Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 146. Teror hantu bayi


__ADS_3

"Papa... itu papa... aku tak salah lihat." ucap Desty melihat papa yang selama ini meninggalkan dirinya dan Anton.


"Aku harus meminta penjelasan alasan kenapa dia meninggalkanku dan mama." Desty mengikuti pria itu sampai kedepan kantor, Desty masih terus memperjelas penglihatannya jika yang dilihatnya benar-benar papanya.


Pria itu langsung memasuki mobilnya dan pergi begitu saja membuat Desty berlari mengejarnya. Brandon yang tak sengaja lewat sedikit teralihkan perhatiannya. Dia memperhatikan Desty yang nampaknya kelelahan mengejar sebuah mobil yang dikenalnya.


"Sedang apa anak itu?" gerutu Brandon.


"Bukan urusan gua juga, ga penting!" sahut Brandon lagi. Meski Brandon berucap seperti itu, dia tetap saja mencuri pandangan kearah Desty yang masih berdiri memperhatikan mobil yang dia kejar. Ada rasa penasaran dalam hatinya, namun Brandon tepis. Brandon masuk kedalam kantor begitu saja.


"Papa... aku tak salah lihat itu kau Pa...," ucap Desty tak sengaja meneteskan air matanya.


**


"Dimana anak itu?" gumam Neva tak melihat Desty daritadi.


"Kau mencari siapa?" tanya Vino.


"Desty Vin... kau tahu dimana dia?" balik tanya Neva.


"Daritadi aku tak melihatnya," jawab Vino.


"Apa mungkin dia ke toilet?" tebak Vino.


"Maybe...," sahut Neva.


Oek.. oek.. oekk..


"Vin, apa kau mendengar suara bayi?" tanya Neva.


"Aku juga mendengarnya Neva." jawab Vino.


Kini keduanya mencari sumber suara bayi itu. Neva tanpa sadar memegangi pergelangan tangan Vino, terlihat wajah Neva sangat ketakutan. Selepas tuan Sean pergi ditemani papa Hadi dan Lucas, tinggal Vino dan Neva yang berada diruangan Lucas. Mereka belum mengetahui jika ada Cherry dan baby Aksa didalam sana.


Menyadari Neva ketakutan terlintas ide jahil dari Vino. "Nev... aku dengar-dengar kantor ini dulunya bekas tempat pembantaian anak-anak. Apa mungkin itu suara tangis mereka saat dibantai ya...," ucap Vino langsung membuat Neva semakin merapatkan pegangannya. Bahkan tubuh Neva ikut merapat.


"Vin... kalau ngomong jangan ngaco---"


Oek... oek... oekk...


Mendengar suara tangisan itu kembali, Neva langsung meminta peluk Vino. Kesempatan Vino langsung membalas pelukan Neva.


"Sssstt...! jangan dilanjutkan Neva takut kau mengganggunya" bisik Vino.


"Vino... aku takut...," ucap Neva sambil memejamkan matanya ketakutan.


Ingin rasanya Vino tertawa saat ini, namun wajah cantik Neva membuatnya ingin terus memandangnya.


"Vino... aku sangat takut, bisakah kita keluar dari sini sekarang?" tanya Neva masih dengan memejamkan matanya.


"Biasanya Neva kalau mereka sudah bersuara seperti ini, mereka tak akan melepaskan kita" jawab Vino semakin membuat takut Neva.

__ADS_1


"Huaaaa.... hiks... hiks..." suara tangis Neva.


Ingin sekali Vino tertawa kencang melihat ekspresi Neva, lagi-lagi Vino harus menahannya.


Oek... oek.. oekk...


"Vino... kenapa suaranya semakin dekat..." teriak Neva.


"Iya ya Neva... kenapa suaranya semakin dekat?" tanya Vino juga. Rupanya candaan Vino menjadi kenyataan, teror hantu bayi mulai mengganggu mereka.


"Vino... apa hantu bayi itu menteror kita?" tanya Neva lagi.


Vino yang tadinya bercanda tiba-tiba saja sedikit ketakutan.


"Mungkin kau benar Neva... hantu bayi itu mulai menteror kita dengan tangisnya," ucap Vino dengan bulu kuduk merinding.


"Kalian ngapain peluk-pelukan disini?"


"Vino... hantu bayi itu kenapa berubah suara sama persis dengan Cherry? apa jangan-jangan dia sudah menjelma menjadi Cherry yang setengah otak itu," tanya Neva.


"Jangan sampai kita melihat wujudnya Neva... takutnya beneran setengah otak doang," jawab Vino.


Pletak!


"Haduh...! sa--kit tau... " keluh Vino menoleh kearah orang yang memukul kepalanya.


"Cher----ry...," ucap Vino setengah malu.


"Sejak sebelum kalian belum lahir nyampe kalian pelukan kayak tadi," jawab Cherry menyindir.


Wajah Neva maupun Vino langsung memerah menahan rasa malu.


"Ini kerjaan kau kan Vin... sengaja buat Neva peluk-peluk," ucap Cherry sengaja.


"Apaan sih Cherr... ga bener ngomongnya" tolak Vino.


"Udahlah Vin... ngomong aja yang sebenarnya, ga usah ditutup-tutupin lagi." sahut Cherry sengaja membuat Vino terpojok.


"Cherry... yang cantik, baik hati, maha benar dengan segala pikirannya. Katakan aja ya apa yang kau mau jadi aku ga perlu mikir panjang" mode rayu tingkat RT ala Vino.


"Emangnya kalian ngomongin apa sih?" tanya Neva penasaran.


"Dan kau Cherr... kenapa ga bilang daritadi kalau kau dan Aksa disini," Neva beralih memarahi sahabatnya.


"Neva... bagaimana aku mau memberitahu kalian, kalau kalian tadi sedang asik-asiknya berpelukan...," sahut Cherry.


"Emang siapa yang pelukan?" tanya Lucas baru masuk kedalam ruangan bersama Brandon.


Cherry, Neva dan Vino langsung terdiam.


"Emmm... itu kak, tadi Cherry pelukan sama baby Aksa ga lepas-lepas... padahal kan aku juga mau menggendong baby Aksa," Neva beralasan.

__ADS_1


'Bagus Neva... alasan yang tepat' batin Vino.


'Awas kalian... tunggu pembalasanku' batin Cherry mode smirk.


Lucas meminta alih menggendong baby Aksa. "Sayangnya papa...udah bangun ya nak...pasti tidurmu terganggu akibat ulah mama ya...," ucap Lucas hampir keceplosan.


"Kakak om... jangan buka kartu kalau gara-gara ulahku," sahut Cherry tak terima.


"Bukannya tadi kakak om yang rebut kepunyaan Aksa... kok jadi aku yang disalahin...," protes Cherry.


Mendengar ucapan Cherry yang ambigu, membuat semuanya menatap kearah Lucas.


"Makanya sih kakak om... jangan rebut-rebut kepemilikan Aksa, kan jatah kakak om nanti malam. Jadi, jangan ambil jatah Aksa siang hari...," imbuh Cherry lagi membuat tatapan semuanya semakin tajam kearah Lucas.


"Ngapain kalian lihatnya begitu?" protes Lucas.


"O... jadi gini ya kelakuan elu, suka merebut kepemilikan anak sendiri. Lucas... Lucas... kenapa sekarang memprihatinkan punya anak main serobot aja...," ucap Brandon.


"Ih... kakak sebagai ayah yang baik ga boleh rebutan gini... isssh... isssh...," sahut Neva.


"Bos... kan udah ada jatahnya, kenapa siang di serobot juga" sahut Vino.


Lucas melotot tak percaya jika mereka bertiga lebih percaya dengan ucapan istrinya ketimbang dirinya. Sedangkan sang pembuat argumen sedang merapikan rambutnya dengan tanpa bersalah.


'Awas kau sayang... malam ini kau harus menerima hukumannya. Tak perduli kau lelah akan tetap ku lanjutkan sampai titik darah penghabisan' batin Lucas.


**


"Brandon aku ingin memperkenalkan kau dengan putri tuan Sean. Apa kau setuju?" tanya papa Hadi.


"Putri tuan Sean?" tanya Brandon.


"Iya Brandon... tuan Sean berencana memperkenalkan kau dengan putrinya." jawab papa Hadi.


Desty yang juga berada disana merasakan sakit hatinya mendengar tuan Sean berencana memperkenalkan putrinya dengan Brandon.


Brandon terdiam sejenak melirik kearah Desty. Mata mereka seperdetik bertemu, Desty buru-buru mengalihkan tatapannya ke baby Aksa disampingnya. Sedangkan Neva yang diam-diam memperhatikan keduanya semakin yakin jika diantara keduanya terdapat sesuatu.


"Bagaimana Brandon, apa kau setuju dengan permintaan tuan Sean?" tanya papa Hadi.


"Baiklah om,"


Bersambung....


...----------------...


Malam semuanya.... aku mau mengajak kalian semua baca karya teman aku dengan judul karya "Mafia's Women"



"Kau adalah milikku, sebanyak apapun wanita yang berada disekitar ku. Kau adalah satu-satunya yang tak akan aku lepas sampai kapan pun," ketegasan dalam ucapan tersebut seolah menjadi bukti bahwa gadis yang kini berada dalam sangkar emas milik laki-laki yang tak lain adalah seoarang mafia tersebut adalah gadis yang begitu ia jaga. Dia, Eric Roymond. Laki-laki yang memiliki tatapan mematikan dengan aura penguasa. "Kau hanya menjadikan ku budak mu, lalu bagaimana bisa aku bertahan dengan segala rasa sakit yang aku rasakan?" wanita tersebut menatap penuh kebencian pada laki-laki yang telah dengan sengaja menjebak pamannya tersebut. Untuk mendapatkan gadis tersebut Eric sengaja menjebak paman gadis tersebut agar menjual gadis tersebut padanya. Dia,Evelyne Gregory. Gadis lembut yang penuh dengan keceriaan. Kedua orang tersebut malah terjebak dengan takdir yang membawa mereka untuk menjadi satu. Namun akankah mereka benar menjadi satu? atau justru semesta memiliki cara untuk menjadi pemisa?

__ADS_1


__ADS_2