
"Maaf nak... ibu tak sengaja," ucap seorang wanita tak sengaja menyenggol Cherry.
"Eh... ga apa-apa bu, ini juga salah saya. Saya berjalan dengan melamun tak melihat ibu didepan saya." sahut Cherry sambil membantu ibu tersebut mengambil barang-barangnya yang terjatuh.
"Terimakasih nak," ucap Ibu tersebut, Cherry menanggapinya dengan tersenyum dan tiba-tiba saja Cherry sedikit oleng akan terjatuh. Untungnya ibu tersebut dengan cepat meraih tubuh Cherry.
"Nak, wajahmu pucat dan terlihat lemas. Lebih baik kau ikut ibu, biar ibu merawatmu sebagai ganti kau sudah memberi tempat dudukmu tadi" ucap ibu itu lagi.
"Tak usah repot-repot bu, saya ikhlas tadi. Lagian hanya tempat duduk itu tak menjadi masalah buat saya," sahut Cherry merasa tak enak.
"Istirahat ditempat ibu dulu. Jika dirasa sudah merasa sehat kau boleh meninggalkan tempat ibu" paksa ibu tersebut karena merasa tak tega melihat kondisi Cherry yang pucat.
Cherry terdiam, dia memang ingin sekali istirahat. Lagian juga dia tak tahu harus pergi kemana. Pertemuan tak sengaja Cherry dengan ibu Sri di stasiun tadi membuatnya tak menyangka jika ibu Sri yang akan menolongnya saat ini.
"Ayo nak...," ibu Sri menggandeng tangan Cherry dan Cherry akhirnya mengikutinya.
"Rumah ibu dekat dari stasiun ini,"
"Ouh...," Cherry membentuk ucapannya seperti huruf O.
"Nah... itu rumah ibu, rumah ini kecil tapi banyak kenangan," sambil membuka pintu rumahnya.
Ibu Sri merupakan pedagang keliling yang menjajakan dagangannya disekitar stasiun. Saat sedang berkeliling menawarkan dagangannya kepada Cherry, ibu Sri merasa lelah. Cherry yang melihatnya menawarkan tempat duduknya untuk ibu Sri beristirahat sejenak.
Cherry sendiri saat ini sedang bingung. Cherry tak tahu harus pergi kemana lagi. Satu-satunya saudara yang tersisa hanya Vino dan mamanya. Bukan Cherry tak mau meminta tolong kepada Vino dan mamanya, hanya saja Cherry tak mau Lucas menemukannya. Pada akhirnya Cherry memutuskan pergi menenangkan hatinya.
"Tidurlah disana nak, ibu akan membuatkan makan malam untukmu" ucap ibu Sri.
Cherry masih belum berbicara panjang, pikirannya masih kacau. Perasaan yang syok mengenai ayahnya dan mertuanya masih belum bisa dia kendalikan.
Cherry tak lekas menuruti, dia melihat lihat sekitar rumah ibu Sri dulu. Rumah kecil serta hiasan sederhana didinding mengingatkan Cherry kepada kediamannya dulu.
"Ayah... ibu...," panggil Cherry lirih mengingat moment bersama ayah dan ibunya dulu.
"Kenapa kau tak istirahat nak?" tanya ibu Sri menyadari Cherry mengikutinya ke dapur sederhana yang jaraknya tak begitu jauh dari ruang tamu.
"Ibu tinggal sendirian dirumah ini?" tanya Cherry.
"Suami ibu sudah lama meninggal," jawab ibu Sri.
"Anak-anak ibu?" tanya Cherry lagi.
"Ibu tak memiliki anak. Meski begitu suami ibu tak pernah menuntut," jawab ibu Sri.
"Ma-maaf ibu, aku tak bermaksud---,"
"Hehehe... Ibu sudah sering mendapatkan pertanyaan ini" sahut ibu Sri.
__ADS_1
"Ibu hanya bisa memasak telur ceplok dan kecap untuk makan." imbuh ibu Sri selesai mempersiapkan makan untuk Cherry.
"Sekarang dimakan ya nak," menyodorkan sepiring nasi dan telur ceplok kepada Cherry.
"Aku belum lapar bu...," ucap Cherry.
"Tak boleh menolak rezeki, ibu yakin nak belum makan daritadi. Sekarang sudah pukul 3 pagi jangan biarkan kondisimu sakit," ucap ibu Sri.
Cherry terdiam mengingat perutnya, dia tak boleh egois. Sekarang ada kehidupan baru di perutnya, Cherry harus memikirkan itu. Cherry kemudian memakan makanan tersebut.
"Setelah ini istirahat, subuh nanti kalau ibu sudah berangkat bekerja kau lanjutkan istirahatnya. Pergilah setelah kondisimu sehat," imbuh ibu Sri.
Cherry tersenyum, dia sangat bersyukur karena sudah dipertemukan dengan orang baik.
"Sekali lagi terimakasih ibu," ucap Cherry.
**
"Lucas.. Lucas ... " panggil Brandon.
"Cherry tak ada di Stasiun, aku dan Vino juga Steve sudah mencari diseluruh tempat tapi tak menemukannya.
Lucas langsung saja lemas, karena dirinya juga tak berhasil menemukan Cherry. Lucas sudah bertanya dibagian info penumpang sayangnya tak ada nama Cherry disana.
"Dimana dia sebenarnya Brandon?" tanya Lucas terlihat sedih.
"Aku sangat khawatir Brandon, masalahnya dia sedang hamil. Aku hanya tak mau terjadi apa-apa"
"Apa yang kau katakan, hamil?" tanya Brandon memastikan.
"Anak ingusan itu hamil anak lu maksudnya?"
Bahkan disaat genting begini, Brandon masih bisa-bisanya bercanda. Lucas hanya mengangguk menanggapi keterkejutan sahabatnya.
"Tokcer bener lu... bisa nih kasih resepnya," sahut Brandon menggoda.
"Siapa yang tokcer bos?" tanya Vino ikut bergabung bersama Steve.
"Noh... yang tokcer," jawab Brandon menunjuk seorang wanita berpakaian sexy melintas didepan mereka.
"Makanya bos... jangan kelamaan jadi Zombie... bener aja ga tokcer-tokcer... hahaha!" sahut Vino.
"Mudah-mudahan anak lu jangan mirip dia Cas," bisik Brandon.
Lucas masih belum bisa diajak bercanda, pikirannya masih memikirkan keberadaan Cherry apalagi sekarang kondisi Cherry sedang hamil, Lucas takut terjadi apa-apa.
'Darimana mereka tahu jika Cherry hamil?' batin Steve, karena setaunya Cherry menyuruhnya untuk tidak memberitahu kehamilan Cherry.
__ADS_1
"Steve biasanya kau tahu dimana Cherry, kau bisa melacaknya seperti kasus itu kan?" tanya Brandon.
"Terakhir mengantarkannya ke Rumah sakit, Cherry tak mengatakan apapun." jawab Steve.
"Bagaimana dengan kondisi saat itu?" tanya Brandon.
"Cherry terus saja menangis setelah Dokter memeriksanya," jawab Steve.
"Kita terus cari Cherry sampai ketemu," ucap Lucas pada akhirnya. Mereka berempat memutuskan untuk melanjutkan pencarian Cherry.
Hari mulai pagi sebentar lagi matahari akan menyinari bumi. Merubah gelap malam menjadi terang benderang.
"Kopi mas?" tanya ibu-ibu yang berjualan diarea stasiun.
"Boleh bu semuanya," sahut Brandon merasa kantuk karena semalaman tak tidur.
"Bu, kopi 2" Vino ikut pesan. Dia juga merasa kantuk seperti Brandon.
"Mas, ini ikut jadwal kereta jam berapa?" tanya ibu penjual kopi.
"Kenapa bu?" tanya Vino.
"Dari tadi subuh saya melihat mas semua sibuk mengelilingi stasiun. Jadi wajar kalau saya bertanya, " imbuh ibu tersebut.
"Kami sedang mencari seseorang bu, tapi sampai saat ini orang yang kami cari belum juga ketemu" Vino menjelaskan.
"Ini mas," sambil menyodorkan secangkir kopi pesanan mereka.
"Lucas....," panggil Lexi baru tiba.
"Apa Cherry sudah ditemukan?" tanya Lexi.
"Seperti yang kau lihat Lexi, personil kita masih utuh 4 orang" jawab Brandon.
"Yora ingin sekali bertemu dengannya. Aku berharap Cherry mampu memaafkan keluarga kita seperti Yora memaafkan semuanya," ucap Lexi.
"Lucas, bagaimana denganmu?" tanya Lexi.
"Seperti yang kau lihat Lexi...,'" jawab Lucas.
"Kau terlihat mengkhawatirkan Lucas," sindir Lexi.
"Jelas dia mengkhawatirkan Lexi, Cherry sedang mengandung. Lucas sangat mengkhawatirkannya" bukan Lucas yang menjawab tetapi Brandon yang menyahut.
"Cherry hamil...,"
Bersambung......
__ADS_1