
Epsd. 49. Keputusan berat
Pagi ini Cherry sudah bersiap untuk kembali ke Jogjakarta tempat dimana Ibu Rahayu dilahirkan. Cherry sendiri masih memiliki tante yang berada disana.
"Cherry... tolong jangan lakukan ini," pinta Neva memohon.
"Neva, berjanjilah untuk tidak mengatakan yang sebenarnya kepada semuanya" pinta balik Cherry kepada Neva.
"Cherry, ka Lucas tak akan setuju dengan keputusanmu ini. Kita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya" Neva meyakinkan Cherry agar Cherry tak melakukan tindakan bodohnya.
"Neva.. pertimbangkan semuanya, mama jatuh sakit. Aku ga bisa membiarkan begitu saja. Om, harus pulang hari ini juga" ucap Cherry.
"Iya Cherry, tapi ini bukan Solusi terbaik. Ku mohon... pikirkanlah lagi Cherry," Neva memohon dengan amat sangat agar Cherry tak mengurungkan niatnya pergi dari Lucas.
**
"Hahaha... semudah itu kamu meminta ya" ucap Reta menertawakan Cherry.
"Aku bisa saja mencabut gugatan itu tetapi dengan satu syarat" tawar Reta dengan senyum seringainya.
"Apapun akan aku lakukan asal om bisa keluar dari tempat itu besok pagi" ucap Cherry to the point.
"Ckk, Kau itu hanya anak ingusan baru lahir kemarin sudah sok-sok an jadi pahlawan" cibir Reta.
"Bukankah cinta tak pernah berpikir dan merasakan sakit atau tidak? karena cinta di dasar dari hati yang tulus bukan naf*su" bantah Cherry.
"Seharusnya anda malu, sebagai seorang yang dewasa namun berpikiran seperti anak kecil" ucap Cherry dengan santai.
"Kau hanya anak ingusan! tau apa kau tentang hati!" bentak Reta.
"Udah ah capek, anda juga harus istirahat karena selepas kehilangan anak anda harus berintrospeksi diri" sindir Cherry.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan agar om bisa keluar dari sana?" tanya Cherry.
"Kau ternyata anak yang cerdas, seharusnya kau tau apa yang aku inginkan" ucap Reta.
"Katakan saja, aku sedang malas berteka-teki" sahut Cherry jengah.
"Tinggalkan Lucas, pergilah jauh dari hidupnya" ucap Reta.
Neva terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah. Pegang Janjimu" sahut Cherry masih dengan tenang. Cherry lalu membalikkan badan menahan rasa sakit dihatinya. Disaat cinta itu mulai tumbuh, dia harus berkorban.
"Cherry..," rangkul Neva dengan isak tangisnya.
Neva sangat tahu dengan Cherry, dia terlihat begitu kuat namun hatinya sangat rapuh.
"Kau anak baik, yakinlah suatu hari kau akan mendapatkan yang terbaik tetapi bukan Lucasku," ucap Reta sebelum Cherry dan Neva membuka pintu kamarnya.
Cherry hanya tersenyum kecil melanjutkan langkahnya bersama Neva. Neva sendiri sangat bingung dengan keadaan yang terjadi, Cherry sendiri yang meminta Neva untuk tidak ikut campur. Neva pun dengan terpaksa mengikuti apa yang diminta oleh Cherry.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Neva berlari menangisi mama Risti yang terbaring lemah. Sakit vertigo yang diderita mama Risti saat ini kambuh. Melihat ini semua, Cherry sangat mantap dengan keputusannya.
'Mama.. besok om akan kembali kesini, mama yang kuat' batin Cherry tak tega melihat kondisi mama Risti yang lemah.
**
Neva dan Cherry berada dalam 1 mobil bersama Steve sedang memantau janji Reta pagi ini.
"Cherry, sungguh ku tak sanggup dengan apa yang akan terjadi.. hiks.. hiks.. hiks..," ucap Neva.
"Steve berjanjilah untukku kau akan selalu menjaga Neva..," pinta Cherry.
"Cherry.. ini bukan keputusan yang terbaik, pikirkanlah lagi.. aku sangat tak setuju" tolak Steve.
"Steve... Neva... kalian sahabatku, dukung yang menjadi keputusanku. Kalau aku membiarkan suamiku dipenjara sama saja aku membunuh mama mertuaku. Tolonglah... kalian mengerti posisiku saat ini" pinta Cherry sembari menundukkan kepalanya, air mata Cherry tak mampu lagi dia bendung. Cherry sudah tak bisa berpura-pura kuat didepan kedua sahabatnya.
Steve sendiri mengetahui tentang ini dari Neva. Neva meminta bantuan Steve untuk merayu Cherry agar mengurungkan niatnya, namun hasilnya nihil. Cherry tetap kekeh dengan pendiriannya.
Steve mengusap wajahnya sendiri, sebagai sahabat dia harus menghargai keputusan Cherry.
"Cherr.. aku ga tau lagi harus gimana, jika itu keputusan terbaik aku hanya bisa mendukungmu," ucap Steve dengan pasrah.
Neva turun dari mobil Steve menemui Lucas yang akan keluar dari penjara. Sedangkan Cherry dan Steve hanya memantau dari kejauhan.
"Nona Neva..," sapa pengacara keluarga.
Neva tersenyum dan mengangguk.
Terasa sakit hati Neva mengingat perjuangan Cherry. Reta rupanya memenuhi janjinya untuk membebaskan Lucas.
"Alhamdulillah..," ucap Neva sedikit berat.
"Tuan dan Nyonya Hadinata pasti bahagia mendengar ini semua" ucap pak pengacara lagi.
"Neva, bagaimana dengan Lucas?" tanya Brandon yang baru tiba.
"Ka Brandon..,"
"Iya Neva.. bagaimana dengan Lucas? kenapa ini semua bisa terjadi?" tanya Brandon yang baru mengetahui berita ini dari Papa Hadi.
"Ceritanya panjang ka.. tapi alhamdulillah hari ini ka Lucas dibebaskan" jawab Neva.
"Dibebaskan?"
"Iya Tuan, dari pihak penggugat sudah mencabut semua gugatannya" sahut pak pengacara.
'Mencabut semua gugatannya? pasti ada hal lain yang membuat Reta mencabut semuanya' batin Brandon merasa curiga.
"Dimana anak ingusan itu?" tanya Brandon merasa aneh Cherry tak berada di sini untuk menyambut kebebasan Lucas.
"Em---itu.. anu, Cherry lagi nungguin mama" Neva beralasan.
__ADS_1
'Fix, ada yang disembunyikan' batin Brandon lagi.
"Ough..,"
"Ka Lucas...," teriak Neva melihat Lucas keluar dari penjara.
"Neva.. bagaimana keadaan mama?" tanya Lucas pertama kali.
"Mama masih sakit ka.., hiks.. hiks.." jawab Neva.
"Pak Hendra, apa masih ada yang harus diselesaikan disini?" tanya Lucas.
"Jika tidak aku ingin segera pulang menemui mama"
"Sudah beres semuanya Tuan, Nyonya Hadi pasti bahagia melihat anda" jawab pak pengacara.
"Terimakasih pak Hendra" sahut Lucas.
"Brandon ayo kita segera pulang" ajak Lucas tak sabar ingin segera bertemu mamanya.
"Gue tuh khawatir banget sama elu, bisa ga kasih gue waktu buat nanyain keadaan elu?" pinta Brandon.
"Terimakasih sobat.. tapi ini bukan saatnya, saatnya sekarang bertemu mama. Mama sedang membutuhkanku" ucap Lucas.
Mereka berempat meninggalkan hotel rodeo tersebut. Diujung sana Cherry merasa sangat bahagia melihat sang suami sudah terbebas dari penjara, namun disisi hatinya dia juga merasa sangat sedih karena tak bisa memeluknya untuk yang terakhir kali.
"Steve... kita berangkat sekarang" ajak Cherry.
Steve tak mampu lagi menolak permintaan Cherry, mereka sudah sepakat untuk saling mendukung keputusan Cherry.
Steve mengantarkan Cherry ke terminal bus tujuan Jogjakarta. Cherry sengaja menggunakan transportasi ini agar tak terlacak oleh Lucas.
"Cherry.. Jaga dirimu baik-baik" ucap Steve sebelum Cherry masuk ke dalam bus.
"Tenang saja.. aku pasti baik-baik saja" sahut Cherry seperti biasanya.
"Selesai ujian gue dan Neva janji bakal nyusulin elu" ucap Steve menggunakan bahasa elu gue lagi.
"Ga perlu... takutnya kalian ga akan kuat hidup di desa" sahut Cherry cekikikan.
"Steve... janji sama aku, jaga Neva... aku percaya hanya kamu yang bisa menjaganya" imbuh Cherry sebelum bus berjalan.
"Demi elu, gue janji bakal jagain Neva. Yang terpenting sesampainya disana kabarin gue" teriak Steve karena bus sudah mulai berjalan.
"Aku bakal merindukan kalian..." teriak Cherry dengan mata berkaca-kaca.
Steve melambaikan tangannya. Sedih sudah pasti dia rasakan. Merelakan seseorang yang di sayang demi kebahagiaannya.
"Gue bakal rindu elu Cherry.." gumam Steve masih memandangi bus yang akan keluar pintu terminal.
Bersambung...
__ADS_1