Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 121. Papa datang nak,


__ADS_3

DOR!


Satu tembakan Rudi lepaskan langsung mengenai pria yang membawa baby Abimana. Satu kali tembakan itu langsung membuatnya meregang nyawa seketika.


Oek... oek... oeeeek...


Abimana terus saja menangis. Lionel merasa tak tega, namun dirinya tak berani untuk mengambil Abimana di pelukan pria yang baru saja ditembak mati oleh Rudi.


"Aku sudah memerintahkan kalian untuk membunuh Hadinata tapi kenapa kalian hanya menusuknya, hah!" bentak Rudi.


"Lionel!" panggil Rudi.


Lionel yang masih fokus dengan Abimana tersentak kaget. Langsung saja dia menoleh kearah Rudi.


"Apa yang kau lakukan disana sehingga rencana kita gagal!"


Lionel terdiam sejenak, "kau hanya memerintahkan untuk membunuh Hadinata, sedangkan Hadinata tak berada disana. Apa kau tak melihat yang kita bawa?" ucap Lionel.


Rudi nampak berpikir ucapan Lionel.


Oek... oek... oeeek...


Suara tangis Abimana terdengar mulai lelah.


'Aku harus meyakinkan Rudi secepatnya, aku tak bisa membuat bayi itu menunggu lama' batin Lionel.


"Aku dan yang lain membawa seseorang yang paling berharga di hidup Hadinata. Cucu yang baru beberapa hari dilahirkan bisa menjadi modal untuk melawan mereka," ucap Rudi menjelaskan.


Rudi kembali berpikir, kini matanya mengarah kepada bayi mungil yang sedang menangis. Rudi melangkahkan kaki mendekati baby Abimana.


"Bayi itu milik Lucas, putra dari Hadinata orang yang menguasai Jewelry Axosha. Kau bisa menggunakan bayi itu untuk melawan mereka," ucap Lionel sengaja.


Rudi menarik kedua ujung bibirnya, kini dia mengerti maksud dari Lionel.


"Kau benar Lionel mereka akan diterpa ketakutan setiap malam karena cucu mereka ada bersama kita. Aku pasrahkan bayi itu kepadamu Lionel!" perintah Rudi.


Lionel tersenyum senang rencananya untuk melindungi baby Abimana berhasil. Lionel langsung mengambil baby Abimana lalu mengajaknya ke ruang kamarnya. Sebelum menuju kamarnya Lionel menyuruh salah satu anak buahnya untuk mencari susu formula.


"Susu formula untuk apa bos?" tanya anak buah Lionel yang disuruh untuk mencari susu formula.


"Untuk bayi ini." jawab Lionel ketus.


"Bagaimana aku tahu susu formula yang cocok dengannya bos?" protes anak buah Lionel.


"Kau benar, terpaksa aku harus membawa bayi ini untuk mencocokkan susu formula yang pas untuknya." sahut Lionel.


Niat Lionel untuk masuk kamarnya urung, dia keluar dari persembunyiannya bersama anak buahnya dan baby Abimana.


"Sial! dini hari seperti ini mana ada dokter buka!" gerutu Lionel.


Lionel terus saja memperhatikan jalanan mencari tempat praktek dokter pribadi.

__ADS_1


"Bos... apa kita ke Rumah sakit besar. Kau lihatlah, bayi itu terlihat pucat sedikit membiru. Cukup lama kita membiarkannya menangis," sahut anak buah sedari tadi memperhatikan kondisi Abimana.


Lionel langsung menyentuh suhu tubuh Abimana, benar saja suhu tubuh Abimana terasa dingin bukan hangat seperti saat pertama dia menyentuhnya. Tangis Abimana juga mulai berhenti saat Lionel menggendongnya tadi.


"Kita tak bisa ke Rumah sakit besar, identitas kita akan terbongkar." ucap anak buah satunya.


Lionel langsung melingkarkan tangannya ke leher pria tersebut, sedikit ditekankan pegangannya.


"Lakukan yang aku perintahkan! bawa bayi ini ke Rumah sakit sekarang juga!" bentak Lionel mulai khawatir.


Kedua anak buahnya ketakutan melihat amarah Lionel. Mereka langsung menambah kecepatan kendaraannya agar segera sampai ke Rumah sakit.


Setibanya di Rumah sakit, Lionel berlari berteriak memanggil-manggil dokter.


"Dokter! Dokter!" panggil Lionel sembari berteriak.


Lionel sangat panik saat memperhatikan wajah baby Abimana mulai membiru.


"Suster! anakku Sus...!" panggil Lionel melihat suster berlari menghampirinya.


Suster langsung saja membawa baby Abimana kedalam ruang IGD. Dokter Rendi sangat terkejut menyadari pasien yang ditolongnya.


"Suster... kau persiapkan alat bantu pernafasan segera!" perintah Rendi panik.


'Abimana... bangun nak... bangun nak...' batin Rendi terus saja berusaha mengembalikan denyut jantung baby Abimana.


"Dokter... denyut jantung sangat lemah," sahut suster.


"Bangun nak... bangun nak... mama dan papamu ada disini, bangun nak!" teriak Rendi, seolah pasrah Rendi meneteskan air mata tak tega melihat baby Abimana sudah tak bernyawa.


Tubuh Rendi langsung lemas, pandangannya kosong melihat baby Abimana tertidur dengan senyum mungil di bibirnya. Rendi tak tahu harus bagaimana memberitahu Lucas dan Cherry.


Lionel dan kedua anak buahnya mondar-mandir di depan ruang IGD menunggu kabar kondisi Abimana. Sesekali dia memperhatikan sekitar agar tak diketahui oleh orang-orang.


"Mengapa sangat lama sekali!" protes Lionel mulai khawatir.


"Kau tenang saja bos!" ucap kedua anak buahnya.


Kembali kedalam ruangan, "Suster, tahan ruangan ini jangan sampai mereka masuk" perintah Rendi.


Rendi langsung menghubungi ponsel Lucas, tak menunggu lama Lucas langsung saja mengangkat telfonnya.


"Lucas...," terdengar suara Rendi parau.


"Kau kemarilah, lihatlah anakmu untuk yang terakhir kali" lanjut ucap Rendi tak bisa ditutupi lagi.


Lucas langsung beranjak dari tempat duduknya. Lexi, Brandon, Steve dan Vino ikut menoleh kearah Lucas.


"Abi... Abimana---" Rendi tak sanggup lagi menyampaikan keadaan Abimana.


Lucas langsung saja berlari diikuti Lexi, Brandon, Steve dan Vino.

__ADS_1


"Lucas....," panggil mereka bersamaan.


Tap... tap... tap...!


Langkah kaki Lucas terhenti saat melihat Lionel dan kedua anak buahnya berdiri didepan ruang IGD.


"Itu mereka Lucas!" ucap Vino.


Lionel dan kedua anak buahnya menoleh kearah Lucas dan yang lain. Lionel langsung menerobos masuk kedalam ruang IGD.


BRAK!


"Lucas, kau masuklah!" teriak Lexi. Lucas langsung mengejar Lionel masuk ke dalam.


BUGHK!


Lucas berhasil memukul Lionel, sehingga Lionel terjatuh mengenai lemari dihadapannya.


BUGHK... BUGHK...!


Lucas menghujam pukulan ke wajah Lionel, begitupun sebaliknya. Lionel membalas pukulan Lucas mereka saling terjatuh. Rendi yang melihatnya langsung saja melerai mereka.


"Apa yang kalian lakukan! apa kalian tak bisa tak berkelahi, ini bukan tempat untuk berkelahi!" bentak Rendi membuat Lucas dan Lionel menghentikan aksi mereka.


Lionel menyeka darah diujung bibirnya, menatap tajam Lucas. Begitupun sebaliknya, Lucas menatap tajam Lionel.


"Lucas... temui Abimana untuk yang terakhir kali," ucap Rendi dengan sangat berat.


Lionel terkejut, dia langsung mengikuti langkah Lucas melihat kondisi bayi tersebut.


Tubuh Lucas melemas seketika. Melihat putra yang baru saja lahir 5 hari sudah terbujur kaku. Lexi masuk bersama Brandon, Steve dan Vino. Sedang kedua anak buah Lionel berhasil diamankan oleh petugas keamanan Rumah sakit.


"Nak... ini papa... papa sudah datang nak...," ucap Lucas dengan suara yang tersendat-sendat menahan sesak di dadanya.


"Papa janji tak akan meninggalkan Abi sedetikpun. Abi bangun ya nak... bangun nak...," Ketahanan Lucas runtuh begitu saja, Lucas langsung memeluk Abimana.


"ABI.....!" teriak Lucas histeris.


"Lucas... kuatkan dirimu...," ucap Lexi tak tega.


"Abimana sudah bahagia di surga, dia sudah tak merasakan takut," lanjut Lexi berusaha memberi support kepada Lucas.


"Kau pasti bisa Lucas..."


Bersambung....


Hai Kak Reader semua... mampir juga ke karya "Pernikahan Rahasia Anak SMA 2"


Blurb :


Zara Adelia, gadis cantik dan juga seorang Nona muda yang masih duduk di kelas 12 SMA, terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria dari kalangan sederhana, kedua orang tua Zara sangat yakin jika pria tersebut bisa membuat Zara bahagia. Pria tersebut tak lain adalah guru olahraga sekaligus guru BP nya di sekolah. Sedari dulu Zara sangat tidak menyukai guru olahraga nya itu.

__ADS_1


Akankah Zara bisa hidup bahagia bersama pria yang bukan pilihannya? Nyatanya sehari-hari Zara harus berhadapan dengan suami sekaligus guru olahraga nya di sekolah. Mungkinkah cinta mulai bersemi di antara mereka?



__ADS_2