
"Ka Yora bisa minta tolong jagain Abi dan Aksa?" pinta Cherry ingin ke kamar kecil sebentar.
Yora tak merespon permintaan Cherry, dia masih terdiam melamun. Dia masih memikirkan rencana Lexi dan Brandon beberapa saat tadi.
"Ka... ka Yora...," panggil Cherry sekali lagi.
"Ka Yora... apa kau mendengarkanku?" kali ini Cherry menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan kiri agar Yora tersadar dari lamunannya.
"Cherry... apa tadi yang kau katakan? Agha? Agha sudah makan... sekarang sedang beristirahat bersama Neva dan Desty" sahut Yora ngelantur.
"Ka Yora... aku hanya meminta kaka untuk menjaga Abi dan Aksa, karena aku mau ke kamar kecil. Aku takut mereka terbangun," ucap Cherry.
"Ma--maaf Cherry... kaka kira kau menanyakan Agha," ucap Yora sambil memamerkan rentetan giginya yang putih.
"Titip bentar ya ka...," Cherry tersenyum kearah Yora lalu segera menuju ke kamar mandi yang berada di ujung sudut kamarnya.
Yora mendekati keponakan kembarnya, menatapnya dengan perasaan sangat sedih. Bayi yang baru saja menikmati indahnya dunia harus dihadapkan dengan teror Rudi dan anak buahnya.
Yora membelai pipi keduanya dengan lembut, tapi sentuhannya mengganggu tidur Abimana. Abimana menggeliatkan tubuhnya lalu menangis kecil.
"Sssttt... sssttt... sssttt... anak tampan, kembali tidur ya... maafkan mommy sudah mengganggu tidur nyenyakmu," ucap Yora pelan sembari menepuk-nepuk bokong kecil baby Abimana.
Oeek... oeek... oeek...
Suara tangis Abimana ternyata mengganggu tidur Adhyaksa, sehingga kedua bayi itu saling menangis bersahutan.
"Aksa sayang... ssssttt... sssttt... diem nak, tidur lagi ya...," kini kedua tangan Yora menepuk kedua bokong kecil mereka. Sambil bersenandung lagu nina Bobo, Yora berhasil membuatnya tertidur kembali.
"Ka... apa mereka menangis?" tanya Cherry keluar dari kamar mandi.
"Dari dalam tadi aku seperti mendengar mereka menangis," sedikit curiga.
"Hanya sedikit," jawab Yora masih menepuk pelan bokong si kembar.
__ADS_1
Setelah kedua bayi itu tenang, Yora pamit kembali ke kamarnya.
"Cherry... kau tidurlah lebih awal, karena belum tentu tidurmu nyenyak malam ini." pesan Yora dengan wajah tak biasanya menurut Cherry.
"Ka Yora... apa yang sedang terjadi?" tanya Cherry melihat raut wajahnya sedih.
"Tak ada apa-apa Cherry... kaka hanya lelah saja," jawab Yora kemudian keluar dari kamar Cherry.
"Apa yang sedang terjadi ya? bukankah tadi dia baik-baik saja" gumam Cherry melihat ada yang aneh pada Yora.
Sementara di ruang kerja milik papa Hadi semua pria sedang berkumpul,
"Andai saja kemarin papa tak melarangku membunuhnya pasti saat ini dia sedang menerima siksaannya di neraka." protes Lucas baru mengetahui perihal ini.
"Cas lu apa ga mikir anak bini, kalau sampe lu membunuhnya dijamin gantian elu yang berada di posisinya. Pikir pake otak jangan pake dengkul...!" sahut Brandon.
"Papa setuju dengan Brandon. Jangan melakukan hal yang ujungnya merugikan diri sendiri." papa Hadi ikut menimpali ucapan Brandon.
"Tumben kalian berdua kompak. Sama-sama menjatuhkan diriku," ucap Lucas kesal.
"Bukankah ini letaknya di hutan pinus," sahut Vino memperhatikan.
"Hutan pinus, maksudnya mereka bersembunyi disana?" tanya Lexi.
"Aku belum bisa membenarkan, apakah ini benar mereka atau orang lain." jawab Steve.
"Pa... apa yang harus kita lakukan?" tanya Lucas.
"Pertama, bawalah istri dan kedua anakmu serta Yora dan Agha pergi dari kota ini" jawab papa Hadi.
"Kalian semua persiapkan diri kalian semua. Jangan sampai Rudi lolos seperti saat ini. Karena papa yakin, dia akan melakukan hal lebih nekat dari kemarin" imbuh papa Hadi.
Mereka semua membagi tugas masing-masing. Lucas bertugas mencari tempat tersembunyi untuk seluruh keluarganya. Lexi bertugas menyimpan semua dokumen penting perusahaan. Vino bertugas mengawasi jejak mereka sedangkan Steve terus memantau sinyal berbahaya dari mereka. Hadinata sendiri bertugas untuk memancing Rudi untuk keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
Selesai membagi tugas masing-masing, mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Lucas yang baru masuk menatap ke 3 orang yang sangat dia sayangi dan cintai sedang terlelap tidur. Cherry sendiri terlihat sangat capek semenjak si kembar lahir. Sudah berulang-ulang Lucas menawarkan jasa pembantu kepada Cherry agar tak terlalu capek, namun Cherry tolak dengan alasan ingin merawat Abi dan Aksa dengan kedua tangannya sendiri. Dua bayi mungil itu sangat menggemaskan, kini Lucas memperhatikan tingkah Abimana yang sedikit jahil kepada Adhyaksa dengan tangannya menyentuh wajah Adhyaksa.
Melihat tingkah Abimana itu, Lucas tertawa kecil melihat mereka. Kini Abimana mulai membuka matanya, mengerjap-ngerjapkannya dengan pelan dan teratur. Dengan bibir yang mulai mencari ASI.
"Ssssttt... Abimana ini papa sayang, apa kau merasa haus nak?"
"Mama sedang beristirahat dan juga Adhyaksa, Abimana ga boleh ganggu ya... " Lucas bercengkerama dengan baby Abimana.
Melihat Abimana akan menangis, Lucas dengan cepat mengambilnya lalu memeluk tubuhnya dalam gendongannya. Lucas menempelkan pipinya ke bibir Abimana, Abimana terdiam dia masih menganggap pipi Lucas sebagai ASInya.
"Anak papa harus kuat ga boleh manja. Karena Jika besar nanti mama dan papa sangat mengharapkan jadilah kalian berdua orang-orang yang yang ditakuti para musuh dan disegani para teman," ucap Lucas .
"Kaka om...," panggil Cherry terbangun dari tidurnya.
"Sayang... lanjutkan saja tidurmu, aku akan menjaga kedua jagoanku," ucap Lucas meminta Cherry untuk tidur kembali.
"Tidak kakak om, kau yang seharusnya beristirahat. Kau harus berangkat kerja pagi-pagi. Aku ga mau kau mengabaikan pekerjaanmu meski itu perusahaan milikmu sendiri" ucap Cherry kemudian mengambil alih Abimana dari gendongan Lucas.
"Sekarang kakak om tidur, biar twins menjadi urusanku" imbuh Cherry.
"Ta--tapi aku masih mau tidur dengan mereka--" permintaan Lucas terjeda saat Cherry sudah mulai menarik pergelangan tangan Lucas.
"Ga ada alasan, mulai sekarang kakak om harus tidur. " paksa Cherry , pada akhirnya Lucas pun menuruti perintah istrinya.
Selesai memberi ASI kedua bayinya, Cherry keluar kamar menuju dapur. Cherry merasa lapar selesai memberi ASI. Dia mencari cemilan favoritnya, tapi tak sengaja Cherry mendengar percakapan mertuanya.
"Pa... mama mohon jangan turun tangan sendiri menghadapi mereka, mama takut terjadi sesuatu pada papa dan anak-anakku semua... hiks... hiks... hiks..." saran mama Risti.
"Ma... mama tak perlu khawatir, mereka hanya menjalankan tugas masing-masing. Papa juga sudah mempersiapkan perlindungan kepada mereka semua" ucap papa Hadi kembali membuat tenang mama Risti.
"Tapi mama masih merasa sangat takut," sahut mama Risti ketakutan.
"Sekali lagi ma... percaya kepada papa, kita pasti bisa melawan Rudi kembali" mencoba menenangkan kembali.
__ADS_1
'Oups...! Rudi, apa Rudi keluar dari penjara?'' batin Cherry.
Bersambung....