Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 178. Aib Lexi


__ADS_3

...Titik tertinggi rindu adalah ketika kamu sudah tak lagi bisa melihatnya,...


...bertemu bahkan untuk mengetahui kabar pun tak bisa,...


...tapi tetap mendoakan yang terbaik...


...buat seseorang yang selalu dirindukan....


...----------------...


"Aku merasa sangat kesal kepada Marco, kenapa dia tak mengizinkanku pulang. Padahal dia tahu aku sudah baik-baik saja." protes Lucas.


"Hehe... sabar bos, jangan marah-marah... aku takut kau terlihat tua," ledek Steve.


Sepasang mata tajam langsung saja meliriknya, membuat nyali Steve langsung menciut.


"Maaf bos, aku tak bermaksud meledekmu...," ucap Steve sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Sebaiknya bos beristirahat, daripada marah-marah hanya membuang energi." Saran Steve.


Tanpa sepatah kata, Lucas langsung berbalik meninggalkan Lucas lalu menutup pintu dengan sedikit keras.


"Huuuuffff... akhirnya bisa lolos juga," ucap Steve lega. Steve buru-buru pergi menjauh, takut-takut Lucas membuka kembali pintunya.


Rombongan keluarga Hadinata tiba disaat senja mulai menampakan keelokannya. Senja yang selalu menjadi ketenangan hati.


Adhyaksa berada dipangkuan papa Hadi sedang bermain mulut. Adhyaksa seperti menemukan permainan baru menyemburkan air liur dengan suara khas.


"Aksa... kau membuat orang-orang kehujanan...," ucap Cherry sambil mengusap air liur Aksa. Bukannya diam, Aksa malah semakin semangat mempermainkan permainan barunya. Dengan senyum yang selalu berkembang, Aksa bisa dipastikan memiliki jiwa jahil seperti Lucas.


Semua orang tertawa melihat tingkah ibu dan anak didepan mereka. Seperti melihat seorang bocah sedang saling jahil.


"Aksa makin menggemaskan...," ucap Neva.


"Aku juga menggemaskan tante...," sahut Agha.


"Iya dong... Agha tetap nomor 1 menggemaskan." sahut Cherry.


"Tapi Agha ga jorok kayak Aksa...," ledek Agha.


"Agha selalu menjaga kebersihan seperti ayah." sahut Agha.


"Ye... emang Agha tau kalau ayah selalu menjaga kebersihan?" tanya Yora menyahut ucapan putra pertamanya.

__ADS_1


Lexi yang sedang bermain dengan baby Xarena langsung menghentikan candanya dan menoleh kearah Yora.


"Naruh handuk basah aja masih diatas kasur, belum lagi suka naruh urderware sembarangan, ada lagi kalau tidur suka ngorok dan----" Lexi dengan cepat menutup mulut Yora agar tak membeberkan aibnya.


Semua orang menatap Lexi sejenak terdiam kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Tenang kak... Rahasia kakak aman di telingaku, tapi ga janji di mulutku...," sahut Cherry kembali menertawakan Lexi.


Selesai bercanda, saling usil dan jahil tanpa terasa mereka semua tiba di Rumah sakit. Marco sudah menunggu mereka ditempat rahasia.


"Welcome semua...," sapa dokter Marco.


"Kami sudah menunggu kalian, mari lewat sini." Marco memberitahu jalan rahasia agar tak melewati ruangan Lucas.


"Terimakasih Marco...," ucap papa Hadi dan Lexi.


Marco tersenyum, namun pandangannya terhenti tepat disaat Cherry dan Aksa lewat didepannya. Menurutnya, Cherry itu sangatlah cantik. Dari awal bertemu dengannya di Rumah sakit, jujur Marco seperti melihat bidadari.


Cherry tersenyum kearahnya dan itu hampir membuat jantung Marco berhenti berdetak.


'Sadar Marco... itu bini sahabatmu' batin Marco menyadarkan dirinya.


'Dasar kau Marco, jiwa setiamu dengan Amara sedang dipertaruhkan' umpat Marco pada dirinya sendiri.


Marco kemudian mengikuti mereka menuju lokasi. Sesampainya disana, Desty dan Dania langsung menyambut hangat keluarga Lucas, terutama Cherry dan Neva sahabat mereka.


"Lucas mengatakan jika kau ingin sekali mendapatkan pesta kejutan ulang tahun."


Cherry tak mampu berkata-kata, air matanya menetes begitu saja. Rupanya Lucas masih mengingat keinginannya.


"Cherry... apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Desty merasa bersalah.


"Desty... dan semuanya... terimakasih, aku tak tahu harus mengucapkan apalagi... aku hanya bisa mengucapkan terimakasih atas semuanya...," ucap Cherry.


"Ouh... Cherry... kau membuatku ingin menangis juga," sahut Neva. Mereka berempat kemudian saling berpelukan.


Brandon dan Marco sudah menjelaskan rencana acara ini.


"Semua paham kan?" ucap Marco selesai menjelaskan rencana acara ini.


"Hai... bayi, kau bisa bekerjasama kan...," gantian Marco menyapa Adhyaksa yang daritadi tersenyum dan tertawa. Seolah dia tahu juga rencana surprise untuk papanya.


"Baiklah... Marco, Gerald segera laksanakan rencana hari ini!" perintah Brandon.

__ADS_1


"Steve, Vino kalian bersiaplah di tempat kalian."


Marco berpura-pura kembali keruangan untuk mengambil peralatan kesehatannya. Sedangkan Gerald berpura-pura habis dari luar lalu masuk keruangan Lucas.


Ceklek!


"Hai Cas... maaf, aku terlalu lama meninggalkanmu. Apa kau sudah mulai bosan?" tanya Gerald.


"Kalau kau hanya berbasa-basi seperti stempel mending ga usah tanya." jawab Lucas sewot.


"Hahaha... kau sudah merubah nama Steve menjadi stempel..." Gerald tertawa mendengar sebutan Steve terbaru.


"Mending kita jalan-jalan, infonya diatas gedung pemandangan sangat indah" rayu Gerald.


"Kau pergilah sendiri, aku akan tidur sampai si Marco puas." sahut Lucas sewot.


"Dasar pemarah! kau pikir aku menyuruhmu tidur?" sahut Marco masuk tiba-tiba.


"Sekarang bangunlah... kita akan melakukan prosedur terakhir, setelah ini jika hasilnya baik aku akan mengizinkanmu pulang." imbuh Marco.


Mendengar kata pulang, Lucas langsung saja beranjak dari bednya.


"Awas kalau kau bohong, aku pastikan kau akan aku pindahkan ke planet lain!" ancam Lucas.


Bukan merasa ngeri, Marco dan Gerald saling menahan tawa melihat tingkah Lucas yang seperti anak kecil. Kemudian mereka berdua mengikuti Lucas yang terlebih dulu keluar.


Marco terus berjalan diikuti Lucas. Lucas merasa bingung dengan Marco. Ruang yang biasanya dia kunjungi kenapa Marco lewati. Saking merasa heran, Lucas kembali mengikuti Marco dengan pasrah. Dia tak mau lagi berdebat tak penting dengan Marco.


Lucas tertegun saat Marco naik keatas gedung, perlahan langkahnya merasa makin berat saat melihat atap gedung berubah menjadi sebuah taman yang dikelilingi bunga-bunga segar.


"Ini prosedur terakhir yang harus kau lakukan Lucas," ucap Marco.


Lucas tak mampu berkata-kata, dia mengedarkan pandangannya keseluruhan. Tiba-tiba dari balik pintu muncullah seorang anak kecil merangkak kearahnya, dengan senyum mengembang tentunya.


"Pap... pap... pap..." seolah anak kecil itu memanggilnya.


Air mata Lucas menetes dengan cepat, dia bisa tahu jika itu Adhyaksa. Putra semata wayangnya. Hampir 3 bulan lamanya Lucas tak melihat langsung putranya, ternyata Aksa sudah tumbuh menjadi bocah yang cerdas dan gesit.


Lucas langsung membuka kedua tangannya menyambut Adhyaksa yang merangkak cepat kearahnya. Tak sabar menunggu Adhyaksa tak cepat sampai kearahnya, Lucas melangkahkan kakinya lalu menangkap Adhyaksa dan menggendongnya.


"Pap... pap... pap... mbrrrrrrr..." Adhyaksa kembali memamerkan permainan barunya kemudian tertawa.


Lucas pun ikut tertawa melihat kecerdasan putranya.

__ADS_1


"Adhyaksa... papa sangat merindukanmu nak...," ucap Lucas lalu mencium pipi putranya.


Pemandangan itu membuat orang-orang yang melihatnya ikut terharu bahagia, terutama Cherry. Cherry tak mampu lagi menahan rasa rindunya, mendengar jika Lucas sembuh Cherry ingin sekali menemui suaminya. Hari ini keinginan itu sudah tercapai, tepat dihari ulang tahunnya do'a Cherry terkabulkan.


__ADS_2