Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 176. Support System


__ADS_3

...Aku tak pandai berkata-kata...


...Aku tidak pintar mengutarakan rasa...


...tapi aku harap...


...kamu cerdas dalam membaca sorot mata....


...----------------...


"Xarena... nama yang sangat indah Lexi," puji Yora memperhatikan putri mungilnya didalam inkubator.


"Dia cantik sepertimu Lexi," ucap Yora.


"Bagaimana kau mengatakan cantik sepertiku? aku sangat tampan bukan cantik." protes Lexi.


Yora tersenyum, dia memang sengaja mengeluarkan kata itu agar teralihkan kesedihannya. Tapi yang namanya seorang ibu, tetaplah memiliki naluri tak tega melihat bayinya terlahir prematur. Air mata Yora menetes begitu saja, Lexi yang menyadarinya menyentuh kedua bahunya.


"Dia anak yang kuat sepertimu Yora," ucap Lexi. Yora kemudian menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan, mengeluarkan sesak nafas didalam dadanya. Yora menyeka air matanya kemudian menggenggam tangan Lexi.


Cherry dan Neva memutuskan untuk pulang terlebih dulu. Agha juga bersama mereka pulang ke Rumah.


Malam ini, mereka berempat tidur bersama di kamar Cherry.


"Cherry... bagaimana kondisi kak Lucas?" tanya Neva.


Cherry kembali teringat suaminya. Bayangan Lucas menutupi sakitnya terlintas begitu saja. Pagi itu, Cherry tak sengaja melihat Lucas meringis kesakitan saat duduk. Cherry yang tak jadi keluar kamar mandi, mengintip Lucas. Hati Cherry merasa sakit melihat kondisi Lucas. Air matanya menetes begitu saja tapi dengan cepat dia usap agar Lucas tak menaruh curiga jika dirinya sedih.


Cherry berusaha mengatur emosionalnya. Dia tak mau terlihat sedih didepan suaminya. Cherry harus bisa menjadi support system untuk Lucas.


"Dia terlihat menyedihkan Neva," jawab Cherry berubah menjadi sedih.


"Aku sendiri merasa sedih dengan yang terjadi dengan kak Lucas...," ucap Neva.


"Kejadian yang menimpanya waktu kecil dulu, ternyata berdampak saat ini." imbuh Neva.


"Aku ingin sekali berada disampingnya, tetapi aku memiliki tanggung jawab penuh pada baby Aksa." Cherry mengelus ujung kepala baby Aksa yang tertidur sambil berpegangan tangan dengan Agha.


"Mudah-mudahan kak Lucas lekas pulih dan kembali bersama kita kembali. Kau jangan terlalu bersedih Cherry, semuanya akan baik-baik saja." sahut Neva.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 tengah malam, tapi Cherry masih saja terjaga. Sembari memegang ponselnya, Cherry mengetik lalu menghapus chat yang akan dikirim ke Lucas.


"Aku takut mengganggunya, tapi aku juga merindukannya...," keluh Cherry.


Drrrt...


ponsel Cherry tiba-tiba bergetar, ternyata notif chat dari Lucas. Cherry tersenyum bahagia, dia langsung membuka chat tersebut.


'Good night cinta' tulis chat Lucas.


'Aku belum tidur, jangan mengucapkan selamat malam padaku' balas chat Cherry.

__ADS_1


'Emangnya good night itu hanya untuk tidur malam?' balas Lucas.


'Setahuku sih iya' tulis Cherry diiringi emot cuek.


(emot tawa) balas Lucas.


'Buruan tidur sudah tengah malam, apa kau tak takut hantu.'


'Aku hafal ayat kursi, tenang saja' balas Cherry tak lupa dia memberi emot yakin.


'Aku percaya kalau istriku memiliki bakat ustadzah' ledek Lucas.


'Ide yang bagus jadi ustadzah. Besok kalau kau kembali jangan kaget aku jadi Aisyah' kali ini Cherry mengambil selendang gendong baby Aksa kemudian memakainya dengan mode bercadar. Tak lupa dia langsung memasang kamera berfoto selfi kemudian dikirim ke ponsel Lucas.


'Aw... Aisyahku masa kini cadarnya batikan' kembali Lucas membalas ditambah emot tertawa.


'Iya dong... sebagai warga negara yang baik harus bisa menjaga warisan budaya' ketik Cherry.


'Istriku memang cerdas' puji Lucas pada chatnya.


'Sekarang kau tidurlah... jangan sampai matamu berubah menjadi mata panda' tulis Lucas lagi.


'Jaga kesehatanmu kakak om... aku berjanji akan memberikan adik untuk Aksa. Untuk itu lekaslah sembuh' balas Cherry.


'Kau membuatku bersemangat sayang. Aku berjanji akan segera pulang secepatnya.' tulis Lucas disertai emot love.


Cherry merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa tidur dengan tenang.


"Lexi..." panggil Yora.


"Apa sudah selesai Yora?" tanya Lexi menunggu Yora memompa ASI baby Xarena.


"Sudah Lexi." jawab Yora.


"Lexi... aku ingin sekali memeluk Xarena...," ucap Yora.


Lexi bisa mengerti perasaan Yora saat ini, tapi bagaimanapun Lexi harus bisa membuat Yora tenang.


"Kau tahu Yora, saat pertama aku mendengar kau akan melahirkan perasaanku sangat panik. Tetapi setelah aku bertemu kalian rasanya perasaan itu hilang melihat Xarena bisa bertahan sampai sekarang" sahut Lexi.


"Biarkan Xarena menjalani prosedur kesehatannya, tugas kita memberinya support dan menjaganya selalu." imbuh Lexi mampu membuat Yora tenang.


Lexi kemudian mengecup ujung kepala Yora sembari memeluknya. Kemudian Lexi mengantarkan ASI keruangan baby Xarena.


Lexi dan Yora hanya bisa melihatnya dari balik kaca. Hati seorang ibu pasti akan sedih melihat putri yang dilahirkannya harus menjalani hal ini.


Keesokan pagi di negara Swiss. Dokter Marco terkejut melihat Lucas belajar berjalan setelah pasca operasi.


"Hei... apa yang kau lakukan tuan? aku tak mengizinkanmu untuk berjalan dulu." ucap Marco sedikit memarahi Lucas.


"Aku bosan tiduran terus dan itu membuat tubuhku semakin sakit." sahut Lucas.

__ADS_1


"Kau sungguh keras kepala tuan... Mudah-mudahan tak terjadi sesuatu padamu" ucap Marco.


"Hei... kau menyumpahiku...," sahut Lucas ingin marah.


"Tidak tuan, aku hanya kesal kepada pasien yang suka membantah sepertimu. Dari dulu kau tak pernah berubah Lucas. Kalau sampai istrimu tahu, kau bisa diskors sampai waktu yang belum ditentukan... hehehe...," ucap Marco terkekeh sendiri.


Lucas dan Marco adalah teman saat mereka sama-sama kuliah di Universitas yang sama hanya berbeda fakultas saja. Tetapi kebersamaan mereka acap sering berkumpul bersama Gerald dan Brandon.


"Lucas, aku mendengar jika Brandon sudah bertemu dengan papanya?" tanya Marco.


"Kau seperti mamaku" ledek Lucas.


"Suka gosip." ucap Lucas.


Marco mengambil kursi roda untuk Lucas. Tapi sayangnya ditolak oleh Lucas.


"Kau boleh mengatakanku suka gosip. Tapi tidak membantah aturanku." sahut Marco mampu membuat Lucas menurutinya.


"Marco, 3 bulan lagi Cherry ulang tahun. Aku ingin membuat surprise untuknya" ucap Lucas.


"Kenapa kau tak memberinya mobil sport pengeluaran terbaru atau berlian atau lainnya" saran Marco.


"Cherry bukan wanita seperti itu Marco, dia sangat sederhana tak pernah menuntut apapun dariku." ucap Lucas.


"Aku ingin memberinya kejutan kesehatanku Marco... bisakah kau membantuku?" pinta Lucas.


"Jadi itu alasan kau berlatih berjalan?" tanya Marco akhirnya mengerti. Lucas langsung menganggukkan kepalanya.


"Kau tahu Lucas, ada beberapa saraf yang belum bisa berfungsi dengan tepat. Salah-salah jika tubuhmu belum siap kau akan mengalami lumpuh permanen." imbuh Marco.


Lucas terdiam, sebelumnya dia sudah dijelaskan jika tulang belakangnya mengalami masalah serius. Sampai saat ini hanya dia dan Marco yang tahu. Lucas tak mau membuat orang-orang disekitarnya bersedih dengan dirinya.


"Ku harap kau paham Lucas" ucap Marco kembali.


"Apa kau bisa membuatku berjalan seperti semula Marco?" tanya Lucas.


"Aku akan mengusahakannya Lucas."


...----------------...


Mampir yuk ke karya temanku judulnya "Perjuangan seorang anak"



Dia didera oleh penyakit yang membuat dia harus berjuang keras di tengah ekonomi keluarga yang yang serba kekurangan.


Mengharap keajaiban dari sang Maha Pencipta mengharap mentari bersinar di tengah mendung.


Akankah dia memperoleh kesembuhan?


Akankah mentari kembali bersinar?

__ADS_1


__ADS_2