
"Kita mau kemana bos?" tanya Steve.
"Mencari Desty" jawab Brandon.
Steve agak terkejut dengan jawaban Brandon, bukannya dia tak perduli dengan Desty. Kenapa hari ini dia mencari keberadaan Desty.
"Apa ga salah?" gumam Steve sedikit heran mendengar jawaban Brandon.
"Kau pasti berpikir alasanku mencari Desty" sahut Brandon seolah mengerti pikiran Steve.
"Steve.. kau pasti tahu apa alasan Desty mengajukan resign dan pergi dengan mendadak"
Steve sedikit canggung dengan pertanyaan Brandon. "Aku tak tahu sama sekali alasan Desty bos," sahut Steve agar Brandon tak curiga.
"Steve... kau juga mau kan Desty ditemukan. Sekarang tak usah kau tutupi kebenarannya, aku tahu kau dan Cherry tau alasan kepergian Desty" sahut Brandon sengaja membuat Steve terpojok.
Kali ini Steve tak bisa lagi mengelak, tujuan Brandon mengajaknya pergi malam ini ternyata untuk mencari informasi mengenai Desty.
"Maaf bos... aku tak bisa cerita. Aku sudah berjanji kepada Desty untuk tidak menceritakan semuanya termasuk alasan dia pergi. Yang pasti jika bos memang serius dengannya, aku sarankan segera mencarinya sampai ketemu. Karena jika tidak, aku yakin bos akan menyesal untuk selamanya." ucap Steve sedangkan Brandon menghargai keputusan Steve.
"Baiklah... aku akan mencarinya sampai ketemu" sahut Brandon dengan tegas.
**
"Mbaknya mau kemana?" tanya seorang wanita yang menolong Desty pingsan didalam kereta.
"Entah kak... saya juga bingung mau kemana, soalnya saya sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi" jawab Desty.
"Mbaknya kondisinya masih lemah, jika berkenan mbaknya istirahat di rumah saya saja. Kebetulan rumah saya hampir sampai, saya juga seorang single parent." tawar wanita yang menolong Desty.
Desty mengangguk menyetujui tawaran mbaknya. Kini, Kereta sudah berhenti di stasiun. Desty ikut turun mengikuti wanita yang menolongnya.
"Hati-hati mbak... disini sering pada jatuh, jalannya licin sekali" ucap wanita itu saat akan turun dari Kereta.
Cherry masih mengikuti wanita itu. Berjalan sampai sebuah ke perkampungan kecil yang rata-rata penduduknya padat.
"Mari mbak... ini rumah saya. Rumah saya jelek mbak, tapi semoga mbak betah ya...," ucap wanita itu sambil membuka pintu.
"Silahkan masuk mbak... ini kamar mbak, mbaknya istirahat dulu pasti masih capek," tawar wanita itu.
"Terimakasih mbak, maaf kalau kedatangan saya merepotkan mbaknya" ucap Desty.
"Mbak... jangan ngomong gitu, saya ikhlas bantu mbaknya." sahut wanita itu.
"Oh iya perkenalkan mbak, saya Reva." sambil mengulurkan tangannya berjabat tangan.
"Aku Desty. Senang berkenalan denganmu Reva" menerima uluran tangan Reva.
__ADS_1
"Mama... apa kau sudah pulang?" terdengar suara anak perempuan memanggil Reva dengan sebutan mama.
"Iya sayang... mama baru saja pulang." jawab Reva.
"Siapa dia ma?"
"Perkenalkan tante Desty, saudara mama" jawab Reva.
"Mama beneran punya saudara? hore... mamaku punya saudara...!" sorak gembira anak tersebut.
"Tante... perkenalkan, aku Lusi"
"Lusi.. Desty..." Desty memperkenalkan diri.
"Tante Desty... senang berkenalan denganmu tante..." ucap Lusi bahagia.
"Aku mau memberitahu semua orang kalau Lusi memiliki seorang tante... hore.... Lusi punya tante"
"Dia putriku, kami hanya tinggal berdua. Kedua orang tuaku mengusirku saat mengetahui aku hamil karena hasil pemerk*osaan" ucap Reva terlihat sangat sedih menceritakan masalalunya.
"Reva..." panggil Desty.
"Tak apa Desty, aku sudah melupakan kejadian itu. Yang aku pikirkan saat ini, bagaimana cara aku membesarkan Lusi dengan baik tak perduli orang berkata apa tentangku. Ini hidupku, mereka orang lain hanya bisa menilai dengan kacamata buruknya"
Desty memeluk Reva yang terlihat menyembunyikan kesedihannya. Benar saja, Reva langsung menangis seperti mencurahkan beban yang dialaminya selama ini.
"Desty... kau tahu semenjak kau disini toko bungaku menjadi ramai tak seperti biasanya. Sepertinya kau membawa hoki tersendiri" ucap Reva.
"Reva kau berlebihan menilaiku..." sahut Desty.
"Selamat siang di Grand Flowers, ada yang bisa kami bantu" sambut Reva kepada pembeli yang baru saja masuk kedalam tokonya.
"Saya mau mencari bunga untuk kekasih saya, hari ini anniversary kita yang ke-2. Saya mau bunga yang melambangkan keseriusan cinta saya dan sekalian mewakili saya untuk melamarnya" ucap pria itu dengan detail.
"Juliet rose." sahut Desty.
"Juliet rose lambang cinta. Konon katanya bunga ini akan membuat langgeng hubungan yang akan dijalani seumur hidup"
"Baiklah... saya pesan Juliet rose untuk malam ini." sahut seorang pria yang menjadi pembeli.
"Bisakah anda mengantarkan ke alamat jalan xx nomor sekian sebelum pukul 7?"
"Kami akan mengupayakan sesuai estimasi pemesanan tuan" ucap Desty.
Pria tersebut lalu menyelesaikan pembayaran dan meninggalkan tips untuk Desty.
"Wow... kau sungguh luar biasa Desty. Tipsnya ga main-main... kalau begini terus bisa kaya kita..." ucap Reva bahagia.
__ADS_1
**
"Brandon... apa malam ini kau bisa mengantarku ketempat temanku? malam ini dia akan membuat kejutan untuk kekasihnya" tanya Dania.
"Dania... maaf, bukan gua ga mau tapi kerjaan gua sedang padat-padatnya" ucap Brandon sengaja menolak permintaan Dania.
"Kalau begitu aku akan meminta papa untuk mengantarku" sahut Dania selalu mengancam Brandon dengan kalimat yang sama.
"Baiklah Dania... tapi aku minta waktu untuk menyelesaikan pekerjaanku" pinta Brandon terpaksa.
"Aku akan menunggumu di salon ujung sana" ucap Dania.
Melihat Brandon tertekan, Lucas dan Cherry jadi merasa bersalah. Tak seharusnya mereka menyalahkan sepenuhnya kesalahan kepada Brandon.
"Brandon, bisa kita bicara?" ajak Lucas ke ruangannya. Brandon pun mengikutinya.
"Minumlah teh hangat ini, kau terlihat sangat lelah" ucap Lucas. Brandon lagi-lagi mengikuti ucapan Lucas.
"Sudah hampir 3 bulan ini kau terlihat tak bersemangat, apa yang membuatmu menjadi seperti ini Brandon?" tanya Lucas.
"Gua seperti karma bocah ingusan itu Lucas. Sampai sekarang gua belum menemukan kabar mengenai Desty." terlihat Brandon meremas rambutnya seolah frustasi.
"Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Desty?" tanya Lucas.
"Gua sudah melakukan kesalahan besar kepada Desty...," jawaban Brandon.
"Sekarang kau mulai merasakan kehilangannya...," sahut Lucas.
"Apa kau pernah berpikir Desty akan memaafkan kesalahanmu?" tanya Lucas.
"Gua ga yakin Cas... tapi gua bakal tanggung jawab atas apa yang udah gua perbuat padanya" jawab Brandon.
"Termasuk kehamilan Desty?"
Brandon terkejut mendengar ucapan Lucas. "Desty hamil?"
Lucas mengangguk, "Desty hamil. Itu alasan Desty resign dan meninggalkan kota ini"
Brandon langsung meneteskan air matanya, semakin merasakan penyesalan.
"Bagaimana bisa kau melakukan hal itu Brandon? bukankah kau tahu Desty itu wanita baik-baik?"
"Saat itu kita dibawah pengaruh alkohol Lucas... gua ga sengaja ngelakuin itu..." sahut Brandon dengan suara parau.
"Seharusnya kau berpikir untuk tidak membuatnya kecewa. Sekarang kau tahu alasan Cherry membencimu juga"
Bersambung....
__ADS_1