
Cherry harus menghadapi permasalahannya hari ini juga. Perkataan Lexi ada benarnya 'seberapa besar permasalahan yang kau alami saat ini tetap harus kau hadapi apapun resikonya, jadilah orang yang pemberani jika itu benar' .
Dengan dipantau oleh Lexi dari jauh, Cherry memantapkan langkahnya masuk ke dalam lingkungan sekolah. Berasa sebagai tersangka, Cherry berusaha menjadi pemberani.
"Kau pasti bisa Yora...," ucap Lexi memperhatikan Cherry dari belakang.
Lexi yang tak sengaja melihat salah seorang siswa melemparkan sampah dari atas, bergegas berlari menarik tubuh Cherry kedalam pelukannya melindungi Cherry agar tak terkena lemparan sampah.
"Huuu... Dasar cewek mur*han!" maki salah seorang siswa melihat Cherry berada dalam dekapan Lexi.
Hati Cherry merasa teriris mendengar cacian mereka yang notabene tak tahu apa-apa tentang dirinya. Air mata yang ditahan akhirnya lolos begitu saja di pipi mulusnya.
"Huuuu..... Dasar wanita mur*han!" sorak para siswa yang otaknya sudah diracuni oleh Alfian.
Mendengar caci maki mereka, hati Lexi juga merasa tak terima. Lexi yang masih mendekap Cherry berteriak,
"Tuh mulut diajarin sopan santun ga! jangan sampai ucapan kalian menjadi alasan kalian dijebloskan ke penjara!" teriak Lexi.
"Om.. om.. sudahlah ga usah pakai ngancam-ngancam kita, kita tau kok pekerjaan om itu kayak apa" cibir salah seorang siswa terlihat sedikit brand*l.
"Ga usah sok suci deh om... sama-sama pend*sa ga usah saling tuduh deh" sahut teman siswa juga terlihat sedikit brand*l.
"O... jadi gitu ya kelakuan anak jaman sekarang, ngomongnya suka asal. Sok atuh siap-siap masuk penjara aja.." sindir Lexi serius.
"Huuuu... Dasar om-om hidung belang" sorak semua siswa.
"Ka... sudah jangan ditanggapi" ucap Cherry menahan emosi Lexi.
"Tapi ga bisa gini Yo--, Cherry... mereka sudah menghina kita. Aku pastikan mereka semua masuk penjara" gerutunya sangat kesal.
"Cherry!" panggil pak Alfian dengan lantang.
Lexi dan Cherry menoleh kearah sumber suara. Dilihatnya pak Alfian sedang berkacak pinggang dengan sorot mata yang tajam. Lexi bisa paham dengan gelagat pak Alfian kenapa dia bisa membuat fitnah kejam seperti ini. Lexi meraih tangan Cherry, menggenggamnya dengan erat mengajaknya melangkah berjalan mendekati Alfian.
"Ini sekolah bukan tempat untuk pamer kemesraan!" ucap pak Alfian tak suka.
__ADS_1
"Siapa yang pamer kemesraan, dari awal kita sudah mesra" sahut Lexi sengaja.
Tadinya Cherry ingin marah, tapi setelah dia paham dengan yang dilakukan Lexi, Cherry ikut menyeimbangi drama Lexi.
"Permisi pak Alfian..., saya mau membuktikan apa yang sudah dituduhkan kepada saya" Cherry sengaja mengalungkan tangannya ke tangan Lexi lalu melewati Alfian.
Alfian jangan ditanya, sekarang gantian dirinya yang ketakutan jika dramanya terbongkar. Harapannya Cherry meminta belas kasih padanya pupus sudah, Alfian baru menyadari jika Cherry tak seperti siswi lainnya yang takut akan ancamannya. Alfian sudah lama menjadi guru sekaligus menyukai muridnya sendiri, hanya saja dia pintar membungkus kebusukannya. Hingga dia bertemu orang yang salah seperti Cherry. Pikirnya Cherry remaja yang sama seperti siswi-siswi yang sudah jatuh ke pelukannya. Nyatanya sekarang Cherry malah sebagai boomerang untuknya.
Cherry dan Lexi memasuki ruangan kepala sekolah, disana sudah terdapat semua rekan guru lainnya yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Assalamu'alaikum... mohon maaf bapak saya datang terlambat" ucap Cherry dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam" sahut semuanya.
"Apa kamu sudah siap untuk menerima keputusan sekolah Cherry Jovanka Emilia?" tanya kepala sekolah.
"Saya sudah siap menerima keputusan sekolah jika saya tidak mampu membuktikan apa yang sudah dituduhkan kepada saya" jawab Cherry dengan tegas dan berani.
"Baiklah, sekarang apa yang ingin kamu buktikan Cherry? apakah pria itu sebagai teman kenc*nmu?" sindir kepala sekolah saat melihat Lexi.
"Mohon maaf bapak serta semuanya yang berada disini. Bukan maksud saya menghina atau apa disini, tetapi menurut penilaian saya apakah pantas seorang yang berpendidikan tinggi memiliki cara berpikir picik? picik dalam artian anda semua hanya bisa menelan mentah ucapan pak Alfian tanpa mencari tahu kebenarannya. Jika saya seorang wanita nak*l, saya tidak akan memilih sekolah yang ujungnya akan mengotori masa depan. Alangkah baiknya jika anda semua berpikir secara logika bukan karena emosi semata" ucap Cherry bijaksana.
Semua guru yang berada disana terdiam, mereka tertampar dengan ucapan Cherry. Namun lagi-lagi Alfian berusaha membuat mereka semua terguncang kembali dengan rencananya.
"Itu hanya akal-akalannya anak ini saja bapak ibu, nyatanya sekarang dia berani membawa teman kencannya" melirik kearah Lexi.
Lexi yang ingin sekali memukul wajah Alfian, ditahan oleh Cherry. Cherry memberikan kode mengedipkan matanya.
"Coba Cherry, jelaskan apa benar yang diucapkan oleh pak Alfian?" tanya bu Naya merasa tak yakin dengan pak Alfian.
"Terimakasih ibu Naya, pria ini merupakan kaka ipar saya" ucap Cherry mengejutkan semuanya.
"Kaka ipar... itu tandanya..." bisik para guru disana.
"Orang yang pak Alfian lihat dan tuduhkan kemarin adalah suami saya. Orang yang bertemu dengan bapak sebelum bapak memfitnah saya adalah suami saya. Saya memang sudah menikah, pernikahan kami sah dimata hukum dan agama. Tuduhan bapak Alfian mengenai saya simpanan om-om tidak bisa dibenarkan" ucap Cherry pada akhirnya.
__ADS_1
"Cherry, apakah kau tahu jika dalam sekolah tidak boleh untuk menikah?" sahut salah satu guru.
"Mohon maaf ibu, saya tahu tetapi apakah anda semua bisa berfikir disaat ibu anda meminta permintaan terakhirnya agar putrinya menikah harus anda tolak?" Cherry membalik pertanyaan.
Semua orang terdiam kembali,
"Ah... itu hanya alasannya saja bapak ibu guru, mana mungkin anak sekarang mau menikah paksaan orang tua?" sahut Alfian.
"Sebenarnya ada permasalahan apa anda memojokkan Cherry terus, atau jangan-jangan anda sebenarnya juga menyukai Cherry?" sahut Lexi.
Ekspresi Alfian berubah, gelagatnya memperlihatkan dirinya sedang terpojok dengan ucapan Lexi.
"Karena yang saya tahu, seorang pendidik yang menyukai muridnya sendiri akan melakukan hal apapun untuk mendapatkannya" Lexi menyudutkan Alfian.
Bersambung.....
...----------------...
Mampir ke karya teman aku yang ga kalah keren ini ya ka
Kejadian masa lalu membuat Hasna harus bertemu dengan pria dingin yang menurutnya begitu menakutkan.
Namun, pada akhirnya dia sendiri yang malah terjebak dengan pesona pria dingin itu.
Bima, seorang asisten pengusaha muda yang cukup terkenal. Dia adalah si genius perusahaan Walton.Corp yang terkenal dengan sikap dingin dan tegasnya.
Dengan sikap dinginnya, Bima seolah membangun dinding besar yang kuat untuk tidak bisa orang lain menyentuhnya.
Namun, masa lalu Tuannya telah mempertemukan dia dengan gadis manis yang siap menggoyahkan hatinya yang beku.
"Aku masih menunggu gadis di masa laluku"
Kata yang membuat seorang Hasna mundur dan melupakan perasaanya pada pria dingin yang dia cintai itu. Bima yang telah menolak perasaannya secara terang-terangan, bahkan sebelum Hasna sempat mengungkapkannya.
__ADS_1
Kisah cinta dengan masa lalu yang rumit..