
...Entah rinduku yang tak sampai...
...atau kamu yang menolak merasakannya....
...Yang pasti,...
...tidak akan ada yang sia-sia...
...jika tidak ada yang menyia-nyiakan....
...----------------...
Seharian ini mama Risti seperti melihat kehidupan baru untuk Lucas. Meski wajahnya masih terlihat pucat tetapi tak menyurutkan ketampanannya. Hari ini Lexi dan Cherry berpamitan kembali ke tanah air, sedangkan Brandon masih mengurus perusahaan di Swiss bersama papa Hadi.
"Lucas... aku akan kembali setelah urusan kantor selesai." pamit Lexi. Lucas hanya mengangguk dan tersenyum.
"Jaga kondismu baik-baik." Pesan Lexi.
Cherry sendiri sebenarnya terasa berat meninggalkan sang suami. Tapi dia juga harus memikirkan kondisi baby Aksa yang masih membutuhkan ASI.
"Kakak om...," panggilan Cherry terasa berat. Lucas yang mengerti hanya bisa tersenyum sebagai motivasi wanita didepannya.
"Aku sebenarnya tak ingin pulang, tapi aku harus memikirkan Aksa disana." Ucap Cherry.
"Kau sudah melihat kondisiku sayang, tak perlu lagi kau mengkhawatirkanku. Ada mama, papa, Brandon, Gerald dan Marco yang akan mengawasiku. Adhyaksa jauh lebih membutuhkanmu disana." Sahut Lucas.
"Kau tahu kakak om... Aksa sudah bisa memanggil papa. Sepertinya dia merindukanmu. Kau lekaslah sembuh... Aksa menunggu kehadiranmu kak...," kembali Cherry meneteskan air mata. Sebenarnya antara keduanya sama-sama berat harus saling berpisah sesaat dalam keadaan Lucas seperti ini.
Cherry sendiri dalam hatinya menginginkan selalu berada disamping suaminya yang sedang berjuang melawan sakitnya. Tapi sayangnya ada tanggung jawab lain yang tak boleh dia abaikan yaitu Adhyaksa. Cherry memeluk dan menghujani ciuman di wajah Lucas sebelum dia pergi.
Kemudian Lexi dan Cherry berpamitan kepada mama Risti dan papa Hadi.
"Ma... Cherry titip kakak om," ucap Cherry.
Mama Risti mengangguk tak dapat berkata-kata lagi. Kemudian keduanya berpelukan dan setelah itu Cherry berpamitan kepada papa Hadi.
"Jaga dirimu baik-baik juga Cherry, papa sudah berencana membawa kalian semua kesini. Tapi kita lihat perkembangan Lucas nanti." Ucap papa Hadi.
"Terus kirim kabar kepada Cherry pa kondisi kakak om, aku tak mau papa, mama atau yang lainnya menyembunyikan kondisi kakak om seperti kemarin," tukas Cherry.
Gerald datang menjemput Lexi dan Cherry. Mereka berdua diantar ketempat jet pribadi mereka.
"Om Gerad... kabari aku terus perkembangan suamiku loh, kalau gak aku akan membuatkan om surat pernyataan..." ancam Cherry.
"Gerald Cherry... bukan Gerad..." protes Gerald karena hobi Cherry mengganti nama kambuh lagi.
"Eh bentar... surat pernyataan apa maksudnya?" tanya Gerald.
"Surat pernyataan kalau om Gerald tidak akan lagi mendapatkan bonus tahunan perusahaan." jawab Cherry seenaknya.
"Gak bisa gitu Cherry... seenaknya main menghilangkan hak tahunan foya-foyaku..., " protes Gerald.
Lexi dan Brandon yang sedang berbincang menoleh karena tak sengaja mendengar protes Gerald.
"Anak ingusan itu selalu saja membuat masalah. Sekarang giliran mental Gerald yang diuji," gumam Brandon.
"Biarlah, anggap saja ini mengalihkan kesedihannya." Ucap Lexi.
Hingga Jet mereka siap, Gerald dan Cherry masih terus saja berdebat.
__ADS_1
"Semuanya sudah siap tuan," ucap salah satu petugas.
"Baik." sahut Lexi. Kemudian Lexi memanggil Cherry menghentikan debat mereka yang akhirnya Brandon ikut bergabung kedalamnya.
"Cherry...," panggil Lexi.
Ketiganya langsung menoleh kearah Lexi bersamaan. "Kau masih mau disini atau masuk kedalam?" sindir Lexi. Cherry lalu tersenyum dan berlari kearah Lexi.
Mereka berdua kemudian masuk kedalamnya dan Pilot segera melajukan Jetnya.
"Aku baru bertemunya sehari, tetapi sudah membuatku pusing." Keluh Gerald langsung ditertawakan Brandon.
"Lu sehari, gua mah tiap hari... hahaha... tapi perlu kau tahu, Cherry itu sangat istimewa." ucap Brandon masih menatap Jet yang akan menghilang dari peredaran matanya.
"Istimewa...? apa kau pernah---"
"Jangan mencoba berpikiran aneh." sahut Brandon memotong ucapan Gerald.
"Berkat dia, gua dan Desty bisa seperti ini." sahut Brandon.
"Oh iya, aku lupa memberimu selamat," sahut Gerald.
"Selamat untuk apa?" tanya Brandon tampak berpikir.
"Selamat akhirnya tak jadi mendapatkan predikat pria karatan. Hahaha...!" ledek Gerald sengaja dan tertawa setelahnya.
"Dasar sahabat laknat...!" teriak Brandon kesal karena Gerald sudah meninggalkannya.
**
"Kak Yora, kak Lexi dan Cherry sedang dalam perjalanan." ucap Neva memberitahu. Tapi saat Neva menoleh tiba-tiba saja Yora meringkuk merasakan sakit di perutnya.
"Entahlah Neva... rasanya sa-kit..." ucap Yora terbata-bata dikata terakhirnya.
Neva yang begitu panik berteriak mencari pertolongan. Pembantu rumah tangga beserta satpam rumah berlari ketempat Neva berteriak.
"Astagfirullah... nona Yora apa yang terjadi?" tanya bibi.
"Entahlah bi... rasanya sakit." ucap Yora.
"Bi, apa yang harus dilakukan?" tanya Neva panik.
Bibi tak sengaja melihat air ketuban Yora. "Non Yora sepertinya mau melahirkan non...," ucap bibi.
"Ini tak mungkin bi, usia kandunganku baru menginjak 7 bulan." sahut Yora.
"Tapi non... lebih baik non Yora dibawa ke Rumah sakit saja. Tuan muda Agha dan Aksa bias bibi yang mengurusnya." ucap bibi.
Satpam segera mempersiapkan kendaraan, sedang bibi dan Neva membantu Yora untuk berdiri.
"Ada apa ini pak?" tanya Vino baru tiba bersama Steve.
"Itu tuan... non Yora pecah ketuban." jawab satpam.
Vino dan Steve segera masuk kedalam. Mereka langsung membantu memapah Yora.
Oek... oek... oek...
Suara tangis Aksa terdengar, Neva dan bibi bingung. Mereka berdua terus berbalik masuk kedalam.
__ADS_1
"Bi, lebih baik Aksa aku bawa." pinta Neva.
"Tapi non...,"
"Tak apa bi...," Neva langsung menyahut Aksa kedalam gendongannya. Bibi lalu mengambilkan botol ASI serta perlengkapan baby Aksa.
Vino kemudian melajukan kendaraannya. Sedang Neva berangkat bersama bibi juga dengan supir pribadinya.
Sesampainya di Rumah Sakit, Rendi sudah menunggunya. Sebelumnya dalam perjalanan Neva sengaja menghubungi Rendi mengabari tentang kondisi Yora.
"Dokter Rendi," panggil Vino.
Yora langsung dibawa dokter Rendi keruang tindakan.
"Vino... bagaimana kondisi kak Yora?" tanya Neva.
"Yora masih didalam dalam penanganan dokter Rendi." jawab Vino.
"Neva, apa tak sebaiknya lu kabari bos Lexi?" saran Steve.
"Kau benar Steve, aku lupa mengabari kondisi kak Yora." Ucap Neva.
Drrrttt.... Drrrt....
Neva terus menghubungi Lexi sayangnya ponsel Lexi tak aktif.
"Ponsel kak Lexi tak aktif, gimana nih?" tanya Neva bingung.
"Non Neva, bukannya tuan Lexi bersama nona Cherry. Nona Neva coba hubungi nana Cherry...," saran bibi menggendong baby Aksa yang tertidur.
"Bibi tumben cemerlang sih...," Neva langsung mengganti panggilannya memanggil Cherry. Benar saja, ponsel Cherry aktif dan tak menunggu lama terdengar suara Cherry.
"Hallo Neva...," sapa Cherry.
"Cherry... sekarang posisi kalian dimana?" tanya Neva.
"Kita baru saja turun, ini tinggal menunggu Steve menjemput." jawab Cherry.
"Steve menjemput?" Neva mengeraskan suaranya sambil melirik kearah Steve.
"Astaga naga... gua hampir lupa."
...----------------...
Happy holiday bagi semua... sudah holiday kemana saja? pantai, pegunungan, udara atau rebahan saja. hehe...,
Tenang saja, meski hanya rebahan saja kalian tetap produktif kok. Produktif baca karya sahabat-sahabat novel. Yang masuk team rebahan baca novel, aku punya rekomendasi novel gak kalah seru judulnya "Janda Kembang Pilihan CEO"
Belum ada dalam pikiran Dira untuk segera mengakhiri masa sendirinya, ia masih trauma pasca ditinggalkan oleh suami yang teramat ia cintai pergi untuk selamanya dan disusul satu-satunya superhero yang selalu berada disisinya, yaitu Ibu.
Disisi lain, putra sulung dari pemilik Raymond Group mengalami kegagalannya dalam berumahtangga.
Setelah berhasil dari masa keterpurukannya dan memilih tinggal diluar negeri, akhirnya ia kembali ke tanah air dan menggantikan posisi ayahnya, Erick Raymond.
Awal pertemuan yang tidak sengaja antara Edgar Raymond dan Dira. Dira ternyata bekerja di salah satu cabang milik Raymond group.
Sebuah problema mengharuskan Dira berurusan langsung dengan tuan Edgar Raymond.
__ADS_1
Urusan apakah itu?