
"Bagaimana aku bisa melupakan menjemput bos Lexi dan Cherry...," gerutu Steve pada dirinya sendiri.
"Siapin mental Steve untuk menghadapi kenyataan." imbuh Steve menggerutu dirinya sendiri.
Sementara, disana Lexi terlihat sangat panik setelah Neva memberitahu kondisi Yora.
"Kak Lexi tenanglah..., kak Yora pasti baik-baik saja. Dia wanita kuat...," ucap Cherry menenangkan Lexi.
"Terimakasih Cherry..." ucap Lexi.
Tak menunggu lama, Steve tiba. Steve segera berlari menghampiri Lexi dan Cherry.
"Bos ma---"
"Segera Steve!" Steve memotong ucapan Steve sambil berlari membuka pintu mobil. Begitupun dengan Cherry. Dia ikut berlari dibelakang Lexi.
"Steve,apalagi yang kau tunggu!" teriak Lexi melihat Steve masih berdiri mematung. Mendengar teriakan Lexi, Steve langsung bergegas masuk kedalam mobil.
Jarak antara lokasi Lexi dan Rumah sakit kebetulan tak jauh hanya membutuhkan waktu 15 menit. Tapi kali ini, karena Lexi yang mengemudi waktu 15 menit teringkas menjadi 10 menit saja.
Lexi langsung saja menghentikan mobilnya tepat di depan ruang masuk Rumah sakit. Lexi bergegas turun dari mobil berlari memasuki Rumah sakit.
"Cherry mau kemana?" tanya Steve.
"Masuklah...," jawab Cherry ikut mengejar Lexi.
"Nasib punya salah begini, ditinggalin begitu saja..." keluh Steve.
Didalam sana Lexi terus berlari mencari ruangan istrinya, Lexi melihat bibi bersama Agha dan baby Aksa. Rupanya sopir yang menjemput Agha pulang Sekolah dan langsung menyusul ke Rumah sakit.
"Agha...," panggil Lexi.
"Ayah...," ucap Agha menoleh kearah Lexi yang memanggilnya.
"Ayah sudah pulang? Agha merindukan Ayah."
"Ayah juga merindukanmu sayang." Lexi lalu memeluk Agha.
"Bi, dimana Yora?" tanya Lexi.
"Nona Yora masih didalam ruangan tuan." Jawab bibi.
"Kak Lexi...," panggil Neva bersama Vino.
"Neva, bagaimana kondisi Yora?" tanya Lexi.
"Kak Yora masih didalam, dokter masih memeriksanya." Jawab Neva.
"Dimana Cherry kak?" tanya Neva.
Terlihat Cherry berlari menghampiri mereka dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Usia tak bisa dibohongi ternyata...," ucap Cherry mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Emak baru satu anak udah loyo gini sih Cherr..." ledek Neva.
"Satu anak gimana, anakku dua Neva... kau melupakan Abimana." sahut Cherry ngegas.
"Sorry... Sorry Cherr...," sahut Neva sambil menaikkan kedua jarinya membentuk huruf V.
Cherry kemudian meraih baby Aksa dari gendongan bibi. Serasa tak bertemu setahun, Cherry terus saja menghujani ciuman ke wajah baby Aksa yang tertidur.
"Keluarga pasien," panggil dokter Rendi.
Lexi langsung mengasih pegangan Agha kepada Neva lalu menghampiri dokter.
"Iya Rend... apa yang terjadi pada istriku?" tanya Lexi.
"Lexi, karena air ketuban Yora sudah pecah dan Yora juga sudah mengalami pembukaan. Jadi terpaksa Yora harus melahirkan saat ini juga." Jawab dokter Rendi.
"Bagaimana bisa Yora melahirkan sekarang? usia kandungan Yora baru 7 bulan." protes Lexi.
"Lexi, ini bisa terjadi pada ibu hamil manapun. Tapi yang terpenting sekarang bayimu harus lahir sekarang juga. Dan aku meminta persetujuan padamu untuk menyetujui kesepakatan melakukan tindakan operasi sesar." Ucap dokter Rendi.
Lexi terdiam, dia bingung harus bagaimana.
"Kak... ayo segera diputuskan...," ucap Neva.
"Kak Lexi, kau tak memiliki banyak waktu. Segera putuskan sekarang. Ingat nyawa kak Yora dan bayi taruhannya." ucap Cherry ikut memberi pendapat.
Lexi tak memiliki pilihan lain lagi. Ucapan Cherry benar. Demi keselamatan Yora dan bayinya Lexi harus segera memberi keputusan.
Dokter Rendi langsung memberi perintah kepada perawat untuk mempersiapkan operasi sesar Yora. Dokter Rendi juga memperbolehkan Lexi untuk menemani Yora didalam.
Singkat cerita, kini semua persiapan sudah selesai. Yora segera dipindahkan ke ruang operasi. Sedangkan Neva, Cherry dan lainnya menunggu diluar.
"Lexi... maafkan aku," ucap Yora.
"Apa yang perlu disalahkan. Ini semua cobaan kita Yora. Yang terpenting sekarang kau dan bayi kita selamat." bisik Lexi menguatkan Yora.
Angan-angan Yora untuk bisa melahirkan normal gagal. Sore tadi, Yora tak sengaja tersandung kaki kursi didalam ruang tamu sehingga membuatnya terjatuh agak keras. Merasakan sesuatu tak beres karena tiba-tiba keluar air dari jalan lahir, Yora merasa panik. Saat akan beranjak Yora malah merasakan sakit pada perutnya. Yora berteriak kesakitan membuat orang-orang rumah berlari menghampirinya.
Disaat mereka saling menguatkan, bayi mungil cantik itu lahir dengan selamat.
"Selamat Lexi, bayimu lahir dengan selamat." ucap Rendi.
Yora maupun Lexi menangis harus bahagia melihat bayi cantik itu lahir dengan berat badan kurang dari 2 kilogram. Bayi itu langsung mendapatkan perawatan intensif.
Kini Yora dan bayinya sudah berada diruang masing-masing. Lexi masuk keruangan bayinya, melakukan tugasnya yaitu mengadzani bayinya. Air mata Lexi terus saja menetes bukan karena sedih melainkan bersyukur masih diberi kesempatan untuk merawat bayinya.
"Selamat datang ke dunia cantiknya ayah...," sapa Lexi.
"Terimakasih sudah hadir di tengah-tengah mama, ayah dan kakak Agha." Ucap Lexi.
"Xarena Adisti Hadinata". imbuh Lexi memberi nama putrinya.
**
__ADS_1
"Alhamdulillah... mama, papa serta semuanya yang ada disini turut bahagia atas kelahiran putri Lexi yang kedua." ucap mama Risti berbincang dalam ponselnya.
"Sampaikan kepada Lexi dan Yora, selesai pengobatan Lucas. Mama akan segera kembali. Jaga baik-baik diri kalian." ucap mama kembali menutup ponselnya.
Lucas dan papa Hadi tersenyum bahagia mendengar berita bahagia kelahiran cucu keempatnya.
"Ma... kalau mama mau pulang gak apa-apa. Biar Lucas disini bersama Brandon dan Gerald." ucap Lucas.
"Mama belum bisa meninggalkanmu Lucas... mama masih belum mendapatkan hasil kesehatanmu pasca operasi." Sahut mama Risti.
"Mama tenang saja ya... Lucas pasti baik-baik saja." Ucap Lucas.
Berita kelahiran putri Lexi sampai juga ke telinga Brandon, dia segera menghubungi Desty. Brandon tiba-tiba saja teringat dengan kondisi Desty. Apalagi Brandon juga mendengar kabar jika bayi Yora terlahir prematur.
Drrrttt.... Drrrtttt...
"Kau dimana Desty? kenapa tak mengangkat panggilanku." Keluh Brandon.
Brandon kembali menghubungi Desty, tapi Desty tak mengangkatnya lagi. Terpaksa kini Brandon menghubungi Dania. Sejak kejadian itu, Brandon tak pernah berhubungan dengan Dania lagi. Meski dia tahu jika Dania sekarang adalah adik tiri Desty dan sedang menjalin kasih dengan Steve. Tapi, entah mengapa Brandon enggan berhubungan dengannya lagi.
Tak menunggu lama, Dania langsung mengangkat panggilan Brandon.
"Tumben telfon aku kakak ipar...," sindir Dania.
Brandon menarik kedua ujung bibirnya, "maaf Dania, aku hanya ingin menanyakan Desty---"
"Kak Desty sedang diruangan kak Yora, mau dipanggilkan?" tawar Dania.
"O... ya sudah Dania, nanti aku hubungi dia lagi." sahut Lexi kemudian menutup panggilannya.
"Syukurlah dia tak apa-apa," ucap Brandon bermonolog dengan dirinya sendiri. Kini Brandon kembali ke Rumah sakit untuk menggantikan menjaga Lucas. Diperjalanan dia seperti melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Brandon terus mengalihkan pandangannya dan tersadar saat seseorang mengklaksonnya.
TEEET...!
"Kalau jalan lihat-lihat woy!"
...----------------...
Assalamu'alaikum wr. wb
Selamat siang untuk semua readers tercinta. Semoga dalam keadaan sehat wal afiat tak kurang suatu apapun. Aamiin.
Othor mau rekomendasiin karya teman othor yang judulnya "Suami Kedua (Tradisi keluarga suamiku"
Cyra menikah dengan Ryan, seorang pemuda yang menderita sakit leukimia sejak kecil, karena keluarga Ryan sangat kaya membuatnya bisa bertahan sampai usianya mencapai dua puluh delapan tahun, namun naas sebelum Ryan berulang tahun ke dua puluh sembilan tahun, ia harus menghembuskan nafas terakhirnya dan membuat Cyra menyandang status janda.
Cyra memohon kepada kedua mertuanya untuk membiarkannya hidup seorang diri,
dan pergi meninggalkan rumah mertuanya, namun sayang permintaan itu ditolak mentah-mentah karena sebuah tradisi keluarga.
tradisi apa yang mengikat Cyra sampai ia harus tetap tinggal dan menjadi menantu dikeluarga itu?
__ADS_1