
Pagi hari semua orang terdiam dengan pikirannya masing-masing. Bahkan, Lucas yang biasanya terlihat ceria suka menjahili sang istri terlihat sedang memikirkan sesuatu. Cherry yang baru selesai memandikan dan mengganti baju si kembar lalu menyiapkan sarapan pagi untuk Lucas.
"Ka Lucas, tolong kau jagain Abi dan Aksa sebentar. Aku mau mandi...," pinta Cherry membuyarkan lamunan suaminya.
"Kau mandilah sayang, biar mereka bersamaku dulu," ucap Lucas tanpa menoleh kearah Cherry.
"Ada apa dengan semuanya, kenapa mereka tampak memikirkan sesuatu..." gumam Cherry lirih.
Hanya membutuhkan beberapa menit, Cherry selesai dari mandinya. Tapi dia tak menemukan sosok suaminya. Abi dan Aksa sudah tertidur pulas dalam boxnya. Cherry lalu mencari Lucas disetiap ruangan. Hari ini tak seperti biasanya, orang-orang dalam rumah tak seramai biasanya, bahkan Agha yang selalu pamit sebelum berangkat sekolah tak Cherry dapati.
Cherry berhenti didepan ruang kerja Lucas yang pintunya sedikit terbuka, Cherry mendapati Lucas tertidur dengan duduk di kursi kerjanya. Nampaknya Lucas sangat lelah, terlihat dari gurat wajah serta lingkaran hitam disekitarnya.
"Apa semalam dia berpura-pura tidur," gumam Cherry memperhatikan Lucas. Laptop dihadapannya masih menyala dengan background dirinya bersama ketiga pria yang dikenal Cherry.
"Papa, Ayah dan---" Cherry menghentikan ucapannya, tiba-tiba saja perasaannya tak enak melihat foto pria terakhir disamping ayahnya.
Rambut pa panjang Cherry tak sengaja menyentuh wajah Lucas membuat Lucas terbangun.
"Cherry...," panggil Lucas dengan suara khas bangun tidur.
"Maaf kak, aku tak sengaja mengganggu istirahatmu." ucap Cherry.
"Ada apa sayang, apa twins mengganggumu? tadi aku sudah membuatnya tertidur. Apa mereka terbangun?" tanya Lucas.
Cherry tersenyum kini dia memeluk Lucas dari atas, mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya kemudian mengecup pipinya dengan lembut.
"Cup!" kecup pipi Lucas mesra.
"Mereka masih terjaga dalam tidurnya" ucap Cherry.
"Aku pikir kau sudah berangkat ke kantor, makanya aku mencari keberadaanmu,"
"Apa kau merindukanku?" pertanyaan jahil Lucas membuat Cherry langsung menyentil ujung hidung mancung Lucas.
"Pertanyaan macam apa itu, seharusnya tak perlu ditanyakan aku selalu merindukan suamiku kapanpun dan dimanapun," sahut Cherry.
"So sweetnya sayang... jadi pingin nambah," ucap Lucas langsung membuat Cherry membulatkan matanya.
"Om... Abi dan Aksa belum genap 1 bulan, om jangan mikir nambah lagi... jahitan 5 hari yang lalu saja belum kering," Cherry mode cemberut.
"Eh.... maksud aku nambah yang lain... bukan anak Cherry..." Lagi-lagi Cherry salah mengartikan, pikiran polosnya selalu bisa membuat Lucas menggelengkan kepalanya.
"Habisnya kakak om bilangnya nambah, kan aku jadi kepikiran kesana..." protes Cherry.
Lucas lalu menarik tangan Cherry, langsung saja Cherry terjatuh di pangkuannya. Kedua mata mereka bertemu menjadi satu, Lucas menyentuh bibir pink yang menjadi candunya, kembali Lucas mel*m*tnya dengan lembut dan pelan.
__ADS_1
"Emmmph... uuuhh..." Cherry mengeluarkan eluhan kecil. Tangan Lucas mulai bergerilya menelusup kedalam baju Cherry.
Cherry langsung mendorong tubuh Lucas setelah menyadari itu.
"Kaka om.... mau ngapain?"
"Mau itu---" sembari menunjuk dada Cherry yang terlihat lebih berisi dengan matanya.
Spontan Cherry langsung menutupi wilayah semerunya dengan kedua tangan yang menyilang.
"Ih... paedofil!" sahut Cherry kemudian beranjak dari pangkuan Lucas dan keluar dari ruangan Lucas.
"Apa dia bilang, paedofil. Dia tuh seorang anak yang sudah bisa bikin anak, mana bisa disebut paedofil. Ga bener nih orang..." gerutu Lucas. Sedangkan Cherry tertawa terkekeh dibalik pintu ruangan Lucas.
"Gua ngeri lihat lu ketawa-ketawa sendiri didepan sini Cherr...," suara Brandon mengagetkan Cherry.
"Berisik!" sahut Cherry melewati Brandon begitu saja tentunya masih dengan terkekeh.
"Dasar bocah gemblung!" ejek Brandon. Brandon kemudian memasuki ruang Lucas.
"Napa lu Cas, kayak habis ditolak saja," sindir Brandon.
"Brandon agendakan ke Semeru, lusa depan" perintah Lucas.
"Ngapain ke Semeru?" tanya Brandon bingung.
Cherry tak sengaja melihat Yora duduk terdiam di ayunan dekat kolam renang. Cherry yang menggendong Aksa sambil mendorong Abi mendekati Yora.
"Hallo mommy...," sapa Cherry.
"Anak-anak mommy sudah rapi dan tampan," sahut Yora membalas sapaan Cherry.
"Iya mommy... aku dan adikku sudah tampan dan wangi," sahut Cherry menirukan suara anak kecil.
Spontan Yora tertawa lalu mengambil Abi kedalam gendongannya.
"Ka... aku tak melihat mama dan papa, apa kau mengetahuinya?" tanya Cherry.
"Mama dan papa sedang ada urusan penting, tadi beliau mau berpamitan denganmu tapi takut akan mengganggumu" jawab Yora.
"Ka... apa om Rudi membuat ulah lagi?" tanya Cherry.
Yora langsung menoleh kearah Cherry. Cherry dapat melihat ada sesuatu yang disembunyikan dari sinar matanya.
'Kenapa tiba-tiba dia bertanya soal om Rudi' batin Yora.
__ADS_1
"Aku tau kalian semua sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Apa aku tak berhak tau?" tanya Cherry langsung.
Yora terdiam, dia hanya saja tak mau membuat Cherry memikirkan persoalan Rudi. Yora takut akan berpengaruh kepada kondisinya setelah melahirkan.
"Ka... kenapa kaka tak menjawab?" tanya Cherry kembali.
"Kau tahu Cherry, seseorang akan bisa menjadi berubah jika dirinya masih memiliki ambisi yang belum terpenuhi." jawab Yora.
"Tugas kita bagaimana cara kita merubah pikiran tersebut, jika tidak bisa maka perang adalah jalan terakhirnya."
Ucapan Yora langsung membuat Cherry paham dengan situasinya. Semua orang sedang memikirkan keselamatan keluarga masing-masing.
"Apa yang harus aku lakukan ka?" tanya Cherry.
"Sementara kita harus LDR dengan suami-suami kita" jawab Yora.
"Maksudnya bagaimana?"
"Sementara kita harus bersembunyi sampai mereka tertangkap kembali. Itu cara kita membantu mereka semua." ucap Yora.
Cherry menoleh kearah baby Aby dan Aksa bergantian membayangkan posisi mereka harus jauh dari papanya lagi.
**
"Bos... aku sudah menemukan keberadaan mereka," ucap seseorang yang sedari tadi memantau kediaman Hadinata.
"Serang mereka disaat terlelap" balas Rudi dengan senyum menyeringai.
**
"Steve... bagaimana dengan perkembangannya? apa sudah ada kejelasan dari sinyal itu?" tanya Lexi.
"Aku curiga jika sinyal itu hanya sebuah peralihan perhatian kita disaat kita lengah" jawab Steve.
Lexi terdiam ikut berpikir, apa yang dikatakan Steve ada benarnya. Lexi langsung mengambil ponselnya mencari tahu kondisi keluarganya.
"Lexi...Abimana... hiks... hiks..." suara tangis Yora.
"Apa yang terjadi Yora?" tanya Lexi khawatir.
"Mereka membawa Abimana Lexi... hiks.. hiks... hiks..." jawab Yora.
"Steve kau benar, mereka hanya mengalihkan perhatian kita. Kita terjebak permainan mereka!" ucap Lexi sedikit berteriak.
Lexi dan Steve langsung menuju lokasi dengan kecepatan penuh, sayang kondisi sudah tak seperti sebelumnya. Vino mengalami luka sayatan sedikit dalam. Sedangkan papa Hadi mengalami luka tusukan, mama Risti mengalami luka di dahinya dan pingsan sedangkan Cherry mengalami pendarahan.
__ADS_1
"Yora..."
Bersambung...