
Healing center Cemara Asri.
Nathalia masuk ke dalam healing center dengan senyuman bahagia. Ia sangat bersemangat untuk mengikuti beberapa kegiatan healing di tempat itu. Sebelum mengikuti kegiatan, Nathalia mendaftarkan dirinya terlebih dahulu kepada pihak administrasi yang ada disana.
"Hai, kamu mau mendaftar disini,"
"Iya,"
"Atas Nama?,"
"Nathalia Eliza,"
"Nathalia Eliza, ok sudah. Kamu sudah terdaftar sebagai anggota dari healing center ini. Semoga saja semua kelas dari berbagai kegiatan disini bisa memulihkan kembali keceriaan dalam hidupmu ya,"
"Iya, terimakasih,"
"Baik, ini kartu keanggotaannya. Kartunya keanggotaannya akan aktif mulai hari ini sampai bulan depan dan di bulan depan kamu bisa mengaktifkan kartu keanggotaan ini kembali dengan cara melakukan pendaftaran ulang ya,"
"Oke, thank you,"
"You're welcome,"
Disaat yang bersamaan, seorang pria berpakaian sederhana dengan hanya menggunakan kaos dan celana panjang datang menyapa Nathalia.
"Selamat pagi,"
Nathalia membalikkan tubuhnya ke arah belakang dan betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa pria itu adalah Salman.
"Salman?!,"
"Nathalia?! Kamu ngapain ada disini?,"
"Aku hanya sedang mendaftar sebagai anggota saja disini. Kalau kamu ngapain ada disini? Bukannya kamu seharusnya ada di perusahaan ya bersama dengan Afnan,"
"Aku hanya sedang mengambil cuti di perusahaan saja. Ada banyak hal yang terjadi sehingga aku masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa kembali ke perusahaan itu,"
"Oh begitu ya,"
"Kalau kamu ngapain mendaftar jadi anggota disini,"
__ADS_1
"Sama seperti kamu, Man. Ada banyak hal yang terjadi padaku hingga aku membutuhkan bimbingan agar mentalku bisa kembali pulih seperti dulu. Rasanya belakangan ini aku sedikit kacau,"
"Pasti tentang Afnan,"
"Kamu selalu dekat dengan Afnan. Aku yakin kamu tau tentang kedekatan Afnan dan juga sekretaris barunya itu kan,"
"Dia itu istrinya Afnan. Istri sahnya Afnan,"
*Bruukk* Handphone yang digenggam oleh Nathalia pun terjatuh dari tangannya.
"Nat, Nathalia," Panggil Salman yang melihat Nathalia mulai melamun dengan mata yang berkaca - kaca.
"Ah, Aku gak apa - apa kok Man," Ucap Nathalia sembari mengambil kembali handphonenya.
"Oke baiklah Nat, selama kamu disini biarkan aku yang menjadi mentor mu dalam program healing kamu,"
"Oh oke, aku harap kamu bisa membantuku untuk pulih ya Man,"
"Tentu saja, Nat. Aku akan membantumu,"
*****
"Program healing center disini itu cukup lengkap dan semua kelas healing disini aku jamin bakalan bisa membantu kamu dalam proses pemulihan baik itu secara mental dan juga psikis,"
"Hmmm, Man boleh aku tanya sesuatu sama kamu,"
"Silahkan, kamu diperbolehkan untuk bebas bertanya disini?,"
"Sejak kapan Afnan dan sekretaris barunya itu resmi menikah,"
"Sepertinya sudah lama, sejak kamu belum kembali ke Indonesia,"
"Pantesan saja waktu aku mengalami kecelakaan, Afnan tidak mau menjengukku ternyata dia sedang menikmati indahnya menjadi pengantin baru,"
"Semuanya sudah terjadi, Nat. Tidak ada yang perlu kamu pikirkan. Lebih baik, sekarang kamu mulai hidup barumu dengan sesuatu yang baru atau kalau bisa dengan orang baru,"
"Orang baru?! Maksudnya kamu," Ucap Nathalia menggoda Salman sembari tersenyum manis ke arah Salman.
"Laki - laki di dunia ini bukan hanya aku dan Afnan saja. Jadi tidak harus aku kan jadi orang baru yang menggantikan posisi Afnan di hidupmu,"
__ADS_1
"Tapi saat ini, laki - laki yang aku temui dan aku kenal hanya kamu,"
"Tapi kamu tidak mungkin menyukaiku kan,"
"Ya mungkin suatu hari nanti,"
"Aku tidak ingin berantem dengan Afnan hanya karenamu Nathalia,"
"Ha..ha..ha, iyalah tuh Man. Lagipula mana mungkin juga aku denganmu. Kamu sudah anggap seperti temen sekaligus abangku sendiri sejak awal aku mengenalmu,"
"Wow, ternyata aku punya peran yang cukup baik ya di hidupmu,"
"Yah bisa dibilang begitu, oh ya untuk kelas pertama disini itu apa ya?,"
"Kelas melukis, aku akan mengantarkanmu dan aku juga akan melihatmu dari kejauhan,"
"Wah melukis, aku sungguh sangat tidak bisa melukis tapi tidak apa - apa akan aku coba. Siapa tau aku punya bakat baru setelah pulang dari sini,"
"Itu malah lebih bagus sih jika kamu punya bakat melukis setelah pulang dari tempat ini. Itu artinya proses penyembuhan batin kamu berhasil dan kamu bisa memulai hidup barumu dengan bakat barumu itu,"
"Yah mungkin seperti membuat pameran lukisan gitu,"
"Ide bagus sih itu,"
*****
Rumah Afnan & Irene
Irene sedang duduk di meja makan sambil mengoleskan selai coklat di atas sepotong roti. Afnan yang sudah siap untuk berangkat ke kantor pun berjalan menuju ke meja makan. Ia melihat Irene juga berada disana. Rasa canggung antara Afnan dan Irene pun mulai terasa sejak hari pertengkaran mereka waktu itu.
"Emmm, kamu benar - benar marah denganku,"
"Tidak,"
"Hari ini aku ada jadwal untuk meeting ke Bali, aku rasa aku tidak akan pulang malam ini,"
"Lalu?,"
"Yasudah baiklah, aku langsung pergi ke kantor saja. Setidaknya aku sudah pamit denganmu,"
__ADS_1
Irene tidak mengeluarkan sepatah katapun lagi. Afnan yang tau bahwa Irene masih marah padanya pun langsung pergi meninggalkan meja makan.