Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 138. Sensitif


__ADS_3

Cukup lama Agha, Brandon, Lexi dan Yora menaiki rollercoaster.


"Aku kapok ga mau naik itu lagi, kepalaku terasa pusing...," keluh Yora selesai menaiki rollercoaster.


"Ih... mama penakut!" ejek Agha.


"Agha... bukan mama penakut, mama hanya phobia ketinggian." Yora membela diri.


"Menurut Agha, mama penakut berbeda dengan ayah. Ayah cuma takut mama marah doang katanya. Kata ayah, mama galak." sahut Agha.


"Apa? ayahmu mengatakan itu kepada mama?" tanya Yora memastikan sekali lagi.


"Iya ma... ayah yang mengatakan itu semua" jawab bocah polos apa adanya tidak ada tambahan sama sekali m


Bagai disambar petir, lirikan Yora sudah menancap di ketakukannya.


'Kenapa tuh bocah masih mengingatnya' batin Lexi.


'Bisa hilang jatah malam ini nanti gara-gara ucapan dia.'


"Bisa dijelaskan sekarang ga?" sindir Yora dengan nada menekan.


"Yora, ini semua tak seperti yang dikatakan Agha. Aku bisa jelaskan semuanya." rayu Lexi.


Benar saja, Lexi dan Yora masih berargumen dengan pendapat masing-masing. Sedangkan Brandon dan Agha makan ice cream sambil memperhatikan Lexi dan Yora.


"Orang dewasa rumit." ucap Agha.


"Rumit gimana anak singa?" tanya Brandon.


"Rumitnya dulu waktu kecil minta besar, giliran besar malahan minta kecil. Kan itu namanya rumit om...," jawab Agha langsung membuat Brandon tersenyum.


"Om Brandon kenapa belum menikah?" tanya Agha lagi.


"Apa om menunggu seseorang?"


"Darimana kau mendapatkan pertanyaan itu Agha?" balik tanya Brandon.


"Aku sering menonton drama-drama yang ditonton tante Neva dan tante Desty." jawab Agha belepotan.


'Desty, kenapa aku harus mendengar namanya dipanggil lagi.' batin Brandon.


"Om Brandon... ice creamku habis" protes Agha meminta lagi.


"Agha sudah ya... om hanya tak mau dipensiunkan dini oleh ayahmu." tolak Brandon halus.


"Agha... kita pulang sekarang!" ajak Yora masih kesal.


"Yora... aku hanya bercanda, tolong jangan dimasukkan kehati." bujuk Lexi, tapi sayangnya tak didengar oleh Yora. Yora sudah terlebih dulu pergi bersama Agha.


"Pusing aku kalau sudah sensitif gini...," keluh Lexi.


"Apa lu sudah cek kondisi dia?" tanya Brandon.


"Maksudmu?" balik tanya Lexi.

__ADS_1


"Ya... kali aja dia hamil gitu. Biasanya hormon kehamilan merubah mood seperti bocah ingusan dulu waktu hamil, ada-ada saja kemauannya." jawab Brandon.


"Kenapa aku tak terpikirkan soal ini Brandon. Terimakasih atas sarannya Brandon...," sahut Lexi lalu ikut mengejar Yora dan Agha.


"Issssh... ini alasan gua belum mau ke jenjang pernikahan, selalu saja ribet." gumam Brandon.


**


"Desty... ini bagus ga?" tanya Neva memperlihatkan pilihan dress yang akan di beli.


"Hem..," jawab Desty.


"Ih... Desty kenapa sih? daritadi diminta saran jawabnya cuma ham hem ham hem doang. Ga asik nih...," keluh Neva.


"Aku harus menjawab apa Neva, bukannya kau sendiri tahu setiap aku berkata berbeda selalu kau bantah." sahut Desty.


"Desty marah?" tanya Neva merasakan Desty sedikit aneh sejak daritadi.


"Fiuuuuhhhh....,"


"Maafkan aku Neva... aku hanya lelah, karena semalam aku--" Desty menghentikan ucapannya.


"Iya... semalam kamu....," Neva membantu mengulangi ucapan Desty yang tiba-tiba berhenti.


"Sudahlah Neva... kita lupakan." sahut Desty.


"Neva... kelihatannya disana ada dress yang lebih bagus daripada disini," ucap Desty mengalihkan perhatian Neva.


"Desty... kau belum melanjutkan ceritamu, jangan kabur Desty....," teriak Neva mengejar Desty.


"Neva... laper...," ucap Desty.


"Sama Des... gimana kalau kita makan di cafe yang baru buka diujung sana," ajak Neva.


"Gas kan Neva...,"


Mereka berdua mengakhiri belanjanya makan ditempat cafe yang baru-baru ini buka. Cafe yang menjual makanan khas dari Jawa ini sangat digandrungi oleh kawula muda. Bahkan untuk mendapatkannya harus cepat-cepat agar tak keburu habis.


"Rame banget rupanya tempat ini," ucap Neva kagum.


"Neva... kau mau pesan apa?" tanya Desty.


"Aku mau soto komplit dengan perkedel sama kentang gorengnya. Jangan lupa sate jeroan dan kerupuk kulitnya. Oh ya... minumnya aku mau coba es kerampul," jawab Neva.


"Alamak... banyak banget pesanannya Neva? laper atau rakus nih... hehehe..." ledek Desty terkekeh.


"Mbak 2 porsi semua ya..." ucap Desty kepada pelayan.


"Kita duduk disana ya... disini penuh banget," keluh Neva mencari tempat lesehan yang nyaman.


"Desty... menurutmu gimana sih kak Brandon?" tanya Neva membuat Desty terbatuk.


"Ngapain tanya dia? kan kau tahu aku sama dia ga selevel." jawab Desty.


"Kak Brandon itu kalau dilihat-lihat tampan tau..." puji Neva.

__ADS_1


"Hih... tampan darimana? dilihat dari sedotan atau dari ujung monas, dia tuh ga ada tampan-tampannya. Orang keras kepala, pemarah kayak gitu tuh ga ada tampan-tampannya Neva! sadar Neva... sadar...," ucap Desty kesal.


"Kau begini bukan karena hal lain kan?" tanya Neva.


"Maksudnya apa Neva?" tanya Desty belum paham.


"Aku hanya mengingatkan jangan terlalu benci, nanti ujung-ujungnya jodoh loh...," sindir Neva.


"Tau ah ngomong sama kau bikin kepala tambah pusing," sahut Desty.


"Silahkan menikmati mbak...," ucap pengantar pesanan.


"Terimakasih mbak...," sahut Neva dan Desty bersamaan.


"Uuuuh... sepertinya enak Nev...," Desty langsung mencicipi soto kuah bening pesanannya.


"Sumpah... ini enak banget Desty. Recommended banget rasanya. Kapan-kapan aku mau ajak mama dan papa kesini Des...," ucap Neva. Kemudian mereka berdua menikmati makanannya.


**


"Tuan Lucas Hadinata pemilik perusahaan Jewelry Axosha. Seorang eksekutif muda yang menginspirasi seluruh pemuda pemudi di kampus saya. Boleh saya meminta foto anda? " tawar seorang wanita muda.


"Maaf mbak sebelumnya, dia bukan Lucas Hadinata yang seperti mbak kira. Dia suami saya namanya Suyanto yang kebetulan mirip dengan orang yang mbak kira.", protes Cherry agar wanita itu jauh-jauh dari Lucas.


" Ta--tapi dia sangat mirip--"


Cherry segera menarik sang suami menjauhi wanita itu. Acara jalan santai yang direncanakan di awal gagal gara-gara Cherry kembali sensitif.


"Sayang....,"


"Stop Lucas! aku ga mau mendengar alasan kakak lagi." sahut Cherry.


Lucas langsung menutup mulutnya rapat, dia tak mau membuat Cherry semakin marah.


Sepanjang perjalanan, Cherry hanya diam.


'Kenapa dia menjadi diam?' batin Lucas.


"Sayang... kita mampir kemana lagi?" tanya Lucas.


"Udah ga mood. Aku mau tidur dirumah." jawab Cherry.


"Sayang... apa hari ini aku bersalah lagi?" tanya Lucas pelan.


"Tidak ada." jawab Cherry singkat.


"Ya sudah kalau begitu." sahut Lucas


'Apa? cuma gitu doang. Kenapa ga ada rayuan sama sekali. Pria tua ini ngeselin!' batin Cherry.


Sesampainya dirumah, mana Risti langsung mengambil alih baby Aksa. Melihat Cherry tak seperti biasanya, mama Risti berbisik pada Lucas.


"Wanita itu butuh dimengerti, terkadang ada perasaan lain yang membuatnya jadi berubah. Sekarang tugasmu meyakinkan dirinya jika semuanya bisa diselesaikan secara bersama bukan individu"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2