Kaget Nikah

Kaget Nikah
BAB 40#KAGET NIKAH


__ADS_3

Hari dimana acara jamuan makan malam di perusahaan pun tiba, Reza dengan berpakaian rapi sudah berada di depan rumah Irene dengan niat untuk menjemput pujaan hatinya.


Tok...Tok...Tok...


"Irene,"


"Iya, Rez. Sebentar,"


Tak lama, Irene pun membukakan pintu untuk Reza. Reza sangat tercengang saat melihat Irene yang sangat cantik mengenakan gaun darinya.


"Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Ren. Aku sampai tidak mengenalimu,"


"Kamu ini bisa aja, Rez. Oh ya kita mau langsung berangkat atau kamu mau mampir dulu ke rumah,"


"Kita langsung berangkat aja ya soalnya kita sudah terlambat nih,"


"Hmmm, yaudah deh aku pamit sama Kenzie dulu yah,"


"Iya silahkan, Ren,"


"Kenzie, sayangnya Mama,"


"Iya, Ma,"


"Sini dulu deh, mama mau bicara,"


"Iya, Ma,"


Kenzie pun datang menghampiri Irene dan juga Reza.


"Sayang, mama sama Om Reza mau pergi dulu yah. Kamu di rumah aja, jangan kemana - mana, makan malam sudah mama siapkan di atas meja makan kalau kamu laper tinggal makan aja nanti saat pulang ke rumah mama bakalan belikan kamu sesuatu. Kamu mau mama belikan apa kalau mama pulang nanti?,"


"Emmmm, apa ya? Hah Pizza sama burger aja deh Ma,"


"Yaudah nanti mama belikan Pizza sama Burger kalau pulang. Tapi ingat gak boleh kemana - mana, di rumah aja pokoknya sampai Tante Gisella datang,"


"Siap, Ma,"

__ADS_1


"Yaudah mama sama Om Reza pergi dulu yah,"


"Iya, Ma,"


Reza dan Irene pun pergi. Dan tak lama kemudian dari arah belakang tiba - tiba saja ada seseorang yang membius Kenzie hingga pingsan. Orang bertopeng itu pun langsung membawa Kenzie pergi dengan menggunakan mobil berwarna hitam.


****


Akselino sedang berjalan di sebuah koridor, ia tiba - tiba saja mendapatkan telepon dari seseorang dan ia pun langsung mengangkatnya.


"Halo Boss, anak itu sudah berhasil kami bawa,"


"Bagus kalau begitu langsung bawa dia ke tempat yang sudah saya tentukan. Saya akan menyuruh beberapa orang dari dunia medis untuk langsung melakukan tes DNA terhadap anak itu,"


"Baik, Boss. Kalau begitu kami akan langsung bawa anak ini kesana,"


"Iya dan ingat jangan apa - apain anak itu, jika anak itu sama terluka maka Tuan Afnan akan sangat marah dan bisa membunuh kita semua. Dan satu lagi ambil sampel darah anak itu secukupnya saja, jangan sampai membuatnya sakit atau apapun itulah,"


"Baik, Boss,"


Panggilan telepon itu pun berakhir.


****


Sesampainya Irene dan Reza di acara perjamuan makan malam perusahaan, Irene enggan untuk turun karena ia sudah tau pasti akan ada Afnan di dalam sana.


"Reza, apa gak sebaiknya aku menunggu di mobil saja,"


"Kenapa begitu, Ren. Acara ini khusus di adakan untuk seluruh karyawan dan pemimpin di perusahaan kita,"


"Aku merasa tidak enak badan saja tiba - tiba,"


"Aku tau kamu pasti sedikit gugup dan tidak percaya diri. Turunlah bersamaku dan anggap saja malam ini kamu menjadi teman pendamping pestaku,"


"Tapi - ,"


"Udah kamu gak usah ragu seperti itu, aku tidak akan membiarkan siapapun menghina penampilanmu malam ini karena bagiku malam ini kamu sangat cantik,"

__ADS_1


Irene hanya menunjukkan senyuman kecil pada Reza. Ia sebenarnya bukan takut ada yang menghina penampilannya, ia hanya takut jika Afnan mengganggu dirinya lagi.


Reza terus bersikeras untuk menyuruh Irene turun dan menemaninya masuk ke dalam gedung pesta. Irene mau tak mau pun turun dari mobil dan masuk ke dalam dengan menggandeng lengan Reza. Saat Irene dan Reza masuk, semua orang menatap dan memperhatikan mereka berdua termasuk Afnan. Ia merasa cemburu dengan kedekatan Reza dan juga Irene karena dirinya merasa Irene masih lah istri sah nya secara hukum dan juga agama.


Saat Afnan sedang bertarung dengan batin dan juga pikirannya untuk menahan emosi yang telah memuncak di kepalanya, Akselino tiba - tiba saja datang menghampirinya.


"Tuan Afnan,"


"Ada apa?,"


"Kita harus bicara sekarang juga,"


"Jika kamu ingin berbicara sesuatu, yaudah cepat katakan saja disini,"


"Tapi ini sesuatu yang sangat tersembunyi tuan, saya tidak mungkin membicarakannya disini. Ini tempat umum,"


Afnan sama sekali tidak fokus dengan apa yang Akselino katakan. Ia hanya fokus dengan Irene dan juga Reza.


"Tuan Afnan, tuan lihat apa sih,"


Akselino pun melihat ke arah yang dilihat oleh Afnan. Disana ia melihat Reza dan Irene yang sedang bercanda gurau. Irene terlihat sangat bahagia saat di dekat Reza.


"Oh pantes saja sepertinya agak panas disini ternyata ada yang terbakar api cemburu,"


"Kamu lihat Reza itu, dia sepertinya perlu dikasih pelajaran. Saya tidak tahan melihat dia menyentuh istri saya seperti itu," Ucap Afnan yang mulai marah dan ingin berjalan menghampiri Reza untuk memukulnya. Namun, Akselino menghentikan dirinya.


"Tunggu tuan Afnan, tuan Afnan jangan gegabah. Tuan Afnan tidak mau kan kalau istri tuan itu semakin benci dengan tuan. Tuan harus bersikap tenang. Untuk saat ini lebih baik tuan ikut dengan saya, ada hal penting yang perlu saya bicarakan dengan tuan,"


Afnan pun akhirnya mau ikut bersama dengan Akselino. Akselino membawa dirinya ke suatu tempat di salah satu Lorong gedung pesta yang kosong dan tak ada siapapun yang akan melewati lorong itu.


"Cepat katakan, apa hal penting itu?,"


"Tuan, anak buah saya sudah berhasil menculik Kenzie dan mereka akan segera melakukan tes DNA padanya,"


"Bagus sekali, tapi ingat jangan sampai anak itu terluka. Ambil sampel darahnya secukupnya saja,"


"Baik tuan, pokoknya tuan tenang saja anak itu akan kembali dengan selamat dan tidak akan terluka sedikitpun,"

__ADS_1


"Bagus, jika anak itu memang benar adalah anakku maka aku bisa menggunakannya untuk kembali dengan Irene. Dan aku juga akan merawat anak itu dan memberikan fasilitas yang layak padanya,"


__ADS_2