Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 171. Terungkap sudah


__ADS_3

...Terimakasih untuk tidak mudah mengeluh wahai diriku. ...


...Kalo bisa akan kupeluk diriku sendiri. Untuk menguatkannya lagi dan lagi....


...Karena tidak akan ada seseorang yg bisa lebih mengerti kamu ketimbang dirimu sendiri....


...Yakinlah bahwa setiap kebaikan yg kamu tanam akan berbuah suatu saat....


...Bukankah orang jahat akan mendapat balasan dari setiap perbuatannya, tanpa dia meminta. Apalagi yg berbuat kebaikan sudah Tuhan jamin setiap pahalanya apalagi hambanya sudah memohon ampun lalu berdoa....


...Eh bukan merasa diriku baik......


...Pesan seseorang, jangan pernah lelah untuk terus berbuat baik meski kamu merasa belum cukup baik......


...Akan sangat mudah jika kita baik pada seseorang yg jg berbaik hati padamu......


...Tapi akan sangat mulia jika kamu mampu berbuat baik pada seseorang yg pernah menyakiti hatimu......


...----------------...


Hampir 1 jam Lucas berada diruang operasi. Papa Hadi serta yang lain sudah merasakan cemas. Selang beberapa menit lampu penanda ruang operasi yang sebelumnya berwarna merah sudah berubah menjadi padam. Marco keluar sesaat setelah lampu penanda berubah padam.


Papa Hadi yang melihat Marco segera beranjak dari duduknya menghampirinya.


"Marco, bagaimana kondisi Lucas?" tanya papa Hadi.


"Operasi Lucas berjalan dengan lancar tuan. Kini tinggal melihat perkembangan Lucas pasca operasi." jawab Marco.


Papa Hadi langsung bersujud, bersyukur atas kelancaran operasi Lucas. Sambil menitihkan air mata, papa Hadi mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada Tuhan.


Papa Hadi kemudian beranjak dari sujudnya tepat pada saat Lucas dipindahkan ke ruangan. Papa Hadi serta yang lain mengikuti Lucas dari belakang.


Sesampainya diruang perawatan, papa Hadi terus, saja memperhatikan Lucas. Mengelus ujung kepalanya, mengingat moment kebersamaannya dengan anak-anaknya.


"Pa... papa daritadi belum istirahat, biar gantian Lexi dan Brandon yang menjaga Lucas." tawar Lexi.


"Kau tahu Lexi, dari dulu papa selalu bilang agar diberikan anak yang banyak. Tak disangka, Tuhan mendengarkan do'a papa. Tuhan memberikan kalian berempat. Kau, Lucas, Neva dan kau Brandon." ucap papa Hadi.


"Sekarang papa minta agar anak-anak papa agar diberikan kesehatan juga keselamatan dimanapun berada." imbuh papa Hadi.


Mendengar ucapan papa Hadi, Lexi yang pernah berseteru dengan beliau merasakan penyesalan. Papa Hadi meski bukan papa kandung, tetapi kasih sayangnya mampu diandalkan. Papa Hadi tak pernah membeda-bedakan antara satu sama yang lain.


Lexi yang tak mampu berkata-kata langsung saja memeluk papa Hadi.


"Terimakasih pa... atas semua kasih sayang papa," ucap Lexi.


"Cher--ry," terdengar suara Lucas mengigau.


Lexi langsung melepaskan pelukannya dan menoleh kearah Lucas. Begitupun dengan Brandon, dia juga ikut mendekati Lucas yang masih memejamkan matanya.


"Lucas...," panggil papa Hadi lirih.


"Cher--ry... Cher--ry...," panggil Lucas masih mengigau.

__ADS_1


"Sepertinya Lucas belum sepenuhnya sadar om," ucap Brandon


"Kau benar Brandon, Lucas masih belum sepenuhnya sadar." sahut Lexi membenarkan.


Setelah hampir 1 jam menunggu Lucas mulai sadarkan diri. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya , mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


"Aaarrrghh...," keluh Lucas menggerakkan tubuhnya.


"Lucas, kau baru saja selesai menjalani operasi. Tenangkan dulu dirimu." ucap Lexi.


Lucas mendengarkan ucapan Lexi. Kini dia kembali mengedarkan pandangannya yang masih terasa kabur.


"Papa...," panggil Lucas.


"Iya nak, ini papa... kau sudah sadar nak, istirahatlah saja." ucap papa Hadi.


"Dimana Cherry pa?" tanya Lucas masih dengan keadaan lemas.


"Cherry baik-baik saja, kau tak perlu mencemaskannya. Pulihkan kondisimu, agar Cherry tak menghukummu karena kau tak memberinya kabar selama beberapa hari." ledek papa Hadi sekaligus memotivasi Lucas agar terus bersemangat.


"Papa benar... aku sangat merindukannya pa...," sahut Lucas.


**


Sudah 3 hari ini Cherry terus uring-uringan gak jelas. Mungkin karena efek Lucas tak memberinya kabar selalu saja Brandon yang menghubunginya.


Kini Cherry tak sengaja lewat didepan kamar mama Risti dan mendengar ucapan mam Risti.


"....Alhamdulillah pa... mama sudah tak sabar ingin memeluknya, Lucas pasti bahagia jika mama memeluknya..."


'Lucas, mama sedang membahas Lucas? berarti mama tahu tentang kakak om' batin Cherry lalu kembali mendengarkan obrolan mama Risti.


"... mama semalaman tak tidur pa, memikirkan operasi Lucas hari ini. Aku takut terjadi sesuatu pada Lucas..."


BRAK!


Mama Risti terkejut mendengar Cherry tak sengaja membuka pintu kamar mama Risti.


"Ma... coba jelaskan apa yang terjadi pada kakak om?" tanya Cherry bersama dengan air mata yang tak bisa ditahan.


"Jelaskan pada Cherry ma... apa yang terjadi pada suamiku... hiks... hiks.. hiks...,"


"Cherry... maafkan mama nak... maafkan mama..." mama Risti langsung memeluk Cherry.


"Jelaskan pada Cherry ma... hiks.. hiks...," ucap Cherry.


Mendengar ada keributan, Yora, Neva serta Desty yang sedang bermain dengan Aksa dan Agha langsung bergegas menengok apa yang terjadi.


"Kak Yora... sepertinya ada keributan di kamar mama," ucap Neva.


"Kakak juga mendengarnya Neva... sepertinya itu...," Yora sedikit berpikir.


"Sepertinya itu suara Cherry dan nyonya bos." sahut Desty.

__ADS_1


Neva langsung beranjak dari duduknya, berlari menghampiri mama Risti dan Cherry disusul dua ibu hamil dibelakangnya.


"Mama... Cherry... apa yang sedang terjadi?" tanya Neva melihat keduanya menangis sambil berpelukan.


"Ma... jelaskan pada Cherry apa yang terjadi dengan suamiku... hiks... hiks..." rengek Cherry. Ibu muda itu sudah terlihat syok dengan tubuh lemas.


"Cherry...," panggil Yora ikut sedih.


"Kak... kakak pasti juga tahu kan... kenapa kalian semua menyembunyikan soal ini, Lucas suamiku, ayah dari Adhyaksa. Setidaknya biarkan kami mendampingi kakak om dimasa sulitnya... hiks... hiks...," ucap Cherry.


"Maafkan kita semua Cherry...," sahut Neva .


"Ma... kita ketempat Lucas sekarang juga, aku tak mau menunggu terlalu lama lagi." pinta Cherry.


Mama Risti mengangguk, beliau juga tak bisa berkata-kata. Mama Risti menangkup wajah Cherry dengan kedua tangannya lalu memeluknya kembali.


"Kita kesana sekarang ma... hiks... hiks...,"


Singkat cerita, Mama Risti dan Cherry berangkat ke negara Swiss tanpa membawa Aksa. Untuk sementara Aksa dia titipkan kepada Yora dan Neva. Steve ikut menemani keduanya terbang menemui Lucas. Sepanjang perjalanan, Cherry terus saja menangisi Lucas yang tak berterus terang mengenai kondisinya.


Perjalanan mereka akhirnya sampai, dan kini mereka langsung dijemput oleh salah satu keluarga Steve yang bertempat tinggal disana juga.


"Cherry... udah ya nangisnya, gak mau kan bos lihat lu sedih?" ucap Steve.


Cherry langsung menyeka air matanya, apa yang diucapkan Steve ada benarnya. Dia tak boleh terlihat sedih didepan suaminya. Perjalanan mereka akhirnya sampai ke Rumah sakit dimana Lucas dirawat. Disana, Brandon dan Gerald sudah menunggu kedatangan mereka.


"Tante...," sapa Brandon kemudian mencium punggung telapak tangan mama Risti.


Begitupun dengan Gerald, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Brandon.


"Dimana Lucas?" tanya mama Risti.


"Lucas ada di ruangannya tante." jawab Brandon.


Cherry berlari lebih dulu setelah Gerald memberitahu ruangannya. Sesampainya didepan pintu, Cherry mengatur emosi mentalnya. Perlahan dia menarik gagang pintu dan membukanya.


"Kakak om..."


...----------------...


Mau bacaan yang ceritanya seru juga? mampir yuk ke karya temanku judulnya "Terjebak cinta dara jelita"



Bagaimana jadinya, Jika sebuah dendam membawamu terjebak dalam sebuah pernikahan tanpa Cinta?


"Menikahlah denganku," Exel.


"Bagaimana kalau aku menolak?" Dara.


Mampukah Dara mempertahankan Rumah tangganya, dengan orang yang menikahinya hanya karena Dendam? Sedangkan dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya,


Dan mampukah seorang Jelita yang notabenenya tomboy, membuat suaminya yang super dingin dan datar jatuh Cinta padanya?

__ADS_1


"Kau harus menerima balasan atas Apa yang kau lakukan pada Amara."


"Lakukan Apa yang ingin kau, lakukan Aku tidak peduli," Jelita.


__ADS_2