Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 170. Tombak bibit


__ADS_3

"Ma... Yora bawakan sarapan untuk mama. Mama makan ya?" bujuk Yora.


"Kalau mama seperti ini bisa-bisa Cherry akan curiga ma...," imbuh Yora.


Mama Risti sedikit berpikir ucapan Yora ada benarnya. Jika sampai Cherry mengetahui kondisi Lucas, Cherry pasti akan mengalami syok berat. Secara semalaman tadi, Cherry sengaja tak tidur hanya untuk menunggu kabar dari Lucas.


"Dimana Cherry Yora?" tanya mama Risti.


"Cherry ada di kamarnya bersama baby Aksa." jawab Yora.


"Mama ingin menyusul Lucas disana Yora... hiks.. hiks..," ucap mama Risti.


"Ma... kita semua juga ingin kesana melihat kondisi Lucas, tapi tidak sekarang. Tunggu kabar dari papa dan Lexi. Yang terpenting sekarang kita do'akan semoga Lucas baik-baik saja" sahut Yora mencoba menenangkan mama Risti.


"Lucas baik-baik saja, maksudnya gimana kak?" tanya Cherry yang entah kapan sudah mendengar percakapan Yora dan mama Risti.


Melihat Cherry masuk ke kamar mama Risti tiba-tiba bersama baby Aksa, jelas Yora dan mama Risti terkejut.


"Kak Yora... mama, apa maksud kalian dengan Lucas baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu dengan kakak om?" tanya Cherry curiga.


"Kau salah mendengar Cherry, kita berdua hanya mendo'akan semoga Lucas baik-baik saja... iya kan ma," jawab Yora lalu memberi kode kepada mama Risti.


"Iya Cherry, kita hanya mendo'akan keselamatan Lucas agar berhasil dalam misinya menangkap musuhnya." sahut mama Risti.


"Okelah kalau begitu, aku pikir kalian menyembunyikan sesuatu tentang kakak om." sindir Cherry.


Yora dan mama Risti langsung bertukar pandangan.


"Pikiranmu terlalu berlebihan Cherry...," ucap Yora.


Ketiganya lalu saling bercanda karena hari ini baby Aksa mengeluarkan kata pertamanya.


"Pap... pap... pap...," suara baby Aksa seolah menyebut nama papa.


"Kau mengatakan apa Aksa?" tanya Cherry memastikan pendengarannya.


"Pap... pap... pap...," rupanya baby Aksa seolah mengerti dengan apa yang ditanyakan Cherry.


"Apa dia menyebut kata papa?" tanya Yora gantian.


"Oh... so sweet gembul ku... kau menyebut papa didepan mamamu... seharusnya kau menyebut mama dulu baru papa...," sahut Cherry bahagia sekaligus kesal.

__ADS_1


Yora hanya tertawa mendengar sahutan Cherry. "Ya emang gitu Cherry... dia tau tombak bibitnya kok... hahaha..." tawa Yora sedikit pecah.


Jika Yora dan Cherry senang dengan baby Aksa yang sudah mampu menyebut kata papa, berbeda dengan mama Risti beliau malah menangis melihat baby Aksa.


"Kenapa mama menangis?" tanya Cherry menyadari jika mama Risti menangis.


"Mama hanya bahagia Cherry... hiks... hiks... melihat baby Aksa tumbuh dan besar dengan sehat tanpa terkecuali, mama merasa harus banyak bersyukur." jawab mama Risti.


"Ih... Cherry jadi ikut sedih ma...," kini gantian Cherry menangis bersedih mendengar ucapan mama Risti.


"Jika kakak om berada disini, dia orang yang nomor satu bakal menggendong baby Aksa seharian tanpa mau melepaskan... jadi makin kangen sama dia...," sahut Cherry.


"Mulai lagi drama," sindir Yora sengaja mengalihkan perhatian Cherry.


"Ih... kak Yora mah suka sewot kalau aku kangen suamiku yang lebih tampan dari kak Lexi." sahut Cherry.


"Eh apa-apaan sih, sudah jelas tampan Lexi. Setidaknya Lexi gak suka yang dibawah umur ya...," Yora berhasil mengalihkan perhatian Cherry.


"Aku gak dibawah umur kok... hanya saja belum dikasih label lanjut sama pak penghulu," sahut Cherry tak mau kalah.


Mama Risti yang tadinya bersedih, kini teralihkan dengan candaan kedua menantunya.


"Kalian ini, sini mama bilangin..." keduanya menoleh kearah mama Risti, rupanya mereka melupakan keberadaan mama Risti disana. Mama Risti memanggil keduanya untuk mendekat disamping kanan kiri mama Risti.


"Ma...," ucap Yora dan Cherry bersamaan kemudian memeluk mama Risti.


'Terimakasih Tuhan sudah mengirimkan dua menantu yang terbaik, yang bisa menerima segala kekurangan serta kelebihan putra-putraku' batin mama Risti.


Singkat cerita di negara Swiss. Hari ini hari dimana Lucas harus menjalani operasi pertamanya. Lucas sendiri sudah bersiap untuk menjalani apa yang menjadi keyakinannya.


"Cass... papa yakin kau bisa melewati semuanya," ucap papa Hadi memberi support.


Tidak hanya papa Hadi, Lexi, Brandon dan Gerald mereka juga ikut memberi support untuk Lucas.


"Om Hadi benar, lu pasti bisa sembuh Lucas." ucap Brandon.


"Kau pasti bisa melewati ini semua bos...," sahut Gerald juga.


"Kau tahu Cas, Adhyaksa sudah bisa menyebut papa. Apa kau tak ingin mendengarnya langsung?" pancing Lexi.


"Apa yang kau katakan itu benar Lexi?" tanya Lucas pelan karena menahan punggungnya yang sakit.

__ADS_1


Lexi lalu menunjukkan video baby Aksa sedang berceloteh pap... pap... pap... sambil memainkan jempol kakinya naik turun keatas yang dikirim oleh Yora. Tak terasa air mata Lucas menetes begitu saja melihat putra kesayangannya. Disampingnya terlihat juga Cherry yang tersenyum bermain bersama baby Aksa.


"Kau ingin segera bertemu dengan mereka Lucas?" tanya Lexi.


"Jika kau ingin segera bertemu dengannya, berjuanglah untuk sembuh. Kau pasti bisa, karena kau terlahir dari rahim seorang wanita yang kuat yaitu mama." imbuh Lexi.


"Kau benar Lexi, aku harus berjuang melawan ini semua. Aku harus sembuh agar aku segera mendengar Adhyaksa memanggilku papa." sahut Lucas.


"Tuan Lucas, anda sudah siap?" tanya Marco tiba-tiba masuk ke ruangan untuk membawa Lucas ke ruang operasi.


"Lakukan yang terbaik Marco, aku percaya padamu." jawab Lucas.


Marco tersenyum dan mengangguk lalu membawa Lucas ke ruang operasi.


Brandon memperhatikan papa Hadi dan Lexi bergantian. Brandon tahu ini perkara terberat untuk mereka berdua. Brandon sendiri merasa sedih melihat kondisi sahabatnya, dia tak tahu kalau kejadian kemarin akan mengakibatkan fatal pada kondisi Lucas. Andai dia lebih cepat saat itu, mungkin Lucas tak akan mengalami hal ini.


Drrrtt... Drrrtt...


Ponsel Brandon bergetar, dilihatnya nama Desty yang tertera di layar panggilannya. Brandon segera menggeser tombol hijaunya.


"Desty apa kau belum tidur?" tanya Brandon sekarang merubah panggilannya kepada Desty kau dan aku.


"Bagaimana aku bisa tidur jika kau masih mencemaskan keadaan bos." jawab Desty.


"Bagaimana kondisi bos hari ini Brandon?" tanya Desty.


"Lucas baru saja masuk ke ruang operasi. Aku tak tega melihat kondisinya Desty...," terdengar suara Brandon parau melepaskan sesak didadanya melalui tangis yang sudah dipendam.


"Brandon... aku tahu perasaanmu saat ini, tapi bisakah kau tenang?" pinta Desty.


"Kau tahu bukan, dari kecil Lucas yang selalu bersamaku. Menemaniku dalam keadaan susah maupun senang, bahkan dia tak pernah malu bersahabat dengan anak sebreng*sek aku." ucap Brandon mencurahkan segala isi hatinya.


"Bos orang baik, aku yakin Tuhan akan selalu melindungi dan memberinya keselamatan."


...----------------...


Liburan hari ke dua masih produktif ya kak... kalau aku produktifnya rebahan sambil baca karya teman-temanku. Salah satunya judul "Fiona"



Fiona Valeriest Putri Buffett gadis keturunan Indonesia Eropa yang di kenal dengan Fiona tumbuh menjadi gadis yang cantik. Memilih menjadi seorang arsitek yang sekarang namanya melambung tinggi dengan hasil yang selalu memuaskan klien. Tidak hanya sukses Fiona juga menjadi incaran pria di luar sana, tapi tidak ada satu pria pun yang mampu meluluhkan hati Fiona. Hatinya seakan terkunci oleh seseorang yang bahagia di luar sana. Pria yang sudah dia sukai sejak sekolah menengah atas dan memiliki wanita lain dari pada dirinya tanpa alasan.

__ADS_1


Sejak saat itu sifat Fiona berbanding balik dengan Fiona masih kecil, hal itu menjadi kekhawatiran semua keluarga, apa lagi Fiona sangat cuek dan lebih menyibukkan diri untuk bekerja, terkecuali hanya dengan anggota keluarga.


Mampukah pria di luar sana membuka hati yang di tutup rapat oleh Fiona?


__ADS_2