
"Bagaimana hubunganmu dengan Vino?" tanya Cherry pada akhirnya.
"Apaan sih Cherr... aku sama Vino tuh gak ada hubungan apa-apa...," jawab Neva pura-pura.
"Neva... kau itu sahabatku sejak lama, kau tak bisa membohongiku mengenai perasaanmu. Kau tahu, Vino sudah lama naksir kamu. Hanya dia merasa insecure." ucap Cherry.
"Bagaimana mungkin Vino menyukaiku Cherry...?" tanya Neva.
"Mungkin saja Neva... seperti aku menyukai kakakmu Lucas. Kau tahu kan awalnya aku tak pernah suka dengan pria yang lebih tua dariku. Tapi ternyata Tuhan membalik ucapanku... mungkin ini yang dimaksud karma sama ucapan sendiri... hehehe...," jawab Cherry terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Tapi kau tak menyesal bukan mendapatkan kakakku...," sindir Neva.
"Ya enggak lah... kakak om pria terbaik yang diturunkan Tuhan untuk melindungiku. Aku sangat mencintainya Neva." ucap Cherry.
"Terimakasih sudah mencintai kakakku dengan tulus Cherry..." ucap Neva.
**
"Lucas perusahaan kita di Swiss sedang mengalami masalah, ada seseorang yang sudah melakukan sabotase." Lexi mendapat kabar dari salah satu pekerja disana jika perusahaan disana mengalami sabotase.
"Siapa pelakunya?" tanya Brandon.
"Kemungkinan orang dalam, karena dari data kehilangan orang ini mengetahui kode rahasia gudang" jawab Vino.
"Ini tak bisa dibiarkan. Lexi, kau siapkan jet pribadi. Papa akan kesana hari ini juga." perintah papa Hadi.
"Pa... biar Lucas yang kesana." ucap Lucas.
"Papa disini saja, biar permasalahan disana aku dan Brandon yang mengurusnya." imbuh Lucas.
"Lexi, Vino kalian tetap awasi pergerakan disini. Jangan sampai mereka ikut membobol data kita."
"Lucas, kau tak bisa kesana dengan waktu singkat. Karena kita belum menemukan pelakunya, juga kemungkinan pelakunya masih berada didalam perusahaan" sahut Lexi.
"Sebaiknya kau izin kepada Cherry," saran papa Hadi.
"Brandon juga, biar dia memberitahu Desty agar mereka tak terlalu mengkhawatirkan kalian."
Lucas sedikit berpikir, apa yang dikatakan papanya ada benarnya juga. Cherry dan Desty perlu tahu.
"Baik pa." ucap Lucas.
"Lucas aku akan mempersiapkan jet pribadi untuk kalian berdua" Lexi kemudian keluar ruangan.
Brandon berpamitan untuk segera menemui Desty. Karena bagaimanapun Desty harus tahu jika untuk beberapa hari kedepan, dirinya tak bisa menemui seperti biasanya.
Singkat cerita kini Lucas dan Brandon sudah berada dikediaman masing-masing. Brandon sudah berada dikediaman tuan Sean dan sudah menceritakan semua permasalahan Jewelry Axosha di Swiss.
"Apa gak bisa ditunda?" tawar Cherry.
"Maaf sayang keadaan sedang urgent, jika kita menundanya takutnya mereka memperluas gerakannya." sahut Lucas.
Terlihat Cherry membuang nafas pasrah, entah mengapa hatinya terasa berat memberi izin sang suami. Lucas menangkup wajah Cherry dengan kedua tangannya.
"Aku tahu kau tak setuju, tapi aku mohon sayang... ini berkaitan dengan perusahaan, berkaitan dengan para karyawan-karyawan yang sudah berharap kepada perusahaan. Kau bisa mengerti bukan ada keluarga-keluarga mereka yang mengharapkan gaji dari perusahaan." Lucas memberi pengertian kepada Cherry dengan pelan.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Cherry menetes begitu saja, "bukan aku tak mengerti mereka, tetapi hanya saja aku tak mau jauh darimu kakak om...," ucap Cherry.
Lucas bisa mengerti, ini bukan pertama kali dirinya jauh dari Cherry. Tapi bagaimana pun keadaannya Cherry harus mengerti pekerjaannya. Lucas menarik Cherry kedalam pelukannya.
"Kak... semuanya sudah siap," ucap Neva.
Lucas mengendurkan pelukannya lalu mengusap air mata istrinya.
"Kau tenanglah sayang... aku tak akan na*kal disana" ucap Lucas sengaja menggoda istrinya.
"Sudah... hapus air matamu, aku tak mau melihat wajah jelekmu saat ini" imbuh Lucas.
Sebuah capitan langsung mendarat di pinggang Lucas.
"Kau menyebalkan kakak om...," ucap Cherry kemudian kembali memeluk Lucas.
Brandon tiba menjemput Lucas, rupanya Desty dan Dania ikut mengantarkan Brandon dengan alasan permintaan si jabang bayi.
"Berangkat sekarang?" tanya Brandon.
"Sekarang gimana, tuh bini sama anaknya mewek terus daritadi..." jawab Neva menunjuk kearah Lucas yang sedang sibuk menenangkan kedua cintanya.
"Bisa telat ni nanti," keluh Brandon kemudian menghampiri Lucas.
"Ingus... udahan meweknya, kita gak lama kok gua pastiin masalah ini clear secepatnya" Brandon akhirnya ikut membujuk Cherry.
"Sayang... udah ya nangisnya...," bujuk Lucas.
Cherry terus memeluk Lucas yang menggendong baby Aksa. Pada akhirnya Brandon harus menghubungi Lexi untuk menunda penerbangan mereka, karena Cherry belum mau untuk ditinggal.
"Kak Yora tuh mana tahu rasanya mau ditinggal, berat rasanya kak... kalau ninggalin sih gak ada rasanya," sahut Cherry.
"Hadeh.... dek... serah kamu deh..." ucap Yora jengah.
"Cherry...," panggil Desty. Ternyata panggilan Desty mampu mengalihkan Cherry.
"Desty... kau tak sedih?" tanya Cherry melihat Desty bersikap biasa saja.
"Cherry... kita tahu kalau mereka melakukan ini semua demi tugas pekerjaan. Untuk apa sedih... justru kita harus mensupport serta mendo'akan mereka" jawab Desty.
Cherry sejenak berpikir, "kau benar Desty... Mudah-mudahan suamiku dan om Branded dimudahkan segalanya". sahut Cherry merasa lega.
Cherry kembali menoleh kearah suaminya, tersenyum lalu membisikkan sesuatu.
"Cepatlah pulang suamiku,"
"Terimakasih cintaku," ucap Lucas lalu mengecup dahi Cherry setelahnya.
Baby Aksa yang sempat ikut rewel kini tersenyum berulang-ulang kearah Lucas. Malah kini Lucas yang terasa berat meninggalkan Adhyaksa. Usia Adhyaksa saat ini mulai lucu-lucunya. Berat juga Lucas meninggalkan moment-moment kebersamaannya dengan baby Adhyaksa.
"Malah gantian sekarang yang rewel bapaknya" celetuk Brandon.
"Sabar... orang sabar rezekinya double," sahut Yora.
Mendengar sahutan Yora semuanya tertawa.
__ADS_1
Sebelum pergi, Lucas dan Brandon tak lupa mereka meminta do'a restu mama Risti. Setelah itu mereka berpamitan kepada semuanya.
"Jangan lupa langsung kabari kalau sudah sampai" pesan Cherry.
Kini Lucas dan Brandon sudah tiba. Mereka berdua segera menuju lokasi. Disana Lexi, Vino dan papa Hadi sudah menunggunya.
"Pa... maaf ada kendala sedikit tadi" ucap Lucas.
"Papa bisa mengerti perasaan Cherry..." sahut papa Hadi.
"Selesaikan tugas kalian agar kalian segera berkumpul dengan keluarga." imbuh papa Hadi.
"Siap om! Brandon pastikan mereka akan mendekam dipenjara selamanya." ucap Brandon.
"Lexi... titip Cherry dan Adhyaksa. Kalau terjadi apa-apa dengan mereka segera hubungi aku." pesan Lucas sebelum memasuki jet pribadi perusahaan.
Lexi mengangguk sambil menepuk pundak Lucas. Mereka berdua memasuki jet tersebut dan segera terbang.
"Semoga mereka berdua berhasil" gumam papa Hadi.
**
"Cherry...," panggil Desty.
"Masih sedih? bos hanya melaksanakan tugas, kau tak perlu khawatir." ucap Desty.
"Tapi Des... entah mengapa perasaanku tak enak. Tapi ya sudahlah aku pasrahkan semuanya sama yang diatas, semoga perasaanku ini salah." sahut Cherry.
"Oh iya Des... gimana keadaanmu? maaf aku belum bisa menjengukmu, Aksa semalam demam"
"Seperti yang kau lihat Cherry... aku sudah baikan" jawab Desty.
"Aku ingin memperkenalkan adikku kepadamu" imbuh Desty.
"Dania...." panggil Desty.
Danis yang sedang mengobrol dengan Neva dan mama Risti langsung menoleh.
"Aku ingin memperkenalkanmu dengan sahabatku Cherry." ucap Desty memperkenalkan Cherry kepada Dania.
"Cherry...,"
"Dania"
...----------------...
Malam semuanya... met rehat semua... sambil rehat aku rekomendasiin bacaan dari temanku yang judulnya "Gairah Kaka Angkat"
Dara Respati, gadis cantik dan seksi. Gadis impian bagi Dicky. Dicky, yang sejak awal tahu bahwa mereka memang bukan saudara kandung, memendam cinta pada adiknya tersebut.
Dicky selalu menemani Dara disaat Dara susah maupun senang. Apalagi disaat Dara terpuruk, dikhianati oleh kekasihnya, Dicky yang selalu menemaninya.
Akankah Dara membalas cinta sang kakak, ataukah dia akan menikah dengan pria lain?
__ADS_1