Kaget Nikah

Kaget Nikah
Epsd. 105. Hormon Kehamilan


__ADS_3

"Hoaaaam..." terdengar Cherry menguap.


"Salam santun subuh istriku" sapa Lucas disamping sang istri. Bukannya menjawab, Cherry langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos turun dari ranjangnya berlari ke kamar mandi.


"Sayang... sayang..." panggil Lucas heran, melihat Cherry langsung berlari. Merasa khawatir, Lucas ikut berlari menyusul istrinya.


Hoek... Hoek...!


"Sayang, apa yang terjadi? bukankah Rendi sudah memberikan obat mual terbaik" tanya Lucas.


Hoek... Hoek...!


Cherry masih memuntahkan isi perutnya sampai dia sedikit lemas.


"Sayang... kau terlihat pucat, kita ke Rumah sakit sekarang ya...," ajak Lucas sangat khawatir tentunya.


Cherry membasuh bibirnya dengan air lalu menahan pergelangan tangan Lucas.


"Aku tak apa-apa om... ini hal biasa yang dialami ibu hamil ketika bangun tidur," ucap Cherry menjelaskan kondisinya kepada Lucas.


Lagi-lagi Lucas merasa bersalah, dia langsung terdiam sambil mengelus perut Cherry.


"Maafkan papa nak karena tak mengetahui kesulitan mama," ucapnya dengan sedih.


Cherry menangkup wajah Lucas mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Lucas.


"Jangan mengatakan itu lagi. Sekarang kita sama-sama memulai dari nol. Kita besarkan mereka bersama-sama" ucap Cherry tak mau jika Lucas terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.


Selesai membersihkan diri masing-masing, mereka berdua turun kebawah. Disana sudah terdapat keluarga Lucas sedang berkumpul. Karena hari ini hari weekend, mereka semua mempersiapkan acara keluarga yang akan diselenggarakan esok lusa.


"Selamat pagi semua...," sapa Cherry.


"Dek... kau sudah bangun?" sapa balik Yora.


"Sudah ka..,"


"Kakak pikir selesai subuh kau tidur lagi, karena tadi kakak tak sengaja mendengar kau mual. Sekarang bagaimana kondisimu?" tanya Yora khawatir juga.


"Sudah baikan ka...," jawab Cherry lalu membantu Yora memilih undangan untuk acara besok lusa.


"Kakak dulu juga seperti itu saat hamil Agha. Permasalahan kakak hanya satu--" ucap Yora menjeda ceritanya.


"Apa itu ka?" tanya Cherry penasaran.


"Kakak hanya tak kuat lama-lama berada disamping Lexi...," jawab Yora terkekeh mengingat masa hamilnya dulu.

__ADS_1


"Lexi selama kurang lebih 3 bulan selalu tidur didepan pintu, karena setiap dia didekatku mualku langsung kambuh...," imbuhnya kembali. Kali ini bukan hanya dirinya yang tertawa tetapi juga Cherry.


"Untung aku tak seperti itu ka... Kalau itu terjadi, om pasti frustasi... hahaha...! sahut Cherry terkekeh membayangkan ekspresi suaminya.


Diujung sana 2 pria berstatus suami sedang diam-diam mendengarkan obrolan percakapan Cherry dan Aiora.


"Emang dulu kau begitu ya Lex?" tanya Lucas serius.


"Lebih parah lagi. Aku tak bisa mendapat jatah tiap malam, hal itu yang membuat aku semakin pusing" jawab Lexi tanpa sadar.


"Hahaha... Kau rupanya juga memikirkan hal itu Lexi" sahut Lucas sambil menepuk pundak Lexi.


"Aku pikir kau pria yang cuek dengan kesejahteraan,"


'Sial! kenapa aku harus mengatakan soal itu. Harusnya anak ini tak mengetahui urusan has*ratku' batin Lexi.


"Ayah...!" panggil Agha mengagetkan Lexi dan Lucas.


"Sssstttt....!" keduanya langsung menutup mulut Agha agar tak kedengaran Cherry dan Yora.


"Aduh...," Lucas melepaskan tangannya karena Agha menggigitnya.


"Agha ga bisa nafas om." protes Agha.


"Jangan keras-keras nanti mama dan tante tau kalau Ayah dan Om sedang--"


"Bukannya mengintip nak, hanya saja--" Lagi-lagi ucapan Lexi terjeda. Jika tadi terjeda karena Agha, tetapi sekarang berbeda.


"Hanya saja tak mau diketahui jeleknya!" suara Aiora dengan tangan berkacak pinggang. Sedangkan Lexi menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menutupi rasa malunya.


"Aku hanya berbagi pengalaman dengan adikku, jangan kau ambil hati. Karena setiap proses seseorang hamil itu berbeda-beda" ucap Yora.


Lexi kemudian mengecup kening istrinya dengan mesra.


"Tuhan... kenapa kau biarkan aku mengontrak lama-lama...," sahut Neva yang tak sengaja lewat.


"Makanya neng, abang ajak seatap aja yuk biar kagak ngontrak" sahut Vino yang berada dibelakang Neva.


"Issshhh..." desis Neva. Ruangan tersebut menjadi ramai tawa keluarga Hadinata.


Di lantai atas, Hadinata sangat bahagia melihat anak-anaknya berkumpul dan tertawa bersama.


"Mama sangat bersyukur pa melihat mereka" ucap mama Risti ikut memperhatikan putra putri serta anak menantu mereka.


"Papa hanya bisa berdo'a semoga mereka tak terpisahkan kecuali maut" sahut papa Hadi.

__ADS_1


"Ma, hari ini aku akan menjenguk Rudi."


"Untuk apalagi pa? sudah cukup dia hampir menghancurkan semuanya. Dia juga dalang dari kematian Zayn. Jika Lucas dan Lexi mengetahuinya, mereka akan melarangmu menemuinya" sahut mama Risti tak setuju.


"Mama tenang ya, papa tak akan lama. Bagaimanapun Rudi pernah menjadi sahabat papa. Rudi hanya merasa terabaikan dari keluarganya, hingga yang dilakukannya kemarin adalah bentuk pelampiasannya" Rudi menjelaskan dengan pelan agar mama Risti paham.


"Jika itu yang terbaik, terserah papa. Tapi mama pesan, jangan kesana sendirian ajaklah kedua putramu," saran mama Risti kemudian meninggalkan papa Hadi sendirian.


**


Di kantor seperti biasa semuanya sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hari ini kantor di hebohkan dengan Brandon yang datang dalam keadaan sempoyongan.


"Desty... kau tau, semalam gue bertemu Elsa. Kau tahu Des.. dia sudah bersama pria lain. Padahal pria itu adalah partner kerja kita, yang aku anggap orang baik tetapi menusukku dari belakang. Hahaha...!" cerocos Brandon.


"Pak, kita pindah saja ya... ga enak nih dilihat orang-orang" ucap Desty sedikit lirih.


"Desty... lu dengerin gua cerita kagak sih!" protes Brandon.


"Iya... iya Pak, saya mendengarkan curhatan bapak. Tapi masalahnya sekarang, bapak sedang menjadi tontonan orang-orang saat ini," bisik Desty kembali.


Brandon sedikit mengerjap-ngerjapkan matanya, memperjelas penglihatannya.


"Kau mau membohongiku Desty seperti si Elsa. Didepan sana hanya ada Lucas. Lucas mah bestfriend gua...," masih dengan ucapan ngelantur.


BYUUURRR...


"Desty.... payung...!" teriak Brandon.


"Payung... payung, kau kira ini di taman apa." ucap Lucas sangat kesal.


"Om Branded anemia ya om?" tanya Cherry.


Lucas menggelengkan kepalanya. Belum selesai pusing dengan rengekan Cherry yang memaksa ikut kerja, ditambah lagi Brandon asistennya yang tak tahu kenapa bisa seperti ini.


Lucas lalu menarik Brandon dengan sedikit memaksa. "Cas... pelan napa... ga sabar banget sih, lu mau pindah haluan apa..." sahut Brandon sambil mengerlingkan matanya dengan genit.


"Huaaaaa.... hiks... hiks... hiks...!" sahut suara tangis Cherry tiba-tiba membuat Lucas, Brandon dan Desty berhenti dan menoleh bersama.


"Cherry baru tahu kalau suamiku sudah pindah kiblat...Huaaaa.... hiks... hiks... hiks..."


Lucas melotot tak percaya jika Cherry akan menelan mentah-mentah ucapan konyol Brandon.


"Sa... sayang... jangan dengerin omongan si asisten laknat itu. Dia tuh sesat...," ucap Lucas merayu Cherry. Ternyata hormon kehamilan istrinya membuatnya semakin pusing.


"Gua begini yang ngajarin laki elu Cherr...,"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2