
Entah mengapa hujan kali ini berbeda. Rintiknya diluar jendela, tetapi basahnya dipelupuk mata.
Neva berhasil tiba lebih dahulu dari Lucas. Jarak kampus dan Rumah sakit tak begitu jauh sehingga membuatnya tiba lebih dulu daripada Lucas. Neva sudah menghubungi mama serta papanya, Hadinata langsung menyusul begitu mendapatkan informasi mengenai Cherry berada.
Hujan turun begitu derasnya, mungkin Tuhan mendengar do'a orang-orang yang menyayangi Cherry kala itu, sehingga membuat langkah Cherry sedikit terulur menunggu reda hujan.
"Cherry, biar aku antar pulang kerumahmu" tawar Steve.
"Tidak perlu Steve, aku dan ibu akan menunggu hujan reda." tolak Cherry.
Cherry melirik kearah Steve, dari lubuk hatinya dia ingin sekali menanyakan kabar suaminya. Namun, lagi-lagi Cherry enggan.
"Tante Sri sangat baik ya...," ucap Steve.
"Iya, dia sudah aku anggap seperti ibuku sendiri Steve. Jika tak ada dia entah bagaimana nasibku saat ini," sahut Cherry.
"Dimana kau bertemu dengannya?" tanya Steve memperhatikan bu Sri sedang mengobrol dengan pengunjung lain.
"Aku bertemu dengannya di stasiun malam itu," jawab Cherry.
"Kau membuatku jantungan malam itu, pergi tanpa memberi kabar sama sekali. Kau pikir enak apa jadi tertuduh," gerutu Steve.
Bukannya prihatin, Cherry terkekeh mendengar gerutuan Steve. Dia sudah menduga Lucas pasti akan menuduhnya, karena terakhir waktu Steve sedang bersamanya.
"Untung saja suamimu percaya kalau aku memang tak ada hubungannya dengan kepergianmu. Ini semua berkat Yora, dia mampu membuat semuanya tenang." imbuh Steve.
"Yora? apa wanita itu---"
"Ya, dia istri ipar elu. Kaka kandung elu." sahut Steve kembali ke elu gua.
"Kaka kandung? maksudnya apa Steve?" tanya Cherry sedikit terkejut.
"Iya Cherry... ka Yora itu sebenarnya kaka kandungmu. Kalian berdua terpisah sejak kecil, karena om Rudi sengaja menculik ka Yora dari om Zain." sahut Neva dibelakang Cherry.
Cherry berbalik, dirinya makin terkejut karena Neva mengetahui keberadaannya.
"Ne--Neva..." ucap Cherry terkejut. Lalu dia menoleh kearah Steve yang berpura-pura tak merasa bersalah.
__ADS_1
"Cherry... aku sangat merindukanmu... hiks... hiks... hiks...," ucap Neva langsung memeluk sahabatnya dengan lelehan air mata.
"Maafkan aku Neva... hiks.. hiks... hiks...," ucap Cherry menangis juga.
"Jangan membenciku Cherry... kau sahabat terbaikku, jangan pernah pergi lagi... hiks.. hiks.. hiks...," sahut Neva dengan suara parau.
"Aku tak pernah membencimu Neva, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kau sudah merubah hidupku. Tanpa kau dan Steve mungkin aku tak bisa menjadi seperti ini." sahut Cherry lagi.
Mereka berdua saling berpelukan, melepaskan semua kesedihan serta kerinduan yang tersimpan lama. Melihat Neva dan Cherry berpelukan dengan haru bahagia, Steve tersenyum ikut bahagia. Begitupun dengan bu Sri beliau juga merasakan kebahagiaan yang dirasakan Neva dan Cherry. Bu Sri menoleh kearah Steve lalu mengacungkan jempol kearahnya dengan tersenyum.
'Kali ini kedua bayimu akan tumbuh dengan kuat serta kasih sayang dari semua keluargamu nak,' batin bu Sri.
Pasalnya setelah Cherry keluar dari ruangan dokter Rendi, dokter Rendi berpesan jika keadaan calon bayi Cherry sedikit bermasalah. Mungkin dikarenakan faktor pikiran dari sang ibu yang mengandung sehingga menyebabkan psikisnya sedikit terganggu. Dokter Rendi menyarankan jika dukungan suami lebih berpengaruh untuk keadaan tersebut. Ibu Sri lalu menemui Steve kembali, memohon agar Steve mau membantu mempertemukan Cherry dengan suami serta keluarganya.
"Dasar wanita ga bisa sebentar saja ga ngeluarin air mata, ckk." ucap Steve berdecak di ujungnya.
Neva dan Cherry melepaskan pelukannya lalu bersama-sama menjitak kepada Steve.
"Ga adil... kalian kenapa ngeroyok gua? ga adil ini namanya." Steve pura-pura marah.
"Sayang...," panggil seseorang yang suaranya sangat familiar.
Tawa yang tadinya pecah tiba-tiba saja hening. Neva dan Steve saling memberi kode dengan senyum bahagia. Sedangkan Cherry dia masih berdiri membelakangi Lucas.
"Sayang... apa kau tak merindukanku?" tanya seorang pria itu lagi.
Ibu Sri tersenyum bahagia, kemudian melangkahkan kaki mendekati Cherry.
"Nak... bukankah ini yang kau rindukan? kembalilah dengannya. Ingat semua permasalahan pasti terdapat solusi terbaiknya. Jika tidak, pikirkan si kembar dia butuh ayah berada disampingnya," ucap bu Sri pelan agar dimengerti oleh Cherry.
Cherry semakin terisak, sebenarnya dia juga ingin Lucas bersama dengannya. Cherry memutar tubuhnya pelan masih dengan menunduk.
Lucas berjalan mendekati Cherry dengan pelan, air matanya menetes membasahi pipinya. Dia sangat bahagia karena pada akhirnya bisa menemukan istrinya.
"Sayang... apa kau memaafkanku?" tanya Lucas sekarang sudah berada dihadapan Cherry.
"Maafkan semua kesalahanku dan keluargaku, kau boleh menghukumku apa saja asal kau memaafkanku Cherry berry strawberry mangga manalagi...," Lucas sengaja memanggil nama kesayangannya untuk Cherry.
__ADS_1
Cherry mengangkat wajahnya, kali ini mata mereka saling bertemu antara satu dengan yang lain. Terlihat sangat kerinduan yang mereka rasakan. Cherry tak boleh egois, benar yang dikatakan oleh bu Sri tadi jika kedua calon bayi kembarnya membutuhkan Lucas ayahnya.
Lucas mengulurkan tangannya menyeka air mata Cherry. Cherry lalu memegang tangan Lucas, Lucas lalu menghentikan kegiatannya menyeka air mata istrinya. Tak disangka yang dilakukan Cherry, dia malah mencium tangan Lucas. Sambil terisak Cherry terus menempelkan tangan Lucas di pipi kemudian menciumnya begitu seterusnya.
"Maafkan Cherry om... hiks.. hiks.. hiks...," ucap Cherry dengan suara parau.
"Maafkan Cherry... Cherry tak bermaksud ---,"
Lucas langsung menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya. Hadinata yang entah berapa lama tiba ikut terharu melihat putra serta menantunya bertemu. Neva dan bu Sri iku menangis haru bahagia.
"Istriku tak pernah salah, jangan meminta maaf sayang...," ucap Lucas.
"Aku sangat bersyukur Tuhan sudah memberikan kesehatan untuk kita dan calon bayi kembar kita," imbuh Lucas.
"Kau mengetahui---"
"Aku papa kandungnya, aku bisa tahu jika mereka kembar" sembari mengelus perut Cherry yang terlihat buncit.
Cherry terus menatap wajah suaminya yang sudah lama tak dia lihat. Saat Lucas terus mengelus perut Cherry, tiba-tiba sebuah gerakan terasa.
"Hei sayang... kau bahagia bertemu papa?" tanya Lucas berjongkok mensejajarkan tubuhnya sambil menempelkan pipinya di perut Cherry. Lagi-lagi gerakan itu terasa kembali bahkan gerakan halus itu tak terputus.
Cherry menyeka air mata dan tersenyum bahagia, karena baru kali ini gerakan calon bayinya tak seperti biasanya.
"Papa janji tak akan membiarkan mama dan kalian berdua jauh dari papa lagi," ucap Lucas kemudian mengecup perut buncit Cherry. Lucas lalu beranjak dari jongkoknya kemudian kembali memeluk sang istri.
"Selamat bestie atas kembalinya istri beserta bonusnya," sapa Rendi yang sejak tadi ikut memperhatikan pertemuan Lucas dan Cherry.
"Terimakasih Rendi...," ucap Lucas.
"Om kenal dengan dokter?" tanya Cherry heran.
"Dia pacar homoku," bisik Rendi lalu terkekeh bersama.
"Dasar dokter gemblung!"
Bersambung....
__ADS_1