
...Berpisah....
...Saat hati masih saling mencintai dan...
...ketika hati saling terikat namun tak...
...bisa bersatu....
...Tak berdarah....
...Namun kita merasakan sakit dan luka...
...yang sama....
...Ikhlas....
...Ternyata tak semudah kita berbicara...
...atau menuliskannya....
...Sedih....
...Ia sedih teramat sangat terasa sedih...
...menyayat hati....
...Kamu dan aku adalah sesuatu yang tidak mungkin...
...Tapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin...
...La tahzan innallaha ma'ana....
...----------------...
"Semua baik-baik saja Cherry. Dimana Aksa?" tanya Desty.
"Dia bersama papanya disana," tunjuk Cherry. Bukannya tersenyum, Desty menarik senyumnya saat melihat Brandon yang juga melihatnya. Desty buru-buru membuang pandangannya dari Brandon dan kembali mengalihkan pandangannya kembali kepada Cherry.
"Desty...," panggil Cherry lirih.
"Kau baik-baik saja bukan?" tanya Cherry melihat mimik wajah Desty berubah.
"Kau tak sedang---"
"Cherry... maaf aku harus masuk lebih dulu. Kita bertemu didalam saja." ucap Desty lalu masuk terlebih dulu.
"Kenapa dengan Desty?" tanya Lucas mengagetkan Cherry.
"Dia sedang mencari toilet." jawab Cherry beralasan.
'Apa yang sedang mereka rahasiakan' batin Lucas curiga.
"Keluarga tuan Lucas yang sudah kami tunggu sedari tadi. Mohon maaf tuan dan nyonya Lucas boleh minta waktunya sebentar?" pinta wartawan yang sama dengan papa Hadi.
Lucas dan Cherry saling mengangguk dengan senyum elegant.
"Tuan dan nyonya kami ingin mengetahui motivasi apa yang membuat anda bisa memimpin Jewelry Axosha serta keluarga kecil anda sehingga bisa menjadi panutan untuk semua orang?" tanya wartawan tersebut.
__ADS_1
"Dari kecil kami selalu diajarkan untuk membangun kepercayaan serta kerjasama yang kuat. Karena itu dasar pondasi untuk membentuk suatu kekuatan." jawab Lucas.
"Apa hal itu juga yang membuat anda sangat mencintai istri anda tuan?" tanya wartawan itu lagi.
Lucas tersenyum lalu menggenggam tangan Cherry.
"Kami mendengar jika dulu tuan menikahi nyonya bukan atas dasar cinta." imbuh wartawan.
Cherry tersenyum, "Cinta sebenarnya sudah bersemayam dihati kami saat kami masih berusia remaja. Sebelumnya kami sudah dipertemukan, setelah dewasa ternyata Tuhan menginginkan kami untuk bersama. Kepercayaan kami saat itu kami pasti akan dipertemukan kembali dalam keadaan bersama. Aku yang sangat percaya akan bertemu dengan suamiku ternyata do'aku terdengar olehnya" ucap Cherry.
"Percayakan saja kepada takdir, biarlah dia yang menuntun kita." ucap Lucas.
"Terimakasih tuan dan nyonya Lucas. Semoga Tuhan selalu memberikan takdir baik kepada Anda sekeluarga." sahut wartawan.
"Tuan bolehkah kami meliput wajah tuan muda Adhyaksa?" pinta seorang wartawan satunya.
Lucas dan Cherry mengijinkan wajah baby Aksa diliput. Anehnya para wartawan bukannya meliput mereka malah terkagum dengan wajah baby Aksa.
"Sangat tampan,"
"Sempurna"
"Gemes banget, boleh dibawa pulang ga ya..."
Banyak sekali para wartawan yang terpesona dengan ketampanan baby Aksa. Ini kali pertama baby Aksa diliput televisi. Sejak kelahirannya hingga saat ini Lucas dan Cherry sengaja tidak memperbolehkan baby Aksa diliput oleh media manapun.
"Tuan dan nyonya bolehkah kami meminta izin untuk memasang foto putra anda di handphone kami?" pinta salah satu wartawan.
"Silahkan, hari ini aku memang sengaja memperlihatkan Adhyaksa kepada seluruh dunia yang sebenarnya." sahut Lucas.
Selesai acara foto keluarga kecil Lucas oleh para wartawan diluar, Lucas dan yang lain memasuki ruang acara.
"Tuan Lucas...," panggil tuan Sean bersama keluarganya.
"Tuan Sean...," balas sapa Lucas.
"Tuan Lucas, perkenalkan ini istri saya."
"Lucas." ucap Lucas.
"Putra anda sangat tampan tuan, wajahnya mendominasi wajah anda tuan." ucap istri tuan Sean.
"Terimakasih nyonya Sean. Banyak yang mengatakan jika putraku sangat mirip denganku." sahut Lucas dengan sangat bangga.
"Dimana nyonya Lucas?" tanya tuan Sean.
"Dia sedang disana tuan," sambil menunjuk kearah Cherry yang sedang bersama Desty.
"Masih sangat muda," puji nyonya Sean melihat Cherry dari kejauhan.
"Tuan Lucas ini menikahi nyonya Lucas saat usia nyonya Lucas 17 tahun ma...," tuan Sean memberitahu istrinya.
"Pantas saja jika istrinya sangat muda," puji nyonya Sean.
"Tuan Lucas apa tuan Brandon juga berada disini?" tanya tuan Sean belum melihat Brandon.
Panjang umur disaat tuan Sean menanyakannya, Brandon yang entah darimana mendekati Lucas.
__ADS_1
"Cas... gua udah cariin tempat istirahat Aksa." ucap Brandon belum menyadari jika dihadapannya adalah tuan dan nyonya Sean.
"Brandon..." panggil Lucas dengan memberi kode dari kedipan matanya. Brandon yang baru menyadari langsung saja menyalami tuan Sean dan istrinya.
"Tuan Brandon, saya dan istri berniat untuk memperkenalkan putri saya dengan anda. Apa anda setuju?" tanya tuan Sean.
"Saya tak bermaksud apa-apa tuan Brandon. Jika putri saya dan anda cocok tak ada yang tahu bukan...," imbuh tuan Sean.
"Papa... mama... " panggil seorang gadis kepada tuan dan nyonya Sean.
"Dania... darimana saja kamu nak? papa dan mama menunggumu." tanya nyonya Sean.
"Maaf ma... pa... Dania terjebak macet" jawab Dania.
"Dania... papa mau memperkenalkan kau dengan tuan Brandon." ucap tuan Sean.
Dania terpesona dengan Brandon di pandangan pertamanya. Sedangkan Brandon merasa biasa saja.
"Dania...," Dania mengulurkan tangan kepada Brandon. Brandon hanya menanggapi dengan senyum lalu menerima uluran tangan Dania.
"Mereka terlihat serasi ya pa...," ucap nyonya Sean.
Dari kejauhan Desty dan Cherry memperhatikan Brandon dan Dania.
"Desty... kau merasa baik?" tanya Cherry.
"Entahlah Cherry... sampai sekarang aku juga tak tahu dengan perasaanku," jawab Desty.
"Desty... coba tanyakan pada lubuk hati terdalammu, bagaimana dengan perasaanmu kepada om Branded. Hanya kau yang bisa menemukan jawabannya." ucap Cherry.
Tiba-tiba Desty merasakan mual.
"Desty... Des... apa kau merasakan mual?" tanya Cherry. Desty tak kuat merasakan mualnya sehingga membuatnya harus ke toilet. Untungnya Cherry mengikutinya dari belakang. Tubuh Desty sedikit melemah, rupanya sejak bangun tadi Desty sudah banyak mengeluarkan isi perutnya.
Lucas yang melihat istrinya, diam-diam mengikutinya. Lucas menitipkan baby Aksa
"Desty..." Cherry membantu Desty memijat tengkuknya.
"Aku akan mengantarmu kembali menemui dokter Rendi. Setidaknya dia harus memberimu obat anti mual." ucap Cherry.
"Cherry... aku harus bagaimana?" tanya Desty yang sebenarnya belum menemukan solusi untuk dirinya.
"Desty... sekarang yang harus kau fokuskan yaitu ini." sambil menyentuh perut Desty yang masih rata.
"Desty apa aku boleh bertanya?" tanya Cherry.
Desty mengangguk, "Apa kau mencintai om Branded?" tanya Cherry.
Desty terdiam sesaat. "Aku belum tau Cherr... sampai saat ini aku masih bingung Cherr... semalam aku memikirkan, bagaimana nasib bayiku tanpa sosok seorang ayah. Aku takut Cherr...," jawab Desty.
"Desty..." Cherry memeluk Desty memberinya supoort.
"Desty hamil? tapi hamil dengan siapa? aku harus menanyakan ini pada istriku" gumam Lucas.
"Sudahlah Desty... hari ini kau harus, semangat. Bumil ga boleh sedih yuk...!"
Bersambung....
__ADS_1