
Epsd. 55. Rayuan maut yang gagal
"Om... jangan marah dong," protes Cherry karena sejak kejadian tadi Lucas mendiamkannya tanpa suara.
'Bisa marah juga rupanya dia, terpaksa harus menurunkan harga diri' batin Cherry.
Dengan jurus seribu bayangan seribu kedipan, Cherry mulai beraksi. Cherry sengaja menyenderkan tubuhnya ke dada bidang Lucas yang sedang sibuk menonton TV. Entah dia beneran menonton atau hanya berpura-pura.
"Oppa....," panggil Cherry dengan nada manja.
"Hwanaejima dangsin-i naleul seulpeuge"
(jangan marah, kau membuatku sedih).
ucapnya sembari mengelus jenggot Lucas berbulu tipis.
"Oppa..., naneun deo isang im-uiui namja-e uihae chodaedoego sipji anh-eul geos-ilago yagsoghabnida"
(aku berjanji tak akan lagi mau diajak pria sembarangan).
Imbuh Cherry lagi, kali ini dia sedikit mendekatkan bibirnya ke bibir Lucas.
'Jangan bikin aku tergoda Tuhan' batin Lucas.
Lucas berusaha untuk tidak terpengaruh dia masih bersikap tak peduli, namun didalam hatinya dia merasakan tak sanggup untuk menolak pesonanya. Apalagi posisi saat ini, wajah Cherry sangat dekat dengan wajahnya. Bibir ranum merah mudanya menggoda imannya untuk di sentuh. Sesekali Lucas mencuri pandang kearah gadis muda bergelar halal dihadapannya.
"Tau ah.. orang tua mah sukanya marah" dengus kesal Cherry akan beranjak dari samping Lucas.
"AAA AAA..." teriak Cherry.
"Emph.." Cherry terkejut karena Lucas menarik tubuhnya dan mencium bibirnya.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu mengganggu keromantisan mereka. Cherry dengan cepat mendorong tubuh Lucas dan segera membersihkan bibirnya. Terlihat gurat malu di wajahnya, kulit putih yang sebelumnya kini menjadi kemerah-merahan.
"I-iya bentar..." teriak Cherry menyahut suara diluar.
Sedangkan Lucas, jangan di tanya lagi dia sedang menggerutu habis-habisan didalam hatinya.
Ceklek.
"Tante..," rupanya tante Nanik sudah kembali dari kedai kuenya.
"Tante khawatir mendengar ada yang teriak, kamu tak apa-apa kan Cherry?" tanya tante Nanik.
"Enggak kenapa-kenapa tante.. tante salah dengar kali," Cherry berpura-pura beralasan.
"Yakin kamu ga apa-apa?" tanya tante Nanik memastikan.
"Iya tante.. Cherry ga kenapa-kenapa, tadi itu Cherry geli sama soang" sembari melirik kearah Lucas yang bersembunyi dibalik selimut.
__ADS_1
"Soang?" tante Nanik menirukan kata terakhir Cherry.
"Iya tante.. rupanya soang itu hobi banget nyosor ya tante, Cherry jadi geli lihatnya" sembari pura-pura bergidik ngeri.
Tante Nanik tertawa, dia mengikuti arah bola mata Cherry. Menyadari ada Lucas dibalik selimut, kini tante Nanik paham dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Ya sudah... di lanjut saja menikmati sosoran soang... kalo bisa soangnya jadiin junior jadi nyosornya bisa bareng-bareng" sindir tante Nanik membuat Cherry kalah telak kali ini.
Cherry yang biasanya pintar dan cerdas dalam beragument saat ini hanya bisa pasrah dan menarik senyumnya dengan paksa.
Setelah tante Nanik pergi, Cherry menutup pintu kamarnya kembali. Dia melihat Lucas yang sudah duduk bersila diatas ranjang sedang menertawakannya.
"Makanya jadi anak tuh yang nurut sama orang tua... kena getahnya juga kan?" ledek Lucas sembari menertawakannya.
"Om sih pake acara marah-marah segala, jadi ketahuan kan aktivitas kita malam ini" sahut Cherry menyalahkan Lucas.
"Kenapa jadi kamu sekarang yang marah? harusnya aku masih marah" protes Lucas.
"Kan aku sudah jelasin semua, kalau kejadian tadi pagi bukan atas dasar kemauanku. Tapi aku di paksa om...," Cherry merasa tersentil kembali.
"Tapi kan kamu bisa nolak Cherry Berry strawberry mangga manalagi..." protes Lucas.
Perdebatan merekapun berlanjut kembali sama seperti saat beberapa jam yang lalu.
"Sudah lah om, Cherry capek mau tidur" sahut Cherry menutup perdebatannya, Cherry mengambil satu bantal dan selimut untuk tidur di sofa.
"Cherry Berry strawberry mangga manalagi.. aku janji bakal dengerin, tolong jangan tinggalin aku" ucap Lucas mencoba mengalah agar Cherry tak tidur di sofa.
"Cherry.. maafin aku, aku bakal turutin semua keinginan kamu asal kamu tak tidur di sofa" Lucas mulai menyerah.
"Om beneran mau turutin semua keinginan Cherry?" tanya Cherry memastikan.
"Iya, demi apapun itu" ucap Lucas.
"Oke, aku pingin om besok ikut aku makan Durian" sahut Cherry.
"Durian?"
"Iya Durian.. sudah lama aku ga makan durian disini om.."
"Bisa yang lain ga?" tawar Lucas.
"Ga bisa, pokoknya sekali durian tetap durian" ucap Cherry dengan kekehnya.
Lucas benar-benar pasrah kali ini, tak bisa lagi mengelak permintaan Cherry. Demi tidur disampingnya Lucas tak memperdulikan nasibnya besok jika bertemu keluarga Durian.
**
"Brandon!" panggil seorang wanita masih menggunakan atribut lengkapnya.
"Ngapain lagi sih lu panggil gue? mau pindah kiblat gara-gara sudah menyadari ketampanan gue diatas rata-rata" sahut Brandon dengan songongnya.
__ADS_1
"Dimana Lucas?" tanya Reta tak menanggapi ucapan songong Brandon.
"Di rumah lah..." sahut Brandon.
"Kau jangan bohong Brandon, Lucas tak ada dirumahnya. Aku baru saja dari sana, pembantunya bilang jika Lucas sudah 3 hari tak pulang" ucap Reta.
"Lah.. Mana gue tahu, emang gue enaknya Lucas yang tau kegiatan dan polah dia? emaknya saja belum tentu tahu" sahut Brandon dengan datar.
"Brandon aku serius tak butuh leluconmu ini!" teriak Reta.
"Terserah kamu Ret... kerjaan gue masih banyak. Mendingan elu pulang aja. Kasihan kan kondisi lu belum begitu pulih" ucap Brandon pura-pura perduli.
"Bro... ini ada berkas yang..."
"Aargh" keluh Reta.
"Eh.. maaf mbak" ucap Víno dengan logat jawa.
"Ada yang sakit?" tanya Vino ramah.
"Dasar orang kampung!"
"Mbak, meski saya orang kampung mama dan Papa saya selalu menghormati orang lain. Bukan seperti mba yang ga tau aturan begini" sindir Víno.
"Dasar kau, aku ga akan pernah lupain wajah ga tau diri kamu !" ucap Reta kemudian kembali ke kediamammya.
"Hati-hati mbak setelah ini bakal bucin akut sama saya...." teriak Vino.
"Cantik-cantik kok mirip singa" gerutu Vino masih memandangi punggung Reta yang sebentar lagi menghilang.
"Sudah bucinnya?" tanya Brandon yang sedari tadi memperhatikan Vino.
"Innalillahi...." sahut Víno kaget.
"Siapa yang mati?" tanya Brandon.
"Bukan mati, tapi kaget aja elu tiba-tiba muncul kayak gini" protes Vino.
"Lah.. emangnya kenapa?" tanya Brandon.
"Wajah elu lebarnya ngalahi lapangan bola di senayan" jawab Vino seenaknya.
"Kampret ini orang!" teriak Brandon sangat kesal.
Sedangkan Vino melenggang begitu saja tanpa merasa berdosa.
**
"Aku harus mencari keberadaan Lucas, dia tak bisa seperti ini. Aku sangat mencintainya. Aku memang salah sudah berbuat kesalahan fatal dengan Ammar, tapi ini semua sudah berakhir. Janin itu sudah hilang jadi sudah tidak ada lagi orang yang berhak mengganggu hubunganku dengan Lucas termasuk anak kecil itu" ucap Reta dengan mengepalkan tangannya.
Bersambung....
__ADS_1