
"Perutku lapar... padahal baru beberapa menit sarapan" keluh Cherry. Cherry lalu menuju dapur untuk mencari cemilan, namun setelah lemari dan kulkas dibuka dia tak menemukan makanan yang pas dihati. Cherry melihat sebuah bahan membuat brownies tiba-tiba saja terselip ide untuk membuatnya.
"Sepertinya brownies sangat enak," ucapnya sambil mengambil bahan membuat brownies yang berada di rak ujung dapur. Dengan semangat juang 45 Cherry perlahan mulai mempersiapkan peralatan, kini tangannya mulai mengeksekusi satu persatu bahan adonan brownies.
"Orang-orang pasti akan menyukainya," ucap Cherry dengan bangganya. Sekitar kurang lebih 1 jam Cherry selesai membuat adonan kue brownies, lalu dia menuangkan kedalam loyang berbentuk persegi panjang lalu memasukkannya ke dalam oven.
"Beres...," ucapnya kembali.
"Kenapa rasanya capek sekali" Cherry lalu pergi meninggalkan dapur selesai melepas celemek bajunya. Cherry kemudian masuk kedalam kamarnya lalu tidur.
**
"Gimana keadaan Agha Ka Yora?" tanya Lucas.
"Alhamdulillah sudah membaik. Terimakasih Lucas sudah ikut menjaga Agha selama aku tak ada" jawab Yora.
"Sudah sewajibnya aku menjaganya, dia keponakan yang sangat cerdas seperti Lexi," ucap Lucas sembari membelai rambut Agha yang tertidur.
"Lucas... kau segera pulang, kasihan Cherry dia sendirian dirumah" sahut mama Risti yang masuk bersama Lexi. Lexi sendiri keluar menemui dokter untuk menanyakan kondisi Agha. Sedang mama Risti mengikuti papa Hadi yang akan berangkat kerja diantar oleh Brandon.
"Mama benar Lucas, kaka takut dia kenapa-kenapa apalagi dia akhir-akhir ini dia sering merasakan kontraksi palsu" sahut Yora.
"Kau pulanglah biar mama nanti pulang bersamaku," ucap Lexi.
__ADS_1
"Baiklah... kalian semua mengusirku---"
Drrrrttt... drrrttt....
'Kaka om..... hiks... hiks...'
**
Cherry terbangun dari tidurnya karena mencium bau yang sangat aneh.
"Kenapa baunya aneh gini ya? ga biasanya ada bau kayak gini" gumam Cherry masih mengendus-endus bau yang aneh.
Cherry turun dari ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya, bau itu semakin mencekat tatkala Cherry berjalan mendekati dapur.
"Huaaaa.... hiks... hiks... kenapa kuenya jadi arang... hiks... hiks...," tangis Cherry.
"Cherry... apa yang terjadi?" tanya Vino dan Desty yang kebetulan mampir untuk mengambil berkas yang tertinggal.
"Cherry apa kau merasa sakit?" tanya Desty kebingungan.
Cherry tak menjawab pertanyaan mereka berdua, dia tetap melanjutkan melodi tangisnya sambil menatap kue yang dipegangnya. Vino dan Desty yang menyadari mereka berdua tertawa serempak.
"Sudahlah Cherr... mending beli aja, ga usah ditangisi" saran Vino. Cherry bukannya menerima saran Vino, dia malah menangis tambah kencang membuat Vino takut bercampur bingung. Melihat Cherry nangis ga berhenti, Vino menghubungi Lucas.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Lucas.
Bukannya Cherry menjawab, dia semakin keras menangis.
"Kaka om..... hiks... hiks..."
Vino lalu menyahut ponselnya lalu melanjutkan panggilannya.
"Bos... mending segera pulang, istrimu merasakan sa---"
"Eh... kampret! kalau bukan bos gua uda gue uleg pake ulegkan sambal," gerutu Vino kesal karena Lucas menutup panggilannya sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
"Cherry... sekarang tenang ya, ingat kondisimu. Nanti kita bikin bareng-bareng lagi ya... Sudah... sekarang minum dulu air putihnya," Desty menyodorkan segelas air minum untuk Cherry.
"Sayang.... Sayang...." panggil Lucas tiba langsung mencari keberadaan istrinya.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Lucas langsung memeluk Cherry yang masih menangis.
"Kau tau ka... aku berencana membuat kue untukmu tetapi....hiks... hiks...," Cherry kembali menangis sambil menunjuk kearah kue brownies gosong didepannya.
"Hahaha.... ," tawa Lucas seketika pecah sedang didekatnya Cherry sudah bersiap mengusir Lucas.
"Kaka mulai malam nanti tidur diluar"
__ADS_1
Bersambung....