
Tap... tap... tap...
Suara derap langkah Lucas mencari sang istri, "Suster... dimana ruangan istri saya?" tanya Lucas.
"Istri anda bernama siapa tuan?" tanya Suster.
"Cherry... Cherry Jovanka Emilia" jawab Lucas.
"Nona cantik itu baru saja pergi tuan," ucap Suster.
"Pergi kemana Sus?" tanya Lucas.
"Kami kira keluarga sudah menjemputnya tuan...," jawab Suster sedikit ketakutan, karena Lucas membentaknya.
"Cherry...apa yang kau lakukan?" gumam Lucas langsung berlari keluar.
Lucas mencari Cherry kesana kemari namun tak ditemukan, sepertinya Cherry memang sudah pergi dari Rumah sakit. Namun pertanyaannya sekarang, kemana dia pergi? Satu-satunya sisa keluarganya adalah Vino dan mamanya.
"Lucas...," sapa Rendi dokter di Rumah sakit tersebut.
Lucas menoleh ke sumber suara, "Rendi,".
"Kau masih mengingatku Lucas," sahut Rendi.
"Sedang apa kau disini?" tanya Rendi.
Lucas terdiam sejenak, "Aku mencari istriku,"
"Reta tak bekerja disini Lucas...," Rendi masih menyangka jika istri Lucas adalah Reta.
Lucas tersenyum, "Istriku bukan Reta. Hubunganku dengan Reta sudah berakhir lama" ucap Lucas.
"Sorry Lucas, aku fikir kau dan Reta-- aih... sudahlah," sahut Rendi.
"Siapa istrimu Lucas? apa dia bekerja disini juga?" tanya Rendi.
"Istriku pasien disini," jawab Lucas.
"Aku turut prihatin... semoga istrimu lekas sembuh," ucap Rendi mendo'akan.
"Kau.. bagaimana hubunganmu dengan Laudya?" tanya Lucas.
"Sama sepertimu, hubungan kami sudah lama selesai" jawab Rendi.
"Ouh,"
"Oh iya Lucas, aku baru saja menangani pasien yang sangat cantik. Laudya kalah cantik dengannya" cerita Rendi sambil terkekeh.
"Cih...Kau masih saja seperti dulu," sahut Lucas.
"Sayangnya dia sedang hamil, jadi tak bisa menjadi targetku" ucap Rendi.
"Dasar!"
"Tapi anehnya dia tak ditemani suaminya... suami macam apa tak menemani istrinya yang sedang hamil. Kalau aku berjumpa dengan suaminya, langsung aku suruh talak istrinya" oceh Rendi.
"Makin ngawur ekspetasimu. Aku mau pergi dulu," pamit Lucas.
"Dokter Rendi, pasien nona Cherry tak ada di ruangannya" ucap Suster.
Mendengar nama istrinya disebut, Lucas menghentikan langkahnya. Dia kembali memutar balik tubuhnya memperhatikan Rendi berlari bersama suster. Lucas ikut berlari mengikuti Rendi ke ruangan Cherry.
__ADS_1
"Apa kalian tak melihatnya?" tanya Rendi khawatir.
"Ma--maaf Dokter, kami sama sekali tak melihat nona Cherry" jawab suster sedikit ketakutan.
"Rendi...," panggil Lucas.
"Lucas... bukannya kau berpamitan pergi? atau kau mau menemani istrimu?" tanya Rendi.
"Apa yang terjadi Rendi?" tanya Lucas balik tak menanggapi pertanyaan Rendi.
"Wanita yang aku ceritakan tadi menghilang, padahal kondisinya sedang lemah akibat kehamilannya," jawab Rendi.
"Apa kau mengatakan hamil?" tanya Lucas memperjelas kalimat Rendi.
"Iya... dia sedang hamil Lucas," jawab Rendi.
Lucas semakin lemas mendengar berita kehamilan Cherry.
"Apa wanita itu bernama Cherry... Cherry Jovanka Emilia?" tanya Lucas kembali.
"I--iya Lucas.. apa kau mengenalnya?"
"Dia istriku Rendi." jawab Lucas pada akhirnya.
Rendi terkejut tak menyangka jika wanita yang baru beberapa jam dia tangani adalah istri temannya sendiri sewaktu SMA. Melihat Lucas bersedih, Rendi menjadi tak tega.
"Lucas, kita periksa CCTV Rumah sakit, siapa tau kita menemukan petunjuk keberadaan istrimu," saran Rendi.
Lucas dan Rendi bergegas ke ruang CCTV, disana sudah terdapat petugas yang menjaga ruangan tersebut.
"Dokter Rendi," sapa petugas tersebut dengan menundukkan sedikit kepalanya.
"Pak, kami mau memeriksa pasien yang pergi dari ruang Kusima Wijaya" ucap Rendi meminta ijin.
Rendi dan Lucas memperhatikan layar monitor tersebut, benar saja Cherry keluar dari ruangannya masih dengan tubuh yang lemas.
"Cherry...," ucap Lucas lirih.
"Stop disitu pak" sahut Rendi.
"Coba perbesar nomor kendaraan yang ditumpangi pasien tersebut,"
"Oke, sekarang kirimkan ke saya"
Petugas tersebut mengikuti perintah Rendi.
"Terimakasih pak," ucap Rendi.
"Lucas kita sudah menemukan nomor kendaraan yang ditumpangi istrimu," ucap Rendi kepada Lucas.
"Terimakasih Ren...," ucap Lucas kepada Rendi kemudian berpamitan.
"Lucas... jaga baik-baik istri cantikmu itu kalau tidak aku bisa saja merebutnya darimu... hahaha..." ucap Rendi sedikit berteriak.
"Sial! kenapa dia begitu menginginkan istriku," keluh Lucas.
Lucas kemudian memasuki mobilnya, melajukan kendaraannya. Lucas kemudian menghubungi Brandon.
"Sudah aku kirim kepada Steve dan Vino. Aku masih harus mengurus jenazah Reta dan Ammar," ucap Brandon dalam ponselnya.
"Jangan beritahu soal ini kepada mama, aku takut mama syok mendengarnya" pesan Lucas kemudian menutup ponselnya.
__ADS_1
Drrrtttt.... drrrrttt....
"Lucas, Cherry sudah berganti kendaraan. Menurut informasi Cherry menuju ke stasiun kota" ujar Vino yang gerak cepat dalam pencarian Cherry.
"Terimakasih Vino, kau terus pantau informasi terbaru Cherry," sahut Lucas.
Lucas menambah kecepatan kendaraannya, dia tak boleh kehilangan Cherry untuk yang kedua kali apalagi Cherry sedang mengandung buah cintanya. Mengingat kehamilan Cherry, Lucas sangat bahagia.
"Cherry... aku tak akan membiarkanmu sendiri karena ada aku dan calon anak kita yang akan menemanimu nanti," ucap Lucas.
**
"Maafkan mama nak harus membawamu pergi jauh dari papamu... hiks... hiks..," ucap Cherry berada diujung ruang tunggu stasiun jurusan Jakarta.
"Mama berjanji akan menjagamu sampai kau lahir kedunia" ucap Cherry sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Om... bukan aku tak mencintaimu, tapi aku belum siap menerima kebenaran tentang ayah" gumam Cherry menyeka air matanya.
**
"Menantu mama...," ucap mama Risti meraih tangan Yora.
"Ma... dia Yora, Yoraku sudah kembali ma..." ucap Lexi.
"Iya nak... istrimu sudah kembali, hiks... hiks..." mama Risti tak sanggup lagi menahan haru bahagia ini. Melihat sang putra kembali dipertemukan oleh istrinya kembali setelah sekian tahun lamanya menjadikan dirinya lebih bersyukur sedalam-dalamnya.
"Mama...," panggil Yora.
Mama Risti terus menatap mata Yora sambil mengelus pipinya.
"Kau sangat cantik persis seperti Cherry," ucap mama Risti.
"Pantas saja cucuku Agha memiliki perasaan yang sama kepada Cherry" imbuhnya.
"Terimakasih sudah menjaga putra mama nak...,"
"Mama..., justru Yora yang harus berterimakasih karena mama sudah memberikan restu kepada kami" sahut Yora mencium telapak tangan mama Risti lalu memeluknya.
"Yora... selamat bergabung di keluarga kami. Maafkan papa tak bisa menolong ayah dan ibumu," ucap papa Hadi merasa sedih mengingat Zain sahabatnya.
"Pa... dibalik semua yang terjadi pasti ada hikmah yang bisa kita petik. Mungkin adik Yora belum bisa menerima, tapi lambat laun adik Yora pasti akan memahami kenapa om melakukan itu kepada ayah," ucap Yora dengan bijak.
"Semoga saja Cherry bisa berpikiran sama denganmu nak," sahut papa Hadi.
"Ka Yora...," panggil Neva.
"Dia adik perempuan satu-satunya," ucap Lexi memberitahu.
Yora tersenyum kearah Neva lalu memeluknya, "Kau sangat cantik Neva...,"
"Terimakasih ka Yora... disini hanya ka Yora dan Cherry yang mengatakan aku cantik. Sedang yang lainnya mengatakanku dengan sebutan anak manja. Kan kesel jadinya....,"
Yora tertawa mendengarnya,
"Agha...," panggil Lexi kepada putranya.
"Agha... kemarilah, apa kau tak mau memeluk mama?" tanya Lexi.
Agha terdiam, masih dengan posisi berdiri dan menundukkan wajahnya. Sesekali Agha menaikkan kepalanya saat Lexi memanggilnya.
"Kemarilah sayang... ini mama...,"
__ADS_1
Bersambung....