
Epsd. 61. Harta karun langka
"Emangnya ada apa ya pak saya dipanggil kesini?" tanya Cherry yang baru saja tiba di Sekolah dan langsung mendapatkan panggilan kepala Sekolah.
"Kenapa kau berbohong Cherry?" tanya pak Edy dengan wajah serius.
"Bohong soal apa pak?" tanya Cherry belum mengerti.
"Pak Alfian bisa jelaskan semua" ucap bapak kepala Sekolah memanggil pak Alfian yang sudah berapa lama berada disana.
"Cherry saya dan semua guru di Sekolah ini sangat terkejut dan kecewa dengan dirimu. Wajah yang cantik dan juga memiliki IQ diatas rata-rata, rupanya hanya sebuah kedok untuk menutupi sikap burukmu" sindir pak Alfian.
"Maksud bapak apa berbicara seperti ini?" sahut Cherry dengan sengak.
"Sudahlah Cherry tak usah berpura-pura, kini kami tahu kenapa alasanmu pindah Sekolah. Ternyata kau murid buangan karena Sekolah sudah malu dengan tingkah lakumu" ucap pak Alfian.
"Mohon maaf sebelumnya bapak Alfian yang terhormat, ucapan anda ini bisa menjadi boomerang untuk diri anda sendiri" ucap Cherry masih dengan santun.
"Sekarang jelaskan semuanya dengan jujur, sejak kapan kau menjadi simpanan laki-laki hidung belang diluar sana?" tanya kepala sekolah.
Mata Cherry memerah berkaca-kaca, ucapan seorang kepala sekolah yang notabene seorang yang berpendidikan kenapa harus menuduhnya seperti ini. Cherry mencoba mengatur nafas serta perasaannya, mengendalikan otak serta perilakunya menghadapi kepala sekolahnya.
Sedangkan diujung sana, Alfian sangat bahagia melihat Cherry terpojok seperti saat ini.
Cherry menutup matanya sejenak, mencoba menata perasaannya lalu mengeluarkan nafasnya pelan.
"Fiuuuh....." terdengar suara nafas yang dikeluarkan oleh Cherry.
"Mohon maaf bapak kepala sekolah yang terhormat, jika anda berpikiran sama dengan bapak Alfian yang saya hormati terserah anda. Yang pasti saya bisa mempertanggung jawabkan atas apa yang sudah dituduhkan oleh bapak Alfian" ucap Cherry dengan tenang.
"Buktikan jika itu memang benar adanya!" bentak pak Alfian.
"Hisssttt..." keluh Cherry lirih sembari mengorek-ngorek telinganya yang tak gatal.
"Bisa ga sih pak ngomongnya ga pake bentak-bentak, saya disini juga bisa menuntut bapak atas tuduhan pencemaran nama baik" balik serang Cherry kepada pak Alfian.
"Pencemaran nama baik apa maksudnya? disini jelas-jelas kamu yang berbuat salah" sahut pak Alfian sedikit terbata-bata.
"Saya bisa membuktikan semuanya pak kalau tuduhan bapak Alfian semuanya hanya fitnah. Saya berani bersumpah demi bapak ibu saya yang sudah meninggal" ucap Cherry dengan lantang.
"Saya permisi dulu bapak kepala sekolah yang terhormat" pamit Cherry.
"Cherry..." panggil ibu Naya.
"Iya bu," jawab Cherry dengan sopan.
__ADS_1
"Untuk hari ini, kepala sekolah menginginkan kamu untuk pulang lebih awal. Maafkan ibu belum bisa membantumu," ucap Ibu Naya wali kelas Cherry.
Cherry yang awalnya terkejut lalu tersenyum,
"Ibu tak perlu meminta maaf, Cherry janji bakal membuktikan semuanya" ucap Cherry dengan santai seperti biasa.
Cherry lalu mengambil tas sekolahnya, tentunya dengan tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya. Cherry sudah curiga jika semua teman-teman sekelasnya sudah mengetahui soal ini.
Pagi tadi Lucas berpamitan untuk kembali ke kota memberitahu mama dan papanya mengenai Lexi sekalian mengurus proyek terbaru dari perusahaannya.
Permasalahan di Sekolah Cherry pagi ini diluar batas pikiran Cherry. Sambil berjalan Cherry terus berpikir apa yang dituduhkan pak Alfian kepadanya hingga tak sadar, Cherry menabrak punggung seorang pria hingga tubuhnya terhuyung hampir jatuh. Untungnya tangan seorang pria tersebut dengan cepat menangkap tubuh Cherry.
"Aaaaaaa....!" teriak Cherry.
Brukkkkk.
"Kau tak apa?" tanya pria tersebut, suaranya sangat familiar ditelinga Cherry.
Cherry yang tadinya memejamkan mata, begitu mendengar suara yang dikenalnya langsung membuka matanya dengan cepat.
"Ka Lexi..." ucap Cherry setelah mengetahui jika pria tersebut adalah Lexi.
"Yora..." gumam Lexi mengingat Yora.
"Ka... Ka Lexi..." panggil Cherry karena Lexi malah menatap Cherry tanpa berkedip.
"Terimakasih ka..,"
"Ngapain jam segini disini? pake seragam sekolah?" tanya Lexi heran karena baru melihat Cherry mengenakan pakaian sekolah.
Cherry hanya bisa tersenyum aneh menanggapi pertanyaan Lexi.
"Eh... emang ka Lexi ngapain juga disini? ini kan tempat mangkal ojek langganan aku" Cherry mengalihkan perhatian Lexi.
"Bentar... bentar... jangan bilang kalau ka Lexi----"
"Iya... emang napa!" sahutnya dengan sewot.
"Eh... beneran iya ka Lexi kerja jadi tukang o-jek?" tanya Cherry dengan lirih dikata terakhirnya.
"Buruan pulang sono... takut Lucas nyari!" usir Lexi.
"Ye... terserah Cherry lah... mau pulang mau nyangkut dimari" sahut Cherry dengan kesal.
"Lagian napa sih ka sewot mulu daritadi... pms ya.." ledek Cherry.
__ADS_1
'Lama-lama nih cewek ngeselin banget' batin Lexi.
"Iya... aku ngeselin..."
'Eh, kok dia tahu yang aku batin'
"Tapi ngangenin kata suami aku...," lanjut Cherry kali ini dengan mode pedenya.
"Ya sudah, sekarang mau apa?" ucap Lexi pasrah.
"Anterin pulang dong ka...," rayu Cherry.
"Aku capek banget, capek fisik jiwa dan raga sanubari tanah airku" imbuhnya langsung membuat Lexi jengah.
"Untung hanya wajahnya saja yang mirip Yora bukan sama kelakuannya..." gerutu Lexi pelan.
"Eh.. kaka ngomong apa tadi?" tanya Cherry sedikit mendengar Lexi menggerutu.
"Ngomongin kok bisa ya adikku Lucas menemukan harta karun luar biasa langkanya" sindir Lexi.
"Enggak kaka enggak adik sama-sama aneh" sahut Cherry melenggang begitu saja.
Lexi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Cherry, meski begitu entah mengapa Lexi merasa bahagia melihatnya.
Sesampainya di kediamannya, Lexi berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang dulu, tugasku sudah selesai" ucap Lexi ketus seperti biasanya.
"Aku bikinin minum dulu ka... aku yakin kaka haus" sahut Cherry menahan Lexi.
"Tak perlu, aku harus menjemput Agha" ucap Lexi kembali.
"Baiklah kaka ipar... terimakasih sudah mengantarkan adik iparmu yang paling imut lucu menggemaskan ini selamat sampai dirumah" teriak Cherry.
"Hissssttt... dasar!" gerutu Lexi berlalu begitu saja.
'Yora... apa kau bereinkarnasi seperti orang-orang terdahulu ditubuh wanita itu? jika iya, mengapa harus di tubuh wanita yang sudah sah menjadi istri adik tiriku? apa kau sengaja mempersulitku?' batin Lexi.
"Ayah...," panggil Agha keluar dari sekolah.
"Jagoan ayah, gimana untuk pembelajaran hari ini?" tanya Lexi seperti biasanya.
Bukannya menjawab Agha malah cemberut.
"Jagoan ayah kenapa cemberut bukannya menjawab pertanyaan ayah" tanya Lexi.
__ADS_1
"Ayah, hari ini aku mendapatkan nilai terendah matematika di kelasku. Semua teman-temanku mendapatkan nilai bagus karena ada mama yang selalu mendampingi mereka belajar. Sekali ini saja ayah, kabulkan permintaan Agha... Agha ingin memiliki mama seperti teman-temanku yang lain, setelah ini Agha janji tak akan meminta lagi" ucap Agha sembari menangkupkan kedua tangannya didepan dadanya dengan mata yang berkaca-kaca.
'Maafkan ayah...'