
Mendengar jawaban Brandon, entah mengapa hati Desty merasa sedih. Padahal selama ini Desty tak pernah mengharapkan Brandon.
"Selamat Brandon, akhirnya kau membuka kembali perasaanmu," ucap Lexi.
"Aku tak yakin dengan perasaannya Lexi." sahut Lucas.
"Sok tau lu sama perasaan gua...!" sahut Brandon.
"Brandon... aku tahu persis siapa kau dan bagaimana kau... kalau kau tak mau, tolak saja permintaan tuan Sean." ucap Lucas menyarankan.
Lagi-lagi Brandon menoleh kearah Desty yang pura-pura tak mendengar percakapan mereka. Padahal dalam hatinya sedang menyembunyikan sebuah luka.
"Desty... tadi kau kemana saja?" tanya Neva mengalihkan perasaan Desty.
"Ouh itu tadi aku... aku ke kamar mandi. Maaf Neva sudah membuatmu mencariku." jawab Desty.
"Aku kira kau merasakan pusing lagi, makanya tadi aku sangat khawatir." ucap Neva.
"Desty sakit?" tanya Cherry.
"Ga Cherr... hanya pusing sedikit." jawab Desty dengan senyum khasnya.
"Desty... ga baik menyepelekan sakit. Kakak om, aku ijin setelah ini mau memeriksakan kondisi Desty." pinta Cherry.
"Eh... ga apa-apa kok Cherr... ini cuma sakit pusing biasa. Beli obat di Apotek langsung enakan." tolak halus Desty.
"Gimana pusing biasa ceritanya, wajahmu terlihat sangat pucat sudah hampir mirip mayat hidup." kali ini bukan Cherry yang khawatir tetapi Neva juga.
"Kalian pergilah memeriksakan Desty, biar Aksa bersamaku" ucap Lucas.
"Biar Steve yang mengantar kalian. Neva, pekerjaanmu belum selesai masih ada 1 sesi foto lagi." imbuh Lucas.
"Maaf Desty... aku tak bisa ikut mengantarmu periksa. Cherry... aku titip Desty ya...," ucap Neva.
Neva kembali ke pekerjaannya, sedangkan Cherry dan Desty bersiap untuk periksa diantar oleh Steve.
"Aksa ga boleh rewel ya... mama hanya sebentar" Cherry berpamitan kepada baby Aksa.
"Mmmuaach." Cherry mendaratkan ciuman dipipi gembul baby Aksa lalu berganti ke pipi Lucas.
"Kakak om... jaga Aksa baik-baik jangan kau serobot botol susunya...," pesan Cherry sebelum berangkat bersama Desty dan Steve.
"Bocah ingusan itu masih saja sama meski sudah memiliki anak. Heran banget gua... kok bisa elu sebucin ini sekarang sama tuh bocah?" gumam Brandon.
__ADS_1
"Seperti yang kau ketahui Brandon, cinta bisa merubah semuanya dari yang tak suka menjadi suka, dari yang benci menjadi damai, dari yang biasa menjadi luar biasa. Seperti halnya kau mencintai Elsa, suatu hari kau bisa merasakan cinta itu kembali kepada wanita lain yang lebih mengertimu, memahamimu dan yang terpenting mencintaimu." ucap Lucas.
"Apa kau mulai tertarik dengan tawaran papa?" tanya Lexi.
"Aku belum yakin." jawab Brandon. Brandon tiba-tiba saja mengingat peristiwa semalam nya waktu itu dengan Desty. Mengingat bagaimana wajah Desty pagi itu.
"Jika tak yakin jangan coba-coba kau melangkah" ucap Lexi.
**
Cukup menempuh waktu 15 menit Cherry, Desty dan Steve tiba ke sebuah klinik dokter Rendi.
"Gua tunggu disini Cherr...," ucap Steve.
"Baiklah...," Desty dan Cherry kemudian masuk kedalam ruang praktek dokter Rendi.
"Selamat sore dokter..." sapa Cherry.
"Nyonya Lucas apa yang membawamu kesini?" balas sapa dokter Rendi.
"Saya hanya mengantarkan sahabat saya dokter," sembari menoleh kearah Desty.
"Baik nona... apa yang anda keluhkan?
"Begini dok... akhir-akhir ini saya sering merasakan pusing secara berkala. Terus badan terasa lemas, nafsu makan juga berkurang" keluh Desty.
"Nona sekarang berbaring ya...," pinta dokter Rendi. Desty pun mengikuti arahan dokter Rendi.
Tak menunggu lama, dokter Rendi selesai memeriksa Desty. Desty kembali duduk disamping Cherry menunggu penjelasan dokter Rendi.
"Dokter... apa sahabatku hanya mengalami pusing biasa?" tanya Cherry.
"Nona Desty kapan tanggal terakhir kau datang bulan?" tanya dokter Rendi.
"Pertengahan bulan lalu," jawab Desty ragu.
Wajah Cherry yang tadinya biasa sekarang berubah penasaran saat dokter Rendi menanyakan jadwal datang bulan.
"Mohon maaf sebelumnya nona Desty dari hasil USG tadi anda dinyatakan positif hamil. Untuk kira-kira usia janin sekitar 5 minggu" dokter Rendi menjelaskan.
Desty memejamkan matanya menahan air mata yang hampir jatuh. Bagaimana dengan Cherry? dia merasa terkejut dengan hasilnya.
"Bagaimana bisa Desty hamil dokter?" tanya Cherry dengan pertanyaan yang membuat dokter Rendi bingung menjawabnya.
__ADS_1
"Nyonya Lucas sudah tau jawabannya alasan seorang wanita hamil" jawab dokter Rendi.
"Desty..." panggil Cherry dengan lirih. Kali ini dirinya harus bertanya dengan hati-hati.
"Aku harus gimana Cherry... hiks... hiks..." tanya Desty bingung.
"Aku tak yakin harus mempertahankan atau menggugurkan... hiks... hiks..." ucap Desty.
"Desty..." Cherry ikut merasakan kesedihan Desty. Meski Cherry belum mengetahui kronologinya bagaimana. Cherry langsung memeluk Desty.
Cherry dan Desty memutuskan untuk kembali ke kediaman Desty. Cherry masih setia menemani Desty saat ini, bahkan Steve juga ikut menemani dan memberi support kepada Desty.
"Desty... boleh aku tau siapa yang sudah---" Cherry sedikit ragu mempertanyakan hal ini.
"Aku tau kau pasti ingin tau siapa yang sudah membuatku seperti ini Cherry. Tapi sebelumnya kau dan Steve berjanjilah untuk tidak memberitahu siapapun tentang siapa pria yang sudah menghamiliku." ucap Desty.
Cherry menoleh kearah Steve yang berada di hadapannya lalu mengangguk bersama.
"Pria itu adalah Brandon" ucap Desty langsung membuat Cherry sangat terkejut.
"Malam itu kita berdua sudah melakukan hal salah. Kondisi kita yang dibawah minuman beralkohol membuat kita tak sadarkan diri. Tapi... setelah kita menyadari kesalahan kita, Brandon memintaku untuk melupakan semua yang sudah terjadi." terlihat luka dimata Desty mengingat Brandon menyuruhnya pulang melupakan semuanya begitu saja.
"Aku ga terima dengan ini, bagaimana pun om Branded wajib mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tak perduli dalam keadaan sadar atau tidak." protes Cherry.
"Cherry... Brandon tak pernah menyikaiku, wajar jika dia memutuskan hal itu. Akunya saja yang terkadang baper dengan sikap baik dia kepadaku. Tapi kini aku sadar jika aku bukan wanita yang diinginkan Brandon." ucap Desty.
"Berjanjilah Cherry, Steve kalian tak akan mengatakan apapun kepada Brandon. Biarlah aku menanggungnya sendiri" imbuh Desty.
Cherry dan Steve menghargai keputusan Desty. Hingga mereka pulang pun, Cherry dan Steve masih menjaga rahasia itu. Tak mudah memang untuk mereka berdua merahasiakan kebenarannya, tapi mereka harus menjaga perasaan Desty juga.
"Bagaimana dengan Desty? kau belum bercerita sayang...," tanya Lucas.
"Ceritanya besok aja ya... aku ngantuk sekali hari ini. Apa kakak ga kasihan sama aku?" jawab Cherry mengalihkan pertanyaan Lucas.
"Iya sayang... kau istirahatlah lebih dulu. Aku masih mau mengerjakan tugasku" ucap Lucas.
'Maafkan aku kakak om harus berbohong tentang semua ini' batin Cherry merasa bersalah.
**
"Maafkan mama nak harus merahasiakan dirimu dari papa kandungmu" ucap Desty sembari mengelus perutnya yang masih rata.
"Mama akan merawatmu dengan tangan mama sendiri"
__ADS_1
Bersambung....