora malah mundur saat Lexi sudah hampir dekat dengannya.
Lexi menghentikan langkahnya melihat pergerakan Yora mundur. Lexi menatap bola mata Yora serta gerakan halus kepalanya yang tak memperbolehkan mendekatinya.
Mata Lexi memerah, sekarang dia mengerti alasan Yora dan Reta menjauhi mereka.
"Dasar baji*ngan kau Rudi!" teriak Lexi lalu BUGHK.. BUGHK.. BUGHK! Lexi memukul Rudi lalu Lionel serta anak buahnya yang lain ikut memukul Lexi.
Melihat Lexi terluka, Hadinata dan Lucas ikut maju membantu Lexi. Perkelahian itu terjadi.
"Vino... kau bawa mama keluar dari sini!" perintah Lucas.
Mama Risti langsung saja dibawa oleh Vino untuk keluar dari ruangan tersebut menyusul Neva. Untungnya di ruang tersebut terdapat jalan rahasia, meski para anak buah Rudi ikut mengejar Vino, Vino berhasil lolos dari kejaran mereka.
"Mama...," panggil Neva.
"Steve, kau cari Cherry!" perintah Vino.
"Aku akan membawa tante, Neva dan Agha kesuatu tempat yang tak diketahui mereka" imbuh Vino.
"Cherry? apa dia baik-baik saja?" tanya Steve khawatir.
"Kau carilah dia segera!" jawab Vino.
Steve langsung saja berlari masuk kedalam mencari keberadaan Cherry.
Salah seorang anak buah Rudi ternyata ada yang mengikuti Cherry. Untung saja Steve mengetahuinya.
"Cherry... awas!"
BUGHK!
Cherry langsung menoleh kebelakang dan berteriak, "AAAA...!"
"Cherry kau tak apa-apa?" tanya Vino langsung menarik pergelangan tangan Cherry.
Cherry yang masih syok dirangkul Steve dan dibawa untuk segera keluar dari tempat tersebut. Saat Steve akan keluar anak buah Rudi sudah mengepungnya, perkelahianpun terjadi. Steve berhasil mengalahkan mereka satu persatu lalu menarik pergelangan Cherry kembali.
"Cherry... kau terlihat pucat," ucap Vino melihat kondisi Cherry.
"Aku tak apa-apa Steve," sahut Cherry.
Steve dan Cherry akhirnya berhasil menuju jalan rahasia.
"Cherry... kau tidak apa-apa?" tanya Steve kembali melihat Cherry mulai lemas.
Cherry tak menjawab, dia pingsan begitu saja.
"Cherry... Cherry...," panggil Steve berharap Cherry sadarkan diri.
__ADS_1
Steve lalu membopong Cherry menuju mobilnya yang sudah siap didepan. Steve dengan cepat melajukan kendaraannya menuju Rumah sakit terdekat.
Sementara didalam sana, suasana semakin panas. Para tamu sudah dijadikan tawanan agar Hadinata dan yang lain menghentikan perkelahian.
"Hadinata... apa kau tak mau tahu putri Zain yang menghilang?" tanya Rudi sembari menyeka darah diujung bibirnya.
"Putri Zain adalah menantuku," jawab Rudi.
"Hahaha...! Dia memang menantumu tapi bukan istri Lucas melainkan istri anak tiri mulai itu," sahut Rudi dengan bangganya.
Kini terjawab sudah jika Cherry memang memiliki saudara kandung. Saudara kandung tersebut bukan lain adalah Aiora istri Lexi. Sungguh kebetulan yang tak disangka. Seorang Lexi dan Lucas menikahi wanita kakak adik, Aiora dan Cherry.
"Jangan kau bilang anak tiri Rudi! Lexi dan Lucas mereka anak kandungku!" bentak Hadinata.
"Kau sangat keras kepala Hadinata, sifatmu dari dulu tak pernah berubah!" ucap Rudi.
"Tapi aku tak peduli Hadinata, yang aku pedulikan gimana perasaan putra tirimu atau apalah jika kehilangan istri yang sebenarnya" imbuh Rudi tertawa setelahnya.
"Lionel...," panggil Rudi memberi kode.
Lionel dan yang lain lalu berkumpul dan keluar ruangan bersama. Sedangkan Reta dan Yora harus terikat diujung stage setelah sebelumnya anak buah Rudi mengikatnya.
"Yora....," Lexi sudah tak peduli lagi dia menghampiri sang istri menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Lexi... hiks.. hiks.. hiks.. aku tak memiliki waktu banyak, maafkan aku yang selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untukmu," ucap Yora.
"Yora... bagiku kau sempurna, jangan pernah mengatakan hal ini lagi. Berjuanglah demi Agha," sahut Lexi.
"Agha?"
"Iya Yora... Agha putra kita, kau harus bertemu dengannya. Agha sangat merindukan sosok mama dalam hidupnya," jawab Lexi.
Bersebelahan dengan Yora, Reta dan Ammar mereka saling mengucapkan permintaan maaf dan terimakasih. Suasana saat itu sangat harus, sampai-sampai Hadinata meneteskan air mata menyesali perbuatannya di masalalu.
"Lucas, di tubuh Yora dan Reta terdapat bom. Kita harus segera menjinakkannya. Jika tidak, kita semua akan hancur di gedung ini bersamaan dengan mereka." ucap Brandon sambil menatap para tamu undangan yang menjadi tawanan.
"Lexi, Ammar kita harus segera menjinakkan bomnya. Waktu kita sangat singkat, segera lakukan tindakan," ucap Lucas.
Lexi dan Ammar lalu mengecek alur kabel tersebut dengan teliti.
"Lexi, jangan sama-sampai kau salah karena akan berakibat fatal" sahut Brandon.
"Lexi... aku takut," ucap Yora.
"Yora... kau percaya denganku seperti saat pertama kita bertemu dulu. Kau memintaku untuk membawamu jauh dari tempat itu, padahal kau tahu aku bisa saja melecehkanmu saat itu," Lexi berusaha membuat Yora rilex dengan ceritanya.
"Lexi... Tuhan tak pernah salah sudah memberiku pria terbaik sepertimu,"
Bersambung....
__ADS_1