
"Lihatlah sayang, Abimana tersenyum sepertimu." Cherry menunjukkan senyum Abimana.
"Hai nak... ini mama... kau tak akan jauh lagi dari mama dan papa. Abimana bangun ya nak...," Cherry terus saja menyuruh Abimana untuk bangun.
"Abimana anak yang pintar... bangun yuk nak, ini sudah waktunya kamu minum ASI. Apa kau mau memberikannya kepada adikmu Adhyaksa...," Cherry masih terus berharap jika Abimana bangun.
"Kakak om... lihatlah Abimana tak mau bangun, apa dia marah dengan kita?" Cherry mulai menaikkan nada bicaranya.
"Abimana... bangun nak... ini mama... apa kau tak mendengar perintah mama nak! Bangun Abi... bangun nak... hiks... hiks...,"
Lucas langsung menarik tubuh Cherry kedalam pelukannya.
"Abimana.... hiks... hiks... hiks...," Cherry sangat syok dia histeris belum bisa menerima kepergian putranya.
"Abimana sudah bahagia Cherry... dia sudah tak ketakutan lagi, dia sudah menuju surga dimana tempat dia semestinya," ucap Lucas menguatkan istrinya. Lucas menyadari dirinya rapuh, tetapi dia sadar ada seseorang yang lebih rapuh darinya. Lucas harus bisa menjadi sandaran yang kuat untuknya.
Tubuh Cherry melemah, dia langsung pingsan. Untungnya Lexi langsung ikut menangkapnya.
"Biar aku yang membawa Abimana," sahut Lexi. Lucas lalu menyenderkan Cherry di kursi dekat ruangan.
"Lucas...," panggil papa Hadi.
"Papa... Abimana pa...," Lucas berjongkok dihadapan papa Hadi yang berada di kursi roda.
Mama Risti ikut berjongkok memeluk putranya, "Yang kuat Lucas... papa percaya padamu, kau bisa melalui ini semua dengan ikhlas." ucap papa Hadi menguatkan putranya.
"Papa benar Lucas, masih ada Cherry dan Adhyaksa yang membutuhkannya saat ini. Kau tak boleh tumbang nak... hiks.. hiks.. hiks...," ucap mama Risti gantian.
"Lucas rasanya ga kuat ma... pa... kehilangan Abimana seperti kehilangan segalanya, Lucas ga kuat ma... pa...,"
"Lucas... kau tak boleh berkata demikian, kau pasti bisa. Lihat Cherry dan Adhyaksa nak... lihat mereka lebih dekat lagi. Mereka sama terpukulnya denganmu. Adhyaksa seolah mengerti jika kehilangan saudara kandungnya sedari tadi dia menangis terus, kau bisa mendengar suara tangisnya yang belum berhenti... jadilah yang terkuat diantara mereka nak...," papa Hadi terus saja mensupport Lucas.
Oek... oek... oeeek...
Suara tangisan Adhyaksa terdengar semakin keras. Perhatian Lucas langsung teralihkan, dia berdiri lalu mengambil Adhyaksa kedalam gendongannya.
"Papa benar... aku harus kuat demi mereka berdua." ucap Lucas.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi. Semua keluarga sudah bersiap menghantarkan Abimana ke peristirahatan terakhirnya.
Cherry masih terlihat lemas tetapi Lucas terus berusaha menguatkannya meski dirinya juga tak kuat.
"Cherry... kita harus melepaskan Abimana dengan ikhlas. Aku yakin dia pasti sangat bahagia memiliki orang tua seperti kita." ucap Lucas mencoba menghibur Cherry.
__ADS_1
Cherry sudah tak bisa lagi berkata-kata, air matanya sudah mewakili isi hatinya saat ini.
Proses pemakaman Abimana berjalan dengan lancar, Lucas langsung turut andil dalam berjalannya pemakaman. Mulai dari memandikan, mensholati, mengkafani, mengadzani sampai mengubur tak satupun terlewat. Kini, Abimana sudah tenang berada disana.
"Cherry... kita pulang...," ajak Lucas.
"Bolehkah aku disini sebentar saja," pinta Cherry.
Lucas tak bisa menolak permintaan sang istri. Lucas ikut menemani Cherry disampingnya.
"Brandon, ini tak bisa lagi ditoleransi. Kita harus segera bertindak." ucap Lexi.
"Kau benar Lexi, jangan sampai Rudi dan anak buahnya menghancurkan kita." sahut Lexi.
Setelah acara pemakaman Abimana, Lucas memboyong semua keluarganya ke tempat persembunyiannya. Lucas menitipkan Cherry dan Adhyaksa kepada Vino.
"Kabari segera jika sesuatu terjadi pada istri dan anakku Vino," perintah Lucas.
"Kau tak perlu khawatir bos, mereka keluargaku. Sudah sepatutnya aku menjaganya." ucap Vino.
Lucas mendekati Cherry kembali, mengecup keningnya lalu berganti mengecup ujung kepala baby Aksa.
"Cepatlah kembali menjemputku dan Aksa. Aku sudah kehilangan Abimana, aku tak mau lagi kehilanganmu kak...," pinta Cherry.
"Lucas... semua sudah siap." sahut Brandon memberitahu.
"Sayang... jaga diri kalian dengan baik," Cherry menganggukkan kepalanya lalu memasuki helikopter yang akan membawanya ketempat persembunyiannya.
"Apa rencanamu sekarang Lucas?" tanya Brandon sembari memperhatikan Helikopter yang membawa seluruh keluarga.
"Membalas semua perbuatan mereka." sahut Lucas sembari memakai kacamata hitamnya.
**
"Sekarang katakan dimana markas kalian!" bentak Lexi. Kali ini wajah asli Lexi tampak lebih garang melebihi para mafia.
Dari mereka tak ada satupun yang menjawab. Lexi yang tak sabar langsung saja menghajar keduanya.
"Ternyata kau memiliki bakat menjadi super hero Lexi," ucap Brandon.
"Steve... kau lakukan cara yang terakhir," perintah Lexi.
Steve mulai menyalakan sebuah mesin yang membawa keduanya ketempat penggilingan daging. Penggilingan daging tersebut bukan penggilingan daging biasa, melainkan daging manusia.
__ADS_1
"Steve... kau lanjutkan tugasmu, aku mau bermain dengan singa," ucap Lexi.
"Kau memang pawangnya bos..." sahut Steve.
Lexi memasuki ruangan khusus yang didalamnya terdapat Lionel. Lionel yang sedang meringkuk tak merespon kedatangan Lexi.
"Apa kau sudah siap menjemput kematianmu tuan. Sepertinya kau sedang bernegosiasi dengan kenyataan" sindir Lexi.
"Aku bisa saja melepaskanmu dengan beberapa syarat." Lexi berjongkok dihadapan Lionel. Kakinya yang sudah di borgol dengan besi membuatnya tak bisa bergerak bebas.
BYUR!
Lexi sengaja mengguyur Lionel agar meresponnya. Benar saja, Lionel langsung mendongakkan wajahnya.
"Hai bung... apa kau tak lagi memiliki harapan?" tanya Lexi sengaja.
Lionel masih terdiam belum merespon pertanyaan Lexi.
"Aku sarankan kau memberitahu dimana letak persembunyian Rudi jika kau masih menyayangi nyawamu bung!" ucap Lexi lagi.
Lexi beranjak dia membelakangi Lionel mengambil senjata dari balik jaznya lalu mengarahkannya ke Lionel.
"Ucapkan kata terakhirmu bung!" nada suara bersahabat kini berubah menjadi seorang mafia.
Lionel tersenyum pasrah. Dia sudah menerima hukuman yang akan dia dapatkan hari ini.
"Aku hanya mau kau menyampaikan rasa terimakasih kepada Cherry, wanita yang akhir-akhir ini sudah merubah cara berpikir ku dan sudah membuatku jatuh hati kepadanya." ucap Lionel langsung membuat Lexi berbalik.
"Apa kau tau resiko mencintai istri dari orang yang akan kau hancurkan? apa kau tak takut Rudi membunuhmu!?" sindir Lexi.
"Aku tak pernah takut kepada siapapun. Tetapi saat ini aku hanya takut jika Cherry membenciku dan aku belum bisa membalaskan dendam kematian Abimana." sahut Lionel.
"Justru sekarang ini Cherry menginginkanmu mati ditangannya. Karenamu, dia harus kehilangan salah satu putranya untuk selama-lamanya. Dimana hati nurani kalian. Hah!" bentak Lexi. Lexi langsung menendang Lionel dengan brutal.
Brandon yang baru tiba bersama Lucas langsung saja melerai mereka.
"Lexi kau bisa membunuhnya... stop!"
"Dia pantas mendapatkannya Brandon!" ucap Lexi.
"Biarkan itu menjadi bagian Lucas"
Bersambung....
__ADS_1