Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 116. Tuduhan Neva dan Lucas


__ADS_3

"Pa... bagaimana ini, ternyata berita soal Rudi dan Lionel kabur itu benar," mama Risti terlihat sangat panik setelah petugas kepolisian membenarkan berita itu.


"Ma... kita tenang ya, semoga Rudi tak membuat ulah lagi" ucap papa Hadi berusaha menenangkan istrinya.


"Brandon, kita pulang sekarang." perintah papa Hadi.


Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa sepi. Mama Risti, papa Hadi dan Brandon tak ada satupun yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sesampainya di depan rumah, sebelum mereka turun "Mama... papa harap mama jangan menceritakan soal ini kepada anak-anak dulu. Biarlah mereka bahagia dengan kehadiran si kembar" pesan papa Hadi.


"Kakek... Nenek...," panggil Agha berlari langsung memeluk mereka.


"Cucu tampan kakek sudah makan?" tanya papa Hadi langsung menggendong Agha.


"Kakek kenapa pulang terlambat? Agha hampir kelaparan menunggu kalian," keluh Agha dengan logat bocahnya.


"Maafkan kakek nak, kakek sedang ada urusan. Sekarang kita makan yuk...," ajak papa Hadi.


"Kakek sama nenek ga boleh makan dulu" protes Agha.


Papa Hadi dan mama Risti menghentikan langkahnya menunggu alasan Agha.


"Kakek sama nenek temui adik Abi dan Aksa dulu...," sahut Agha mengingatkan.


"Abi, Aksa?"


"Kakek itu gimana sih adik Abi dan Aksa itu anak om Lucas dan tante cantik, apa kakek lupa?" protes Agha kembali.


"Haha... maafkan kakek nak, kakek baru tahu jika nama mereka Abi dan Aksa, karena yang kakek tahu mereka dipanggil si kembar" papa Hadi selalu bisa menjelaskan dengan jelas agar Agha tak salah paham.


"Kakek payah... selalu bisa saja alasannya...," ucap Agha sambil menepuk dahinya pelan.


Papa Hadi dan mama Risti selalu tertawa setiap mendengar celotehan cucunya. Mereka bertiga kemudian menuju kamar si kembar. Disana terdapat Neva, Desty dan Steve yang baru saja tiba beberapa menit sebelum papa Hadi dan mama Risti.


"Mama... papa...," ucap Cherry langsung menyalami tangan keduanya.


"Bagaimana keadaanmu Cherry?" tanya papa Hadi.


"Alhamdulillah baik pa," jawab Cherry.


"Mama dan papa darimana saja sih... ga pingin apa ikut menyambut cucu kembarnya?" tanya Neva sembari memangku Adhyaksa.

__ADS_1


"Mama dan papa terjebak macet," jawab mama Risti lalu mengambil alih Abimana dari gendongan Cherry.


"Bilang saja mama dan papa mau honeymoon lagi," sahut Neva seenak jidatnya.


"Neva... kamu pikir mama masih bisa punya anak lagi? emang kamu mau punya adik lagi?" sahut mama Risti.


"Neva, emang kamu beneran mau punya adik lagi?" bisik Steve.


"Neva.. ga kebayang kalau punya adik lagi kayak apa," bisik Desty sambil membayangkan.


"Neva... kayaknya seru kalau aku punya adik ipar lagi, hihi..." ucap Cherry.


"Sudah... sudah... Neva, bukan waktunya mama dan papa memiliki anak lagi. Tetapi saatnya anak-anak papa memberikan cucu-cucu yang lucu dan pintar seperti Agha dan si kembar. Pikirannya ga usah ngaco mama dan papa mau punya anak lagi---"


"Apa! papa mau punya anak lagi? mama hamil?" sahut Lucas yang baru masuk kedalam.


"Ini lagi malah bikin masalah...," gumam Cherry.


"Aaaaa... adu... du.... duh ma..." keluh Lucas langsung mendapatkan jeweran mama Risti. Agha yang masih betah berada di gendongan papa Hadi tertawa terbahak-bahak.


"Kamu sama Neva ga jauh beda pikirannya, masa' iya mama hamil lagi. Kalau mama hamil terus yang gantiin popok si kembar siapa? yang main-main sama Agha siapa?" mama Risti terus saja mencecar Lucas dan Neva.


"Iya... iya ma, maaf... tadi Neva cuma bercanda,"


"Lucas, siapa nama si kembar?" tanya papa Hadi.


"Si kaka Abimana Xavier Hadinata, si adik Adhyaksa Luxier Hadinata" ucap Lucas sambil menunjuk kearah mereka satu persatu.


"Kau masih menggunakan nama papa rupanya," sahut Hadinata didalam hati merasa bangga.


"Pasti lah pa... biar orang-orang tau jika mereka keturunan Hadinata seorang yang hebat di kota ini" puji Lucas.


"Kau selalu mengatakan itu Lucas," sahut papa Hadi.


Mereka semua kemudian bermain bersama baby twins, bahkan papa Hadi dan mama Risti terlihat sangat bahagia bersama ketiga cucunya.


**


"Brandon kita tak bisa membiarkan ini terjadi, tetap waspada dengan pergerakan mereka." ucap Lexi ikut khawatir.


"Vino, kau segera cari tahu tentang keberadaan mereka." perintah Lexi.

__ADS_1


"Lexi, apa tak sebaiknya kalian semua pergi dari kota ini? Lucas dan Cherry baru saja dikaruniai bayi kembar, sedangkan kau Agha masih terlalu kecil. Apa kau tak berpikir untuk meninggalkan kota ini?" tanya Brandon.


"Aku akan membicarakannya dengan Lucas, dia pasti juga setuju dengan idemu" jawab Lexi.


"Lexi..." panggil Yora tak sengaja mendengar semuanya.


"Yora...,"


"Aku sudah mendengar semuanya, ijinkan aku untuk ikut kedalam misi ini Lexi" pinta Yora.


"Yora, aku sangat tidak setuju! kau tau aku tak ingin kehilanganmu yang kedua kali. Sampai kapanpun aku tak akan pernah mengijinkan kau ikut kedalam misi ini!" ucap Lexi sedikit membentak.


"Lexi... dengarkan aku, aku tau tentang seluk beluk anggota mereka. Tolong ijinkan---" ucapan Yora terhenti.


"TIDAK YORA! sekali aku bilang tidak tetap tidak! jika saja kau melakukannya, itu sama saja kau tak menganggapku sebagai suamimu!" bentak Lexi.


Yora berdiri mematung sambil menunduk, butiran kecil itu hampir memenuhi ujung matanya.


"Isssssshhh... Yora, maafkan aku... aku tak bermaksud membentakmu, tapi aku hanya takut... takut kehilanganmu lagi. Cukup yang kemarin jangan sampai terulang lagi," ucap Lexi lalu memeluk Yora.


"Aku hanya ingin membantu menemukan mereka... hiks.. hiks... akupun sama tak ingin jauh dari kalian," ucap Yora memahami kekhawatiran Lexi.


"Yora.. Lexi benar, biar ini semua kami yang menangani. Tugasmu menjaga om, tante, adik-adik serta anak-anak. Kami pasti bisa menanganinya." kali ini Brandon berusaha memberi pengertian Yora.


**


Di sebuah tempat yang tidak diketahui siapapun, dua pria sedang bersembunyi dari kejaran para petugas kepolisian.


"Lionel... aku tak mau bergerak lama, kita habiskan seluruh keluarga Hadinata yang sudah membuatku seperti ini!" ucap Rudi dengan pancaran mata yang sudah memerah.


Lionel hanya diam, pikirannya hanya ada Cherry yang saat itu menolongnya dari sebuah tembakan yang mengenai punggungnya. Cherry yang kala itu pergi tak sengaja mendengar eluhan kesakitan Lionel.


"Kenapa kau sangat bodoh tuan, ini sama saja menyakiti diri sendiri. Kau sudah mengorbankan dirimu sendiri demi ambisi seseorang yang belum tentu orang itu peduli padamu,"


Semenjak saat, Lionel terus saja terbayang-bayang sosok Cherry.


"Lionel! apa kau mendengarku!" bentak Rudi.


"Aku mendengarnya bos," sahut Lionel.


"Kita harus segera menghabisinya, mereka sudah merebut semuanya yang sudah kucapai selama ini. Mereka harus mati secepatnya, aku tak akan pernah mengampuninya!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2